Yurinika tak mengira akan di labrak oleh selingkuhan suaminya. bukan hanya sekali tapi berkali-kali selingkuhannya itu datang dan melabrak dia. memintanya meninggalkan sang Suami Abimana. pria bingung itu justru tak mau meninggalkan keduanya.
hingga akhirnya Yuri benar-benar kecewa kepada Abimana dan saat tahu Sandra adalah anak dari atasannya di kantor membuat Yuri memiliki ide untuk memanfaatkannya.
apa yang akan di lakukan Yuri atas rasa kecewa yang dia dapat dari suami yang sudah dia bersamai dari titik nol sampai mereka menikah dua tahun? ikuti terus ceritanya.
dan jangan lupa baca karya othor lainnya dengan mencari nama pena Yam_zhie.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Yurinika 6
Di dalam rumah, dentuman pintu yang ditutup keras oleh Yuri masih menyisakan getaran halus pada kaca jendela. Suasana di ruang tamu seketika hening mencekam.
Abimana berdiri terpaku. Ucapan Yuri bahwasanya limit kartu kreditnya sudah nyaris habis bagai petir di siang bolong. Perlahan, ingatan Abimana berputar ke dua minggu lalu, saat ia mengekor di mall mewah bersama Sandra, memborong dua set jas kerja premium, sepatu kulit buatan Italia, jam tangan berkelas, hingga membelikan tas desainer untuk wanita simpanannya itu. Semua ia gesek menggunakan kartu kredit atas nama pribadi demi memoles citranya sebagai Wakil Manajer baru.
"Mas Abi... gimana?" suara Zaki memecahkan hening, menatap Abimana dengan mata berbinar penuh harap.
"Jadi kan gesek kartunya sekarang? Kita ke dealer kan?"
Ibu Gina mengibaskan tangannya di udara, wajahnya masih memerah padam menahan amarah pada Yuri.
"Alah, nggak usah dipikirin omongan si Yuri itu, Bi! Dia cuma gertak sambal karena iri kamu mau beliin adikmu motor! Ayo, gesek aja kartunya. Istri kurang ajar kayak gitu emang harus dikasih tahu kalau kamu itu sanggup berdiri sendiri tanpa uang dia!"
Tangan Abimana mulai gemetaran saat merogoh ponsel di sakunya. Dengan cemas, ia membuka aplikasi mbanking untuk mengecek sisa limit kartu kreditnya secara langsung.
Angka yang tertera di layar seketika membuat wajah Abimana pucat pasi: Sisa Limit: Rp1.850.000,-.
Jantung Abimana serasa berhenti berdetak. Ia lupa bahwa tagihan belanja mewahnya bersama Sandra belum ada yang dibayar, sementara limit totalnya hanya lima puluh juta rupiah. Harga motor NMAX yang diminta Zaki mencapai tiga puluh enam juta rupiah secara cash. Jangankan buat beli motor cash, buat bayar uang muka cicilan pun rasanya sangat mepet jika menghitung bunga dan biaya administrasi.
"Gimana, Bi? Kok malah melamun?" desak Ibu Gina seraya memegang lengan anaknya.
Abimana menelan ludah kasar, tenggorokannya mendadak terasa amat kering. Ia tak berani menatap mata ibunya, apalagi melihat raut penuh ekspektasi di wajah Zaki.
"Bu... anu..." Abimana mengusap tengkuknya yang mendadak berkeringat dingin.
"Limit kartunya... ternyata emang tinggal dikit, Bu. Minggu lalu kan Abi baru bayar biaya pendaftaran seminar dan beli perlengkapan dinas kantor."
"Lho?!" Zaki langsung berseru kecewa, wajahnya ditekuk dalam-dalam.
"Gimana sih, Mas Abi?! Katanya udah jadi Wakil Manajer! Masa beli motor buat adik sendiri aja nggak mampu?!"
"Zaki, jaga mulutmu!" bentak Abimana, meluapkan rasa panik dan malunya pada sang adik.
"Kamu ini ya, Abi!" Ibu Gina menatap Abimana tak percaya, nadanya berubah sengit.
"Ngapain kamu turuti gengsi kantor kalau uangnya nggak ada?! Terus Zaki gimana? Kamu mau biarin adikmu malu di sekolah?! Kenapa tadi kamu nggak paksa si Yuri buat mentransfer uangnya?! Kamu itu suaminya, Bi! Harusnya kamu bisa tegas, ambil itu ponselnya, paksa dia!"
"Nggak semudah itu, Bu!" balas Abimana frustrasi, menaikkan nada suaranya.
"Ibu lihat sendiri kan tadi Yuri kayak gimana?! Dia nggak bisa dipaksa lagi!"
"Ah, alasan kamu!" celetuk Zaki kasar sambil menyambar ponselnya di meja.
"Tau gitu Zaki nggak usah pamer ke anak-anak kelas kalau mau bawa motor baru hari ini! Bikin malu aja punya Mas Wakil Manajer tapi pelit!"
Zaki melangkah lebar keluar rumah sambil memukul pintu pagar dengan keras. Ibu Gina menyilangkan tangan di dada, menatap Abimana dengan pandangan dingin dan penuh kekecewaan.
