"A...aku hanya ingin kamu bahagia, menikahlah dengannya. Aku bersedia berpisah..."
Tatapan suaminya yang pada awalnya penuh amarah menjadi penuh rasa iba."Aku rasa tunjangan perlu di revisi."
"Dia muda dan cantik, kamu berhak mendapatkan yang lebih baik. Hanya saja foto pernikahan boleh untukku? Aku hanya ingin mengenang saat kita susah dan senang bersama-sama."
Sang suami kembali tertegun, menelan ludahnya."Aku akan menambahkan satu villa lagi dalam pembagian harta nanti."
Sementara putranya, berbisik kepada ibunya."Bagus ibu, manipulasi rasa bersalah Ayah. Agar kita mendapatkan lebih banyak hartanya lagi."
***
Ayu Ningsih merupakan istri sekaligus ibu rumah tangga yang baik. Memiliki seorang putra yang begitu cerdas.
Suaminya datang, mengatakan bahwa selingkuhannya hamil dan ingin menceraikan istrinya.
Ayu Ningsih, pada awalnya marah, tapi putranya memberikan gagasan yang lebih bagus."Cerai Boleh! Harta Harus!"
Ibu dan anak yang ingin memiskinkan pasangan selingkuh itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KOHAPU, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertolongan
Ayu Ningsih menghela nafas, setidaknya dirinya tidak akan menerima telepon dari pihak ke rumah sakit lagi. Tidak ada ibu mertua yang membuatnya menginap di sana. Tidak ada ibu mertua yang meminta pijatan setiap 3 jam sekali.
Dirinya kini duduk untuk diri sendiri. Memakan potongan buah, sembari melihat album foto lama.
Lebih tepatnya album fotonya ketika masih muda. Wajahnya begitu cantik, bahkan dapat dikatakan jauh lebih cantik dari Siska. Meraba foto di masa-masa itu…
Siapa bilang Ayu tidak memiliki mantan kekasih? Ayu memiliki seorang kekasih ketika berada di SMU.
Kekasihnya memutuskan hubungan sepihak dengannya. Katanya sudah tidak mencintainya lagi, katanya suka pada wanita lain, seorang pria berambut kribo, dengan tubuh cungkring. Itulah spesies pacarnya dulu, lengkap dengan kacamata tebal bertengger.
Rasa patah hati ketika putus dengan pacar. Apalagi tiba-tiba pacarnya berhenti sekolah, kemudian menghilang entah ke mana.
Membuatnya bertemu dengan tambatan hati baru. Yaitu Dani yang pandai merayu. Dani juga dulu tidak ganteng, itu karena Ayu memilih yang setia.
Mantan pacarnya dulu yang berambut kribo lumayan ganteng. Sayangnya berselingkuh…
Karena itu, sebagai primadona, wanita yang paling cantik di sekolah. Dirinya bersedia menerima Dani yang terlalu…astaga…
Dalam otaknya yang penting setia, dalam otaknya yang penting tidak selingkuh. Miskin juga tidak apa-apa, dirinya dapat berjuang bersama Dani untuk menjadi kaya bersama.
Bahkan, ketika dalam fase paling terpuruk dalam hidupnya. Ketika masih menggendong anaknya yang berusia 3 tahun, harus bekerja banting tulang, mengingat Dani yang masih kuliah. Dirinya tidak tergoda oleh ajakan mantan yang membisikkan padanya.
‘Ayu, Aku mencintaimu…aku meninggalkanmu dulu karena aku masih miskin. Sekarang aku sudah punya sepeda dayung, hutang bapakku juga sudah lunas. Daripada kamu hidup susah dengan Dani, lebih baik kamu ceraikan Dani, kembalilah bersamaku ya…Ayu… aku bersedia menerimamu dan anakmu.’
Itulah janji sang mantan dulu, menggodanya untuk meninggalkan suaminya. Tapi Ayu bersikukuh dengan pendapatnya, bersikukuh dengan prinsipnya.
‘Aku akan mencintai suamiku. Miskin ataupun kaya, walaupun dia hanya memakai sendal jepit yang sudah lepas dan dikasih peniti. Itu lebih baik daripada kamu yang naik sepeda jengki.’
Kata-kata yang dilontarkannya pada Sang mantan. Mantannya yang berambut kribo dan cungkring. Tapi saat itu mantannya hanya mengatakan.
‘Kalau itu keputusanmu, aku rela dan tidak apa-apa. Tapi aku tidak akan menikah, nanti kalau kamu menyesal. Kembalilah padaku ya… Ayu. Aku akan membantumu…’
Mengingat sang mantan yang pergi dengan tertunduk. Rambut kribo, menggunakan celana jeans ketat dengan bagian bawah yang longgar, kemeja bermotif bunga-bunga. Mengendarai sepeda jengki meninggalkannya.
Saat itu Ayu benar-benar teguh dengan pendiriannya. Seberapa ganteng pun mantannya, betapa bagusnya sepeda jengki yang digunakan oleh mantannya. Tetap Dani yang ada di hati.
Ternyata setelah puluhan tahun, cinta itu akan pret pada waktunya…
Ayu menghapus air matanya yang mengalir. Menghirup nafas dalam-dalam, kemudian menghembuskannya. Yang terjadi biarlah terjadilah.
