Ketika langit di atas pinggiran Kekaisaran Yanling tiba-tiba terkoyak oleh invasi mendadak monster binatang, ilusi kedamaian hancur dalam semalam. Di tengah kepanikan para kultivator muda elit yang formasinya porak-poranda, Lin Juan—seorang yatim piatu bermarga Lin yang selalu dicaci karena Jiwa Rohnya yang cacat—menjadi satu-satunya yang menolak mundur. Tanpa pancaran energi spiritual yang mewah, ia mengandalkan insting murni dan tubuh yang ditempa penderitaan untuk bertahan hidup. Di tengah genangan darah dan keputusasaan, sebuah jiwa purba yang tertidur di kedalaman nadinya, Roh Kera Putih yang legendaris, akhirnya membuka mata, merespons panggilan kematian dengan raungan yang mengguncang surga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fery Oktavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KEPUTUSAN PEMBUANGAN
Rembesan air dingin menetes pelan dari celah langit-langit batu Penjara Bawah Tanah Klan Lin, menghantam lantai jerami kotor dengan irama teratur. Udara di dalam sel terasa lembap, berbau kotoran dan karat besi yang menyengat.
Lin Yuan duduk bersila di pojok sel yang paling gelap. Rantai besi tebal mengikat kedua kaki dan pergelangan tangannya, menempel pada pasak kayu besar yang tertancap di lantai batu. Meskipun badannya kelelahan dan pakaiannya kuyup oleh darah kering, napasnya tetap teratur. Di dalam ulu hatinya, aura hangat dari Kera Putih terus berputar pelan, membalut luka-luka di dadanya dan menjaga suhu tubuhnya tetap hangat di tengah dinginnya sel bawah tanah.
SREK!
Pintu besi sel berderit terbuka kasar.
Penatua Lin Zhen melangkah masuk, disusul oleh Lin Heng dan dua algojo klan bertubuh tinggi besar yang membawa cangkul besi dan mangkuk kayu berisi cairan hitam pekat. Wajah Penatua Lin Zhen dipenuhi oleh kegelapan yang tak tertutup.
"Kau pikir Penguasa Kota benar-benar akan membiarkanmu berjalan hidup-hidup sampai ke perbatasan utara, Lin Yuan?" Tanya Penatua Lin Zhen dengan nada suara yang amat dingin.
Lin Yuan tidak membuka matanya. "Penguasa Kota ingin aku mati di perbatasan, tapi kau ingin aku mati sebelum keluar dari gerbang kota."
Lin Heng terkekeh sinis dari balik punggung tetuanya. "Kau memang pintar, Sampah. Tapi kepintaran tidak akan menyelamatkan nyawamu malam ini. Penatua Utama sudah menyiapkan ramuan racun penghancur meridian. Begitu kau meminumnya, seluruh jaringan darahmu akan membusuk perlahan. Kau akan mati mengenaskan di tengah jalan, dan semua orang akan mengira kau menyerah pada luka-luka pertempuranmu."
Dua algojo klan melangkah maju, siap memegangi tubuh Lin Yuan dan mencekoki ramuan tersebut.
Lin Yuan perlahan membuka matanya, menatap Lin Heng dan Penatua Lin Zhen dengan keheningan yang tajam. "Kalian begitu ketakutan sampai tidak berani membiarkanku bernapas satu hari lagi."
"Tutup mulutmu!" Bentak Penatua Lin Zhen seraya memberi isyarat tangan. "Pegang dia! Hancurkan meridiannya!"
"Tahan tangan harammu itu!"
Sebuah suara serak dan berat menggelegar dari lorong tangga sel bawah tanah.
Brak!
Pintu kayu luar terhempas keras. Paman Gu melangkah masuk dengan napas terengah-engah. Baju kulit kusamnya basah oleh keringat malam, dan tongkat tuanya berada di tangan kiri. Namun di tangan kanannya, Paman Gu menggenggam erat sebuah medali besi kusam berbentuk kepala serigala bersilang tombak—medali veteran militer kekaisaran yang sudah ternoda oleh goresan darah membatu.
Di belakang Paman Gu, berdiri seorang perwira pengawal militer berseragam zirah kelabu dari garnisun kota.
Wajah Penatua Lin Zhen mendadak berubah pucat saat melihat medali besi di tangan Paman Gu. "Gu... dari mana kau mendapatkan Medali Veteran Tembok Besi itu?!"
Paman Gu melangkah mendekat, menghentakkan tongkat tuanya ke lantai sel hingga menimbulkan benturan keras. Matanya yang kabur menatap lurus ke arah Penatua Lin Zhen tanpa ada rasa gentar sedikit pun.
"Ini adalah medali penghargaan tingkat dua yang diserahkan langsung oleh Jenderal Militer Utama Kekaisaran tiga puluh tahun lalu di Garis Depan Tembok Besi!" Ucap Paman Gu dengan suara membumi dan penuh penekanan. "Menurut Hukum Militer Kekaisaran Pasal 14, seorang pemegang Medali Veteran Tembok Besi berhak mengajukan satu kali 'Tukar Dosa' untuk setiap tahanan yang divonis pembuangan!"
Paman Gu mengangkat medali besi itu tinggi-tinggi di hadapan perwira militer dan Penatua Lin Zhen.
"Atas nama medali ini, aku menyerahkan hak perlakuan tahanan Lin Yuan sepenuhnya kepada Militer Kekaisaran!" Lanjut Paman Gu dengan mata menyipit tajam. "Tidak boleh ada yang menyentuh tubuhnya, menghancurkan meridiannya, atau memberinya racun sebelum dia diserahkan secara utuh kepada Pasukan Tahanan Tembok Besi!"
