Di mata masyarakat, keluarga Valerius adalah keluarga pengusaha terpandang dan salah satu keluarga terkaya di kota. Namun di balik kemewahan mansion mereka, keluarga Valerius merupakan salah satu keluarga mafia paling berkuasa dan ditakuti.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mona28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PILIHAN ADRIAN VALERIUS
Ruangan itu mendadak terasa begitu sunyi.
Rekaman Armand Ravencroft telah berakhir, tetapi kalimat terakhirnya masih menggema di kepala Aren.
“Dia adalah orang yang memilih siapa yang harus mati malam itu.”
Aren menatap layar hitam di hadapannya. Kedua tangannya mengepal, sementara pikirannya berusaha memahami perkataan ayah kandungnya.
Adrian bukan pembunuh Armand.
Namun, Adrian memilih siapa yang harus mati.
Apa artinya?
Siapa yang dipilih Adrian?
Dan mengapa ayah angkatnya tidak pernah menceritakan hal itu?
"Aren."
Suara Leon terdengar lembut dari sampingnya.
Aren tidak menjawab.
"Aren, lihat aku sebentar."
Leon menyentuh bahunya dengan hati-hati. Ketika Aren akhirnya menoleh, dokter keluarga itu melihat wajah adiknya yang pucat dan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Kau tidak harus memikirkan semuanya sekarang."
"Tapi bagaimana aku bisa berhenti memikirkannya, Kak?"
Suara Aren bergetar.
"Selama ini aku berpikir bahwa Ayah Adrian menyembunyikan sesuatu karena ingin melindungiku. Aku berusaha memahami alasannya. Aku bahkan membelanya ketika orang lain menuduhnya. Tapi sekarang..."
Aren menunduk.
"Bagaimana kalau dia memang melakukan sesuatu yang tidak bisa dimaafkan?"
Leon tidak langsung menjawab. Ia tahu bahwa memberikan pembelaan tanpa mengetahui kebenaran hanya akan membuat Aren semakin bingung.
"Kalau memang ada kesalahan yang dia lakukan, kita akan menghadapinya bersama," ujar Leon akhirnya. "Tapi kita tidak akan menghukumnya berdasarkan potongan rekaman."
Raka mengangguk.
"Leon benar. Kita mencari surat kedua dan mendengar penjelasan Adrian secara langsung."
Riven berdiri di belakang Aren dengan wajah gelap.
"Aku tidak peduli apa yang terjadi tujuh belas tahun lalu. Kalau Ayah menyakiti Aren, dia harus menjelaskan semuanya."
"Dan kalau dia menyembunyikan sesuatu demi menyelamatkan Aren?" Darren menyahut.
Riven menoleh tajam.
"Aku tidak bilang kita langsung menghakiminya."
"Kau tidak perlu mengatakannya. Wajahmu sudah mengatakan semuanya."
"Sudah cukup," potong Raka.
Kedua adiknya langsung terdiam.
Raka kemudian menghadap layar utama. "Kian, apakah rekaman itu memiliki sumber asli?"
Suara Kian terdengar melalui alat komunikasi.
"Ada. Rekaman berasal dari arsip internal Proyek Serigala Hitam. Namun, sebagian besar berkasnya dikunci dengan kode administrator tingkat tertinggi."
"Bisakah kau membukanya?"
"Aku sedang mencoba. Tetapi ada masalah lain. Rekaman yang baru kita lihat bukan satu-satunya. Ada tiga rekaman lanjutan yang dihapus dari indeks."
Mara yang berdiri dekat pintu langsung menegang.
"Tiga rekaman?"
"Ya. Judulnya hanya berupa kode waktu. Rekaman pertama dibuat beberapa menit sebelum serangan, rekaman kedua saat serangan berlangsung, dan rekaman ketiga setelah semuanya berakhir."
Aren segera mengangkat kepala.
"Putar rekaman kedua."
"Aku belum bisa membukanya," jawab Kian. "Aku membutuhkan akses ke terminal utama."
Mara menatap lorong di belakang mereka.
"Terminal utama berada di ruangan sebelah. Tetapi jika Alistair masih mengendalikan sistem, membuka berkas itu akan memberitahunya posisi kita."
Raka mengeluarkan pistol dari balik jasnya.
"Kalau begitu, kita bergerak cepat."
Aren ikut melangkah, tetapi Raka segera menahan lengannya.
"Kau tetap di belakangku."
"Aku ingin melihat rekaman itu."
