Gara gara terlibat balapan liar berujung skandal di ibu kota, Arkananta Dewangga Tuan muda berusia 25 tahun yang tampan, angku, dan gila hormat. Harus menerima hukuman paling gila dalam hidupnya. Sang ayah membekukan fasilitas mewahnya dan membuangnya ke sebuah desa terpencil. Perintahnya mutlak: "Jangan kembali ke Jakarta sebelum bisa hidup mandiri."
Di Desa Sukmawarna, semua uang dan keangkuhan Arkan tidak berlaku, alih-alih hidup manja. ia harus menghadapi di siplin ketat dari Pak Barkah, yang tidak mempan di sogok. Dirumah pedesaan yang sederhana itu, Arkan di paksa turun ke ladang berlumpur jika tidak ingin kelaparan dan tidur di teras bersama nyamuk kebun.
Di tengah siksaan fisik dan kejutan budaya yang menguras emosi, takdir mempertemukannya dengan Nayla Rahmadania, gadis desa lulusan sarjana yang mandiri dan begitu tegas.
sanggupkah sang tuan muda bertahan melewati ujian berat ini, ataukah ia memilih menyerah dan memilih cara untuk kabur kembali ke kemewahan kota?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sibee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22: Kesalahpahaman di Tengah Malam
Keheningan malam di kamar sederhana rumah Mbah Harjo terasa begitu menghimpit bagi Arkan. Kipas angin dinding tua yang berputar lambat dengan bunyi berdecit konstan gagal total mengusir hawa gerah yang membakar dada sang Tuan Muda Jakarta. Pria bertubuh tinggi tegap itu berulang kali membalikkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri di atas kasur kapuk yang terasa semakin keras. Sepasang manik mata cokelat gelap miliknya menatap kosong pada balok-balok kayu langit-langit yang gelap, namun seluruh fokus pikirannya justru berpusat pada raut wajah dingin dan pengabaian dari gadis yang ia temui di sawah siang tadi.
Rasa sesal yang amat sangat terus mengikis sisa keangkuhan di dalam diri Arkan. Ucapan kasarnya kemarin sore terbukti telah membentur keras perasaan Nayla. Ditambah lagi, bayangan senyuman manis Nayla yang siang tadi diberikan khusus untuk Dimas seolah menjadi bahan bakar baru yang memicu rasa cemburu pekat yang terus bergejolak hebat di balik dadanya.
Arkan menarik napas panjang yang terasa sangat sesak, membetulkan balutan kain kasa tipis di telapak tangan kanannya dengan gerakan gusar. Merasa tidak akan bisa memejamkan mata dalam waktu dekat, ia akhirnya memutuskan untuk bangkit berdiri dan berjalan keluar kamar secara diam-diam mencari embusan angin malam pedesaan yang sejuk.
Arkan melangkah perlahan menuju teras depan rumah agar tidak membangunkan Mbah Harjo dan keluarga Pak Barkah yang sudah terlelap. Ia duduk bersandar di pilar teras kayu yang kusam, melipat tangan kirinya yang sehat di dada sambil melemparkan pandangan kosong ke arah halaman tanah yang gelap gulita. Suasana malam ini sangat sunyi, hanya diselimuti oleh suara jangkrik harian yang bersahut-sahutan di balik semak-semak liar.
Namun, ketenangan malam itu mendadak terusik saat telinga tajam Arkan menangkap suara gesekan langkah kaki yang sangat mencurigakan dari arah luar pagar.
Manik mata Arkan seketika menyipit tajam menembus kegelapan malam. Di dekat pintu gerbang pagar, tampak sebuah bayangan hitam, sedang mengendap-endap masuk dengan gerakan yang sangat hati-hati, berusaha menyembunyikan kehadirannya dari pemilik rumah. Insting kewaspadaan kota besar dalam diri Arkan langsung mendidih hebat. Pikiran pertamanya langsung mengarah pada satu kesimpulan, ada maling yang mencoba menyusup ke rumah Mbah Harjo.
"Berani sekali menyusup ke rumah ini," gumam Arkan dengan suara yang mendingin penuh ancaman.
Dengan gerakan yang sangat pelan tanpa menimbulkan suara sedikit pun, Arkan bangkit dari duduknya. Pria itu melangkah kaki dengan sangat pelan, memanfaatkan bayangan pohon mangga yang rimbun untuk memotong jalur pergerakan sang penyusup. Begitu bayangan hitam itu melangkah tepat melewati area gelap di bawah pohon, Arkan tidak membuang waktu lagi. Arkan melesat maju dan melakukan penyergapan mendadak.
Bruk! Sret!
Arkan menggunakan tangan kirinya yang sehat untuk mengunci kedua lengan sang penyusup dari belakang, sementara kakinya menyapu keseimbangan tubuh orang tersebut hingga mereka berdua jatuh bersamaan di atas tanah yang kering itu.
"Aduh! Aduh! Ampun, Mas! Sakit! Ini saya, Bagas!" sebuah teriakan histeris suara pria remaja yang sangat akrab di telinga mendadak pecah di tengah kegelapan halaman, memutus kesunyian malam dengan kepanikan yang konyol.
Arkan seketika tertegun, menghentikan kuncian lengannya yang kokoh. Ia buru-buru melepaskan pegangannya dan mundur satu langkah dengan wajah yang mendadak kaku. "Bagas? Kamu... ngapain malam-malam mengendap-endap seperti maling di halaman rumah orang?!" protes Arkan dengan suara tinggi yang dipaksakan ketus demi menutupi rasa terkejutnya yang luar biasa.