Perwira pengawal militer di belakang Paman Gu melangkah maju, memegang gagang pedang panjangnya. "Pernyataan Veteran Gu sah secara Hukum Kekaisaran. Penatua Lin, jika Klan Lin mencoba merusak fisik atau menghabisi tahanan ini sebelum konvoi militer berangkat, Klan Lin akan dianggap melakukan pengkhianatan terhadap perintah militer kekaisaran."
Lin Heng gemetar ketakutan, menatap Penatua Lin Zhen dengan panik. "Penatua... bagaimana ini?"
Penatua Lin Zhen mengepalkan tangannya rapat-rapat hingga buku jarinya memutih. Matanya berkilat marah pada Paman Gu. Mengabaikan hukum militer kekaisaran di depan perwira resmi sama saja dengan menyeret seluruh klan ke dalam kemurkaan militer pusat.
"Gu tua bangkai..." Mengerang Penatua Lin Zhen dengan gigi terkatup rapat. "Kau menyerahkan Medali Veteran milikmu—satu-satunya jaminan perlindungan dan uang pensiun hidupmu dari kekaisaran—hanya demi menyelamatkan sampah ini?!"
Paman Gu tidak berkedip. "Medali itu aku dapatkan dari tumpukan darah temanku di Tembok Besi. Hari ini, aku menggunakannya untuk menjaga seorang anak muda yang memiliki jiwa prajurit sejati. Itu jauh lebih berharga daripada uang pensiun busukmu."
Penatua Lin Zhen mengibaskan tangannya murka. "Pergi! Bawa tahanan ini keluar dari sel klan! Biarkan dia membusuk di perbatasan utara!"
Dua prajurit militer maju, melepas pasak kayu dan memindahkan rantai Lin Yuan di bawah pengawasan langsung perwira militer.
Lin Yuan berdiri pelan, menatap Paman Gu yang berdiri di depannya. Ada guncangan emosi yang amat dalam di dada Lin Yuan. Ia tahu betul betapa berharganya medali veteran itu bagi Paman Gu—itu adalah satu-satunya benda yang membuat klan tidak berani mengusir atau menindas Paman Gu selama bertahun-tahun di gudang tua. Dan kini, Paman Gu menyerahkan seluruh kehormatan dan jaminan hidup tuanya demi menjaga tubuh Lin Yuan tetap utuh.
"Paman..." Bisik Lin Yuan pelan, suaranya agak berat.
Paman Gu tersenyum tipis, mengibaskan tangannya pelan seraya memimpin jalan keluar dari sel bawah tanah. "Jangan katakan apa-apa, Bocah. Jalan saja."
Mereka melangkah keluar dari kompleks klan menuju alun-alun luar kota, tempat kereta tahanan beratap besi hitam sudah menunggu di bawah temaram fajar yang dingin.
Di samping kereta tahanan, Paman Gu mendekati Lin Yuan sebelum dua prajurit militer memasukkannya ke dalam kurungan besi. Tua itu merogoh saku celemeknya, mengeluarkan sebuah kantong kain kecil yang sudah usang dan menyelipkannya secara diam-diam ke dalam genggaman Lin Yuan yang terbelenggu.
"Di dalam ada sedikit garam, minyak gosok keras, dan sepotong peta tua kawasan perbatasan utara," Bisik Paman Gu dengan suara amat pelan di samping telinga Lin Yuan. "Tembok Besi adalah neraka, Lin Yuan. Di sana tidak ada aturan klan, tidak ada Penguasa Kota. Yang ada hanyalah darah, lumpur, dan kematian."
Lin Yuan menggenggam kantong kain itu rapat-rapat di balik lengan bajunya yang koyak. "Aku akan bertahan hidup, Paman. Dan aku akan kembali."
Paman Gu menepuk bahu Lin Yuan yang tak terluka dengan telapak tangannya yang kasar dan hangat. Matanya yang kabur berkaca-kaca, namun senyumnya penuh kebanggaan murni.
"Aku tahu kau pasti bertahan," Kata Paman Gu dengan nada suara membumi dan penuh rasa percaya. "Kera Putih di dalam dadamu itu tidak diciptakan untuk mati di tempat kotor seperti ini. Pergilah, tunjukkan pada mereka seperti apa rasanya saat seekor kera purba menguasai medan perang."
KLANG!
Pintu besi kereta tahanan ditutup rapat dan dikunci dari luar.
Kuda-kuda tahanan memekik pelan saat cambuk pengawal bersahut-sahutan. Roda-roda kayu berlapis besi berputar lambat, menyeret kereta tahanan melintasi batu jalanan Kota Pinggiran yang sepi di fajar hari.
Di balik celah jeruji besi kereta yang sempit, Lin Yuan menatap keluar. Ia melihat sosok Paman Gu berdiri sendirian di tepi jalan, memegang tongkat tuanya, melambaikan tangan pelan hingga bayangannya menghilang di balik sisa-sisa kabut pagi.
Lin Yuan duduk bersila di dalam kurungan besi yang berguncang keras. Ia memejamkan matanya, menggenggam kantong kain dari Paman Gu, dan membiarkan aura hangat Kera Putih mengalir tenang di meridiannya. Perjalanan menuju perbatasan utara telah dimulai, dan dunia baru yang jauh lebih brutal sedang menunggunya di balik bayangan Benteng Tembok Besi.