FOLLOW IG : @LALA_SYALALA13
Demi membiayai pengobatan adiknya yang sakit-sakitan dan melunasi hutang peninggalan orang tuanya, Raina Angela rela melupakan masa lalunya sebagai anak orang kaya dan pergi jauh dari ibu kota.
Lima tahun kemudian dia mendapatkan pekerjaan sebagai pembantu di sebuah rumah mewah ibu kota. Tanpa disadari, mansion tempatnya bekerja adalah milik keluarga Noah Raja Rajendra yaitu mantan kekasih yang terpaksa Raina tinggalkan secara kejam lima tahun lalu dengan alasan orang ketiga, demi menyelamatkan masa depan pria itu.
Pertemuan tak terhindarkan membenturkan kembali rasa bersalah Raina dengan kebencian serta luka mendalam Noah yang telah berubah menjadi manusia es.
Bagaimana kelanjutannya???
Yukkkk baca yaaaa!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lala_syalala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jangan Sebut Dia
"Raina Angela!" teriak Noah dari belakang. Suaranya pecah, penuh dengan keputusasaan dan kemarahan.
"Kalau kamu melangkah keluar dari pintu itu hari ini... aku bersumpah demi Tuhan, aku nggak akan pernah memaafkanmu seumur hidupku! Aku bakal buktikan kalau aku bisa berdiri di puncak tertinggi tanpa wanita murahan seperti kamu!" ancam Noah berharap Raina membatalkan niatnya itu.
Raina menghentikan langkahnya sebentar di ambang pintu, menahan tangis yang sudah mengumpul di pangkal tenggorokannya, lalu melanjutkan langkahnya keluar tanpa pernah menoleh lagi.
Begitu pintu kafe tertutup dan sosoknya tak terlihat lagi oleh Noah, Raina berlari ke dalam gang sempit di samping kafe. Dia terduduk di atas trotoar yang kotor, menutupi wajahnya dengan kedua tangan, dan menangis sejadi-jadinya hingga dadanya sesak. Dia meraung dalam keheningan malam, meratapi cintanya yang harus dia bunuh secara paksa demi keselamatan pria yang sangat dicintainya.
Malam itu juga, Raina mengemas seluruh sisa pakaiannya dan pakaian Lio. Dia memutuskan berhenti kuliah, memutus seluruh kontak dengan teman-teman kampusnya, dan membawa Lio melarikan diri dari ibu kota menuju desa terpencil di kaki gunung dan menjauh dari kejaran para rentenir dan menjauh dari dunia Noah Raja Rajendra.
~Flashback Off~
Kembali ke masa kini...
Raina membuka matanya perlahan. Air mata hangat telah membasahi kedua pipinya di dalam kegelapan kamar paviliun.
Lima tahun telah berlalu. Noah berhasil memenuhi sumpahnya dimana pria itu kini menjelma menjadi CEO sukses yang berdiri di puncak tertinggi, persis seperti yang diucapkannya malam itu.
Namun harganya sangat mahal dimana Noah berubah menjadi pria yang dingin, tak tersentuh, dan membenci seluruh wanita di dunia ini akibat luka yang dibuat oleh Raina.
Raina menyapu air matanya dengan ujung lengan bajunya, menatap Lio yang masih tertidur lelap.
'Noah... maafkan aku,' batin Raina berbisik pilu.
'Biar aku simpan rahasia ini selamanya. Kamu tidak perlu tahu alasan sebenarnya. Cukuplah kamu membenciku, asalkan kamu bisa terus berdiri tegap di puncak duniaku.' liriknya dalam hati.
Raina menyelimuti adiknya rapat-rapat, siap menghadapi kenyataan bahwa esok hari, dia harus kembali berpura-pura menjadi orang asing di rumah milik pria yang pernah memiliki seluruh jiwanya.
Di sisi kain, cahaya temaram bernuansa biru keemasan memantul licin di atas meja bar berbahan kayu jati gelap. Denting lembut gelas kristal bercampur dengan alunan musik jazz instrumental yang mengalun pelan dari sudut ruangan, menciptakan atmosfer yang elegan namun lengang.
The Sanctuary, sebuah lounge eksklusif yang berlokasi di lantai teratas salah satu gedung pencakar langit kawasan Selatan, malam itu sengaja dikosongkan pada area VVIP. Tempat ini adalah milik Dion Vane, sahabat karib Noah sejak masa-masa kuliah dulu.
Di ujung meja bar, Noah Raja Rajendra duduk menyendiri di atas kursi tinggi. Jas hitam mewahnya sudah dilepas, menyisakan kemeja hitam yang dua kancing atasnya sengaja dibuka, menyingkap kesan acak-acakan yang tetap tidak memudarkan pesona ketampanannya.