"Ibu benar-benar kecewa sama kamu, Bi. Baru jadi Wakil Manajer aja udah ketakutan sama istri. Kalau sampai Zaki bolos sekolah karena malu, itu semua salah kamu dan istri pelitmu itu!" cetus Ibu Gina pedas sebelum akhirnya menyusul Zaki keluar, meninggalkan rumah itu.
Abimana meremas rambutnya sendiri dengan kedua tangan, lalu meluruh terduduk di kursi meja makan yang sudah dingin. Rasa malu, panik, dan tertekan bertubi-tubi menghantam kepalanya.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Abimana menyadari satu hal yang teramat mengerikan, tanpa benteng keuangan dan uang tabungan milik Yuri yang selama ini selalu menyangga kekurangannya secara diam-diam, ternyata ia bukanlah siapa-siapa. Jabatan Wakil Manajer yang sangat ia banggakan itu mendadak terasa begitu rapuh dan tak ada harganya.
Langkah kaki Yuri melangkah mantap memasuki kedai kopi tempatnya bekerja. Pintu kaca bergemerincing halus menyambut kedatangannya. Di sudut dekat meja kasir, Ajeng sudah berdiri melambai-lambai dengan raut wajah yang penuh gejolak emosi. Matanya menyipit tajam, sementara tangan kanannya menggenggam ponsel yang layarnya masih menyala terang.
"Yuri! Sini cepat!" bisik Ajeng setengah berteriak, menarik lengan Yuri begitu sahabatnya itu mendekat.
Yuri melepas tas kerjanya dan meletakkannya di bawah meja kasir. "Kenapa, Jeng? Pagi-pagi udah heboh banget."
"Gue kagak bisa tidur semalaman, Yur! Penasaran setengah mati sama si nenek lampir kemarin!" Ajeng mengusap layar ponselnya dengan cepat, lalu menyodorkannya tepat di depan wajah Yuri.
"Nih, lihat! Gue sampai jadi detektif dadakan di media sosial!"
Yuri menunduk, menatap layar ponsel Ajeng. Di sana terpampang profil akun media sosial milik Sandra, penuh dengan foto-foto gaya hidup mewah, liburan ke luar negeri, hingga momen-momen saat ia mendatangi acara perusahaan ternama.
"Namanya Sandra Wijaya," cerocos Ajeng, jari-jarinya menunjuk-nunjuk foto Sandra.
"Kamu tahu dia siapa? Dia itu anak dari Pak Gunawan Wijaya, Wakil Pimpinan Utama di anak perusahaan tempat si Abimana bekerja!"
Yuri terpaku sejenak. Potongan-potongan teka-teki di kepalanya seketika menyatu menjadi gambaran yang sangat jelas.
"Pantas saja..." bisik Yuri dengan nada dingin.
"Pantas saja dia kemarin dengan congkaknya lempar uang lima puluh juta ke meja. Ternyata duit bapaknya nggak berseri."
"Bukan cuma itu, Yur!" sambung Ajeng gemas, menurunkan suara agar tidak terdengar dua pengunjung yang baru masuk.
"Sekarang gue paham kenapa si Abimana baji-ngan itu bisa naik jabatan jadi Wakil Manajer dalam waktu singkat padahal kinerjanya biasa-biasa aja! Dia itu manfaatin si Sandra buat jalan pintas kariernya! Dasar laki-laki parasit!"
Ajeng menyilangkan tangan di dada, matanya membelalak takjub pada kepintaran analisisnya sendiri sekaligus kesal setengah mati pada Abimana.
"Si Sandra kebelet pengen memiliki Abimana karena dipikirnya Abimana itu pria sukses yang berwibawa. Dia nggak tahu aja kalau seragam, jas, sama gaya hidup sok kaya Abimana itu ditopang dari keringat kamu dan utang kartu kredit!"
Yuri menarik napas panjang. Tidak ada lagi rasa sakit hati atau air mata yang tersisa, yang ada hanya kepuasan saat melihat betapa rapuhnya fondasi hubungan gelap suaminya.
"Ternyata cuma segitu nilai seorang Abimana," ujar Yuri dengan senyum miring yang penuh kemenangan.
"Jual diri demi jabatan dan fasilitas dari anak bos."
"Terus rencana kamu selanjutnya gimana, Yur?" tanya Ajeng penasaran, menatap Yuri lekat-lekat.
"Kamu mau langsung bongkar borok ini ke kantornya, atau mau simpan dulu buat kejutan?"
Yuri mengambil apron hitamnya, mengikat tali di pinggangnya dengan kencang, lalu menatap mantap ke arah Ajeng.
"Aku akan kumpulkan semua bukti perselingkuhan mereka dulu, Jeng. Karena semalam bahkan di ponsel Mas Abimana nggak ada jejak sama sekali..."
"Apa mungkin suami kamu punya ponsel lain? Ya kali sekarang kan selingkuh itu pada pinter!"
"Iya juga! Nanti aku coba cari, aku baru inget Mas Abi punya dua ponsel. Satu lagi ponsel yang di berikan oleh perusahaan,"
km udh gx bisa keluar dr cengkraman nenek lampir berkedok malaikat mu😏
knp km nekat ,, gila gilaan bersama nenek lampir ,, gila gilaan ,, gila gilaan ,,
lama2 km jd gila beneran Abimana😏😏😏