NovelToon NovelToon
Nona Muda Jatuh Miskin

Nona Muda Jatuh Miskin

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:484
Nilai: 5
Nama Author: BUNGA LYONA

Valeska Aurelia punya tiga prinsip hidup: habiskan uang, tabrak aturan, dan jangan pernah dengarkan orang lain.

Sebagai putri tunggal konglomerat ternama, Valeska terbiasa hidup bak ratu yang tak tersentuh hukum. Pesta malam, mobil sport, dan deretan kartu kredit tanpa limit adalah makanan sehari-harinya.

Sampai dalam semalam, sebuah skandal besar menghancurkan bisnis keluarganya. Ayahnya dipenjara, aset disita, dan semua kartu kreditnya diblokir. Valeska yang kemarin dipuja-puja kini terdepak dari istananya dan terpaksa angkat kaki hanya dengan membawa satu koper berisi barang-barang tak berguna.

Dari kamar seluas lapangan basket ke kontrakan sempit yang airnya sering mati, Valeska dipaksa menghadapi kenyataan pahit: dia tidak tahu cara menyapu, kaget melihat harga mi instan, dan harus mencari uang sendiri.

Mampukah si Nona Muda yang ugal-ugalan ini bertahan hidup tanpa uang sepeser pun, atau gengsi setinggi langitnya justru bikin hidupnya makin berantakan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BUNGA LYONA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

07. Kabar

"Pergi enggak lo berdua?" bisik Elang makin tajam, memberi isyarat mata penuh ancaman pada Marco dan Leo.

"Iya, iya! Ampun, Bos! Kita mengganggu momen indah rupanya," kekeh Marco sambil mengangkat kedua tangan, lalu menarik Leo mundur. "Lanjutkan, Kak Elang! Semoga sukses!"

Setelah dua temannya hilang di belokan koridor, Elang menghela napas lega. Dia menarik kursi kayu di depan Caca lalu duduk dengan gaya sok santai, mencoba mengembalikan sisa-sisa wibawanya.

"Sorry ya, Ca. Anak-anak emang suka ngaco kalau ngomong," kata Elang sambil tersenyum manis, menggeser susu stroberi makin dekat ke tangan Caca. "Diminum gih, mumpung masih dingin."

"Makasih ya, Kak Elang," sahut Caca pelan. Dia meminum susunya sedikit, lalu kembali menatap buku Biologinya yang penuh diagram sel dan jaringan tumbuhan.

Elang yang bingung mau membuka topik obrolan apa lagi, akhirnya nekat memajukan tubuhnya dan melirik ke arah buku tebal itu.

"Asyik banget keliatannya. Lagi ngebahas apaan sih, Ca? Siapa tahu gue bisa bantu," tawar Elang percaya diri, padahal otak akademisnya pas-pasan.

Caca mendongak, matanya berbinar polos. "Materi jaringan tumbuhan, Kak. Ini aku lagi bingung bedain fungsi xilem sama floem. Kak Elang masih ingat enggak?"

Elang mengaruk belakang kepalanya yang tidak gatal, dadanya mendadak berdebar panik. Dia menatap gambar akar tumbuhan di buku itu dengan dahi berkerut sok berpikir keras.

"Oh... Xilem sama floem?" Elang menjentikkan jarinya sok tahu. "Gampang itu mah, Ca! Kalau xilem itu... yang bikin daun warna hijau bukan sih? Nah, kalau floem itu fungsi utamanya buat menyerap air hujan pas malam hari!"

Caca melotot pelan, menatap Elang dengan raut wajah tidak percaya. "Hah? Kak Elang ngaco banget! Yang bikin daun hijau itu klorofil, Kak! Terus xilem itu buat mengangkut air dari akar ke daun, kalau floem buat mengangkut hasil fotosintesis!"

Elang meringis canggung, mengusap lehernya. "Eh... iya maksud gue itu! Gue cuma lagi ngetes lo doang kok, Ca. Ternyata lo pinter banget ya."

"Pinter darimana, orang Kak Elang yang jawabnya asal-asalan!" sungut Caca sambil cemberut, menutup bukunya dengan sebal. "Kak Elang mah bukannya bantu mikir malah bikin aku makin pusing. Mending aku baca sendiri aja deh di perpus."

Melihat reaksi Caca yang makin sebal, Elang cuma bisa menyunggingkan cengiran tanpa dosa, merutuki otak pas-pasannya yang malah merusak momen manis itu.

Elang langsung memajukan duduknya, mencoba memperbaiki keadaan sebelum Caca benar-benar pergi ke dalam perpustakaan.

"Eh, Ca, jangan marah dong. Gue bercanda doang tadi," bujuk Elang sambil memasang raut muka memelas. "Gue jujur deh, otak gue emang kurang nyambung kalau soal Biologi. Tapi kalau soal lapangan basket, baru lo boleh adu gue."