"Dan kau akan melihatnya. Tetapi kau tidak akan menerobos ruangan berbahaya tanpa perlindungan."
Aren hendak membantah, tetapi kemudian mengangguk.
Ia tahu kakaknya tidak sedang berusaha mengendalikannya. Raka hanya ingin memastikan bahwa kali ini, mereka semua pulang bersama.
---
Mereka tiba di terminal utama beberapa menit kemudian.
Ruangan itu dipenuhi rak server dan layar pemantauan. Di salah satu sudut terdapat meja logam dengan pemindai sidik jari, sementara pintu di belakangnya dilengkapi sistem penguncian elektronik.
Kian, yang terhubung melalui sambungan jarak jauh, langsung memandu mereka.
"Letakkan gelang Aren di atas pemindai."
Raka menoleh kepada Aren.
"Kau yakin?"
Kian menjawab sebelum Aren sempat berbicara.
"Arsip R-17 menggunakan gelang itu sebagai kunci biologis. Tanpa gelang Aren, kita tidak bisa mengakses rekaman asli."
Aren mengangkat pergelangan tangannya.
Gelang hitam itu terasa lebih berat daripada biasanya.
Ia meletakkannya di atas pemindai.
Sinar merah menyapu lambang serigala, lalu berubah menjadi hijau.
IDENTITAS SUBJEK R-17 TERKONFIRMASI.
Layar utama menyala.
Tiga berkas rekaman muncul.
Aren menatap nama-nama itu dengan napas tertahan.
REKAMAN 01 — SEBELUM SERANGAN.
REKAMAN 02 — PERINTAH EVAKUASI.
REKAMAN 03 — KEPUTUSAN ADMINISTRATOR.
"Putar yang kedua," kata Aren.
Kian mengakses berkas tersebut.
Gambar lama muncul di layar. Ruangan yang terlihat adalah ruang kendali yang sama, tetapi keadaannya jauh lebih berantakan. Lampu berkedip, alarm berbunyi, dan beberapa orang berlarian membawa dokumen.
Armand muncul di tengah rekaman.
"Evakuasi Elena dan Aren sekarang!" perintahnya. "Jangan biarkan mereka membawa anakku ke ruang utama!"
Seorang pria di luar kamera menjawab, "Jalur timur sudah ditutup!"
"Lalu buka jalur barat!"
"Jalur barat berada di bawah kendali administrator!"
Armand memukul meja.
"Hubungi Adrian!"
Gambar berguncang. Beberapa detik kemudian, Adrian muncul di layar lain, berbicara melalui komunikasi video.
"Armand, aku sedang mencoba membuka jalurnya."
"Kau berjanji akan melindungi mereka!"
"Aku tahu!"
"Kalau kau masih mengingat janjimu, selamatkan Elena dan anakku!"
Adrian menatap layar dengan wajah penuh tekanan.
"Ada dua belas orang yang masih terjebak di kompleks timur. Kalau aku membuka pintu utama, seluruh sistem pertahanan akan mati dan mereka akan dibantai."
"Kalau kau tidak membukanya, anakku akan dibawa ke ruang kendali!"
"Aku sedang mencari jalan lain!"
Armand mendekat ke kamera.
"Adrian, dengarkan aku. Apa pun yang terjadi, jangan biarkan Alistair mendapatkan Aren."
Rekaman berhenti mendadak.
Aren menatap layar tanpa berkedip.
Dua belas orang.
Jalur evakuasi.
Alistair.
Untuk pertama kalinya, ia mulai memahami bahwa keputusan Adrian mungkin bukan pilihan sederhana antara baik dan jahat. Ada orang-orang yang terjebak, ada nyawa yang harus diselamatkan, dan ada Aren yang saat itu masih bayi.
Namun, itu belum menjawab pertanyaan terpenting.
Apa yang dipilih Adrian?
"Putar rekaman ketiga," ujar Raka.
Kian membuka berkas terakhir.
Kali ini, gambar memperlihatkan Adrian berdiri sendirian di depan sebuah panel kendali. Wajahnya tampak lebih tua daripada dalam rekaman sebelumnya. Darah mengotori lengan bajunya.
Sebuah suara otomatis terdengar.
ADMINISTRATOR, PILIH PROTOKOL.
Dua pilihan muncul di layar.
PROTOKOL A: EVAKUASI ELENA RAVENCROFT DAN SUBJEK R-17.
PROTOKOL B: BUKA JALUR EVAKUASI UNTUK DUA BELAS PERSONEL DAN KUNCI RUANG KENDALI.
