Kay Morgan Semua orang mengenalnya sebagai sosok yang nyaris sempurna. Ketua OSIS yang tampan memikat, berwibawa, dan selalu menjadi pusat perhatian. Baginya, dikejar dan didambakan oleh banyak gadis adalah hal yang wajar, bahkan seolah sudah menjadi takdir hidupnya. Aurora Grey Seorang gadis cantik yang sangat membenci hal-hal biasa dan membosankan. Ia terlihat ceroboh, namun sebenarnya penuh taktik dan kecerdikan. Ia mampu dengan mudah mengungkap rahasia tergelap Kay dan teman-temannya — hingga akhirnya namanya menjadi sosok yang paling ditakuti di seluruh sekolah. Kisah ini bermula dari sebuah perjanjian berbahaya: antara gadis yang terbiasa dimanja, dan pemuda yang tampan bagai dewa namun berhati iblis. "Hubungan jarak jauh itu hanya berarti satu hal: 75% kemungkinan bosan, 25% kemungkinan berselingkuh." Tanpa peringatan, Kay mempererat pelukannya erat di pinggang Aurora. "Dan kau sekarang punya kesempatan itu — persis 25 persen. Rafael tak akan pernah tahu apa-apa." "Kau yakin... kau tak punya niat menjadikan aku selingkuhanmu, bukan?" tantang Aurora, namun di balik kata-katanya itu,Kay hanya tersenyum lebar — senyum yang memikat sekaligus berbahaya. Bersama mereka, kau akan diajak merasakan sensasi kebahagiaan, dan rasa berdebar... yang seharusnya tidak pernah terjadi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ruka_21, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Euforia
Kaya langsung mengantarkan aurora setelag itu ia kembali ke rumahnya memikirkan siapa dua orang yang di hajarnya tiba-tiba ponselnya bunyi banyak chat group ramai…
YANG JELEK KELUAR! [6]
[DEVANDRA]
🎵Wahai kawan ku semua😊
🎵Apakah cita-cita Anda?
[TRISTAN]
???
[KAEL WILLIAM]
✨Anak Hotman Paris✨
[DIGO]
✨Open BO✨
[MAHENDRA]
Nggak punya cita-cita, punyanya duit
[DIGO]
@Mahendra Asu😭
[DEVANDRA]
🎵Bila kita dewasa, jangan hampakan hati orang tua
[DIGO]
Kalau yatim gimana?
[KAEL WILLIAM]
Ya Tuhan, semoga Digo masuk sinetron Azab Indosiar🙏
[DEVANDRA]
🎵Mestilah ada wawasan
🎵Mesti berbakti pada negara 🇵🇱
[MAHENDRA]
Itu bendera Polandia njing!
[TRISTAN]
Tolol
[DEVANDRA]
🎵Ini cita-citaku, teringin menjadi angkasawan 🧑🚀🚀
[KAEL WILLIAM]
Jurusan lo aja IPS, anjir!
[DIGO]
(gambar: Malaikat Izrail)
[DEVANDRA]
🎵Ku berterimakasih pada cikgu-cikgu, yang telah membantu diriku
Tristan mengeluarkan Devandra
[DIGO]
Damai sekali 😊🔫
[MAHENDRA]
Dari tadi kek!
[KAY MORGAN]
Devandra kenapa?
[TRISTAN]
🤷♂️
[KAY MORGAN]
kirim foto
Cari tau mereka sekolah mana!
[KAEL WILLIAM]
Anjir! Gimana keadaan lo?
[KAY MORGAN]
Nggak ada masalah, cuma Rora luka
[DIGO]
ASTAGA RORA?! 😱
[KAY MORGAN]
Kabarin gue kalau ada info
[MAHENDRA]
Oke
Sedangkan di sisi yang lain Ruka Aqeela Kiran — sosok gadis bertubuh ramping dengan julukan Queen B di SMA Garuda Indonesia. Gadis yang setiap pergerakannya selalu berhasil mengundang decak kagum dari para cowok. Seperti sekarang, saat Ruka selesai latihan Cheer-nya, ia langsung disambut sekelompok cowok yang seperti biasa berebut memberinya minuman.
Ia mengabaikan semua itu, berjalan melewati mereka dengan penuh keangkuhan.
Baginya, cara mereka menarik perhatiannya sangatlah klise dan biasa saja. Itulah sebabnya Ruka tak pernah menanggapi cowok-cowok yang terus melemparkan rayuan atau tatapan penuh kekaguman kepadanya — Oh! Atau mungkin alasannya sederhana: hanya Kay Morgan yang berhasil menarik perhatiannya, tanpa perlu ia melakukan apa pun.
