Setiap hari aku difitnah mertuaku.
_"Kamu pembawa sial! Perempuan boros!"_
Aku berharap suamiku, Arman, membelaku. Tapi ia hanya diam.
_"Maafkan Ibu, Alya. Aku gak mau jadi anak durhaka."_
Sampai akhirnya aku diusir dan diceraikan di depan anak-anakku.
_"Talak satu aku jatuhkan padamu."_
Kini aku janda dua anak, hidup dari jualan kue sambil menahan gunjingan.
Saat aku mulai bahagia dengan Farhan, mantan suamiku datang ingin rujuk.
Bukan aku yang jahat, Mas. Kenapa semua menyalahkanku?
Note :
Dilarang boom like ❌
Dilarang lompat bab ❌
Jika kalian suka dengan cerita ini,jangan lupa tinggalkan jejak dengan like ,komen dan jangan pelit-pelit untuk kasih vote & kotak hadiahnya 🥰🥰🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Atha Diyuta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14 Gugatan Dari Pengadilan
Pagi itu rumah Bu Ratna terlihat lebih ramai dari biasanya.
Sejak Arman pulang dengan hati hancur setelah ditolak dan diminta cerai oleh Alya di kebun mangga, suasana rumah itu memang tidak pernah tenang. Arman lebih sering mengurung diri di dalam kamar, tidak nafsu makan, hanya melamun sambil memandangi foto Nisa dan Raffi di ponselnya yang layarnya sudah retak. Wajahnya terlihat kusut, matanya sembab karena kurang tidur.
Melihat anaknya seperti orang linglung seperti itu, Bu Ratna bukannya merasa iba, ia justru semakin kesal dan semakin membenci Alya. Baginya, Alya adalah penyebab utama anak kesayangannya menjadi seperti itu.
Hari itu, adik kandung Bu Ratna datang berkunjung dari kota. Namanya Yati, seorang perempuan paruh baya dengan dandanan yang sangat mencolok, bibirnya merah menyala, bedaknya tebal, dan di tangannya melingkar gelang emas besar yang berkilauan. Yati memang dikenal di keluarga besar sebagai mak comblang, suka sekali menjodoh-jodohkan duda dengan janda kaya agar dapat uang perantara.
"Assalamualaikum, Mbak Ratna! Wah, lama tidak bertemu, Mbak semakin sehat ya," sapa Tante Yati dengan suara keras sambil masuk ke ruang tamu tanpa melepas sandal, langsung duduk di sofa.
"Waalaikumsalam, Yati. Ayo masuk, masuk. Kebetulan sekali kamu datang, Mbak memang lagi menunggu kamu dari tadi," jawab Bu Ratna dengan wajah berseri-seri, seolah-olah mendapat penyelamat di saat yang tepat.
Arman yang sedang duduk di ruang tengah dengan wajah lesu hanya menatap sekilas ke arah tantenya, lalu kembali menunduk. Ia tidak tertarik sama sekali dengan tamu ibunya itu.
Setelah duduk dan disuguhi teh manis hangat dan kue, Tante Yati langsung membuka pembicaraan dengan nada berbisik tapi masih terdengar jelas oleh Arman.
"Mbak Ratna, Yati dengar-dengar dari tetangga, Arman mau cerai ya sama istrinya yang miskin itu? Yang namanya Alya itu? Kasihan sekali Arman, Mbak."
Bu Ratna langsung menyambar dengan semangat yang menggebu-gebu, seolah-olah perceraian itu adalah sebuah prestasi.
"Iya, Yati. Alhamdulillah, sebentar lagi Arman akan resmi jadi duda. Makanya Mbak sengaja memanggil kamu kesini. Kamu kan kenal banyak janda kaya di pasar, tolong dong kenalin Arman sama janda yang mapan, yang cantik, yang kaya, yang bisa bantu ekonomi keluarga kita. Jangan seperti Alya, cuma bisa bikin susah, numpang hidup, tidak bisa cari uang, bisanya cuma minta belanja. Mbak sudah capek punya menantu miskin seperti dia."
Mendengar ibunya berbicara seperti itu di depan adiknya, dada Arman terasa sesak. Ia mengepalkan tangannya menahan amarah.
"Bu, Ibu jangan bicara seperti itu, Bu. Alya itu masih istri Arman, Bu," ucap Arman pelan dengan suara parau.
"Ah kamu diam, Man! Kamu itu terlalu dibutakan cinta! Perempuan seperti Alya itu tidak pantas dipertahankan! Lagi pula dia juga sudah minta cerai sama kamu!" bentak Bu Ratna tanpa merasa bersalah.