Caca menahan senyum melihat wajah memelas Elang, walau bibirnya masih ditekuk cemberut. "Ya lagian Kak Elang sok tahu banget jawabnya. Aku kan beneran lagi pusing belajar buat ulangan harian besok."

"Iya, iya, gue salah," sahut Elang cepat sambil mengacungkan dua jarinya membentuk tanda peace. "Gini deh, sebagai permohonan maaf, besok pas ulangan gue doain lo dapet nilai seratus. Nanti pulang sekolah gue traktir es krim di depan kompleks. Gimana?"

Caca melirik Elang dari balik kacamatanya, mencerna tawaran itu. "Beneran ya? Jangan om doang."

"Beneran, Ca. Masa gue bohong sama lo," balas Elang manis, membuat pendar bahagia kembali muncul di mata Caca.

Belum sempat Elang menikmati kemenangan kecilnya, suara derak sepatu dan teriakan heboh dari arah koridor kembali mengacaukan suasana.

"ELANG! LANG! ELANG!"

Marco dan Leo berlari terengah-engah dari belokan gedung, wajah mereka penuh peluh dan panik luar biasa.

Elang menghela napas berat, menatap dua sahabatnya dengan raut wajah sangat terganggu. "Apaan sih lo berdua?! Berisik banget! Nggak lihat gue lagi ngobrol?"

"Bukan gitu, Lang! Ini darurat!" pekik Marco sambil memegangi lututnya, berusaha menetralkan napas. "Si Valeska, Lang! Valeska pingsan di tengah lapangan!"

Elang mengerutkan keningnya, merespons dengan nada santai dan dingin. "Terus? Gue harus apa? Harus syukuran? Palingan dia cuma pura-pura akting kayak biasa biar lepas dari hukuman Pak Bambang."

"Kagak, Lang! Ini beneran!" timpal Leo heboh. "Muka dia udah pucat kayak mayat, bibirnya biru! Tadi Pak Bambang aja sampai panik setengah mati pas nepuk pipinya nggak bangun-bangun! Sekarang anak-anak lagi gotong dia ke UKS!"

Mendengar percakapan itu, Caca yang duduk di samping Elang mendadak menoleh. Tatapan matanya menunjukkan rasa penasaran sekaligus kebingungan.

"Kak Elang... dekat ya sama Kak Valeska?" tanya Caca pelan, matanya menatap lurus ke arah Elang.

Elang tersentak kaget. Dia langsung menoleh cepat ke arah Caca, melambaikan tangan dengan nada panik mengklarifikasi.

"Enggak! Nggak sama sekali, Ca!" jawab Elang tegas dan cepat, tidak mau ada salah paham sedikit pun di mata Caca. "Gue sama dia itu musuh. Dia cewek pembuat masalah di sekolah, gue paling males berurusan sama dia."

Caca cuma mengangguk-angguk pelan, walau raut mukanya agak sedikit berubah.

Elang lalu berdiri, menatap Marco dan Leo dengan tatapan sangat tajam dan nada suara penuh penekanan.

"Lo berdua," tegur Elang dingin pada dua temannya. "Lain kali jangan pernah sebut-sebut nama cewek itu lagi di depan gue. Bikin pusing tahu enggak?"

Marco dan Leo saling pandang, meremas tengkuk mereka yang mendadak terasa dingin melihat tatapan tajam Elang. Atmosfer di depan teras perpustakaan seketika berubah canggung.

"Sorry, Lang... Elah, gausah tegang gitu dong," bisik Marco sambil menyenggol lengan Elang pelan, mencoba mencairkan suasana. "Kita berdua cuma mau bikin heboh doang tadi, kagak ada maksud apa-apa kok."

"Iya, Lang, santai aja," timpal Leo sambil menatap Elang dan Caca bergantian dengan muka penuh penyesalan. "Kita kirain lo bakal heboh juga denger kabar si Ratu Sekolah pingsan. Yaudah, sorry ya bikin kagok."

Elang menghela napas panjang, merapikan posisi kemeja seragamnya sambil melirik Caca yang kembali diam menatap buku di pangkuannya.

"Yaudah. Lain kali gausah lebay," sahut Elang datar, mencoba mengontrol suaranya agar tidak terdengar emosi di depan Caca. "Gue nggak peduli dia mau pingsan, mau kayang di lapangan, bukan urusan gue."

"Siap, Bos! Kita balik ke kelas dulu deh kalau gitu," pamit Marco buru-buru, memegang pundak Leo untuk diajak putar balik. "Duluan ya, Dek Caca!"

Setelah Marco dan Leo menghilang di ujung koridor, Elang kembali duduk di kursi kayu di depan Caca. Dia mencoba memulihkan suasana hangat yang sempat buyar, walau di sudut hatinya, ada sedikit rasa ganjil begitu mengingat kabar dari dua temannya tadi—muka pucat dan bibir membiru Valeska bukanlah hal yang biasa.