Sayangnya, sampai saat ini sosok Kay Morgan belum pernah menjadi bagian dari mereka yang selalu mengejar, melemparkan kata-kata manis demi perhatiannya, atau berdiri di depan ruang latihan hanya untuk menunggunya — lebih tepatnya, belum pernah sama sekali.
Baru saja Ruka melangkah masuk ke dalam kelasnya, tiba-tiba Jennie menghampirinya dengan wajah serius.
"Lo harus liat ini!" ucap Jennie sambil menyodorkan layar ponselnya tepat ke depan wajah Ruka.
Kedua mata Ruka menyipit, rasa tidak suka meluap saat melihat foto Kay Morgan sedang membonceng seorang gadis. Foto itu tersebar di akun Instagram resmi SMA Garuda Indonesia. Dari banyaknya tanda suka dan komentar yang berdatangan, Ruka yakin hal ini sudah menjadi pembicaraan hangat di seluruh sekolah.
Kedua tangannya mengepal erat, diam-diam menahan rasa sesak dan amarah yang memuncak.
"Siapa dia?" tanya Ruka, suaranya bergetar menahan emosi.
"Masih cewek yang kemarin," jawab Jennie singkat.
Detik berikutnya Ruka berbalik dan berjalan keluar kelas dengan langkah tegas.
Ia sudah siap memberi pelajaran pada gadis yang berani-beraninya mendekat-dekat dengan Kay Morgan.
----------------
"Rora mana?" tanya Kay Morgan saat melihat Rami dan Sheila masuk ke kantin sekolah.
"Ada di kelas, katanya malas ke sini," jawab Rami.
Mendengar itu, Kay Morgan langsung bangkit dari tempat duduknya.
"Eh—punya gue!" seru Devandra yang baru saja mau makan batagornya, kaget saat Kay Morgan tiba-tiba mengambil makanan itu.
"Gue beli, nanti ganti," ucap Kay Morgan singkat dan tegas, sambil mengeluarkan uang dari saku celananya.
Anjir si Kay Morgan, mentang-mentang tajir! Di pikir semua bisa dibeli pakai uang?
"Beli sendiri woi!" sanggah Devandra seraya menjauhkan makanannya dari Kay Morgan, namun gagal.
"WOI BOLOT!" umpat Devandra emosi melihat Kay Morgan yang sudah berjalan keluar dari kantin setelah membawa makanannya.
Rami menoleh ke arah Sheila yang sejak tadi diam.
"Ayo cari tempat duduk," tungkas Rami berniat menarik lengan Sheila, namun tak lama suara Digo menginterupsi.
"Kalian duduk sini sini aja!" ucap Digo mulai ngalus, tatapan cowok itu sejak tadi tak teralihkan dari sosok Sheila.
Bukan rahasia lagi kalau Sheila itu satu-satunya target Digo yang nggak luluh waktu di deketin.
Rami baru saja ingin mengatakan 'iya' untuk menyetujui—kapan lagi makan satu meja sama Tristan, namun suara Sheila lebih dulu menginterupsi. "Nggak usah kak, kita cari meja lain aja."
Sialan si Sheila ini, nggak bisa lihat orang seneng.
Sementara itu di kelas,
Rora menegakkan tubuhnya ketika melihat kedatangan kedua kakak kelasnya—Ruka dan Jennie—ke kelasnya. Belum sempat membuka suara, dirinya sudah ditampar oleh Ruka. Sialannya, Ruka menampar Rora tepat di pipi. Di sana luka sobeknya belum juga mengering.
"Maksud lo apa masih deket-deket Kay Morgan?!"
"Peringatan gue masih kurang jelas, hah!!"
Telinga Rora terasa berdengung sejenak. Gadis itu menyentuh luka gores di pipinya, darah segar meluncur cukup banyak.
Teman-teman Rora yang masih ada di dalam kelas membuka mulut terkejut. Ada yang berniat mendekat untuk menolong, tapi urung melakukannya. Mereka sadar, bukan hal mudah menentang gadis sepopuler Ruka.
Berbeda dengan Ruka, gadis itu justru tersenyum puas melihat darah menetes dari pipi Rora.
PLAK!
Sebuah tamparan keras kembali mendarat di pipi Rora dari tangan kakak kelasnya itu. Detik berikutnya—
"Maksud lo apa?!"
"Harusnya gue yang tanya, sialan!"
"Karena lo deket-deket sama Kay Morgan!"
Rora tersenyum kecut. "Harus banget ya kak, buat lo bertingkah kayak cewek kasar cuma gara-gara satu cowok?"
"Cuma?! Lo bilang cuma?!" Ruka mendorong bahu Rora dengan keras, membuat gadis itu kembali jatuh duduk di bangkunya.
