NovelToon NovelToon
KAU PIKAT SUAMIKU KUREBUT SUAMIMU

KAU PIKAT SUAMIKU KUREBUT SUAMIMU

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Pengkhianatan / Tamat
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nuna_Pena

Laras, ibu rumah tangga yang setia, tak sengaja membaca pesan mesra di ponsel suaminya, Dimas. Perempuan di balik pesan itu ternyata Vania, tetangga baru yang selama ini bersikap ramah padanya.

Laras hancur, tapi ia memilih diam dan mengumpulkan bukti. Saat melihat Reza, suami Vania, yang tulus mencintai istrinya, ia memutuskan membalas dengan cara yang sama: merebut apa yang paling Vania sayangi.

Namun semakin dalam Laras bermain, semakin kabur batas antara dendam dan perasaan. Rahasia masa lalu Vania dan Reza mulai terbuka, dan Laras harus memilih antara menuntaskan pembalasan atau menyelamatkan dirinya dan Kenzo, anaknya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

NAMA DIATAS KAJATI

Malam pertama di rumah yang lunas terasa aneh.

Tidak ada gembok di pagar. Tidak ada surat tagihan di bawah pintu. Tidak ada bau parfum asing di baju Dimas di keranjang cucian.

Hanya ada enam orang dan satu anak kecil yang tidur berhimpitan di ruang tamu karena kamar utama masih bau obat pel dan AC yang bocor.

Laras tidak bisa tidur. Ia duduk di dapur, menatap sertifikat atas namanya, akta lunas, dan foto pernikahan retak yang ia sandarkan di dinding. Di sebelahnya, cangkir teh Sumi sudah dingin.

Pintu dapur terbuka pelan. Bu Tuti masuk dengan tongkat, tanpa kursi roda. Ia sudah bisa jalan pelan, meski napasnya masih berat.

"Kamu belum tidur," katanya.

"Ngantuk, tapi kepalanya ribut," jawab Laras.

Bu Tuti duduk. Mengambil foto pernikahan retak itu, mengelus kacanya.

"Dimas pernah bilang, dia pertama kali lihat kamu di kantin kantor. Kamu makan sendirian, pakai kerudung cokelat, baca buku sambil makan. Dia bilang, perempuan ini kalau marah pasti diamnya lama."

Laras tersenyum tipis. "Benar."

"Dia takut kamu diam." Bu Tuti meletakkan foto itu. "Karena itu dia tanda tangan surat itu. Dia pikir kalau dia punya uang, kamu nggak akan diam. Padahal kalau dia jujur dari awal, kamu nggak akan diam juga, tapi diamnya beda."

Laras menatap Bu Tuti. "Bu, siapa di atas Kajati?"

Bu Tuti diam lama. Jemarinya mengetuk meja, irama yang sama dengan ketika ia mengetuk map di rumah kota tua.

"Selama sebelas tahun saya kumpulkan bukti," katanya akhirnya. "Saya kira Rudi yang paling atas. Ternyata Rudi cuma calo. Lalu saya kira Kajati. Ternyata Kajati cuma pintu. Proyek pelabuhan itu nilainya ratusan miliar. Nggak mungkin cuma jaksa dan makelar yang main."

"Siapa?"

"Di foto polaroid itu, kamu lihat tangan Kajati di dekat tuas rem. Tapi siapa yang kasih polaroid itu ke saya?" Bu Tuti menatap Laras. "Bukan saya yang foto. Saya dapat foto itu dari seseorang di mobil belakang. Mobil yang ngikutin mobil Pak Hendra malam itu."

"Mobil belakang?"

"Pak Hendra nggak pergi sendirian. Ada mobil pengawal. Isinya ajudan dan..." Bu Tuti berhenti, mengatur napas. "Dan pemilik proyek pelabuhan yang sebenarnya."

Laras merasakan tengkuknya dingin. "Pemilik proyek... bukan Pak Hendra?"

"Pak Hendra cuma perantara. Pemiliknya punya perusahaan cangkang di Singapura. Namanya ada di daftar rekening yang saya simpan." Bu Tuti merogoh saku kebayanya, mengeluarkan kertas kecil yang sudah dilipat berkali-kali. Kertas itu sudah lusuh, tintanya hampir hilang.

Di atasnya, satu nama ditulis tangan: T. S.

Laras mengerutkan dahi. "T.S.? T itu..."

"Awalnya saya kira T itu saya. Tuti. Tapi bukan." Bu Tuti tersenyum pahit. "Sumi dan saya dulu punya teman ketiga. Waktu foto 1978 itu diambil, ada satu lagi yang motret kami. Dia nggak masuk foto karena dia yang pegang kamera."

