Marco Maverick membenci wanita cantik. Trauma masa lalu membuat CEO jenius yang hobi bertingkah kocak ini lebih memilih melajang, menyawer live TikTok, dan mengasuh anak sahabatnya. Bahkan saat menyelamatkan wanita mempesona di klub malam, Marco menolaknya mentah-mentah.
Penasaran dengan satu-satunya pria yang berani mencampakkannya, Isabel nekat menyusup ke hidup Marco. Putri konglomerat yang sedang buron itu menanggalkan kemewahannya dan menjelma menjadi 'Lia', sekretaris berpenampilan cupu dan kusam.
Ironisnya, Marco justru menolak pesona Isabel dalam wujud aslinya, dan perlahan jatuh hati pada kesederhanaan Lia. Namun, tak ada kebohongan yang abadi. Ketika topeng sang sekretaris terbongkar, luka lama Marco kembali menganga, menghancurkan semua rasa percaya yang baru tumbuh.
"Apakah seru mempermainkan hatiku, Lia?"
Saat bahaya masa lalu kembali mengincar nyawa Isabel, sanggupkah ia meyakinkan pria itu bahwa cinta tak selamanya pahit, Marco!?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itha Sulfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
Sejak kejadian diterimanya ia kembali seminggu yang lalu, kinerja Magnolia mengalami peningkatan yang sangat pesat. Ia tidak pernah lagi membuat kesalahan konyol.
Kopinya selalu pas, jadwal Marco tersusun rapi, dan ia bahkan bisa mengusir para tamu tak diundang dengan gaya sopan namun menakutkan yang ia pelajari dari Nyonya Brenda.
Marco, di sisi lain, mulai terbiasa dengan kehadiran gadis kusam berkacamata tebal itu. Pria itu bahkan diam-diam menyukai kecerdasan Lia dalam meninjau laporan keuangan.
Suatu siang, langit mendung menggantung di luar jendela kaca raksasa ruang kerja CEO Wiliam Group. Rintik hujan mulai turun membasahi kaca.
Di dalam ruangan, Lia berdiri menunduk di samping kursi kebesaran Marco. Di tangannya terdapat map tebal berisi laporan proyek pembangunan hotel di pesisir selatan. Kening Lia berkerut dalam, matanya menyipit di balik lensa kacamatanya yang tebal itu.
"Saya benar-benar bingung dengan bagian ini, Tuan Maverick," keluh Lia frustrasi, menunjuk sebuah diagram rumit di halaman dua belas. "Alokasi dana untuk material beton pracetak ini grafiknya tidak selaras dengan persentase inflasi bulanan. Saya sudah menghitungnya tiga kali, tapi hasilnya selalu defisit."
Marco yang sedang bersandar santai di kursinya, memutar pena di tangannya. Ia menghela napas pelan, lalu menarik kursi kulitnya lebih dekat ke meja.
"Coba kulihat," ucap Marco. Ia mengambil map itu dari tangan Lia dan meletakkannya di atas meja, tepat di depannya.
Lia membungkuk sedikit untuk melihat bagian yang ditunjuk Marco. Tubuhnya condong ke depan, tangannya bertumpu pada pinggiran meja kayu mahoni yang dingin.
"Masalahnya bukan di hitunganmu, Ensiklopedia Basah," jelas Marco dengan suara baritonnya yang tenang. Tidak ada nada ejekan konyol, hanya aura profesional seorang CEO yang jenius. "Kau melupakan variabel biaya logistik. Pesisir selatan sedang musim angin muson, biaya pengiriman material lewat laut melonjak naik dua puluh persen. Laporan ini tidak mencantumkan itu untuk menutupi margin keuntungan kontraktor."
Lia terkesiap kecil. Ia baru menyadari hal itu.
"Kau harusnya membaca lampiran amdal-nya juga, jangan cuma fokus pada angka nominalnya," lanjut Marco.
Tanpa sadar, Marco menolehkan wajahnya ke samping, berniat menatap Lia untuk memastikan gadis itu paham. Di saat yang sama, Lia juga menoleh ke arah Marco.
