NovelToon NovelToon
Rahasia Di Balik Menantu Benalu

Rahasia Di Balik Menantu Benalu

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat / Mafia
Popularitas:10.1k
Nilai: 5
Nama Author: Fery Oktavian

Di mata dunia, Theodore hanyalah "menantu benalu" yang bisanya mencuci piring, mengepel lantai, dan menelan setiap hinaan dari keluarga istrinya tanpa perlawanan. Namun, tidak ada yang tahu bahwa di balik celemek kusamnya, ia adalah Dewa Perang yang ditakuti, Raja Mafia terkuat, dan miliarder pemilik perusahaan raksasa yang sengaja memalsukan kematiannya. Ia menahan semua caci maki hanya demi Yevone, satu-satunya wanita yang setia membelanya di tengah keluarga yang kejam. Namun, ketika keserakahan keluarga mertuanya dan Keluarga Z melewati batas hingga mengancam keselamatan Yevone, Theodore memutuskan sudah waktunya melepas penyamarannya. Dengan sebuah cincin naga hitam usang di jarinya, Theodore bersiap menunjukkan kepada mereka bahwa kemiskinan yang absolut adalah hukuman yang jauh lebih mengerikan daripada kematian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fery Oktavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

RDBMB 15

Klub malam "Red Lotus" adalah pusat hiburan paling mewah sekaligus markas utama sindikat bawah tanah terbesar di kota itu. Di ruangan VVIP lantai paling atas yang kedap suara, dentuman musik disko dari lantai bawah sama sekali tidak terdengar. Ruangan itu dipenuhi asap cerutu mahal.

Bos Boris, penguasa mafia lokal yang mengendalikan seluruh preman, penyelundupan, dan perjudian di kota, sedang duduk bersandar di sofa kulitnya. Wajahnya yang penuh bekas luka terlihat kusut.

Pintu ruangan tiba-tiba didorong terbuka. Anton, tangan kanan Boris, masuk dengan langkah tergesa-gesa. Keringat dingin membasahi dahinya padahal AC di ruangan itu menyala maksimal.

"Ngapain lo masuk buru-buru gitu? Kayak habis dikejar setan aja," tegur Boris sambil menghembuskan asap cerutu.

"Lebih parah dari setan, Bos. Kota kita lagi kemasukan tamu tak diundang," lapor Anton dengan napas memburu. Ia meletakkan sebuah tablet di atas meja kaca di depan Boris.

Boris mencondongkan tubuhnya, menatap layar tablet yang menampilkan beberapa rekaman kamera pengawas dari bandara dan pelabuhan kota.

"Tamu apaan? Palingan cuma pengusaha ibu kota yang mau buka cabang," cibir Boris meremehkan.

"Bos lihat baik-baik postur mereka," Anton menunjuk ke arah layar yang memperlihatkan sekelompok pria bersetelan jas kasual berjalan keluar dari pintu kedatangan bandara. "Mereka nyebar. Ada yang turun dari jet pribadi, ada yang nyamar jadi turis di penerbangan komersial, ada yang masuk lewat jalur laut. Totalnya mungkin nyaris seratus orang sejak sore tadi."

Boris menyipitkan matanya. Semakin lama ia memperhatikan cara berjalan, kuda-kuda, dan tatapan mata orang-orang di dalam video itu, punggung Boris semakin terasa dingin.

"Gila. Langkah mereka sinkron, nggak ada gerakan berlebih. Mata mereka terus nyapu area titik buta kamera," gumam Boris, pengalaman puluhan tahun di dunia gelap membuatnya instingnya menyala. "Ini bukan pengusaha. Koper-koper kustom yang mereka bawa itu pasti isinya senjata taktis. Ini... ini tentara bayaran elit, Ton!"

"Benar, Bos. Mereka nyewa seluruh lantai di tiga hotel bintang lima yang berbeda pakai nama perusahaan cangkang dari luar negeri. Yang bikin ngeri, mereka sama sekali nggak laporan atau ngasih 'uang permisi' ke wilayah kita. Mereka gerak senyap," jelas Anton dengan raut wajah pucat.

"Lo udah kirim anak-anak buat ngawasin mereka?" Boris meletakkan cerutunya, raut wajahnya kini berubah tegang.

"Udah, Bos. Tadi gue suruh si Jali sama tiga preman terbaik kita buat ngikutin salah satu rombongan kecil mereka yang mampir ke kafe di pusat kota," jawab Anton cepat.

Kring!

Ponsel di saku Anton tiba-tiba berdering nyaring. Ia melihat nama peneleponnya.

"Nah, ini si Jali neken tombol darurat, Bos," Anton buru-buru mengangkat teleponnya lalu me-loudspeaker agar Boris bisa ikut mendengar. "Halo, Jal? Gimana pantauan lo?"

Dari seberang saluran, hanya terdengar suara rintihan kesakitan yang sangat memilukan, disusul suara napas tersengal-sengal.

"B-Bang Anton... tolongin kita, Bang," rintih Jali dengan suara nyaris putus. "Kaki sama tangan anak-anak... patah semua, Bang. Sendinya dicopot..."

"Hah?! Kalian dikeroyok berapa orang?!" bentak Anton kaget luar biasa.

"C-cuma satu orang, Bang. Kita ngikutin dia ke gang sepi niatnya mau interogasi. Tapi... belum sampai lima detik, kita udah rata sama aspal. Gila, Bang, dia bukan manusia..." Jali menangis menahan sakit yang tak tertahankan.

"Terus orangnya ke mana sekarang?!" Boris merebut ponsel itu, berteriak marah sekaligus ngeri.

