Kirana Aruni menjadi korban atas rencana busuk ibu tirinya setelah terjebak dalam
sebuah malam kelam bersama Edgar Ganendra, pewaris tunggal Ganendra Group,
yang kehilangan kendali akibat dibius musuhnya.
Dianggap membawa aib, Aruni diusir oleh ayahnya atas hasutan ibu tirinya.
Tujuh tahun kemudian, Aruni membesarkan
putra kembarnya seorang diri. Mengetahui perjuangan sang ibu, kedua bocah jenius
itu diam-diam meretas data untuk mencari ayah kandung mereka. Hasilnya mengarah pada satu nama besar, yakni Edgar Ganendra, Presiden Direktur Ganendra Group.
Di sisi lain, Edgar tak pernah berhenti mencari wanita dari malam itu. Ia ingin menebus kesalahannya sekaligus mengungkap kebenaran yang selama ini tersembunyi, bahwa ia bukanlah pria impoten.
Saat si kembar mulai menyusun rencana untuk mempertemukan kedua orang tua mereka, masa lalu yang penuh fitnah dan luka
kembali terbuka.
Mampukah mereka menyatukan kembali keluarga yang telah lama terpisah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 23
Suasana di dapur ruko yang sempit itu mendadak hening dan canggung. Hanya terdengar detak jarum jam dinding dan sisa gemericik air hujan di luar.
Edgar, pria matang yang disegani di dunia bisnis, mendadak kehilangan kepercayaan dirinya. Sepanjang hidupnya, ia sangat minim pengalaman soal wanita. Sejak remaja hingga sukses membangun Ganendra Group menjadi perusahaan raksasa, waktunya dihabiskan untuk bekerja. Ia tak pernah merasakan manisnya masa berpacaran. Bingung harus memulai dari mana, Edgar menghela napas panjang.
‘Ish, kau payah sekali, Edgar! Padahal wanita yang selama ini foto di bingkainya selalu kau peluk dan kau cium kini tepat ada di hadapanmu. Ayo, kau pasti bisa!’ batinnya bergemuruh memberi semangat pada diri sendiri.
Di sisi lain, Aruni merasakan hal yang sama persis. Sejak masa sekolah hingga sekarang, ia belum pernah berpacaran. Pria dewasa yang dekat dengannya selama ini hanyalah Rama, yang sudah dianggapnya seperti kakak kandungnya sendiri.
"Aku..." ucap Edgar.
"Aku..." pangkas Aruni bersamaan.
Keduanya tertegun karena berbicara di waktu yang sama. Keduanya kompak mengulas senyum tipis, melelehkan kekakuan yang sejak tadi menyelimuti.
"Baiklah, ladies first," ujar Edgar. Suasana mendadak berubah hangat dan lebih santai.
"Tuan saja dulu," balas Aruni pelan.
Edgar mengernyitkan alisnya tipis, lalu mengangguk kecil. "Baiklah kalau itu maumu, Aruni. Aku hanya ingin menyampaikan bahwa aku ingin meminta maaf yang sebesar-besarnya atas kejadian pada malam itu. Aku benar-benar kacau saat menyadari keberadaan mu yang hilang."
Edgar menatap lekat mata Aruni, suaranya terdengar begitu parau dan tulus.
"Aku mencarimu ke mana-mana, Aruni. Aku mendatangi rumahmu, tapi di sana kau sudah diusir oleh ayahmu. Aku juga mencari mu di Universitas Airlangga, dan bertemu dengan Rena, hingga akhirnya aku tahu bahwa Rena lah yang diam-diam menyembunyikan mu bersama kakaknya, Rama... Iya, kan?"
Aruni terdiam, tak bisa lagi membantah. Semua runtutan peristiwa yang diucapkan Edgar adalah kebenaran yang nyata.
"Dan soal malam terkutuk itu... itu semua bukan sepenuhnya kemauanku atau salahku, Aruni. Aku telah dijebak oleh seseorang yang sengaja ingin menghancurkan reputasiku," lanjut Edgar dengan sorot mata serius dan penuh penyesalan.
