"Kurang ajar! Beraninya kalian mengotori rumah tangga kita!" bentak Sandra dengan suara bergetar hebat, air matanya akhirnya tumpah membasahi pipi.
Sebelum Sandra bisa memberikan pelajaran lebih jauh kepada wanita itu, sebuah benturan keras mendarat di pipi kirinya.
Plak!
Tamparan itu begitu kuat hingga kepala Sandra terpelanting ke samping. Rasa perih langsung menjalar di pipinya, meninggalkan sensasi panas yang membakar. Pelaku pemukulan itu tidak lain adalah Anton sendiri. Suami yang selama empat tahun ini ia layani dengan sepenuh hati, kini berdiri tegak dengan mata melotot dan tangan mengepal.
"Seharusnya kamu sadar, kamu wanita lusuh, jelek, tidak bisa menjaga tubuhmu, aku muak denganmu!" teriak Anton dengan suara menggelegar, melampiaskan seluruh kebencian yang selama ini ia pendam.
Kata-kata itu menghujam jantung Sandra jauh lebih tajam daripada pisau bermata dua. Wanita lusuh? Jelek? Selama ini ia mengorbankan waktu istirahatnya demi mengurus rumah, sementara Anton
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sosok di Balik Pintu
Di sudut kota yang lain, jauh dari ketenangan kamar VIP rumah sakit tempat Sandra dirawat, badai kehancuran yang sangat hebat tengah menghantam kantor pusat perusahaan milik Anton.
Suasana di dalam ruang kerja Anton yang megah kini kacau-balau. Berkas-berkas dokumen bertumpukan dan berserakan di atas lantai marmer, kursi kerja terguling, dan layar monitor menampilkan grafik saham serta keuangan perusahaan yang terjun bebas hingga mencapai angka nol.
Ponsel Anton di atas meja terus berdering tanpa henti. Telepon dari pihak bank yang menagih utang jatuh tempo, pemberitahuan penyitaan aset, hingga surat pembatalan kerja sama secara sepihak dari seluruh investor utama datang secara bertubi-tubi seperti gelombang bandang yang tak tertahan.
"Aaarghhh! Tidak mungkin! Ini tidak mungkin terjadi!" jerit Anton histeris seraya mencengkeram rambutnya sendiri. Matanya merah padam, napasnya memburu kacau, dan pelipisnya dibasahi keringat dingin. Dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam, seluruh kekayaan, harga diri, dan impian bisnis yang ia bangun selama bertahun-tahun runtuh menjadi debu.
Di sudut ruangan, Clara berdiri gemetar dengan wajah pucat pasi. Gaun mewahnya tampak kusut dan riasan wajahnya luntur oleh air mata ketakutan.
Anton memutar tubuhnya dengan cepat, menatap Clara dengan sorot mata yang dipenuhi kebencian dan kemarahan yang meluap-luap. Tatapan itu bukan lagi tatapan pria yang terbuai gairah, melainkan tatapan seekor binatang terluka yang siap menerkam.
"Ini semua gara-gara kamu!" bentak Anton dengan suara melengking yang mengerikan.
Dengan satu langkah lebar, Anton menerjang maju dan langsung mencengkeram erat leher Clara. Cengkeraman jemarinya begitu kuat hingga membuat wanita itu terbatuk-batuk dan kesulitan bernapas. Clara membelalak kaget, memegangi pergelangan tangan Anton seraya berusaha melepaskan diri di tengah rasa tercekik yang menyiksa.
"Jika kamu tidak gegabah melakukan hal memalukan seperti itu di restoran, jika kamu tidak menyiram wanita itu dengan sup panas, perusahaanku tidak akan hancur dalam sekejap!" teriak Anton tepat di depan wajah Clara.
"M-Mas... l-lepaskan..." cicit Clara terbata-bata dengan suara yang nyaris habis, air matanya menetes deras membasahi pipi.
"Wanita pembawa sial!" raung Anton seraya menghempaskan tubuh Clara ke lantai hingga wanita itu tersungkur dan menangis histeris.