"Iya! Dan lo kelihatan murahan banget tau nggak?!"
"Jaga ya omongan lo!" Baru saja Ruka hendak membalas dengan menampar sekali lagi, suara berat seseorang berhasil menghentikan gerakannya.
"Ternyata masih ada zaman ya, ngebully adik kelas?"
Itu Kay Morgan, datang sambil membawa bungkus batagor di tangannya.
Melihat sosok yang notabene ketua geng The Revenants itu muncul, wajah Ruka langsung berubah pucat—seperti pencuri yang ketahuan basah-basahan. Tentu saja! Selama ini di depan Kay Morgan dia selalu berpura-pura menjadi gadis yang lembut dan baik hati.
"Ng-nggak gitu, aku bisa jelasin..."
Ruka menunjuk wajah Rora dengan jari gemetar. "Ini cewek yang mulai duluan! Dia yang nampar aku, Kay!" dia mengadu sambil berusaha terlihat paling tidak bersalah.
Kay Morgan sama sekali tidak peduli dengan apa yang dikatakan Ruka katakan hanya memberikan fokusnya kepada Rora. Cowok itu menatap wajah Rora dengan intens. Melihat darah keluar dari pipi gadis itu membuat Kay Morgan mengeraskan rahangnya.
"Kay—" panggil Ruka dengan suara tercekat.
"Kenapa, mau nampar gue juga?" gertak Kay Morgan yang sukses membuat gadis itu mengerjap menahan tangis.
Bibir Ruka bergetar ketika Kay Morgan menatap wajahnya dengan sorot mata tajam. "Pergi! Muak gue liat muka lo!" Setelah mengatakan itu, Kay Morgan beralih kepada sosok Rora yang hanya berdiam diri di tempatnya.
"Makan dulu!" Suara lembut milik Kay Morgan terdengar ke penjuru kelas, cowok itu juga memberikan sepiring batagor kepada Rora.
"Tunggu sini, gue ambilin obat," katanya lantas berlari keluar kelas.
Perlakuan Kay Morgan itu jelas mengundang bisikan-bisikan dan tatapan iri dari murid lain yang masih berada di kelas. Ruka sendiri sudah memutuskan untuk pergi bersama Jennie yang mengekor di belakangnya, seolah tidak sudi melihat perlakuan Kay Morgan kepada Rora yang mana sangat berbanding terbalik ketika bersamanya.
Tak selang beberapa lama, muncullah sosok Kay Morgan dengan kotak P3K di tangannya.
"Ngapain sih?" decak Rora memasang wajah risih ketika Kay Morgan menarik bangku di depannya.
"Obatin dulu, sini!" tungkas Kay Morgan memaksa Rora untuk mendekat.
"Nggak usah!"
"Deketan!"
"Gue nggak mau!"
"Ck! Batu banget sih!"
"Jangan aneh-aneh! Perlakuan lo ini cuma bikin Ruka dan yang lain makin benci sama gue," katanya seraya menepis tangan Kay Morgan yang berniat mengobati luka di pipinya.
"Lo takut?" ejek Kay Morgan seraya memberikan kapas dan cairan obat ke tangan Rora, membiarkan gadis itu mengobati lukanya sendiri.
Kay Morgan bersandar ke bangku, kedua tangan cowok itu dimasukkan ke dalam saku. Entah sejak kapan Rora menangkap tatapan serius milik cowok itu.
"Gue cuma nggak mau cari masalah. Lagi pula gue ini masih murid baru."
Kay Morgan memutar bola matanya. "Ck! Nggak seru." dengusnya kecewa. "Pantes aja sih, pacarannya aja sama Shayen."
"Udah ngapain aja sama dia?" Kay Morgan menegakkan tubuhnya, sesaat memiringkan wajahnya—siap untuk menebak. "Kerjain soal geometri? Atau ngapalin rumus kesetaraan massa?"
"Nggak seru! Ati-ati bisa depresi," komentar Kay Morgan yang sukses membuat Rora tersinggung.
"Ng-nggak! Jangan sok tau!"
Kay Morgan tersenyum mengejek. "Oh ya?"
Melihat kedua mata Rora bergerak tak fokus, Kay Morgan berdiri dari tempatnya. Cowok itu mencondongkan tubuhnya ke arah Rora, kedua tangan bertumpu pada meja. Lantas berbisik pelan, "Kalau pacaran sama gue, lo bakal ngalamin yang rasanya euforia."
Merasakan bibir Kay Morgan bergerak tepat di dekat telinganya, tubuh Rora menegang kaku tanpa syarat. "Yakin nggak mau coba?"