NovelToon NovelToon
Hukuman Penjara Pengantin Pengganti Sang Mafia

Hukuman Penjara Pengantin Pengganti Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Pengantin Pengganti / Mafia / Balas Dendam
Popularitas:30.5k
Nilai: 5
Nama Author: Aisyah Alfatih

Adam Lorenzo Maxnore, bos mafia paling kejam di Asia Tenggara, kehilangan calon istrinya tepat pada hari pernikahan mereka akibat kecelakaan tragis. Giana Bianca Conti, wanita yang berada di mobil penabrak, dituduh sebagai pelaku, padahal kakak angkatnya, Amerda, adalah orang yang sebenarnya mengemudi dan melarikan diri.

Terjebak dalam amarah Adam, Gia harus menanggung kebencian pria yang menganggapnya sebagai pembunuh calon istrinya. Sementara itu, Amerda justru mengambil kesempatan untuk menggantikan Gia menikah dengan Ricardo Dominic demi menyelamatkan kehormatan keluarga.

Mampukah Gia membuktikan dirinya tidak bersalah? Dan apa yang akan terjadi ketika Adam mengetahui bahwa wanita yang dibencinya ternyata hanyalah korban pengkhianatan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 15

Kediaman keluarga Conti sore itu tampak tenang. Tuan Sadam Conti sedang duduk di ruang keluarga bersama istrinya, Nyonya Maudi, ketika suara deru beberapa mobil terdengar dari halaman depan. Sadam mengernyitkan kening. Dia melirik jam di pergelangan tangannya, lalu menoleh kepada seorang pelayan yang baru saja memasuki ruangan.

"Siapa yang datang?" tanyanya.

"Maaf, Tuan. Saya belum tahu. Ada beberapa pria berpakaian hitam di depan gerbang."

Sadam belum sempat menanggapi ketika seorang pelayan lain datang dengan wajah pucat.

"Tuan, ada seorang pria yang ingin bertemu dengan Anda. Dia datang bersama beberapa pengawal."

"Siapa namanya?"

Pelayan itu tampak ragu sebelum menjawab, "Namanya Tuan Marco, Tuan."

"Marco?" Sadam mengulang nama itu dengan kening berkerut.

Di sampingnya, Maudi yang sejak tadi mendengarkan percakapan tersebut tiba-tiba menegakkan tubuh.

"Marco?" ulangnya, kali ini dengan suara yang terdengar berbeda. "Jangan-jangan Tuan Marco yang bekerja untuk Tuan Adam Lorenzo Maxnore?"

Sadam langsung menoleh kepada istrinya, "Apa?"

Maudi tidak menjawab. Dia segera berdiri, wajahnya berubah tegang.

Dia mengenal nama Adam Lorenzo Maxnore. Pria itu bukan seseorang yang bisa diperlakukan sembarangan. Di dunia bisnis maupun dunia gelap, nama Adam cukup untuk membuat banyak orang berpikir dua kali sebelum mengambil keputusan, dan Marco adalah orang kepercayaannya. Jika pria itu sampai datang langsung ke kediaman mereka, tentu ada sesuatu yang tidak beres.

"Suruh dia masuk!" perintah Sadam, berusaha menyembunyikan keterkejutannya.

Tak lama kemudian, Marco memasuki ruang keluarga bersama dua orang anak buahnya. Langkahnya tenang, tetapi sorot matanya dingin. Dia sama sekali tidak menunjukkan sikap sungkan meskipun sedang berada di rumah keluarga Conti.

Sadam segera bangkit dari tempat duduknya.

"Tuan Marco, suatu kehormatan bagi saya atas kedatangan Anda di kediaman kami." Dia mengulurkan tangan dengan senyum ramah. "Maafkan kami karena tidak menyambut Anda dengan layak, silakan duduk."

Marco tidak langsung menyambut uluran tangan itu. Dia hanya melirik Sadam sekilas sebelum mengalihkan pandangannya ke sofa di hadapannya.

"Saya datang bukan untuk bersilaturahmi, Tuan Sadam."