Bagas, adik kandung Nayla yang masih mengenakan celana pendek santai, buru-buru bangkit berdiri sambil mengusap-usap pundaknya yang terasa linu akibat penyergapan kasar Arkan tadi. Wajah remaja SMA itu tampak cemong terkena debu tanah halaman. Di tangan kanannya, ia memegang erat sebuah bungkusan koran kusam yang bentuknya sudah agak penyok akibat tertindih badan tegap Arkan hulu.
"Aduh, Mas Arkan tenaganya kuat banget kayak petarung bebas, pundak Bagas rasanya mau copot," keluh Bagas sambil meringis kesakitan, menyengir kuda menahan malu. "Bagas ke mari bukan mau jadi maling, Mas! Ini, Bagas disuruh mengantarkan bungkusan penting ini ke mari secara rahasia."
"Bungkusan apa?" tanya Arkan sambil mengerutkan dahinya dalam-dalam, menatap bungkusan koran kusam di tangan Bagas dengan dahi berkerut heran.
Dari arah samping mereka mendadak menangkap suara langkah kaki tergesa-gesa dari arah pintu depan rumah. Pak Barkah melangkah keluar dengan memegang sebuah senter besar, disusul oleh Mbah Harjo yang berjalan perlahan menggunakan dengan ekspresi wajah yang panik. Sorot lampu senter yang terang langsung mengarah tepat ke posisi berdiri Arkan dan Bagas yang sedang berdiri di tengah halaman rumah.
"Ada apa ini ribut-ribut tengah malam? Arkan, Bagas, kenapa kalian berdua malam-malam begini malah bergulat seperti ini?" tanya Pak Barkah dengan nada suara beratnya yang penuh keheranan yang amat sangat.
Bagas buru-buru menyengir lebar, melambaikan tangan kirinya yang bebas. "Eh, Pak Barkah, Mbah Harjo... maaf ya sudah bikin gaduh malam-malam. Ini tadi cuma salah paham saja Mas Arkan yang mengira Bagas ini maling kampung." Bagas kemudian melangkah mendekati Arkan, menyodorkan bungkusan koran kusam itu ke depan dada Arkan dengan kerlingan mata yang penuh rahasia. "Ini, Mas Arkan. Ini bungkusan dari Mbak Nayla."
Mendengar nama gadis yang siang tadi mengacuhkannya, jantung Arkan mendadak berdegup dengan ritme yang jauh lebih cepat dari biasanya. Gelombang emosi asing yang manis mendadak merayap naik di balik dadanya yang bidang. "Dari... Nayla?" tanya Arkan memastikan, suaranya mendadak melembut tanpa ada lagi keangkuhan kaku yang menyebalkan.
"Iya, Mas," bisik Bagas sengaja memajukan wajahnya agar tidak terdengar oleh Pak Barkah. "Mbak Nayla tadi sore diam-diam memetik daun binahong kering tambahan di kebun samping rumah kami, lalu menumbuknya sendiri dan menyuruh Bagas mengantarkannya ke mari malam-malam secara sembunyi-sembunyi. Katanya, jangan sampai ketahuan Bapak karena Bapak masih agak sensitif soal kejadian di sawah siang tadi. Mbak Nayla cemas melihat kain kasa di tangan kanan Mas Arkan yang sudah menipis, dia takut lukanya infeksi lagi karena dipaksa ikut mengangkat batu kali kotor bersama Mas Dimas siang tadi."
Mendengar penjelasan blak-blakan dari mulut polos Bagas, dinding keangkuhan dalam diri Arkananta Dewangga runtuh sepenuhnya dalam sekejap mata. Rasa sesal, dongkol, dan cemburu pekat yang sejak subuh tadi menyiksa logikanya, mendadak menguap terbang tak berbekas, digantikan oleh kehangatan kecil yang luar biasa besar meresap ke dalam relung batinnya yang kesepian harian. Pria kota itu tertegun menatap bungkusan koran di tangan kiri yang kini ia peluk dengan begitu erat seolah-olah itu adalah barang paling berharga di dunia ini.
Ternyata, di balik sikap dingin, ketus, dan acuh tak acuh yang diperlihatkan Nayla di sawah siang tadi, gadis itu diam-diam masih menyimpan rasa khawatir dan perhatian yang sangat tulus terhadap kondisi kesehatan tangan kanannya yang terluka.
Pak Barkah yang melihat bungkusan tersebut langsung terkekeh pelan penuh arti, menyenggol pundak Mbah Harjo yang hanya bisa tersenyum. "Nah, Arkan... sudah dengar sendiri kan apa kata Bagas tadi? Masih mau memelihara gengsi kotamu yang kaku itu di depan ketulusan anak gadis orang?" sindir Pak Barkah dengan sela tawa renyahnya yang menghibur suasana malam.
Arkan tidak membalas sindiran itu. Wajah tampannya yang biasanya dingin kini justru merona merah di bawah temaram sorot lampu malam itu karena salah tingkah yang menggemaskan. Lengkungan senyuman tipis yang sangat tulus dan manis akhirnya terukir di bibir tipis sang Tuan Muda itu, menyadari bahwa takdir hukuman di Desa Sukmawarna ini perlahan-lahan telah mengubah peperangan egonya menjadi babak baru yang penuh dengan getaran kecil di hatinya.