Suara ketukan pintu membuyarkan lamunannya. “Masuk!” Ucapnya memberikan izin untuk orang di luar memasuki kamar.
Perlahan putranya mengintip, kemudian memasuki kamar duduk di sebelah ibunya. Syukurlah wajah putranya mirip dengan dirinya, sama sekali tidak ada mirip-miripnya dengan suaminya.
“Ibu tidak lihat tadi!? Mereka bertengkar! Mereka bertengkar!” Suara tawa putranya terdengar, putranya yang begitu ceria masih sibuk mengunyah keripik kentang.
“Pasangan bertengkar sekali atau dua kali adalah hal biasa. Kalaupun mereka berakhir berpisah, nantinya akan ada wanita baru. Sekarang kamu jujur pada ibu, berapa kali perselingkuhan ayahmu yang kamu ketahui.” Sang Ibu menyipitkan matanya.
Virgo menunduk, menggigit bagian bawah bibirnya sendiri. “Yang aku tahu tiga kali. Selebihnya Aku tidak tahu…aku sering marah ketika ayah berselingkuh. Aku benar-benar membela ibu, bahkan aku mengancam Ayah, kalau ayah dan ibu bercerai aku akan ikut ibu. Karena itu Ayah menghambat jalan karirku. Aku tidak menceritakannya pada ibu agar ibu tidak sakit.”
Kejujuran terlihat di wajah putranya, membuat Ayu sama sekali tidak dapat berkata-kata. Membelai pelan rambut putranya yang rupawan. Anaknya benar-benar kasihan…
Nilai IPK nya tinggi, tapi harus bekerja di perusahaan ayahnya sendiri. Sampai di sana kecerdasannya tidak diakui. Sering bekerja lembur, sering memenangkan banyak tender, bahkan bonus akhir tahun pun tidak diberi. Dengan perkataan manis, bahwa mereka adalah keluarga. Tidak perlu hitung-hitungan.
Tapi kini dirinya mengerti, keinginan terbesar Dani adalah dirinya dan putranya tidak memiliki kebebasan finansial. Semakin terikat dengan Dani, maka akan semakin sulit untuk lepas.
“Maafkan Aku…ibu…” ucap Virgo lagi pada Ayu.
“Tidak apa-apa…tapi lain kali kamu jangan memendam beban sendirian. Katakan terus terang pada ibu, agar kita bisa menyusun rencana lebih awal. Agar kita bisa selamat lebih awal dari gundik-gundig ayahmu.” Ucap Ayu pelan.
“Awalnya aku berpikir semuanya akan baik-baik saja. Tapi ternyata memang benar, ada beberapa gundik yang sulit untuk diatasi. Seperti Siska, kalau dia melahirkan anak itu, itu artinya anak yang dia lahirkan harus menjadi pewaris. Walaupun itu anak perempuan, jadi jalan satu-satunya adalah menyingkirkanku. 100 juta, rumah sederhana, sebuah mobil, dan sebuah ruko, Ayah mungkin berpikir itu cukup untuk penebusan puluhan tahun hidup ibu. Tapi dia tidak berpikir, hanya uang segitu apa cukup untuk melindungi nyawa kita? Siska bahkan memakai cincin berlian seharga ratusan juta rupiah. Dengan cincin berliannya saja dia bisa menyewa pembunuh bayaran untuk menghabisi kita. Ayah benar-benar bodoh…” Virgo menghela nafas berkali-kali.
Sementara Ayu meraih keripik kentang, kemudian menikmatinya. “Sebenarnya ada dua jalan untuk tetap mengukuhkanmu sebagai pewaris. Yang pertama adalah menyingkirkan anak yang ada di kandungan Siska. Walaupun itu bukan anak kandung dari ayahmu, tapi kehadirannya benar-benar mengganggu. Kita singkirkan saja jalan yang pertama, karena banyak bahaya menghadang. Ada satu jalan lagi…jalan kedua. Kalau kamu memiliki ayah mertua berkuasa, dia dapat membuat ayahmu tidak berkutik. Membuat ayahmu menyerahkan seluruh harta warisan yang menjadi hakmu.”
“Jadi ibu ingin aku menjual diri?” Putranya menatap ke arahnya dengan tatapan berkaca-kaca, bagaikan ingin menangis di hadapan ibunya.
“Bukan menjual diri!” Sang Ibu menatap bengis. “Kita ini bukan materialistis, kita ini realistis. Kalau cari pasangan harus pilih-pilih, memilih yang dapat melindungimu dan ibu. Memilih yang dapat merebut hak waris yang harus ada di tanganmu. Memilih ayah mertua yang bisa memecahkan kedua telur ayah kandungmu kalau dia berani macam-macam.”
Virgo menatap ke arah ibunya, sedangkan sang Ibu juga menatap ke arah Virgo. Sepasang ibu dan anak ini pada akhirnya menghela nafas.
Mereka harus memikirkan banyak strategi, dan banyak skema untuk lepas dari semua ini.
“Kenapa Ibu membuka album foto tua?” Tanya Virgo, ikut membuka album foto milik ibunya.
“Hanya iseng…terkadang aku bertanya-tanya. Untuk lolos dari jebakan maut buatan Dani, apakah aku harus meminta tolong?”