Tante Yati tersenyum licik dan mengeluarkan sebuah foto dari dalam tasnya yang besar berwarna merah menyala.
"Tenang, Mbak Ratna. Justru itu tujuan utama Yati datang kesini. Yati sudah bawakan calon yang sangat pas buat Arman. Lihat ini fotonya. Namanya Mbak Santi, janda penjual emas di Pasar Sentral. Suaminya sudah meninggal dua tahun lalu karena sakit jantung, warisan tokonya banyak sekali, rumahnya besar tingkat dua, mobilnya ada dua. Orangnya cantik, putih, mulus, umurnya baru tiga puluh tahun, masih sangat muda dan segar. Beda jauh sama Alya yang kusam dan dekil itu."
Bu Ratna mengambil foto itu dengan mata berbinar-binar penuh dengan keserakahan. Di foto itu terlihat seorang perempuan dengan dandanan tebal memakai kebaya ketat dan perhiasan emas yang sangat banyak di leher dan tangannya.
"Wah, cantik sekali ya, Yati? Kaya lagi. Kalau Arman bisa menikah sama dia, hidup kita tidak akan susah lagi. Kita bisa punya toko emas! Mbak bisa pakai emas setiap hari!"
"Iya, Mbak. Emasnya berkilo-kilo, Mbak. Kalau Arman nikah sama dia, Arman tinggal duduk manis saja di toko, melayani pembeli, uangnya mengalir terus. Tidak usah kerja pergi pagi pulang sore dikantor yang tidak ada peningkatannya itu.
Arman yang mendengar percakapan itu langsung berdiri dengan wajah merah padam karena menahan marah dan kecewa.
"Bu, Tante Yati, Ibu jangan ngawur, Bu! Arman belum cerai, Bu! Surat cerai saja belum keluar, sidang saja belum dimulai. Bagaimana Ibu sudah mau menjodohkan Arman dengan orang lain? Arman tidak mau, Bu! Arman hanya mau Alya, Bu! Arman hanya mencintai Alya!"
Bu Ratna langsung memelototi Arman dengan tajam.
"Kamu diam, Man! Kamu itu harus move on! Untuk apa kamu pertahankan perempuan miskin seperti Alya? Dia sudah minta cerai sama kamu, Man. Dia sudah tidak mau sama kamu, dia sudah bilang dia bahagia tanpa kamu di kebun mangga itu. Kamu masih mau memohon-mohon sama dia? Harga diri kamu di mana, Man? Kamu harus cari yang lebih baik, yang kaya, yang bisa mengangkat derajat keluarga kita!"
Perdebatan sengit itu masih berlangsung dengan panas ketika tiba-tiba suara motor pak pos terdengar berhenti tepat di depan rumah mereka dengan suara knalpot yang keras.
"Permisi! Tukang pos! Ada surat penting!"
Bu Ratna keluar dengan wajah kesal karena acaranya terganggu.
"Surat apa lagi sih, Pak? Pagi-pagi sudah antar surat, mengganggu saja."
Pak pos yang sudah tua itu tersenyum ramah sambil menyerahkan sebuah amplop cokelat besar yang tebal dengan stempel resmi berwarna merah dari Pengadilan Agama.
"Surat dari Pengadilan Agama, Bu. Penting sekali, Bu. Untuk Bapak Arman bin Rano. Mohon ditandatangani di sini, Bu, sebagai bukti sudah diterima."
Mendengar kata Pengadilan Agama, Tante Yati yang ada di dalam langsung bersemangat dan ikut keluar ke teras dengan mata berbinar.
"Wah, itu pasti surat cerainya sudah mau keluar, Mbak Ratna. Alhamdulillah, cepat sekali prosesnya. Cepat buka, Mbak! Ini pertanda baik, Arman akan segera jadi duda dan bisa langsung menikah lagi dengan Mbak Santi, janda penjual emas itu!"
Arman mengambil amplop itu dari tangan ibunya dengan tangan yang gemetar hebat. Jantungnya berdegup sangat kencang, jauh lebih kencang dari biasanya. Ia tahu betul apa isi amplop itu tanpa harus membukanya.
Dengan perlahan dan dengan napas yang berat, ia membuka amplop cokelat itu di depan ibunya dan Tante Yati. Di dalamnya ada sebuah kertas resmi yang dilipat rapi dengan kop surat Pengadilan Agama Kabupaten yang sangat jelas.
Ia membaca tulisan itu dengan mata yang mulai berkaca-kaca dan bibir yang bergetar.