Gerakan refleks keduanya membuat wajah mereka tiba-tiba berada dalam jarak yang sangat dekat. Hidung mereka nyaris bersentuhan. Napas Marco yang beraroma mint menyapu lembut permukaan pipi Lia.
Waktu seolah berhenti berdetak.
Untuk pertama kalinya dari jarak sedekat ini, Marco bisa melihat dengan jelas mata berwarna cokelat terang milik Lia di balik bingkai kacamata tebalnya yang sedikit merosot.
Mata itu begitu jernih, memancarkan kecerdasan dan... sesuatu yang entah mengapa terasa sangat memikat. Bibir pucat Lia yang sedikit terbuka karena terkejut entah mengapa membuat Marco menelan ludah. Gadis ini... terlihat menggemaskan.
Di sisi lain, jantung Lia berpacu dua kali lipat lebih cepat. Dari jarak yang hanya beberapa inci ini, ketampanan seorang Marco Maverick benar-benar menghantamnya tanpa ampun.
Rahang tegas yang kokoh, hidung bangir yang sempurna, dan yang paling mematikan adalah mata biru milik pria itu yang menatapnya dengan intensitas yang sanggup melelehkan hati wanita mana pun.
Selama lima detik yang terasa seperti keabadian, mereka hanya saling menatap dalam keheningan yang dipenuhi ketegangan aneh.
Marco tersadar lebih dulu. Pria itu mengerjap cepat, wajahnya sedikit memerah. Ia refleks memundurkan tubuhnya hingga punggungnya menabrak sandaran kursi dengan cukup keras.
"Ekhem!" Marco berdehem canggung, buru-buru mengalihkan pandangannya kembali ke arah dokumen. Tangannya sedikit gemetar saat ia memutar penanya lagi. "J-jadi... begitulah perhitungannya. Kalau kau sudah mengerti, kembalilah ke mejamu. Perbaiki laporannya dan serahkan padaku satu jam lagi."
Lia menegakkan tubuhnya dengan kaku. Keringat dingin sebesar biji jagung mulai merembes di pelipisnya.
"B-baik, Tuan Maverick. S-saya mengerti," jawab Lia terbata-bata.
Lia segera mengambil map itu dari atas meja dan berbalik dengan langkah cepat yang nyaris seperti orang berlari. Ia tidak menoleh lagi hingga pintu ruang kerja itu tertutup rapat di belakangnya.
Begitu berada di mejanya sendiri, Lia meletakkan map itu dan langsung menempelkan kedua telapak tangannya di dada.
Deg! Deg! Deg!
Jantungnya berdetak brutal seolah baru saja menyelesaikan lomba lari maraton. Napasnya memburu. Wajahnya terasa panas hingga ke telinga. Ia menyentuh dadanya yang masih berdebar kencang tak karuan.
Ada apa dengan jantungku?! batin Lia panik.
Ia memejamkan mata, namun bayangan mata biru Marco yang sedalam lautan dan jarak mereka yang begitu dekat kembali berkelebat di benaknya, membuat desiran aneh di hatinya semakin terasa.
Tak menyangka, jantungnya akan bereaksi sebodoh dan seberlebihan ini hanya karena menatap mata atasannya sendiri.
Lia menampar pipinya pelan, berusaha mengembalikan akal sehatnya.
Sadarlah, Isabel! rutuknya pada diri sendiri dalam hati, meremas ujung blazernya kuat-kuat. Ingat, dia itu pria gila! Dia itu pria sinting yang hobinya nyawer di TikTok dan tidak punya tata krama!
Lia menarik napas panjang, menatap lurus ke arah pintu ruangan Marco dengan tatapan permusuhan.
Jangan sampai kau benar-benar terpesona olehnya, Isabel. Jangan bodoh! tekadnya dalam hati, sebelum akhirnya kembali menenggelamkan diri pada laporan kontraktor yang memusingkan itu demi melupakan degup jantungnya yang mengkhianati logikanya sendiri.
semangat Marco ,,
semangat liaa or Isabella ,,
kejam banget sih itu memang cewek 😡
jgn bermimpi bisa dapetin Marco Alana ,, pawang skarang ganas meski belum resmii ,, tp ttap hati2 ,,