Adam Lorenzo Maxnore, bos mafia paling kejam di Asia Tenggara, kehilangan calon istrinya tepat pada hari pernikahan mereka akibat kecelakaan tragis. Giana Bianca Conti, wanita yang berada di mobil penabrak, dituduh sebagai pelaku, padahal kakak angkatnya, Amerda, adalah orang yang sebenarnya mengemudi dan melarikan diri.
Terjebak dalam amarah Adam, Gia harus menanggung kebencian pria yang menganggapnya sebagai pembunuh calon istrinya. Sementara itu, Amerda justru mengambil kesempatan untuk menggantikan Gia menikah dengan Ricardo Dominic demi menyelamatkan kehormatan keluarga.
Mampukah Gia membuktikan dirinya tidak bersalah? Dan apa yang akan terjadi ketika Adam mengetahui bahwa wanita yang dibencinya ternyata hanyalah korban pengkhianatan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 15
Kediaman keluarga Conti sore itu tampak tenang. Tuan Sadam Conti sedang duduk di ruang keluarga bersama istrinya, Nyonya Maudi, ketika suara deru beberapa mobil terdengar dari halaman depan. Sadam mengernyitkan kening. Dia melirik jam di pergelangan tangannya, lalu menoleh kepada seorang pelayan yang baru saja memasuki ruangan.
"Siapa yang datang?" tanyanya.
"Maaf, Tuan. Saya belum tahu. Ada beberapa pria berpakaian hitam di depan gerbang."
Sadam belum sempat menanggapi ketika seorang pelayan lain datang dengan wajah pucat.
"Tuan, ada seorang pria yang ingin bertemu dengan Anda. Dia datang bersama beberapa pengawal."
"Siapa namanya?"
Pelayan itu tampak ragu sebelum menjawab, "Namanya Tuan Marco, Tuan."
"Marco?" Sadam mengulang nama itu dengan kening berkerut.
Di sampingnya, Maudi yang sejak tadi mendengarkan percakapan tersebut tiba-tiba menegakkan tubuh.
"Marco?" ulangnya, kali ini dengan suara yang terdengar berbeda. "Jangan-jangan Tuan Marco yang bekerja untuk Tuan Adam Lorenzo Maxnore?"
Sadam langsung menoleh kepada istrinya, "Apa?"
Maudi tidak menjawab. Dia segera berdiri, wajahnya berubah tegang.
Dia mengenal nama Adam Lorenzo Maxnore. Pria itu bukan seseorang yang bisa diperlakukan sembarangan. Di dunia bisnis maupun dunia gelap, nama Adam cukup untuk membuat banyak orang berpikir dua kali sebelum mengambil keputusan, dan Marco adalah orang kepercayaannya. Jika pria itu sampai datang langsung ke kediaman mereka, tentu ada sesuatu yang tidak beres.
"Suruh dia masuk!" perintah Sadam, berusaha menyembunyikan keterkejutannya.
Tak lama kemudian, Marco memasuki ruang keluarga bersama dua orang anak buahnya. Langkahnya tenang, tetapi sorot matanya dingin. Dia sama sekali tidak menunjukkan sikap sungkan meskipun sedang berada di rumah keluarga Conti.
Sadam segera bangkit dari tempat duduknya.
"Tuan Marco, suatu kehormatan bagi saya atas kedatangan Anda di kediaman kami." Dia mengulurkan tangan dengan senyum ramah. "Maafkan kami karena tidak menyambut Anda dengan layak, silakan duduk."
Marco tidak langsung menyambut uluran tangan itu. Dia hanya melirik Sadam sekilas sebelum mengalihkan pandangannya ke sofa di hadapannya.
"Saya datang bukan untuk bersilaturahmi, Tuan Sadam."
Senyum di wajah Sadam sedikit memudar. Maudi yang berdiri di samping suaminya mulai merasa gelisah.
"Kalau begitu, apakah ada sesuatu yang bisa kami bantu?" tanya Sadam, berusaha tetap ramah.
Marco akhirnya duduk. Kedua anak buahnya tetap berdiri di belakangnya dengan sikap tegap.
"Ada sesuatu yang perlu saya bicarakan dengan Anda."
"Tentu, silakan."
Marco menatap Sadam tanpa ekspresi.
"Di mana putri Anda?"
Pertanyaan itu membuat Sadam dan Maudi saling berpandangan.