Senyum di wajah Sadam sedikit memudar. Maudi yang berdiri di samping suaminya mulai merasa gelisah.

"Kalau begitu, apakah ada sesuatu yang bisa kami bantu?" tanya Sadam, berusaha tetap ramah.

Marco akhirnya duduk. Kedua anak buahnya tetap berdiri di belakangnya dengan sikap tegap.

"Ada sesuatu yang perlu saya bicarakan dengan Anda."

"Tentu, silakan."

Marco menatap Sadam tanpa ekspresi.

"Di mana putri Anda?"

Pertanyaan itu membuat Sadam dan Maudi saling berpandangan.

"Putri kami?" Maudi mengulang dengan hati-hati.

"Ya, saya datang untuk menemuinya."

Sadam berdeham kecil sebelum menjawab, "Sayangnya, Amerda sedang tidak berada di rumah ini. Sedangkan, Gia beberapa hari belum pulang. Apakah ada masalah dengan mereka, Tuan Marco?"

Marco tidak segera menjawab. Dia justru membuka sebuah map yang dibawanya, kemudian mengeluarkan foto anting berbatu rubi dengan desain pecah seribu.

Dia meletakkan foto itu di atas meja.

"Apakah Anda mengenali benda ini?"

Sadam menunduk untuk melihatnya.

"Itu..." Dia mengambil foto tersebut, mengamati bentuk antingnya dengan saksama. "Bukankah ini anting yang saya pesan beberapa bulan lalu?"

"Benar, anting itu merupakan hadiah yang Anda berikan kepada putri Anda, bukan?"

Maudi langsung menoleh kepada suaminya.

"Mas, bukankah itu anting yang kau berikan kepada putri kita sebagai hadiah?"

Sadam mengangguk.

"Benar, saya sendiri yang memesannya."

Marco menyandarkan punggungnya, lalu melanjutkan dengan suara datar.

"Anting tersebut ditemukan di lokasi kecelakaan yang menewaskan Nona Veronika."

Seketika, wajah Sadam berubah. Maudi menutup mulutnya dengan tangan, sementara foto yang dipegang Sadam hampir terlepas dari jemarinya.

"Apa?" seru Sadam tidak percaya.

"Anting milik putri anda ditemukan di lokasi kecelakaan itu," ulang Marco. "Karena itu, Tuan Adam memerintahkan saya untuk membawa putri Anda menghadap beliau."

Sadam langsung menggeleng.

"Tunggu dulu! Anda tidak bisa langsung menyimpulkan sesuatu hanya berdasarkan sebuah anting!" Suaranya mulai meninggi.

"Putri saya tidak mungkin terlibat dalam kecelakaan itu! Dia tidak mungkin membunuh siapa pun!"

Marco menatapnya dingin.

"Saya belum mengatakan bahwa mereka membunuh, Tuan Sadam. Namun, barang milik putri Anda ditemukan di tempat kejadian perkara. Itu cukup menjadi alasan bagi kami untuk meminta penjelasan darinya."

"Putri saya tidak bersalah!" bantah Sadam dengan keras. "Saya mengenal putri saya. Dia tidak mungkin melakukan hal seperti itu!"

Maudi segera mendekati suaminya, mencoba menenangkan pria itu meskipun wajahnya sendiri sudah pucat.

"Mas Sadam, tenanglah dulu."

"Bagaimana aku bisa tenang, Maudi?" Sadam menoleh kepadanya. "Mereka datang ke rumah kita dan menuduh putri kita membunuh seseorang!"

Marco mengangkat sebelah alisnya.

"Saya tidak datang untuk berdebat dengan Anda. Saya datang untuk membawa putri Anda menghadap Tuan Adam."

Sadam kembali menatapnya. Kali ini, senyum ramah yang sempat dia tunjukkan saat menyambut Marco telah benar-benar menghilang.

"Tuan Marco, saya menghormati Tuan Adam dan tidak berniat mencari masalah dengannya. Namun, saya tidak akan menerima tuduhan terhadap putri saya tanpa bukti yang jelas."