_SURAT PANGGILAN RESMI UNTUK MEDIASI_
_Nomor Perkara: 123/Pdt.G/2026/PA_
_Penggugat: Alya binti Harun_
_Tergugat: Arman bin Rano_
_Sehubungan dengan adanya gugatan perceraian yang diajukan oleh Penggugat, maka dengan ini diharapkan kehadiran Tergugat pada:_
_Hari: Kamis_
_Jam: 09.00 WIB_
_Tempat: Ruang Mediasi Pengadilan Agama_
_Untuk proses mediasi awal._
Tangan Arman yang memegang surat itu bergetar hebat sampai kertas itu hampir jatuh ke tanah. Air matanya yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh menetes satu per satu ke atas kertas resmi itu, membasahi tulisan nama Alya binti Harun yang tercetak tebal.
Akhirnya, apa yang paling ia takutkan selama ini benar-benar terjadi. Alya benar-benar serius menggugat cerai dirinya. Bukan hanya ancaman atau emosi sesaat di kebun mangga sore itu, tapi sudah resmi, sudah masuk ke pengadilan, sudah tercatat dalam sistem negara dan tidak bisa ditarik kembali dengan mudah.
"Ly, kamu tega, Ly... kamu benar-benar mau berpisah sama Mas, Ly... padahal Mas masih sangat mencintai kamu, Ly..." bisik Arman lirih dengan suara yang hampir tidak terdengar, parau karena menahan tangis yang begitu dalam.
Bu Ratna yang merebut kertas itu dari tangan Arman langsung tertawa sinis dengan puas sambil menunjukkan kertas itu kepada adiknya.
"Bagus! Bagus sekali! Akhirnya perempuan itu sadar diri dan menggugat cerai duluan. Jadi kita tidak perlu repot-repot mengeluarkan uang untuk menceraikan dia. Dia yang gugat, dia yang bayar! Man, ini kabar baik, Man! Sekali mediasi ini gagal, kamu langsung bisa menikah sama Mbak Santi, janda penjual emas itu. Rezeki kamu, Man, dapat janda kaya raya!"
Tante Yati ikut menimpali dengan gembira sambil menepuk-nepuk bahu Bu Ratna dengan bangga.
"Iya, Man. Kamu tidak usah sedih, Man. Alya itu masa lalu kamu, Man. Mbak Santi itu masa depan kamu. Dia cantik, kaya, punya toko emas di pasar. Kamu kalau menikah sama dia, kamu tinggal duduk manis saja di toko, tidak usah kerja keras lagi. Nanti Tante kenalkan ya, Man, besok kita ke tokonya, Tante sudah janjian sama dia."
Arman menatap ibunya dan Tante Yati dengan tatapan yang penuh dengan kekecewaan yang mendalam. Air matanya mengalir semakin deras membasahi pipinya.
"Bu, cukup, Bu! Arman mohon, Bu, cukup! Yang mau cerai itu Alya, Bu, bukan Arman! Arman masih sangat mencintai Alya, Bu! Arman masih mencintai Nisa dan Raffi, Bu! Kenapa Ibu malah terlihat senang Arman digugat cerai, Bu? Kenapa Ibu malah sibuk menjodohkan Arman dengan janda penjual emas itu, Bu? Arman tidak butuh emas, Bu, Arman butuh Alya dan anak-anak Arman, Bu!"
Teriakan Arman itu membuat suasana ruang tamu yang tadinya ramai menjadi hening seketika. Tante Yati terkejut melihat Arman membentak ibunya sendiri di depannya.
Setelah berkata begitu dengan suara yang bergetar hebat, Arman masuk ke dalam kamarnya dengan langkah yang gontai dan mengunci pintu dengan keras. Ia membanting tubuhnya ke atas kasur dan memeluk surat panggilan mediasi itu sambil menangis sejadi-jadinya. Tangisnya pecah, tangis seorang suami yang menyesal karena telah menjadi pengecut selama ini dan tidak pernah membela istrinya.
Di luar kamar, Bu Ratna dan Tante Yati masih sibuk membicarakan Mbak Santi, janda penjual emas itu, membicarakan betapa kayanya dia, betapa banyak emasnya, seolah-olah Arman sudah resmi menjadi duda dan siap menikah lagi besok.
Bu Ratna tidak tahu, bahwa di dalam kamar, anaknya sedang menangis dalam penyesalan yang paling dalam karena masih sangat mencintai perempuan yang baru saja menggugat cerai dirinya. Perempuan yang dulu ia sia-siakan, yang sekarang terlihat jauh lebih bahagia dan terawat tanpa dirinya.
Surat dari Pengadilan Agama itu menjadi bukti nyata, bahwa rumah tangganya dengan Alya benar-benar berada di ujung tanduk dan akan segera berakhir dalam tiga hari lagi di ruang mediasi yang dingin itu.
Bersambung...