"U-udah pergi, Bos. Sebelum pergi, dia ninggalin pesan buat Bos Boris. Katanya... 'Tarik mundur semua anjingmu dari jalanan, atau kami yang akan membersihkannya untuk kalian. Jangan ikut campur urusan naga'," lapor Jali terbata-bata.

Klik. Sambungan terputus.

Ponsel di tangan Boris nyaris meluncur jatuh ke lantai. Ia menatap Anton dengan mata terbelalak lebar. Mengalahkan empat preman bersenjata tajam dalam waktu kurang dari lima detik tanpa membunuh mereka, itu membutuhkan tingkat keahlian tempur kelas dunia yang sangat presisi.

Orang-orang ini sengaja mematahkan tulang hanya untuk memberikan peringatan.

"Bos... apa jangan-jangan pasukan ini ada hubungannya sama orderan sayembara di *Dark Web* hari ini?" Anton menelan ludah, mencoba mencari benang merah.

"Orderan sayembara apa maksud lo?!" bentak Boris panik.

"Tadi siang ada sayembara lokal masuk. Bayarannya seratus juta. Targetnya suruh matahin kaki seorang laki-laki gembel. Gosipnya sih itu orderan dari Tuan Muda Zico yang lagi dendam," jelas Anton ragu-ragu. "Mungkin aja Tuan Muda Zico juga nyewa pasukan elit dari luar buat ngehabisin targetnya?"

Plak!

Boris menampar kepala belakang Anton dengan keras hingga pria itu sedikit terhuyung.

"Otak lo di dengkul ya?! Seratus juta?! Harga buat nyewa satu orang tentara elit macam mereka aja bisa miliaran, apalagi seratus orang! Zico itu cuma bocah tengil yang banyak gaya, dia nggak bakal sanggup bayar atau bahkan punya akses ke pasukan monster kayak gini!" maki Boris habis-habisan.

Boris memijat kepalanya yang mendadak pusing tujuh keliling. Pasukan asing tak dikenal masuk ke kotanya dengan skala besar. Mereka menyebut kata 'naga'.

Di dunia bawah tanah global, hanya ada satu entitas yang menggunakan simbol naga hitam dan memiliki armada tentara bayaran sehebat ini. Aegis Corporation. Sang Dewa Perang.

"Tarik mundur semua orang kita malam ini juga!" Boris memberikan perintah mutlak dengan suara bergetar. "Kunci semua klub, jangan ada yang cari ribut di jalanan! Dan dengerin gue baik-baik, *cancel* semua orderan gelap, termasuk sayembara tolol dari Zico itu! Kalau ada anak buah kita yang nekat ngambil orderan Zico dan nggak sengaja nyenggol target dari pasukan naga itu, satu kota ini bisa rata sama tanah besok pagi!"

"B-baik, Bos! Laksanakan!" Anton buru-buru berlari keluar ruangan untuk menyebarkan perintah darurat.

Boris menghempaskan tubuhnya ke sofa. Keringat dingin terus mengucur deras. Malam ini, penguasa kota yang sebenarnya bukan lagi dirinya, melainkan bayangan hitam yang baru saja tiba.

***

Di saat kepanikan melanda markas mafia lokal, Theodore sedang berdiri santai di dapur apartemen sewaan istrinya. Ia sedang mengupas buah apel dengan sebilah pisau dapur kecil. Gerakannya mengupas sangat halus dan mulus, kulit apel terkelupas panjang tanpa terputus.

Ponsel hitam di atas meja dapurnya bergetar singkat. Ada pesan masuk.

*[Tikus-tikus lokal sudah kembali ke sarangnya. Kota sudah bersih. Kami menunggu perintah Anda selanjutnya, Tuan Besar. -Victor]*

Theodore membaca pesan itu dari sudut matanya. Seulas senyum tipis mengembang di wajahnya. Ia memotong apel itu menjadi beberapa bagian rapi, meletakkannya di atas piring, lalu membawanya ke kamar tempat Yevone sedang merebahkan diri sambil membaca dokumen kantor.

"Makan buah dulu, Yev. Biar nggak stres mikirin kerjaan," ucap Theodore lembut, meletakkan piring itu di nakas.

Yevone tersenyum hangat, menatap suaminya dengan penuh rasa terima kasih.

"Makasih ya, Theo. Kamu emang paling bisa bikin aku tenang," ucap Yevone tulus.

Theodore membalas senyuman itu. Di luar sana, pasukannya sudah mengepung kota, mengunci setiap jalan keluar, dan membungkam mafia lokal tanpa suara. Panggung eksekusi sudah hampir selesai dibangun. Tinggal menunggu saat yang tepat untuk menaikkan Keluarga Mahendra dan Keluarga Z ke atas panggung kehancuran mereka sendiri.

1
Florist
sebenernya penulisanya bagus banget, kata2 mudah dipahami, kosa kata bagus, tanda baca juga bagus. tapi jujur alur cerita terlalu lambat, ada banyak hal yg sering di ulang, dewa perang, aura dingin, penguasa, trilyunan, intinya semua itu hanya untuk menekankan sosok MC yg over power. padahal cukup di selipkan sedikit kata penekanan saja, karna dr awal juga sudah dijelaskan kalau MC ini memang penguasa yg menyamar, dan kami belum lupa tentang siapa MC ini walau sudah 30 bab, kami masih sangat ingan MC ini orang hebat. jadi gak perlu dijelaskan lagi tiap bab.
Purnama
lucu
Glastor Roy
update
Fery Oktavian: update tiap hari 5 bab
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!