"Aku mengejarmu karena mengira kamu adalah malaikat penyelamatku. Ternyata, kamu hanyalah luka paling berdarah yang sengaja aku pelihara."
Selama dua tahun di SMA Taruna Bakti, Rian Pratama rela menjadi budak cinta demi Keysha Mariela, sang kapten cheerleader. Rian tulus, ia hanya ingin membalas budak kebaikan gadis yang ia kira telah menolongnya di malam ibunya meninggal dunia. Namun, ketulusan Rian dibanting hancur di pesta ulang tahun Keysha. Di depan ratusan mata, Keysha menolaknya mentah-mentah demi Marvel, cowok idaman sekolah, sambil menertawakan kemiskinan Rian.
Di titik terendah saat Rian ingin mengakhiri segalanya, Ziva Zakiyah datang membawa satu rahasia terbesar. Cewek genius, manipulatif, dan terkenal 'cegil' (cewek gila) ini membawa satu misi: balas dendam untuk menghancurkan Keysha dan Marvel.
Saat Rahasia Ziva mulai terkuak, memicu antara benci dan cinta. Apakah Ziva akan benar-benar merajut luka hatinya Rian, atau justru hancur bersama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26. Dunia Terus Berputar.
Aroma sisa hujan semalam masih tertinggal di lapangan utama SMA Taruna Bakti, beradu dengan hawa gerah jam istirahat kedua yang terasa mencekik.
Koridor lantai dua, yang biasanya menjadi panggung bagi geng elite sekolah, mendadak berubah tegang.
Langkah kaki yang menghentak kasar memecah obrolan ringan para murid di dekat loker.
Marvel berjalan cepat, napasnya memburu pendek-pendek.
Lingkaran hitam di bawah matanya mempertegas bahwa cowok itu tidak tidur semalaman. Wajahnya yang biasa dipenuhi senyum jemawa, kini kusut dan gelap.
Di belakangnya, Keysha setengah berlari mencoba menyamakan langkah.
Napas cewek itu terengah-engah, jemarinya yang lentik mencoba meraih ujung jaket denim Marvel yang sengaja tidak dikancingkan.
"Vel, tunggu dulu! Kamu kenapa, sih? Dari pagi aku telepon gak diangkat, dichat cuma di-P doang. Jangan kayak anak kecil deh!" Keysha setengah merengek, suaranya yang cempreng mulai menarik perhatian beberapa murid yang sedang asyik nongkrong.
Marvel mendadak berhenti. Gerakan yang begitu tiba-tiba itu membuat Keysha nyaris menabrak punggung tegapnya.
Ketika Marvel berbalik, sorot matanya begitu tajam, membuat Keysha otomatis melangkah mundur satu tapak.
"Bisa diam gak, Key?" suara Marvel rendah, namun sarat akan ancaman. "Otak gue mau pecah, dan suara lo makin bikin kuping gue pengang."
Keysha mengerutkan kening, harga dirinya terusik. Sebagai cewek paling populer di angkatannya, dia tidak terbiasa dibentak di depan umum. "Kamu kok malah marah sama aku? Yang bikin posisi kamu merosot di papan pengumuman itu Rian dan Ziva, bukan aku! Aku ini pacar kamu, Vel. Harusnya kita mikirin cara buat kasih pelajaran ke mereka, bukan malah kamu cuekin kayak gini!"
Kata-kata Keysha seperti menyiram bensin ke dalam api yang sudah berkobar di dada Marvel. Bayangan pesan singkat dari papanya, hilangnya kunci mobil sport yang kini disita, serta dinginnya lantai angkutan umum yang harus dia naiki pagi tadi langsung berputar di kepalanya. Semua kemewahan yang menjadi pelindung harga dirinya lenyap dalam semalam.
Marvel maju satu langkah, memotong jarak di antara mereka. Matanya merah, menatap Keysha dengan pandangan yang belum pernah cewek itu lihat sebelumnya—tatapan penuh kebencian yang telanjang.
"Pacar?" Marvel terkekeh sinis, suara tawanya terdengar kering dan mengerikan. "Lo bilang lo pacar gue? Terus selama dua tahun ini lo ngapain aja, hah? Lo cuma tahu cara ngabisin duit gue! Lo minta tas baru, lo minta diantar-jemput, lo minta ditemenin ke salon. Lo sadar gak, gara-gara gue sibuk menuruti semua drama manja lo, waktu belajar gue habis!"
"Vel, kok kamu ngomongnya gitu..." Suara Keysha bergetar. Beberapa pasang mata di koridor kini terang-terangan menonton mereka. Tontonan gratis runtuhnya hubungan power couple sekolah.
"Gue ngomong fakta!" bentak Marvel, suaranya menggelegar di koridor, membuat beberapa siswi di dekat sana tersentak. "Lo itu parasit, Key! Lo nempel ke gue cuma karena gue punya segalanya. Sekarang pas posisi gue jatuh, pas bokap gue narik semua fasilitas gue, lo masih mau nuntut ini-itu? Lo tahu gak? Rian itu beruntung banget lepas dari cewek gak berguna kayak lo. Dan gue? Gue goblok karena mau nampung barang bekas kayak lo!"
PLAK!
