NovelToon NovelToon
Istri Kontrak Sang Pewaris Dingin

Istri Kontrak Sang Pewaris Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Konflik etika / CEO
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Fabdul

​Demi menyelamatkan nyawa ibunya, Aira Kirana terpaksa menerima tawaran nikah kontrak dari Devan Mahendra. CEO dingin yang membutuhkan istri formalitas demi posisinya di Mahendra Group. Bagi Devan, Aira hanyalah transaksi yang bisa dibeli dengan uang.

​Namun, Aira menolak tunduk. Di tengah intrik dan hinaan keluarga Mahendra, ia berdiri tegap mempertahankan harga diri dan ketulusannya sebagai perajin tenun.

​Saat benih kepedulian Devan mulai tumbuh, bayang-bayang masa lalu bernama Clara kembali hadir, membawa ujian baru bagi hubungan mereka.

​Mampukah Devan meruntuhkan egonya demi mempertahankan Aira? Ataukah Aira memilih pergi, membuktikan bahwa ketulusan tak pernah bisa dibeli?

​Sebuah kisah tentang harga diri, penyesalan suami, dan kekuatan ketulusan yang meluluhkan hati yang beku.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fabdul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Harga Diri yang Terluka

Dua minggu sudah Aira tinggal di penthouse Devan. Selama itu pula, mereka hampir tidak pernah bertemu.

Devan selalu berangkat pagi dan baru pulang saat dini hari. Bahkan, ketika berada di rumah, pria itu jarang menyapanya. Bagi Devan, Aira hanyalah perempuan yang terikat dalam sebuah kesepakatan dengannya.

Pagi itu, Devan sedang berada di kantornya ketika Arga masuk ke ruang kerjanya dengan wajah serius.

"Maaf mengganggu, Tuan. Ada sesuatu yang perlu saya sampaikan."

Devan yang sedang memeriksa beberapa dokumen mengangkat wajahnya.

"Ada apa?"

"Tadi, Nyonya Siska menghubungi saya dan menanyakan latar belakang Nyonya Aira. Beliau juga menanyakan tentang keluarga dan alasan pernikahan Anda."

Devan meletakkan dokumen di tangannya.

"Lalu?"

"Saya menjelaskan sebatas yang beliau tanyakan, Tuan. Namun, beberapa saat lalu, saya mendapat kabar bahwa Nyonya Siska pergi ke penthouse Anda."

Wajah Devan langsung berubah.

"Apa?"

"Sepertinya beliau ingin bertemu langsung dengan Nyonya Aira."

Devan berdiri dari kursinya. Ia meraih jas yang tergantung di sandaran kursi, lalu mengambil ponselnya.

"Kenapa kau baru memberitahuku sekarang?"

"Saya baru saja menerima kabar tersebut, Tuan."

Devan tidak menjawab. Ia segera berjalan menuju pintu dengan wajah yang mengeras.

Ia tahu betul bagaimana sifat ibunya. Setelah mengetahui latar belakang Aira, Siska pasti tidak akan tinggal diam. Devan mempercepat langkahnya. Ia tidak mau urusan ini menjadi rumit nantinya.

"Siapkan mobil sekarang, Arga!"

"Baik, Tuan."

Arga segera mengikuti Devan keluar dari ruangan.

Sepanjang perjalanan menuju penthouse, wajah Devan tampak semakin gelap. Ia beberapa kali melirik jam tangannya, tidak sabar ingin segera sampai.

Sementara itu, Aira sedang menyiapkan sarapan di meja makan. Ia baru saja meletakkan sepiring nasi goreng telur dan secangkir teh hangat ketika pintu utama penthouse terbuka.

Seorang wanita paruh baya masuk dengan langkah tegas. Sepatu berhak tinggi yang dikenakannya menimbulkan suara nyaring di lantai marmer. Dua orang pengawal berpakaian hitam berjalan di belakangnya.

Wanita itu mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Begitu melihat Aira, langkahnya terhenti.

"Jadi, ini perempuan yang membuat Devan nekat mendaftarkan pernikahan tanpa izin keluarga?"

Aira menoleh. Ia segera mengenali wanita yang berdiri di hadapannya dari sorot mata dan raut wajahnya yang tegas.

Siska Mahendra, ibu kandung Devan.

"Selamat pagi, Tante," sapa Aira sopan.