"Sahabat ketiga?"

"Namanya Tania. Tania Suryani." Bu Tuti menatap jendela dapur yang gelap. "Dia paling cantik di antara kami. Paling pintar. Dia yang pertama kuliah di Jakarta. Dia yang pertama punya butik kain. Dan dia yang pertama hilang."

"Hilang?"

"Setelah ayah Laras meninggal — eh, Jono — suami Sumi meninggal, Tania datang melayat. Bawa kue banyak. Bilang akan bantu Sumi. Seminggu kemudian, dia hilang. Nggak ada kabar. Sumi kira dia pindah ke luar negeri."

Laras menatap ibunya yang tertidur di ruang tamu, memeluk Kenzo.

"Ibu nggak pernah cerita punya teman namanya Tania."

"Karena Sumi takut. Setelah Jono mati, Tania datang dan bilang: 'Sum, jangan cari Hendra Wijaya lagi. Anggap aja kecelakaan. Kalau kamu cari, anakmu yang kena'. Sumi pikir itu ancaman. Ternyata peringatan."

Di ruang tamu, ponsel Mira bergetar. Keras.

Mira mengangkatnya setengah mengantuk. "Halo? Hendarto?"

Suara Hendarto di seberang tegang, tapi ada lega. "Mira, Kajati sudah di Kejagung. Dia ngaku. Tapi dia ngaku setengah. Dia bilang dia disuruh."

"Disuruh siapa?"

"Dia nggak mau sebut nama. Tapi dia bilang, orang itu yang tanda tangan surat perintah penarikan dua petugas dari rumah Sumi sore tadi. Orang itu yang punya akses langsung ke sistem. Dan orang itu..." Hendarto berhenti. "Orang itu perempuan."

Laras berdiri. Kertas T.S. di tangannya terasa panas.

"Perempuan?" ulang Mira keras, membangunkan Reza dan Vania.

"Ya. Dan inisialnya T.S."

Semua mata di ruang tamu terbuka.

Bu Tuti menutup mata. "Tania Suryani."

Sumi terbangun, mendengar namanya disebut.

"Kenapa sebut Tania?" tanyanya, suara serak bangun tidur.

Laras berjongkok di samping ibunya. "Bu, Tania Suryani masih hidup?"

Sumi menatap Bu Tuti, lalu menatap Laras. Air matanya langsung jatuh, tanpa suara.

"Dia yang kirim pesan 'Kurebut suamimu', bukan?" bisik Laras, sangat pelan, supaya Kenzo tidak bangun. "Bukan Vania?"

Sumi menggeleng cepat. "Bukan Vania. Vania cuma... cuma alat kecil."

"Jadi siapa?"

Sumi memegang tangan Laras erat-erat.

"Tania itu... ibu kandung Dimas."

Dunia berhenti lagi, untuk ketiga kalinya malam itu.

Laras tidak bisa bernapas.

Vania yang menggendong Kenzo menatap Sumi dengan mulut terbuka. Reza berdiri, pucat.

"Apa?" kata Laras.

"Dimas anak angkat," bisik Sumi, tangisnya pecah. "Saya baru tahu setahun lalu, waktu Tania datang lagi setelah sebelas tahun hilang. Dia datang ke rumah, minta saya jangan bilang siapa-siapa. Dia bilang Dimas anaknya dari suami pertama yang meninggal. Dia titipkan ke panti karena dia mau merantau. Rudi yang adopsi diam-diam untuk dijadikan orang suruhan."

Bu Tuti mengangguk pelan, seolah sudah tahu.

"Dan sekarang Tania mau rebut lagi," kata Bu Tuti. "Bukan suamimu, Laras. Dia mau rebut anaknya."

Dari luar pagar, yang tidak digembok, terdengar ketukan lagi.

Tiga kali. Sopan. Terlalu sopan.

Suara perempuan, lembut, tua, tapi jelas.

"Sumi? Laras? Ini Tania. Boleh Ibu masuk? Ibu bawakan kue, seperti dulu."

Kenzo terbangun, mengucek mata. "Mama, ada nenek lagi?"

Laras berdiri, sertifikat di tangan, akta di tangan, dan di belakangnya, foto polaroid ayahnya yang mati di mobil yang sama dengan ayah Reza.

Pintu pagar berderit pelan, didorong dari luar.

Dan kali ini, tidak ada yang bisa menarik petugas.

1
Shankara Senja
hurufnya emang dibuat miring ya...dan tebal
Nuna_Pena: hehe.. iy
total 1 replies
Shankara Senja
bagus....lo jual,gw beli..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!