Suara tamparan keras menggema di koridor. Tangan Keysha gemetar di udara. Wajahnya memerah paduan antara amarah yang memuncak dan rasa malu yang luar biasa. Air mata mulai menggenang di sudut matanya yang dilapisi maskara mahal.
Marvel tidak meringis. Dia hanya memiringkan wajahnya kembali ke depan, menyeka ujung bibirnya dengan ibu jari, lalu menatap Keysha dengan senyuman yang sangat dingin. "Bagus. Pukul gue lagi biar semua orang tahu seberapa murahnya sifat asli lo kalau lagi panik."
Keysha terisak, dadanya naik turun. Dia menatap sekeliling, menemukan puluhan mata sedang menatapnya dengan tatapan kasihan, sebagian lagi menahan tawa puas. Topeng kesempurnaan yang dia bangun selama ini hancur berkeping-keping di tangan cowok yang dia banggakan. Tanpa sepatah kata lagi, Keysha berbalik dan berlari menerobos kerumunan sambil menutupi wajahnya yang basah.
Di ujung koridor, dekat belokan tangga menuju perpustakaan, Rian dan Ziva menyaksikan seluruh drama itu dari awal hingga akhir.
Tangan Rian yang memegang buku catatan Fisika perlahan mengendur. Melihat Keysha—perempuan yang pernah mengisi hari-harinya, perempuan yang dulu selalu dia lindungi dari segala hal buruk—kini menangis histeris dan dipermalukan di depan umum, memicu sisa-sisa insting lamanya. Ada denyut tidak nyaman di dadanya. Rian meletakkan bukunya di atas loker, bersiap melangkah maju untuk mengejar Keysha atau setidaknya memastikan keadaan mantan pacarnya itu.
Namun, baru satu langkah kakinya bergerak, sebuah tangan yang ramping namun bertenaga menahan lengannya.
Rian menoleh. Ziva berdiri di sampingnya, jari-jarinya mencengkeram kain seragam Rian dengan erat. Wajah Ziva tetap tenang, sedatar air di dalam sumur tua, namun matanya menatap lurus ke arah Marvel yang kini sedang menendang tempat sampah di ujung lorong sebelum pergi ke arah berlawanan.
"Mau kemana lo?" tanya Ziva, suaranya pelan namun tegas.
"Ziv, Keysha..." Rian menggantung kalimatnya, matanya masih melirik ke arah lorong tempat Keysha menghilang. "Marvel udah keterlaluan. Bagaimanapun, Keysha cewek. Gak seharusnya dia digituin di depan umum."
Ziva tidak melepaskan cengkeramannya. Dia justru mempererat genggamannya, menarik Rian agar kembali mundur ke dalam bayang-bayang dinding pembatas lorong.
"Jangan jadi pahlawan kesiangan untuk orang yang pernah buang lo kayak sampah, Rian," ucap Ziva, nadanya dingin tanpa empati sedikit pun.
"Gue bukan mau balikan sama dia, Ziv. Gue cuma merasa..."
"Merasa kasihan?" potong Ziva cepat. Dia menatap mata Rian dalam-dalam, memaksa cowok itu menghadapi kenyataan yang pahit. "Kasihan itu untuk orang yang tertindas tanpa pilihan. Keysha punya pilihan, dan dia memilih Marvel karena silau sama kilau hartanya. Dia tahu Marvel arogan, dia tahu Marvel temperamental, tapi dia tetap memilih berdiri di sana demi gengsi."
Rian terdiam. Kata-kata Ziva selalu memiliki cara tersendiri untuk menusuk langsung ke pusat logikanya, menghancurkan segala bentuk sentimentalitas yang tidak berguna.
Ziva perlahan melepaskan pegangannya dari lengan Rian setelah memastikan cowok itu tidak akan berlari. Dia merapikan letak kacamata minusnya, lalu menatap ke arah koridor yang kini mulai sepi namun masih dipenuhi bisik-bisik sisa drama tadi.
"Biarkan dia sadar siapa cowok yang dia pilih," bisik Ziva, nadanya datar namun sarat akan makna mendalam. "Rasa sakit hari ini adalah harga yang harus dia bayar untuk keputusannya yang dulu. Kalau lo masuk sekarang, lo cuma bakal jadi pelarian sementara sebelum dia balik lagi ke lingkaran setannya. Fokus ke tujuan kita, Yan. Ujian akhir semester di depan mata, dan posisi tiga besar lo belum aman."
Rian menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan. Dia melihat ke arah tangannya sendiri, tangan yang dulu selalu siap sedia membawakan barang belanjaan Keysha, tangan yang kini memegang buku-buku tebal demi masa depannya sendiri. Ziva benar. Drama ini bukan lagi panggungnya.
Rian kembali mengambil buku catatannya di atas loker. "Ayo ke kelas. Gue masih belum paham materi termodinamika yang lo jelasin kemarin."
Ziva membalikkan badan, menyunggingkan satu senyuman tipis yang hampir tak terlihat—senyuman kepuasan karena bidak caturnya tetap berada di jalurnya. "Bagus. Lo mulai pinter pake otak, bukan pake perasaan."
Mereka berdua berjalan beriringan menuju kelas, meninggalkan sisa-sisa kehancuran dinasti Marvel dan Keysha di belakang mereka. Tanpa disadari oleh siapapun, roda kasta di SMA Taruna Bakti telah berputar sepenuhnya.
......................
...****************...
Tbc,