Siapa sangka, Sindi Permata gadis cantik anak miliarder yang penampilannya selalu anggun dan kelihatan lemah lembut ternyata punya sisi gelap yang bikin bulu kuduk merinding. Sindi adalah Ratu Mafia yang memimpin dunia hitam dengan tangan besi. Nggak ada yang berani macam-macam sama dia.
Tapi, sehebat-hebatnya Sindi menaklukan dunia luar, dia akhirnya takluk juga pasrah waktu disuruh nikah paksa sama papanya.
Suaminya adalah Mike Sanjaya, dokter muda jenius yang terkenal dingin, kaku, dan judesnya minta ampun. Masalahnya bukan cuma sifat Mike yang kayak es batu, tapi cowok itu udah punya pacar kesayangan: Putri Adisti, seorang perawat manis yang selama ini jadi ratu di hati Mike, begitu resmi jadi suami-istri, Mike langsung pasang tembok tinggi. Dia terang-terangan nunjukkin kalau pernikahan mereka cuma formalitas dan nggak ada tempat buat Sindi di hatinya. Mike bahkan masih sering nemenin dan merhatiin Putri adisti.
akankah pernikahan mereka bertahan??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naelong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 3 Ratu mafia istri dokter dingin
BAB 3
Lampu kristal raksasa yang menggantung di tengah ruangan restoran bintang lima itu memancarkan cahaya keemasan yang sangat mewah.
Malam ini, seluruh area VIP restoran tersebut telah disewa khusus oleh keluarga Sanjaya dan keluarga Permata. Suasana di dalam ruangan terasa begitu eksklusif, tapi di saat yang sama juga menyimpan ketegangan yang amat pekat.
Di ujung meja makan panjang, Hendra Permata duduk berhadapan langsung dengan Baskoro Sanjaya.
Kedua pria paruh baya bertangan dingin di dunia bisnis itu tampak tertawa renyah, sesekali berdenting gelas anggur sambil membicarakan grafik saham dan investasi puluhan miliar.
Namun, pemandangan berbeda terlihat pada dua orang anak muda yang duduk berdampingan di sisi meja.
Sindi Permata malam ini tampil begitu memukau. Ia mengenakan gaun malam berwarna krem lembut yang sangat anggun, menutup tubuhnya dengan sempurna tanpa kesan murahan.
Rambut hitamnya disanggul rapi dengan beberapa helai dibiarkan jatuh secara alami membingkai wajah cantiknya. Wajah yang malam ini dihiasi senyum tipis, manis, dan begitu lugu.
Siapa pun yang melihatnya saat ini pasti akan berpikir Sindi adalah tipe putri kaya raya yang lembut, penurut, dan tidak pernah menyakiti seekor semut pun.
Tidak ada yang tahu kalau jemari lentik yang kini sedang memegang garpu perak dengan sangat sopan itu sering mencabut nyawa seorang pengkhianat mafia.
Di sebelah Sindi, duduk Mike Sanjaya. Dokter tampan itu mengenakan jas hitam mahal yang membalut tubuh tegapnya. Namun, ekspresi wajah Mike benar-benar membuat ruangan itu serasa diselimuti salju.
Tatapan matanya lurus menatap piring kosong di depannya, rahangnya terkatung rapat, dan sama sekali tidak berniat membuka suara atau sekadar menyapa keluarga calon istrinya.
"Sindi, coba kamu ambilkan daging steak itu untuk Mike," potong Hendra tiba-tiba, memecah obrolan bisnisnya dengan Baskoro.
Hendra menatap putrinya dengan senyum penuh maksud. "Kamu kan calon istrinya, harus belajar melayani suami dari sekarang."
"Baik, Pa," jawab Sindi dengan suara yang luar biasa lembut dan merdu.
Sindi tersenyum manis, lalu dengan sangat hati-hati dan anggun, ia mengambil sepotong daging berkualitas tinggi dari piring saji, lalu memindahkannya ke piring Mike.
"Silakan diminum juga air putihnya, Mas Mike," ucap Sindi pelan, tatapan matanya dibuat begitu polos dan penuh perhatian.
Baskoro tertawa puas melihat pemandangan itu. "Lihat itu, Mike! Sindi ini betul-betul gadis yang santun dan berpendidikan. Jarang ada anak zaman sekarang dari keluarga kaya yang seanggun ini. Kamu beruntung sekali dapat Sindi."
Bukannya berterima kasih, Mike justru mendengus pelan, sebuah helaan napas yang sangat jelas terdengar melecehkan.
Tanpa menyentuh daging yang baru saja diberikan Sindi, Mike malah mendorong piringnya agak jauh ke depan.
"Terima kasih, tapi saya bisa ambil sendiri kalau memang butuh," jawab Mike dingin, nadanya begitu kaku dan sama sekali tidak ada kehangatan. Bahkan ia tidak menoleh sedikit pun ke arah Sindi.
Suasana di meja makan mendadak berubah canggung. Senyum di wajah Hendra sedikit meluntur, sementara Baskoro melotot tajam mengancam ke arah putra tunggalnya.
"Mike! Jaga kesopanan kamu di depan Om Hendra dan Sindi!" tegur Baskoro dengan suara tertahan, menahan amarah yang mulai naik ke ubun-ubun.
Sindi yang melihat situasi itu segera mengibaskan tangannya pelan, memasang raut wajah penuh pemahaman dan sedikit cemas—akting yang benar-benar sempurna.
"Ah, tidak apa-apa, Om Baskoro," potong Sindi cepat dengan nada sangat halus. "Mas Mike mungkin masih capek karena seharian kerja di rumah sakit. Sindi mengerti kok, pekerjaan dokter kan memang sangat berat dan menyita pikiran."