Adrian menatap kedua pilihan itu.
"Jika aku memilih A, bagaimana dengan personel di sektor timur?"
SELURUH AKSES EVAKUASI SEKTOR TIMUR AKAN DITUTUP.
"Dan jika aku memilih B?"
ELENA RAVENCROFT DAN SUBJEK R-17 AKAN TETAP BERADA DI DALAM KOMPLEKS.
Aren merasa tubuhnya membeku.
Di layar, Adrian menutup mata.
Kemudian ia menekan pilihan kedua.
PROTOKOL B DITERIMA.
Riven mengumpat keras.
"Dia memilih meninggalkan Aren!"
"Diam dulu," kata Raka, meskipun wajahnya sendiri tampak tegang.
Rekaman berlanjut.
Adrian tidak pergi setelah memilih protokol B. Ia segera membuka panel lain dan memasukkan kode administrator. Sebuah jalur tersembunyi terbuka di peta, mengarah ke pintu servis di luar kompleks.
"Jalur alternatif diaktifkan," gumam Kian. "Dia mencoba membuka jalan lain."
Di layar, Adrian berbicara kepada seseorang melalui alat komunikasi.
"Evakuasi Elena melalui jalur servis. Bawa Aren bersamanya. Jangan gunakan pintu utama."
Suara perempuan menjawab, tetapi rekaman terlalu berisik untuk mengenali identitasnya.
"Bagaimana dengan Anda?"
Adrian menatap kamera.
"Aku akan mengurus Alistair."
Rekaman berakhir.
Tidak ada yang berbicara selama beberapa detik.
Adrian memang memilih menyelamatkan dua belas personel terlebih dahulu. Namun, setelah itu ia tetap berusaha menyelamatkan Elena dan Aren melalui jalur alternatif.
Artinya, pesan yang disampaikan Alistair tidak sepenuhnya benar.
Tetapi ada satu hal yang belum terjawab.
Jika Adrian berhasil membuka jalur alternatif, mengapa Elena akhirnya tertangkap? Dan mengapa Armand meninggal?
Aren menatap layar yang telah kembali gelap.
"Aku ingin bicara dengan Ayah Adrian."
Raka mengangguk pelan.
"Kita akan menemukannya."
Namun, sebelum mereka sempat meninggalkan ruangan, Kian berbicara lagi.
"Tunggu. Ada sesuatu yang baru muncul di arsip."
Sebuah dokumen terbuka di layar.
CATATAN PENGAMBILAN BARANG BUKTI.
Nama administrator: Adrian Valerius.
Barang yang diambil: Surat kedua Armand Ravencroft.
Tanggal: Tujuh belas tahun lalu.
Status: Tidak pernah dikembalikan.
Darren mengerutkan kening.
"Jadi, Adrian benar-benar mengambil surat itu."
Mara mengangguk perlahan.
"Aku sudah menduganya."
Aren menatap perempuan itu.
"Kalau kau tahu Adrian mengambilnya, mengapa kau tidak pernah mencarinya?"
"Karena aku tidak tahu apakah dia mengambilnya untuk melindungi kalian atau untuk menyembunyikan bukti."
"Dan sekarang?"
Mara menunduk.
"Sekarang aku juga tidak tahu."
---
Pada saat yang sama, Adrian telah tiba di fasilitas bawah tanah.
Ia berdiri di depan pintu masuk ruang kendali pribadi, dengan amplop hitam tersembunyi di balik jasnya.
Sebuah kamera bergerak ke arahnya.
Suara Alistair terdengar dari pengeras suara.
"Kau akhirnya datang, Adrian."
Adrian menatap kamera itu dengan dingin.
"Aku datang untuk mengambil Aren."
"Kau selalu mengatakan hal yang sama. Tujuh belas tahun lalu, kau mengatakan akan menyelamatkannya. Hari ini, kau mengatakan hal yang sama lagi."
"Jangan gunakan Aren untuk mengancamku."
"Aku tidak perlu mengancammu. Kau sudah hidup dengan rasa bersalah selama tujuh belas tahun."
Adrian mengepalkan tangan.
Alistair tertawa kecil.
"Apakah surat itu masih bersamamu?"
Adrian tidak menjawab.
"Berikan surat kedua kepadaku, dan aku akan membiarkan Aren pergi."
"Aku tidak mempercayaimu."
"Tentu saja tidak. Kau telah mengkhianatiku sekali."
Adrian mengangkat wajah.