Plak!

Siska langsung menampar pipi Aira.

Aira tersentak. Tangannya spontan memegang pipi yang terasa perih. Ia menatap Siska dengan tidak percaya, tidak menyangka wanita itu akan menyerangnya tanpa memberikan kesempatan untuk berbicara.

"Kurang ajar! Siapa yang kamu panggil Tante?!" bentak Siska. "Kamu pikir setelah berhasil menjebak anakku, kamu bisa seenaknya menjadi bagian dari keluarga Mahendra? Dasar perempuan tidak tahu diri!"

Aira menurunkan tangannya perlahan. Ia berusaha menahan emosinya sebelum kembali menatap Siska.

"Saya tidak pernah menjebak siapa pun, Nyonya Siska. Pernikahan ini adalah kesepakatan antara saya dan Mas Devan."

"Mas Devan?" Siska tertawa sinis. "Berani sekali kamu memanggilnya seperti itu!"

Wanita itu melangkah mendekat. Tatapannya menyapu Aira dari ujung kepala hingga kaki.

"Arga sudah menceritakan semuanya kepadaku. Kamu hanya gadis desa, pengrajin tenun miskin, anak seorang penjudi, dan punya ibu yang sedang sakit parah. Kamu sengaja menjual diri demi melunasi utang keluargamu, bukan?"

Aira mengepalkan tangan di sisi tubuhnya. Ia tidak menyukai cara Siska menghina keluarganya, terlebih ketika wanita itu menjadikan kondisi ibunya sebagai bahan ejekan.

Namun, ia tidak ingin membalas dengan kemarahan.

"Syarat pernikahan ini diajukan oleh putra Anda sendiri, Nyonya. Kalau Anda keberatan, sebaiknya bicarakan langsung dengan Mas Devan."

"Kamu berani membantahku?!"

Siska mengangkat tangannya lagi.

"Hentikan, Ibu!"

Suara Devan terdengar dari arah pintu masuk. Ia berjalan cepat menghampiri mereka dengan kemeja yang lengannya tergulung hingga siku. Tatapannya langsung tertuju pada Siska yang berdiri di hadapan Aira.

Siska menurunkan tangannya, lalu berbalik menghadap putranya.

"Devan! Kamu lihat sendiri bagaimana perempuan kampung ini berani melawan ibumu? Kamu sudah kehilangan akal sehat sampai menikahi perempuan seperti dia dan membiarkannya tinggal di penthouse-mu?!"

Devan berdiri di antara mereka. Ia sempat melirik pipi Aira yang memerah, tetapi tidak menanyakan apa pun kepadanya.

"Aku menikahinya bukan untuk meminta persetujuan Ibu," jawab Devan dingin.

"Tapi, Devan—"

"Pernikahan ini diperlukan untuk mengamankan hak warisanku dan memenuhi syarat agar aku bisa menduduki posisi penuh sebagai CEO Mahendra Group dalam PURS mendatang." Devan menatap ibunya lekat-lekat. "Aku tidak akan membiarkan Paman Hadi merebut semuanya dariku. Ibu tahu itu."

Siska menggelengkan kepala dengan kesal.

"Tapi tidak dengan cara seperti ini! Masih banyak perempuan yang lebih layak daripada si kampungan ini. Dia hanya memanfaatkan uangmu. Apa jadinya keluarga Mahendra kalau orang-orang tahu menantu keluarga kita adalah anak seorang penjudi?"

"Tidak akan ada yang tahu kalau Ibu bisa menjaga mulut."

"Devan!"

"Keluar dari penthouse-ku sekarang, Bu. Jangan ikut campur dalam urusanku."

Siska terdiam. Ia tidak menyangka putranya akan mengusirnya hanya demi membela perempuan yang baru dua minggu menjadi istrinya.

Dengan wajah kesal, Siska berbalik menuju pintu. Namun, sebelum pergi, ia sempat menoleh kepada Aira.

"Jangan senang dulu, perempuan kampung. Kita lihat berapa lama kamu bisa bertahan di sini!"

Pintu penthouse tertutup keras setelah Siska pergi.

Aira mengembuskan napas pelan. Ia kembali mengusap pipinya yang masih terasa perih, lalu melirik Devan.

Untuk sesaat, ia berharap pria itu akan menanyakan keadaannya. Bagaimanapun, Siska baru saja menamparnya di hadapan Devan.