Caca memiringkan kepalanya sedikit, menatap Elang dengan raut wajah penuh keprihatinan. Jemarinya yang menempel di tepi buku Biologi tampak sedikit meremas halaman kertas.

"Tapi Kak... Kak Valeska beneran enggak apa-apa gitu kalau pingsannya sampai bibir biru?" tanya Caca pelan, suaranya terdengar sangat khawatir. "Maksud aku, kan cuaca di luar terik banget dari tadi pagi. Kalau dia dehidrasi parah atau kena heatstroke gimana?"

Elang menyandarkan punggungnya di kursi kayu, menyilangkan kedua tangan di dada dengan raut wajah yang tampak sangat acuh tak acuh.

"Halah, Ca, lo kayak enggak tahu cewek itu aja," sahut Elang santai, nada suaranya dibuat sedingin mungkin. "Cewek manja kayak dia itu badannya cuma kaget kena panas sedikit. Paling cuma cari perhatian biar seandainya ketahuan Pak Bambang, hukumannya bisa langsung dipotong."

"Tapi Kak Marco sama Kak Leo bilangnya serius banget tadi..." gumam Caca lagi, matanya melirik ke arah lapangan utama yang tampak lengang. "Kak Elang beneran enggak mau liat ke UKS? Barangkali butuh bantuan?"

Elang mendengus pelan, menatap Caca dengan senyum tipis yang terkesan meremehkan.

"Ngapain gue ke UKS? Yang ada kalau dia bangun terus liat muka gue, dia malah ngamuk-ngamuk lagi," ujar Elang datar. "Lagian biarin aja. Cewek rese kayak dia kalau udah pingsan sampai kayak gitu, tinggal tunggu bentar lagi paling juga mati. Biar berkurang satu beban sekolah ini."

Caca melotot kaget, menepuk lengan Elang pelan dengan raut mukanya yang berubah cemas. "Kak Elang! Kok ngomongnya gitu banget sih?! Nggak boleh tau ngomongin orang kayak gitu!"

"Bercanda, Ca," kekeh Elang sambil mengacak pelan rambut depan Caca yang terurai, mencoba mengalihkan suasana. "Gue cuma males aja kalau harus ngurusin dia lagi. Udah ah, gausah mikirin cewek itu. Mending lanjutin belajarnya, katanya besok mau ulangan?"

Caca menatap Elang beberapa saat, menimbang-nimbang raut wajah cowok di depannya. Walau mulut Elang mengumpat pedas dan bilang tidak peduli, Caca bisa melihat sedikit gelisah di sudut mata Elang yang sesekali melirik ke arah lorong menuju gedung UKS.

1
Paw_chan🐾
bagus seru ceritanya
BUNGA LYONA: makasihh😍
total 1 replies
Fadillah Ahmad
Covernya Bagus... 👍 Cuma yaaa itu, sinopsisnya 'Belum bisa' menggetarkan hatiku 🙏🙏🙏 tidak ada adegan menegangkan, atau situasi menegangkan yang bisa menjadi Pertimbanganku. 🙏🙏🙏 Novel ini, masuk Berandaku soalnya... 😁😁😁🙏 'Mungkin' Lain kali aku akan mampir 🙏🙏🙏😁
Fadillah Ahmad: Baik Kak 🙏🙏🙏😁 Dari Segi Pemilihan Cover yang aku suka dari Novel ini... 🙏🙏🙏 Cuma, Unruk Sinopsia Kurang Kak 🙏🙏🙏 Kalau, judul sudah bagus 👍 Hanya di Sinopsis saja yang kena... 🙏🙏🙏😁
total 2 replies
♛ ⃟$𝑅࿐Λ𝐍𝐘Λ:𝙎𝙏𝘼𝙍𝆺𝅥⃝⭐🌊
wkwkwk 🤣🫵
♛ ⃟$𝑅࿐Λ𝐍𝐘Λ:𝙎𝙏𝘼𝙍𝆺𝅥⃝⭐🌊
He no no ya, gaboleh gitu
♛ ⃟$𝑅࿐Λ𝐍𝐘Λ:𝙎𝙏𝘼𝙍𝆺𝅥⃝⭐🌊
Ko lucu kalo di bayangin 🙈 jadi kaya rival gitu. moga akur nanti
♛ ⃟$𝑅࿐Λ𝐍𝐘Λ:𝙎𝙏𝘼𝙍𝆺𝅥⃝⭐🌊
Hedehhh Valeska Valeska🙂‍↔️🙂‍↔️/Facepalm/
♛ ⃟$𝑅࿐Λ𝐍𝐘Λ:𝙎𝙏𝘼𝙍𝆺𝅥⃝⭐🌊
Hai kaka, aku barusan baca deskripsi nya, dan itu menarik perhatian ku, semoga seru ceritanya. Semangat ya🥰💪
BUNGA LYONA: wahh makasih yaa😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!