"Putri kami?" Maudi mengulang dengan hati-hati.
"Ya, saya datang untuk menemuinya."
Sadam berdeham kecil sebelum menjawab, "Sayangnya, Amerda sedang tidak berada di rumah ini. Sedangkan, Gia beberapa hari belum pulang. Apakah ada masalah dengan mereka, Tuan Marco?"
Marco tidak segera menjawab. Dia justru membuka sebuah map yang dibawanya, kemudian mengeluarkan foto anting berbatu rubi dengan desain pecah seribu.
Dia meletakkan foto itu di atas meja.
"Apakah Anda mengenali benda ini?"
Sadam menunduk untuk melihatnya.
"Itu..." Dia mengambil foto tersebut, mengamati bentuk antingnya dengan saksama. "Bukankah ini anting yang saya pesan beberapa bulan lalu?"
"Benar, anting itu merupakan hadiah yang Anda berikan kepada putri Anda, bukan?"
Maudi langsung menoleh kepada suaminya.
"Mas, bukankah itu anting yang kau berikan kepada putri kita sebagai hadiah?"
Sadam mengangguk.
"Benar, saya sendiri yang memesannya."
Marco menyandarkan punggungnya, lalu melanjutkan dengan suara datar.
"Anting tersebut ditemukan di lokasi kecelakaan yang menewaskan Nona Veronika."
Seketika, wajah Sadam berubah. Maudi menutup mulutnya dengan tangan, sementara foto yang dipegang Sadam hampir terlepas dari jemarinya.
"Apa?" seru Sadam tidak percaya.
"Anting milik putri anda ditemukan di lokasi kecelakaan itu," ulang Marco. "Karena itu, Tuan Adam memerintahkan saya untuk membawa putri Anda menghadap beliau."
Sadam langsung menggeleng.
"Tunggu dulu! Anda tidak bisa langsung menyimpulkan sesuatu hanya berdasarkan sebuah anting!" Suaranya mulai meninggi.
"Putri saya tidak mungkin terlibat dalam kecelakaan itu! Dia tidak mungkin membunuh siapa pun!"
Marco menatapnya dingin.
"Saya belum mengatakan bahwa mereka membunuh, Tuan Sadam. Namun, barang milik putri Anda ditemukan di tempat kejadian perkara. Itu cukup menjadi alasan bagi kami untuk meminta penjelasan darinya."
"Putri saya tidak bersalah!" bantah Sadam dengan keras. "Saya mengenal putri saya. Dia tidak mungkin melakukan hal seperti itu!"
Maudi segera mendekati suaminya, mencoba menenangkan pria itu meskipun wajahnya sendiri sudah pucat.
"Mas Sadam, tenanglah dulu."
"Bagaimana aku bisa tenang, Maudi?" Sadam menoleh kepadanya. "Mereka datang ke rumah kita dan menuduh putri kita membunuh seseorang!"
Marco mengangkat sebelah alisnya.
"Saya tidak datang untuk berdebat dengan Anda. Saya datang untuk membawa putri Anda menghadap Tuan Adam."
Sadam kembali menatapnya. Kali ini, senyum ramah yang sempat dia tunjukkan saat menyambut Marco telah benar-benar menghilang.
"Tuan Marco, saya menghormati Tuan Adam dan tidak berniat mencari masalah dengannya. Namun, saya tidak akan menerima tuduhan terhadap putri saya tanpa bukti yang jelas."
"Kalau begitu, biarkan saya bertemu dengan putri Anda,"
Sadam terdiam. Dia ingin membantah lagi, tetapi kali ini kata-katanya tertahan di tenggorokan.
"Putri saya tidak ada di rumah. Gia, telah melarikan diri di hari pernikahannya. Saya tidak menganggap dia sebagai putri saya lagi!" katanya dengan tegas.
"Mas, apa yang kamu katakan Gia putri kandung mu, Mas!" Maudi tidak menyangka kalau suaminya bisa berkata seperti itu.
"Saya sedang tidak membicarakan Nona Gia, tetapi yang saya maksud adalah, Nona Amerda Conti, saat ini terlibat dalam kasus tabrak lari, dia melarikan diri dari lokasi kejadian," ungkap Marco.
"Apa?!" Sadam dan Maudi, sama-sama terkejut setelah mendengar pernyataan Marco.
ap Dy punya rencana sendri???