"Kalau begitu, biarkan saya bertemu dengan putri Anda,"

Sadam terdiam. Dia ingin membantah lagi, tetapi kali ini kata-katanya tertahan di tenggorokan.

"Putri saya tidak ada di rumah. Gia, telah melarikan diri di hari pernikahannya. Saya tidak menganggap dia sebagai putri saya lagi!" katanya dengan tegas.

"Mas, apa yang kamu katakan Gia putri kandung mu, Mas!" Maudi tidak menyangka kalau suaminya bisa berkata seperti itu.

"Saya sedang tidak membicarakan Nona Gia, tetapi yang saya maksud adalah, Nona Amerda Conti, saat ini terlibat dalam kasus tabrak lari, dia melarikan diri dari lokasi kejadian," ungkap Marco.

"Apa?!" Sadam dan Maudi, sama-sama terkejut setelah mendengar pernyataan Marco.

1
Al Fatih
wow....,, mas Adam mau bikin gebrakan baru....,, biasanya bos mafia jadi CEO ..,, sekarang bos mafia mau jadi perdana Mentri.. ,, semoga tercapai cita-cita mu yaa mas Adam...,, Aamiin
Muft Smoker
lanjuuuuut kak ,,
nyonya
semangat kk outhor,saya nungguin terus
Nia nurhayati
semoga secepatnya kebusukan si amerda kebongkar
Ass Yfa
itu ank selibgkuhan suamimu Maudi
⍥⃝⃝꩗ᴜᥱ֟፝ᥱɴ_𝔅𝔢𝔢𖹭.ᐟ🐝
Bener bener geram. Kenapa Adam gak mengungkapkan hubungan apa amerda dgn sardam ?? Biar sekalian hancur aja semua. Jgn cuma gia aja yg hancur hidupnya
Aisyah Alfatih: belum dapat hasil tes DNA, setelah ini sbar ya kak..mau ngetik nggak bisa tangan lagi sakit 😩🙏
total 1 replies
Jelita S
pergi z Gia sama ibunya dti rumah itu
molly almor he
mbulettt
Aisyah Alfatih: Orang gila 🐶
total 1 replies
Oma Gavin
bikin saja sadam kena serangan jantung atau stroke itu karma nya yg selalu membela amerda anak kesayangan nya semoga adam bisa jadi PM biar amerda tau rasa dipenjara
Naufal Affiq
harus nya memang begitu ibu maudi terhadap amerda,dia sudah kelewatan batas jadi manusia
merry
harus adam jgn tglin gia disarang ular tar hbs tu gia ap sadam belain ank ya pdhll sstss cm ank angkt kn blm tau klo amerda ank kandung dgn cwe msa lalu ya,, hrs y maudi juga cari tau knp laki y lbh milih ank angkat pyn kuasa pyn uang srh ajj org cari tau lhh jgn diem ajj gt,, kshn gia gk salh laki y jg di embat sm ank angkt,,
merry
mati lah kau gia di pukulin Bpk mu yg jahaman itu,,, nnt kt adam bukn cari kmu slhin kmu bhkn ud kmu bela msh ajj mrh mrh,, harus nya adam bongkor jg klo amerda ank y sadam dgn kekasih y dgn bgtu maudi gk bkln dikibulin trs menerus,,
Ana Martino
membosankan
Desy Nchie
jangan buat karakter gia bodoh gtu dong kk plisss
Ass Yfa
Gia...kamu nggk dianggp ayahmi..harusnya biarin Sadam mampus...sebel aku
dyah EkaPratiwi
kapan diungkapnya kalau amerda anak kandung sadam
Muft Smoker
apa ini Gia????
ap Dy punya rencana sendri???
nyonya
gpp pisah dulu toh adam juga awalnya jahat nyiksa gia jadi adam sama sadam sama aja
Ariany Sudjana
bodoh kamu gia, kamu lebih membela Sadam daripada Adam? kamu cari mati gia
Ni'mah azzahrah Zahrah
bawa gia adam, kau akan menyesal bila gia sampai mati di tangan sadam
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!