Di ujung terlupakan Kerajaan Tianhe, seorang anak yatim bernama Qin Mu tumbuh di Desa Canglan bersama seorang pemabuk tua yang mengaku petani. Yang ia miliki hanyalah pisau berburu berkarat, liontin batu hitam peninggalan ayah yang tak pernah kembali, dan satu pertanyaan yang tak terjawab: mengapa ia ditinggalkan?
Ketika dunia kultivator yang selama ini hanya ia dengar sebagai legenda tiba-tiba menghancurkan kedamaian desanya, Qin Mu dipaksa memasuki jalan yang telah ditentukan jauh sebelum ia lahir jalan yang berlumuran darah, penuh pengkhianatan, dan dibayar dengan harga yang tak seorang pun mau membayarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 3
Sisa-sisa api yang melahap atap rumah kepala desa berdesis mati saat gerimis tipis mulai turun menjelang fajar. Bau hangus kayu pinus bercampur dengan aroma anyir darah yang menolak hilang dari udara Desa Canglan.
Qin Mu berdiri di ambang pintu gubuk tuanya. Di punggungnya terikat sebuah buntalan kain berisi pakaian ganti, sekantung ubi kering, dan sebilah pisau buru. Pandangannya kosong menatap ke arah pelataran desa.
Bibi Zhao masih menangis dalam diam di samping ranjang Paman Li. Pria yang dulu memiliki lengan sekokoh batang besi itu kini terbaring pucat, bahu kirinya hancur dibalut kain perban yang terus merembeskan warna merah gelap. Ia tidak mati, namun hidupnya sebagai pemburu utama desa telah berakhir malam ini.
"Kau berutang nyawa padanya," sebuah suara serak memecah lamunan Qin Mu.
Gu Shanyin melangkah keluar dari kabut pagi. Lelaki tua itu tidak lagi mengenakan pakaian bertambal miliknya, melainkan jubah abu-abu kusam yang entah sejak kapan ia simpan. Di tangannya terdapat sebuah botol porselen kecil. Ia baru saja selesai meneteskan cairan bening dari botol itu ke atas dua belas mayat perampok. Tanpa api, mayat-mayat itu meleleh menjadi abu kelabu berbau belerang, tersapu angin gerimis seolah mereka tidak pernah ada.
"Aku tahu," jawab Qin Mu pelan, suaranya bergetar menahan emosi. "Jika aku lebih kuat... Paman Li tidak perlu kehilangan lengannya."
"Jika kau lebih kuat, kau yang akan membunuh mereka, dan organisasi di belakang anjing-anjing ini akan mengirim kultivator tahap Core Formation untuk membakar seluruh lembah ini menjadi lautan kaca," potong Gu Shanyin dingin. Ia membalikkan badan, menatap Qin Mu dengan mata elangnya. "Membunuh itu mudah. Menanggung akibat dari siapa yang kau bunuh, itu yang menghancurkan seorang pendekar."
Gu Shanyin melempar botol porselen kosong itu ke tanah, menghancurkannya dengan ujung sepatunya. "Mereka menggunakan Cacing Pelacak Darah teknik rendahan dari sekte bayangan. Menghancurkan mayat-mayat ini hanya akan memberi kita waktu tiga hari sebelum majikan mereka menyadari utusan mereka mati dan mulai menyisir pegunungan. Kita berangkat sekarang."
Qin Mu menoleh menatap gubuknya untuk terakhir kali, lalu mengangguk. Ia tidak mengucapkan selamat tinggal pada penduduk desa. Gu Shanyin telah melarangnya. Lebih baik mereka menganggap kita lari ketakutan di malam hari. Jika mereka tidak tahu apa-apa, mereka tidak punya rahasia untuk disiksa, begitu kata lelaki tua itu.
Mereka berdua melangkah meninggalkan pelataran, menyusuri jalan setapak yang membelah hutan basah Pegunungan Qingluo. Langkah Gu Shanyin tidak secepat semalam, bahunya sedikit merosot, dan sesekali Qin Mu mendengar lelaki tua itu menahan batuk kering.
"Kek, semalam perampok itu berteriak... Foundation Establishment," Qin Mu memecah keheningan setelah mereka berjalan selama dua jam menembus hutan pinus yang mulai disinari matahari pagi. "Apa itu?"
Gu Shanyin tidak menghentikan langkahnya. Ia menenggak arak dari labunya sebelum menjawab, "Dunia kultivasi tidak diukur dari seberapa keras kau bisa memukul, Bocah. Ia diukur dari seberapa banyak hukum dunia yang bisa kau tampung dalam tubuh fanamu."
Lelaki tua itu mengangkat sebelah tangannya. Angin pagi yang berhembus liar tiba-tiba berkumpul di telapak tangannya, berputar membentuk pusaran kecil yang memotong daun-daun pinus yang jatuh menjadi serpihan debu.