Namun, harapan itu tidak bertahan lama.

"Jangan pernah bertindak sok berani di depan ibuku lagi."

Aira menoleh. Devan menatapnya dengan wajah dingin, seolah kejadian tadi bukan sesuatu yang perlu dipermasalahkan.

"Sok berani?" Aira mengernyit. "Ibu Anda datang dan menampar saya tanpa alasan, Mas Devan. Saya hanya membela diri dan mempertahankan harga diri saya!"

Devan melangkah mendekat. Ia kemudian mencengkeram dagu Aira dan memaksanya menatap wajahnya.

"Membela diri?" Devan tersenyum sinis. "Kuingatkan, dengar baik-baik! Harga dirimu sudah habis sejak kamu menerima cek dua ratus juta itu."

Aira terdiam. Ia menatap Devan dengan mata berkaca-kaca, tetapi berusaha menahan air matanya agar tidak jatuh.

"Kamu ada di sini hanya untuk memenuhi kesepakatan kita," lanjut Devan. "Jadi, jangan membuat masalah baru."

Devan melepaskan dagu Aira.

Tanpa mengatakan apa-apa lagi, pria itu berjalan menuju pintu dan meninggalkan Aira sendirian.

Aira masih berdiri di dekat meja makan. Ia menatap sarapan yang sudah disiapkannya sejak pagi, kemudian menarik kursi dan duduk perlahan.

Pipi kirinya masih terasa perih. Namun, ucapan Devan justru lebih menyakitkan daripada tamparan yang diterimanya.

Aira mengusap sudut matanya sebelum air matanya sempat jatuh.

Ia tahu pernikahan ini hanyalah sebuah kesepakatan. Ia juga tahu Devan tidak pernah menginginkan dirinya sebagai seorang istri.

Namun, ia tidak pernah menyangka bahwa mempertahankan harga dirinya sendiri pun akan dianggap sebagai sebuah kesalahan.

Bersambung...

1
Ariany Sudjana
Devan sudah ada hati sama Aira, cuma masih Denial dengan perasaannya sendiri
Jesselyn Runtuwene
lanjut 👍
Jesselyn Runtuwene
lanjut
fabdul
Luar Biasa
Jesselyn Runtuwene
lanjut
Muft Smoker
lanjuuut kak ,,
Jesselyn Runtuwene
ijin promosi novel juga Judul Sang Pemain ( yang awalnya tidak suka bermain bola menjadi pemain profesional ) mampir yuk
Jesselyn Runtuwene
lanjut
Jesselyn Runtuwene
semoga saja Clara tidak menimbulkan masalah
Muft Smoker
Clara mungkin tenang dlm setiap obrolan ,, dan semoga akan ttap seperti tu ,, jgn prnh merusak rumah tangga prempuan lain ,, dan Devan harus selalu bisa mengambil sikap tegas ,,
Ariany Sudjana
kamu harus tegas Devan, jangan sampai si pelacur murahan itu menghancurkan rumah tangga kamu dengan aira, apalagi mama kamu kelihatan sekali masih berharap Clara yang jadi istri kamu, hanya karena pertimbangan sama-sama keluarga konglomerat
Jesselyn Runtuwene
semoga Clara tidak menjadi masalah bagi Devan
Jesselyn Runtuwene
lanjut
Anvika
Ratih berhenti sejenak, keknya lebih bagus diganti napas Ratih tercekat.
fabdul: siap kak makasih ya atas masukannya, nanti aku baca kembali bab ini sebelum revisinya 😊
total 1 replies
Anvika
Mampir kak
Anvika
Lanjut
Muft Smoker
lanjuuut kak ,,

semoga aj si Clara gx jdi ulet bulu di tengah2 Aira dan Devan ,,
meski pernikahan mereka di dasari Krn kesepakatan bisnis semata ,,
Muft Smoker: ok siap kak ,,
semangat trus /Grin/
total 2 replies
Muft Smoker
waah nyari masalah aj niih siapa pun org ny😏
Muft Smoker
kasih kopi Aira ,, biar jernih fikiran si Devan ,, 🤭🤭🤭🤭
Muft Smoker
mulai kena gempa kecil yx Devan ,,
awas loo menjilat ludah sendri ,, 🤭🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!