Anton meremas dadanya yang terasa sesak. Penyesalan yang luar biasa dahsyat kini menghantam relung hatinya yang paling dalam. Ia baru menyadari betapa bodohnya ia telah membuang Sandra—wanita tulus yang selalu mendampingi dan mendoakannya dari nol—hanya demi wanita gila harta seperti Clara yang justru menjadi dalang kehancuran hidupnya.
Namun, nasi telah menjadi bubur. Penyesalan Anton tak akan pernah bisa memutar balik waktu. Roda takdir telah berputar, dan penguasa kegelapan yang berada di balik kejatuhannya tidak akan pernah memberikan ampunan sedikit pun.
Clara tersungkur di lantai marmer, memegangi lehernya yang memar bekas cengkeraman Anton. Napasnya memburu, tenggorokannya terasa panas dan sakit. Namun, rasa takut akan kemarahan Anton yang makin menjadi-jadi mendorong wanita itu untuk segera bangkit. Dengan tubuh gemetar dan derai air mata yang melunturkan riasannya, Clara menegakkan tubuhnya, berbalik, dan berlari menuju pintu keluar ruang kerja.
Ia ingin kabur dari tempat itu. Ia ingin berlari sejauh mungkin dari Anton yang kini mengamuk bagaikan kesetanan.
Namun, tepat saat jemari Clara yang gemetar menyentuh dan memutar gagang pintu, pintu kayu mahoni tebal itu justru terdorong terbuka dari luar.
Langkah Clara terhenti seketika. Tubuhnya membeku bagaikan patung.
Di ambang pintu yang terbuka lebar, berdiri sesosok pria bertubuh tinggi tegap berbalut setelan jas hitam buatan penjahit ternama. Sosok itu tidak lain adalah Dante.
Pria itu berdiri dengan angkuh, kedua tangannya terbenam santai di dalam saku celananya. Di belakang Dante, Pak Biworo bersama empat orang pengawal bertubuh kekar bersenjata lengkap berdiri tegap, mengunci seluruh jalan keluar dari lorong tersebut.
Aura dingin yang menusuk tulang langsung menyeruak memenuhi seluruh ruangan. Sorot mata elang milik Dante menatap Clara dan Anton dengan pandangan yang begitu tajam, penuh kehampaan, dan meremehkan.
"T-Tuan Dante...?" bisik Clara terbata-bata dengan wajah yang seketika berubah pucat pasi, lebih pucat dari lembaran kertas. Suaranya hilang di tenggorokan, kakinya mendadak lemas hingga ia harus berpegangan pada kosen pintu agar tidak kembali ambruk.
Di dalam ruangan, Anton yang tadinya mengamuk histeris ikut menghentikan kegiatannya. Napasnya memburu saat matanya beradu pandang dengan pria berkuasa yang semalam membawa Sandra pergi dalam dekapannya.
"K-Kamu... Kenapa kamu ada di sini?!" seru Anton dengan suara gemetar hebat. Keraguan dan ketakutan luar biasa seketika menggulung habis sisa-sisa keberaniannya.
Dante melangkah masuk ke dalam ruangan dengan santai, langkah kakinya berdenting halus di atas lantai marmer yang berantakan. Ia bahkan tidak memandang Clara yang berdiri ketakutan di sampingnya, seolah wanita itu hanyalah sebutir debu yang tak bermakna.
"Aku hanya ingin melihat secara langsung..." suara berat Dante memecah keheningan, bergema dingin di seluruh penjuru ruang kerja Anton, "... bagaimana rasanya kejatuhan seorang pria yang berani menyentuh milikku."
Anton menelan salivanya dengan susah payah. Keringat dingin mengucur deras membasahi pelipis dan kerah kemejanya. Ia menyadari sepenuhnya bahwa kehancuran perusahaannya dalam hitungan jam bukanlah sebuah kebetulan, melainkan hasil karya dari pria iblis yang kini berdiri tepat di hadapannya.
tapi cocok sih, laki-laki pengecut seperti kamu punya istri pelacur murahan yang ga tahu diri 🤣🤣😂😂 dan kalian berdua siap-siap mati