"Aku tidak pernah menjadi milikmu."
Untuk pertama kalinya, suara Alistair terdengar marah.
"Kau berdiri di sampingku selama bertahun-tahun! Kau menerima kekuasaanku, menggunakan namaku, dan membiarkan orang-orang percaya bahwa aku telah mati. Lalu kau mengubah perintahku pada malam Ravencroft dihancurkan!"
"Aku mengubah perintahmu karena kau ingin menggunakan seorang bayi sebagai senjata."
"Aku ingin menyelamatkan keluarga kita!"
"Kau ingin menguasai semua orang!"
Keheningan singkat menyelimuti lorong.
Kemudian Alistair berkata dengan suara rendah, "Kalau begitu, katakan kepadaku, Adrian. Mengapa kau tidak menyelamatkan Armand?"
Adrian terdiam.
Pertanyaan itu menghantam bagian dirinya yang paling ingin ia lupakan.
"Aku mencoba."
"Tetapi kau gagal."
Adrian menunduk.
"Ya."
Satu kata itu keluar dengan berat.
"Aku gagal menyelamatkannya."
Pintu ruang kendali terbuka.
Adrian masuk seorang diri.
Di tengah ruangan, sebuah layar besar menampilkan Aren bersama Raka dan saudara-saudaranya. Alistair sengaja memperlihatkan gambar itu untuk memastikan Adrian melihat bahwa Aren telah menemukan rekaman lama.
Adrian langsung menyadari apa yang terjadi.
"Kau membiarkan mereka melihat arsip."
"Mereka berhak mengetahui sebagian kebenaran."
"Sebagian kebenaran yang kau pilih sendiri."
Alistair tersenyum.
"Dan kau? Berapa banyak kebenaran yang kau pilih untuk disembunyikan?"
Adrian mengeluarkan amplop hitam dari balik jasnya.
"Aku membawa surat kedua."
Alistair berdiri.
"Letakkan di meja."
Adrian tidak bergerak.
"Pertama, lepaskan Aren."
"Kau tidak sedang dalam posisi untuk memberikan syarat."
"Kalau begitu, kau tidak akan mendapatkan surat ini."
Kedua pria itu saling menatap.
Akhirnya Alistair mengangkat tangan. Salah satu layar berubah, menampilkan Aren yang sedang berbicara dengan Raka di ruang terminal.
"Dia masih hidup. Untuk sementara."
Adrian meletakkan amplop hitam di atas meja, tetapi tangannya tetap menahan salah satu ujungnya.
"Aku tidak akan membiarkanmu menyentuhnya lagi."
Alistair mendekat.
"Kau masih belum mengerti, bukan? Aku tidak membutuhkan Aren hanya karena dia cucuku. Aku membutuhkannya karena dia satu-satunya orang yang bisa membuka arsip terakhir."
Adrian menatapnya dengan wajah pucat.
"Arsip terakhir sudah dihancurkan."
"Tidak semuanya."
Alistair membuka amplop hitam.
Di dalamnya terdapat selembar surat dan sebuah foto kecil.
Foto itu memperlihatkan Armand, Elena, dan bayi Aren. Namun, ada satu orang lain berdiri di belakang mereka.
Adrian langsung mengenali sosok itu.
Wajahnya berubah.
"Tidak mungkin..."
Alistair tersenyum.
"Kau tahu siapa dia."
Adrian menggeleng pelan.
"Aku melihatnya meninggal."
"Tidak. Kau hanya melihat apa yang kubiarkan kau lihat."
Alistair mengangkat foto tersebut.
"Orang yang selama ini kalian anggap sebagai korban ternyata masih hidup. Dan dialah satu-satunya orang yang mengetahui siapa yang benar-benar membunuh Armand."
Adrian menatap foto itu seolah-olah seluruh masa lalunya baru saja runtuh.
Sementara itu, di ruang terminal, Aren menerima pesan baru dari nomor tak dikenal.
Pesan itu hanya terdiri dari satu kalimat.
JANGAN BIARKAN ADRIAN MEMBUKA AMPLOP HITAM. DI DALAMNYA ADA BUKTI BAHWA IBUMU TIDAK PERNAH KELUAR DARI FASILITAS PADA MALAM ITU.
Aren mengangkat wajah dengan napas tertahan.
Jika Elena tidak pernah keluar dari fasilitas malam itu, siapa perempuan yang selama ini mengaku sebagai ibunya?
Dan siapa sebenarnya sosok dalam foto yang baru saja dilihat Adrian?