Jemari tangannya yang panjang memutar-mutar gelas berisi red wine berumur belasan tahun. Cahaya lampu menangkap mata elangnya yang tajam yaitu sebuah tatapan yang kosong, dingin, dan nyaris tak berjiwa.
"Masih belum mau pulang, Noah?"
Sebuah suara memecahkan keheningan. Dion Vane melangkah mendekat dari balik meja bar, meletakkan botol wine edisi terbatas yang baru saja dia buka. Di samping Dion, berdiri Nakula, asisten pribadi sekaligus tangan kanan kepercayaan Noah yang malam itu ikut menemani bosnya.
Noah tidak memalingkan wajahnya. Dia hanya meneguk cairan merah pekat itu dalam sekali tegukan, membiarkan rasa pahit dan hangat membakar tenggorokannya.
"Tuang lagi," ujar Noah dingin. Suaranya serak dan berat.
Dion menghela napas panjang, namun tetap menuruti permintaan sahabatnya. Dia menuangkan wine ke dalam gelas kristal Noah hingga setengah penuh.
"Ini sudah gelas kelima dalam satu jam, Bro," kata Dion seraya menyandarkan kedua sikunya di atas meja bar.
"Noah, kau baru saja menyelesaikan akuisisi lima puluh dua persen saham perusahaan manufaktur di Daerah S tadi siang. Harusnya malam ini kamu merayakan kemenangan, bukannya minum seperti orang yang sedang berniat menyiksa diri." ujar Dion mengingatkan sang sahabat.
Noah terkekeh pelan. Sebuah kekehan sinis tanpa rasa humor sedikit pun. "Merasakan kemenangan? Dion, di dunia bisnis tidak ada yang namanya perayaan. Begitu kamu berhenti berlari, orang lain akan langsung merobek lehermu dari belakang."
"Tapi dirimu bukan mesin, Noah!" potong Dion gemas.
"Lihat diri mu di cermin. Lima tahun terakhir ini kau hidup seperti robot! Kerja dari jam tujuh pagi sampai jam sebelas malam. Kalau tidak di kantor, kau terkurung di ruang kerja rumah mu. Kalau stres, kamu lari ke bar ku cuma buat mabuk sendirian. Kau pikir ini sehat?" ucap Dion panjang lebar.
"Saya sudah sering mengingatkan hal yang sama, Tuan Dion," timpal Nakula yang duduk di sebelah Noah seraya menyesap minuman bersodanya.
"Bahkan Nyonya Eleonora tadi sore menelepon saya lagi. Beliau sampai menangis karena bingung harus pakai cara apa lagi supaya Tuan Muda mau melupakan masa lalu dan mulai membuka hati." ucap Nakula merasa kasihan juga dengan kondisi tuan nya itu.
Mendengar nama mamanya disebut, rahang tegas Noah mendadak mengeras. Tatapannya berubah makin menusuk.
"Nakula, aku membayarmu tinggi untuk mengurus jadwal bisnis Rajendra Group, bukan untuk menjadi mata-mata mamaku," tegur Noah dengan nada suara mematikan.
Nakula menundukkan kepala sedikit, tidak gentar karena sudah sangat terbiasa dengan sifat keras bosnya selama bertahun-tahun.
"Saya cuma cemas dengan kesehatan Tuan Muda. Jadwal rapat besok dimajukan jam delapan pagi, tapi Tuan Muda masih di sini menenggak alkohol." sahut Nakula.
"Aku tidak mabuk," balas Noah singkat, lalu meraih gelasnya lagi.
"Dirimu memang tidak mabuk fisik, Noah, tapi pikiran mu yang mabuk!" selak Dion tegas. Pria itu menatap lurus ke dalam manik mata sahabatnya.
"Sampai kapan kamu mau menghukum diri lo sendiri? Sampai kapan kamu mau membenci seluruh wanita di dunia ini cuma gara-gara... satu wanita dari masa lalu mu itu?" ujar Dion tanpa sadar menyinggung wanita yang dilarang di sebut itu.
Cring!
Noah meletakkan gelas kristalnya ke atas meja bar dengan agak kasar. Suara benturan itu berdenging keras di area VVIP yang hening.
"Jangan sebut dia di depan ku," bisik Noah. Suaranya begitu rendah dan berbahaya, penuh ancaman yang sanggup membuat orang biasa gemetar.
"Kenapa? Karena kau masih belum bisa melupakan Raina?" tembak Dion tanpa rasa takut.
Sebagai sahabat yang tahu persis perjalanan hidup Noah dari bawah hingga berada di puncak kejayaan, Dion tahu betul di mana letak luka menganga yang tidak pernah sembuh itu.
.
.
Cerita Belum Selesai.....
makanya jadi orang jangan digedein s gengsinya...
makan tu gengsi
semangat author yah