"Manusia lahir dengan tubuh yang kotor dan meridian yang tersumbat. Tahap pertama adalah Penempaan Tubuh. Kau harus menghancurkan batas fisikmu, memperkuat otot, kulit, dan tulang hingga setajam besi. Ini bukan sihir; ini kerja keras murni, darah, dan keringat," jelas Gu Shanyin, pusaran angin di tangannya menghilang.
"Setelah tubuhmu cukup kuat menahan tekanan, kau bisa mulai menarik energi langit dan bumi ke dalam perutmu Dantian. Itu tahap Qi Gathering. Saat energi gas itu memadat menjadi cairan dan membentuk fondasi yang menopang kehidupan spiritualmu... barulah kau disebut berada di ranah Foundation Establishment."
Qin Mu menunduk menatap telapak tangannya yang kapalan karena membelah kayu. "Semalam Kekek membunuh mereka semua. Berarti Kekek sudah mencapai Foundation Establishment?"
Gu Shanyin mendengus sinis. "Fondasi? Fondasiku sudah lama retak, Bocah. Apa yang kau lihat semalam hanyalah sisa-sisa napas dari orang tua yang keras kepala menolak mati."
Qin Mu terdiam. Matanya menangkap sesuatu yang aneh. Sejak pembantaian semalam, dada kirinya terus terasa hangat. Tanpa sadar, tangannya merogoh ke balik kerah bajunya. Cincin Giok Retak yang selalu terasa dingin seperti es, kini memancarkan pendar hijau yang sangat redup, berdenyut seirama dengan detak jantungnya. Kepingan logam hitam yang terikat bersamanya juga terasa bergetar halus.
Langkah Gu Shanyin tiba-tiba berhenti. Mata lelaki tua itu melirik ke arah dada Qin Mu. Sebuah kilatan kerumitan antara kesedihan dan ketakutan melintas di wajah keriputnya.
"Sembunyikan itu," perintah Gu Shanyin dengan nada yang tidak menerima bantahan. "Sampai dadamu bisa menahan tebasan pedang spiritual, jangan pernah biarkan benda itu terkena darah segar. Mengerti?"
Qin Mu tersentak dan buru-buru memasukkan cincin itu kembali. "Kakek tahu benda apa ini sebenarnya? Ayahku..."
"Ayahmu adalah orang bodoh yang terlalu mencintai keluarganya," potong Gu Shanyin kasar, membuang muka. "Dan benda itu... adalah alasan mengapa kau tidak boleh menjadi lemah."
Angin tiba-tiba berhenti berhembus. Kicauan burung di Pegunungan Qingluo senyap seketika, seolah alam itu sendiri menahan napas. Bau tanah basah tergantikan oleh aroma dupa cendana yang sangat pekat aroma kematian.
Mereka telah mencapai Ngarai Angin Patah, satu-satunya jalan keluar dari wilayah Pegunungan Qingluo. Di ujung ngarai yang sempit dan diapit tebing batu terjal itu, kabut putih bergulung tidak wajar.
Di tengah jalan setapak berlumpur, sebuah tandu kayu hitam pekat berhenti. Tandu itu tidak ditarik oleh kuda, melainkan diangkat oleh empat sosok manusia pucat tanpa ekspresi yang kakinya tidak menyentuh tanah.
Gu Shanyin perlahan memindahkan labu arak ke pinggangnya. Posturnya yang bungkuk kembali tegak. Udara di sekelilingnya menjadi berat, menekan dada Qin Mu hingga ia kesulitan bernapas.
Tirai tandu hitam itu tersingkap pelan oleh sebuah jari pucat yang dihiasi cincin batu darah. Dari dalam kegelapan tandu, sebuah suara yang terdengar seperti gesekan logam berkarat menggema, mengabaikan sosok Qin Mu dan langsung menusuk ke arah Gu Shanyin.
"Dua belas tahun bersembunyi di lumpur bersama babi-babi desa..." suara itu terkekeh pelan. "Apakah Pedang Hantu dari Lembah Duka telah melupakan cara menghunus bilahnya, Gu Shanyin?"
Jika Kalian Suka dengan cerita ini silahkan beri
Like, Ranting ⭐️ dan Vote 🎟 serta Gift 💰.
Penilaian & Kontribusi kalian sangat berharga bagi author untuk tetap semangat update cerita ini.
TERIMA KASIH.... ✌️
ini enak nih gak bertele2,tinggal musuh yg lebih kuat udah nunggu
Jika Kalian Suka dengan cerita ini silahkan beri
Like, Ranting ⭐️ dan Vote 🎟 serta Gift 💰.
Penilaian & Kontribusi kalian sangat berharga bagi author untuk tetap semangat update cerita ini.
TERIMA KASIH.... ✌️