NovelToon NovelToon
Cinta Terhalang Dinding Pesantren

Cinta Terhalang Dinding Pesantren

Status: tamat
Genre:Perjodohan / Idola sekolah / Cintapertama / Tamat
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Senja Juliani Putri

Cinta Terhalang Dinding Pesantren

Muthi'ah Azzahra hanya ingin menjalani hidupnya sebagai santriwati dengan tenang. Namun, semuanya berubah ketika dia mengetahui bahwa dirinya telah dijodohkan dengan Jay, putra pengasuh pesantren yang selama ini terasa begitu jauh dari kehidupannya.

Bagi Muthi'ah, perjodohan itu adalah keputusan yang tidak pernah dia minta. Bagi Jay, itu adalah janji keluarga yang perlahan berubah menjadi sebuah pilihan.

Di tengah aturan pesantren, gosip, bullying, tekanan keluarga, dan perasaan yang tumbuh diam-diam, mereka harus belajar mengenal satu sama lain tanpa kehilangan hak untuk menentukan masa depan.

Sebab, cinta yang sebenarnya bukan tentang siapa yang menjodohkan mereka, tetapi tentang apakah mereka mampu memilih satu sama lain dengan hati yang benar-benar ikhlas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja Juliani Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 29 - Muthi'ah Bicara di Depan Ayahnya

Sejak surat tiga halaman itu dibaca dan khitbah bulan depan ditunda, Ayah Muthi'ah jadi sering diam. Bukan diam marah, tapi diam berpikir.

Hari Sabtu, Ayah dan Ibu Muthi'ah datang lagi ke pesantren. Tidak membawa rantang kali ini, hanya membawa surat Muthi'ah yang sudah agak lecek karena sering dibaca ulang.

Muthi'ah dipanggil ke ruang tamu putri. Ruang tamu yang sama, tempat dulu dia dibilang manja.

Kali ini suasananya beda. Ayah duduk, Ibu duduk, Muthi'ah duduk di depan mereka. Tidak ada Ustazah, tidak ada Nyai. Hanya mereka bertiga.

Ayah membuka omongan, suaranya pelan.

"Muthi'ah, Ayah sudah membaca surat kamu berkali-kali. Ayah dan Ibu juga sudah berbicara dengan Kiai Hasyim, khitbah bulan depan kita tunda. Ayah setuju memberi kamu waktu kuliah dulu," kata Ayah.

Muthi'ah mengangguk, matanya sudah berkaca-kaca, "Makasih, Bi."

Ayah melanjutkan, "Tapi Ayah ingin mendengar langsung dari mulut kamu, bukan dari surat. Kemarin kamu menulis surat karena berani, sekarang Ayah ingin kamu bicara langsung di depan Ayah, dengan berani juga. Ayah janji mendengarkan, tidak akan memotong, tidak akan bilang kamu manja lagi. Bicara, Nak. Apa yang kamu rasakan?"

Muthi'ah gugup. Tangannya dingin. Selama ini, kalau berbicara dengan Ayah, dia selalu menunduk terus.

Hari ini, dia mencoba mengangkat kepala pelan-pelan. Menatap mata Ayahnya.

"Abi..." suaranya kecil, lalu dia menarik napas, mencoba lagi, lebih jelas.

"Abi, Muthi'ah tidak menolak Jay. Muthi'ah menolak cara kita dipaksa."

Satu kalimat itu. Satu kalimat yang dia pendam berbulan-bulan. Akhirnya keluar, tatap muka, tanpa menunduk terus.

Ayah kaget. Bukan karena kalimatnya, tapi karena cara Muthi'ah mengatakannya. Berani. Jelas.

Muthi'ah melanjutkan, air matanya jatuh, tapi dia tidak menunduk lagi.

"Gus Jay itu baik, Bi. Muthi'ah tahu. Tapi Muthi'ah mengenal dia bukan karena Muthi'ah mau, tapi karena disuruh. Dijodohkan dari bayi, terus tiba-tiba disuruh dekat, terus tiba-tiba mau dikhitbah bulan depan gara-gara gosip. Muthi'ah merasa... Muthi'ah tidak pernah ditanya, Bi. Muthi'ah seperti barang yang dipindah-pindahkan. Dari janji di atas sajadah, ke gosip, ke khitbah. Kapan Muthi'ah ditanya maunya apa?"

Ibu Muthi'ah langsung memegang tangan Ayah, "Yah, dengarkan dulu," bisiknya sambil menangis.

Ayah matanya merah, tapi dia mendengarkan, tidak memotong, sesuai janjinya.

Muthi'ah melanjutkan, dengan suara yang makin lama makin lancar.

"Muthi'ah ingin kuliah, Bi. Ingin jadi guru bahasa Arab. Ingin membanggakan Abi dan Umi dengan ilmu, bukan hanya dengan nikah. Muthi'ah ingin mengenal Gus Jay pelan-pelan, bukan karena takut gosip, tapi karena Muthi'ah memang ingin mengenal dia sebagai laki-laki, bukan sebagai putra kiai yang harus Muthi'ah nikahi demi janji. Kalau memang jodoh, Muthi'ah mau menikah dengannya karena Muthi'ah cinta, bukan karena Muthi'ah dipaksa."

Ayah diam lama. Lalu berkata, suaranya pelan, menyesal.

"Muthi'ah, Abi minta maaf. Abi selama ini berpikir, memberi jodoh terbaik itu sudah jadi tugas ayah yang selesai. Abi lupa, tugas ayah bukan memberi jodoh, tapi memberi ruang untuk anak memilih jodohnya sendiri. Abi takut, Nak. Takut kamu kehilangan laki-laki baik seperti Jay kalau kelamaan. Makanya Abi buru-buru."

Muthi'ah menangis makin kencang, tapi bukan nangis sedih, nangis lega.

"Abi, Muthi'ah mengerti Abi takut. Tapi Muthi'ah janji, Muthi'ah tidak akan salah pilih. Beri Muthi'ah waktu kuliah dulu ya, Bi? Beri Muthi'ah waktu mengenal Gus Jay dengan adab, tanpa paksaan tanggal. Kalau memang dia jodoh Muthi'ah, Muthi'ah akan bilang iya dengan ridha, bukan dengan terpaksa," kata Muthi'ah.

Ayah berdiri, berjalan ke depan Muthi'ah. Muthi'ah juga berdiri.

Untuk pertama kalinya setelah Muthi'ah masuk pesantren tiga tahun lalu, Ayahnya memeluk dia. Pelukan yang lama, erat.

"Muthi'ah, Abi dukung kamu kuliah dulu. Abi dukung kamu kenal Jay pelan-pelan. Maaf ya, Nak, Abi baru belajar jadi ayah yang mendengarkan, bukan hanya menyuruh," bisik Ayah di pelukan itu.

Ibu Muthi'ah ikut memeluk mereka berdua.

Hari itu, dinding di antara ayah dan anak, yang selama ini membuat Muthi'ah selalu menunduk terus kalau bicara, runtuh.

Runtuh karena satu kalimat berani: "Abi, Muthi'ah tidak menolak Jay, Muthi'ah menolak cara kita dipaksa."

Di luar ruang tamu, Zahra yang dari tadi menjaga jarak, masuk membawa teh setelah pelukan selesai, berbisik ke Dina dan Salsa, "Akhirnya Muthi'ah tidak menunduk terus."

Dan Muthi'ah, yang tadi masuk ruang tamu dengan menunduk, keluar dengan kepala agak tegak.

Karena dia sudah belajar menyuarakan pendapat, tanpa harus kehilangan hormat.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!