NovelToon NovelToon
Penemu Rahasia Orang Mati

Penemu Rahasia Orang Mati

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Aurora.playgame

Di balik ruang pemulasaraan yang dingin dan sunyi, Arya menyimpan kemampuan magis sekaligus mengerikan. Ia bisa melihat detik-detik terakhir kehidupan dari setiap jenazah yang disentuhnya. Tugasnya bukan sekadar menyucikan jasad, melainkan menjadi saksi bisu bagi suara-suara yang dibungkam kematian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 4: Penemu Rahasia Orang Mati

Di meja pemulasaraan, air mata Arya menetes tanpa bisa ia tahan lagi. Air mata itu jatuh tanpa suara, dan bersembunyi di balik masker medis yang dikenakannya.

Sensasi hangat dan rasa cinta luar biasa dari ingatan terakhir Rendy masih mengalir di dalam dadanya. Itu bukanlah pengalaman yang mengerikan seperti ingatan jenazah semalam.

Itu adalah sebuah warisan cinta yang tertinggal, sebuah momen murni yang tidak sempat tersampaikan secara langsung kepada sang istri karena maut datang terlalu cepat.

Arya akhirnya menyadari sesuatu yang sangat krusial. Kemampuan aneh ini... fenomena magis yang menghantuinya sejak semalam... bukanlah sekadar ilusi atau kutukan dari keletihan fisiknya. Ini adalah sebuah anugerah atau mungkin sebuah tanggung jawab berat yang ditumpahkan ke pundaknya.

Orang-orang yang mati tidak lagi bisa bicara. Mereka membawa rahasia, penyesalan, dan ungkapan cinta mereka yang terakhir ke dalam kubur. Namun lewat sentuhan Arya, suara mereka yang terputus kini memiliki kesempatan untuk didengar.

Arya menatap wajah Rendy yang kini sudah bersih dan rapi. Dalam hatinya, Arya berbisik, “Terima kasih, Mas Rendy... Pesan cintamu tidak akan hilang begitu saja. Aku akan menyampaikannya pada istri dan anakmu.”

Teguh yang berada di seberang meja menatap Arya dengan pandangan yang lebih tenang. "Kamu menangis, Ya?"

Arya dengan cepat menyapu sudut matanya dengan lengan baju apronnya. "Tidak apa-apa, Mas. Cuma... kasihan banget sama almarhum dan keluarganya."

Teguh mengangguk pelan, menepuk bahu Arya seraya tersenyum tipis. "Rasa empati itu bagus, Ya. Itu yang bikin kita tetap jadi manusia di tempat yang penuh kematian ini. Tapi ingat, tugas kita sudah selesai di sini. Sekarang saatnya memanggil keluarga."

Mereka berdua menyelesaikan penutupan kain kafan dengan rapi, dan memastikan tubuh Rendy tertutup dengan teratur dan layak.

Ketika pintu besi ruang pemulasaraan dibuka, cahaya lampu koridor menyinari ruangan. Arya melangkah keluar, lalu melepas penutup kepala dan maskernya.

Di luar, keluarga Rendy langsung berdiri dengan wajah cemas dan berduka. Ibu muda yang sedang hamil itu melangkah maju secara perlahan, ditopang oleh ibu mertuanya. Matanya yang sembap menatap Arya dengan pandangan penuh keputusasaan dan duka yang mendalam.

"Mas... bagaimana suami saya?" bisik wanita muda itu dengan suara parau yang hampir habis.

Arya menatap wanita itu dengan kelembutan yang luar biasa. Tidak ada lagi keraguan di mata Arya. Ia tahu apa yang harus ia lakukan untuk mengurangi beban penderitaan di dada wanita hamil ini.

"Almarhum Suami Ibu... Mas Rendy, sudah kami bersihkan dan rapikan dengan sebaik-baiknya," ujar Arya dengan suara yang sangat tenang dan menyejukkan. "Beliau tampak sangat tenang di dalam."