Mendengar ucapan manis dan lembut dari Sindi, Baskoro makin terkagum-kagum, sedangkan Hendra mengangguk puas.
"Tuh kan, Mike! Sindi saja begitu pengertian sama kamu!" omel Baskoro lagi. "Harusnya kamu malu sama sikap kamu yang kekanak-kanakan begini!"
Mike akhirnya memutar kepalanya, menatap Sindi secara langsung untuk pertama kalinya malam itu.
Pandangan mata Mike dipenuhi rasa muak dan kecurigaan. Di matanya, Sindi tak lebih dari cewek manja, pencari muka, dan pura-pura baik demi mendapatkan simpati orang tuanya. Mike paling benci wanita bermuka dua seperti ini.
"Capek?" Mike tersenyum sinis, menatap Sindi dari atas sampai bawah dengan penuh penghinaan.
"Saya capek bukan karena pekerjaan di rumah sakit, tapi karena harus berada di sini, berpura-pura menikmati drama perjodohan konyol ini."
Brak!
Baskoro menepuk meja makan dengan keras hingga cangkir-cangkir di atasnya berdenting nyaring. "Mike! Cukup!"
"Kenapa, Pa? Mau ancam Mike lagi?" tantang Mike tanpa rasa takut, matanya menyala marah pada ayahnya.
Lalu ia kembali menatap Sindi dengan tatapan dingin yang menusuk.
"Dengar ya, Sindi Permata. Saya tidak tahu racun apa yang sudah kamu atau keluarga kamu berikan sampai orang tua saya ngotot mau menjodohkan kita. Tapi satu hal yang harus kamu tahu..."
Mike mendekatkan wajahnya sedikit ke arah Sindi, menyuarakan kalimatnya dengan sangat jelas dan penuh penekanan.
"Di hati saya, sudah ada wanita lain Dan bagi saya, dia seribu kali lebih berharga dibanding cewek manja yang cuma mengandalkan harta orang tua seperti kamu. Pernikahan ini tidak akan pernah buat saya menyukai kamu, walau cuma secuil."
Ruangan VIP itu mendadak hening seketika.
Hendra Permata mengepalkan tangannya di bawah meja, matanya memerah menahan murka karena putrinya dihina terang-terangan di depan matanya sendiri.
Baskoro sudah berdiri hendak melayangkan tamparan ke wajah Mike.
Namun, di luar dugaan semua orang, Sindi justru menundukkan kepalanya. Bahunya tampak sedikit bergetar, dan mata indahnya berkaca-kaca seolah-olah ia sangat terkejut dan terluka setengah mati oleh kata-kata kasar Mike.
"M-mas Mike... maaf kalau Sindi ada salah..." bisik Sindi dengan suara bergetar, menyapu sudut matanya yang tampak basah seakan hendak menangis. "Sindi... Sindi cuma mau menurut sama Papa..."
"Lihat apa yang kamu lakukan, Mike!" bentak Baskoro murka. "Minta maaf sekarang juga pada Sindi!"
"Nggak akan pernah!" tegas Mike. Ia berdiri dari kursinya, merapikan jasnya yang sedikit kusut, lalu menatap Sindi dengan pandangan sangat dingin untuk terakhir kalinya.
"Saya permisi dulu. Selamat menikmati dramanya."
Tanpa memedulikan teriakan ayahnya yang memanggil namnya berkali-kali, Mike melangkah lebar keluar dari ruangan VIP, meninggalkan kekacauan di belakangnya.
Di dalam ruangan, Baskoro sibuk meminta maaf berulang kali pada Hendra dan Sindi atas kelakuan anaknya.
Hendra mencoba meredam emosinya demi kesepakatan bisnis, sementara tangan Sindi diusap-usap lembut oleh ayahnya untuk menenangkan.
Sindi tetap menundukkan kepala, membiarkan rambut depannya menutupi sebagian wajahnya.
Dari luar, ia terlihat seperti gadis lemah yang sedang menahan tangis karena dicampakkan dan dihina calon suaminya.
Tapi di balik raut wajah malang itu...
Di bawah meja makan, bibir Sindi perlahan terangkat. Sebuah senyuman sangat tipis, dingin, dan penuh intrik terukir sempurna di wajah cantiknya.
Air mata palsu di sudut matanya mengering seketika, berganti dengan kilatan mata tajam bak pemangsa yang baru saja menemukan mangsa yang sangat menarik.
Bagus, Mike Sanjaya... batin Sindi dengan kekehan licik tanpa suara. Ternyata kamu lebih berani dari yang aku bayangkan. Pria dingin yang sok jual mahal... Kita lihat seberapa tahan es batu di hatimu itu begitu kamu masuk ke dalam sangkarku.
Ponsel di dalam tas kecil Sindi mendadak bergetar pelan. Sindi merogoh tasnya, melirik layar ponsel dengan sangat cepat tanpa diketahui oleh orang tuanya atau Baskoro. Sebuah pesan singkat masuk dari anak buah mafianya.
[Nona Sindi, kami sudah menemukan lokasi dan identitas lengkap perawat bernama Putri Adisti. Apakah perlu langsung kami eksekusi malam ini?]
Sindi menatap pesan itu dengan mata menyipit tajam. Jemari lentiknya bergerak dengan cepat di atas layar, membalas pesan tersebut.
Bersambung....
hmmm ad kemungkinan klo putri anggota klan red dragon gx sih ,, yg nyamar buat deketin mike🤔🤔🤔🤭🤭🤭😁😁
makin seruu cerita ny ,,
bibir ny minta di kepang dua ,, 😒😒😒
gx Mike gx musuh ny ,, ad aj yg cari gara2 ,,
duuuh sindii ,, segera berantas semua musuh mu ,,