Wanita itu menutup wajahnya dan mulai terisak kembali.

Arya kemudian melangkah mendekat satu langkah, dan menjaga jarak yang sopan namun cukup dekat agar suaranya hanya terdengar oleh sang istri.

"Mbak..." panggil Arya pelan.

Wanita muda itu pun mendongak, dan menatap Arya dengan bingung.

"Sebelum Mbak masuk ke dalam untuk melihat Mas Rendy..." Arya menarik napas pelan, sembari memilih kata-katanya dengan sangat hati-hati agar tidak menimbulkan kecurigaan namun tetap menyampaikan esensi pesannya, "Tadi, saat saya membasuh almarhum, saya merasa... almarhum adalah orang yang sangat mencintai Ibu dan calon bayi kalian."

Wanita itu terpaku, tangisnya pun terhenti sejenak.

"Mas Rendy pergi dengan hati yang penuh kedamaian," lanjut Arya seraya tersenyum lembut. "Saya yakin, hal terakhir yang beliau inginkan sebelum berangkat tadi pagi adalah memastikan Ibu dan bayinya baik-baik saja. Beliau sangat ingin Mbak menjaga kesehatan, jangan lupa minum vitamin, dan tidak terlalu memaksakan diri. Tolong... kuatlah demi anak yang sedang Mbak kandung. Mas Rendy sangat mencintai kalian berdua."

Mendengar kata-kata itu, terutama tentang vitamin dan ungkapan cinta khusus untuk bayinya, mata ibu muda itu membelalak tebal. Air mata baru menetes makin deras di pipinya, namun kali ini bukan lagi sekadar tangisan keputusasaan yang gelap, melainkan tangisan haru yang melepaskan himpitan sesak di dadanya.

"Mas Rendy... selalu khawatir soal vitamin saya..." bisik wanita itu terengut-engut, sementara dadanya turun naik. Ia lalu memegangi perutnya dengan kedua tangan, dan menatap Arya dengan tatapan penuh rasa terima kasih yang tak terhingga. "Terima kasih... Terima kasih banyak, Mas... Kata-kata Mas membuat dada saya terasa sedikit lebih lapang..."

Ia menunduk dalam-dalam kepada Arya sebelum perlahan melangkah masuk ke ruang pemulasaraan dibantu keluarganya untuk memeluk jasad suaminya untuk terakhir kali.

Kini, Arya berdiri sendirian di lorong yang dingin itu, dan memperhatikan pintu ruang pemulasaraan yang kembali tertutup rapat.

Di dalam dada Arya, sebuah ketenangan asing yang sangat hangat perlahan mekar. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, ia merasakan tujuan hidup yang begitu jelas. Kemampuan magis ini bukan lagi sebuah beban mengerikan atau ilusi keletihan yang harus ia takuti.

Ia adalah seorang Penemu Rahasia Orang Mati.

Namun, ketika Arya berbalik untuk melangkah kembali ke lokernya, ingatan tentang kejadian dini hari tadi, jasad pria paruh baya yang disuntik mati oleh pria berjas hitam di gang gelap kembali melintas di pikirannya dengan sangat tajam dan dingin.

Jika ingatan manis Rendy adalah sebuah pesan cinta yang berhasil ia sampaikan, maka ingatan pria paruh baya semalam adalah sebuah bisikan kejahatan yang menuntut keadilan.

Sebuah konspirasi gelap sedang terjadi di kota ini, dan hanya Arya satu-satunya orang hidup yang memegang kunci rahasia tersebut.

Arya menatap telapak tangannya sendiri, menarik napas panjang, dan menegakkan bahunya. Perjalanannya yang sebenarnya baru saja dimulai.

Bersambung...

1
𝓐𝓡 𝓐𝓾𝓽𝓱𝓸𝓻 𝓘𝓼𝓽𝓲𝓶𝓮
keren kaya baru ❤️
Aurora: iya kak, semoga bisa menghibur para pembaca 🤗
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!