Aruni menarik napas pelan, lalu menatap Edgar dengan tenang. "Aku sudah tahu semuanya, Tuan."
Deg!
Edgar tersentak kaget. Matanya membelalak menatap Aruni, tak menyangka kalimat itu akan meluncur dari bibir wanita yang ada di hadapannya.
Edgar mengernyitkan alisnya rapat-rapat. Rasa penasaran menggerogoti benaknya. "Bagaimana bisa kau tahu semuanya, Aruni? Siapa yang menceritakan hal itu padamu?"
Aruni meremas jemarinya sendiri di atas pangkuannya. Ia mengumpulkan keberanian untuk membongkar luka lama yang selama ini ia simpan rapat.
"Malam naas itu... semua adalah jebakan dari ibu dan adik tiriku," tutur Aruni dengan suara bergetar pelan. "Mereka menggunakan orang suruhan bernama Desi. Desi yang memberiku minuman berisi zat afrodisiak hingga aku tak sadarkan diri... Dan saat terbangun, aku sudah berada di atas ranjang tempat tidur megah itu bersamamu."
Edgar mengepalkan tangannya di atas meja hingga buku-buku jarinya memutih. Matanya berkilat marah. "Keparat... Jadi kita berdua sebenarnya hanyalah korban dari orang-orang jahat yang haus akan harta dan kekuasaan!"
Aruni mengangguk pelan, air matanya mulai menggenang. Ia melanjutkan tentang nasib tragis Desi yang tak lama kemudian ditemukan tewas, dibuat seolah-olah ia bun*h diri hingga kasusnya ditutup sebelum akhirnya Aruni menceritakan peristiwa mengerikan itu tujuh tahun yang lalu.
"Beberapa hari kemudian setelah malam itu, aku dan Bik Sumi diculik oleh sekelompok orang berjas hitam," lanjut Aruni. "Pemimpin mereka pada malam itu mengaku bernama Paman David. Pria yang pernah aku lihat berdiri di sampingmu di saat perayaan pesta ulang tahun Tuan Fernando."
Deg!
Edgar tersentak hebat, dadanya seakan dihantam batu besar. "Jadi... Paman David benar-benar pelakunya?!"
"Iya, dia menculik ku dan Bik Sumi. Jika Tuan tidak percaya, Tuan boleh menanyakannya langsung pada Bik Sumi," ujar Aruni tegas.
"Di tempat penyekapan, Paman David memaksaku untuk berbohong. Dia ingin aku mengaku di depan media bahwa Tuan adalah pria yang impoten. Paman Rama kemudian menjelaskan padaku... bahwa Paman David sangat takut jika Tuan memiliki seorang pewaris."
Isak tangis Aruni akhirnya pecah. Bahunya terguncang hebat.
"Itulah sebabnya aku lebih memilih pergi dan mengganti identitasku! Semua karena aku ingin melindungi darah dagingku... Aku tidak mau kedua putraku menjadi korban dari keserakahan Paman David!" jerit Aruni pilu. Tubuhnya gemetar membayangkan keselamatan Rayyan dan Zayyan.
Melihat Aruni menangis terisak dengan tubuh gemetar, dinding keangkuhan Edgar runtuh sepenuhnya. Pria tegap itu bangkit dari kursinya, melangkah mendekat, lalu duduk bersimpuh tepat di hadapan Aruni. Dengan lembut namun erat, Edgar menggenggam kedua tangan Aruni yang dingin.
"Andaikan aku bisa lebih cepat menemukanmu... kau dan putra kita tidak akan menderita seperti ini," ucap Edgar penuh penyesalan, matanya berkaca-kaca menahan tangis. "Aruni, tolong jangan takut. Aku akan selalu menjadi pelindungmu dan anak-anak kita. Dan tolong, jangan pernah berpikir aku akan merampas Rayyan dan Zayyan darimu. Tidak, Aruni... Aku hanya ingin kedua putraku tahu bahwa ada seorang Ayah yang sangat merindukan dan ingin memeluk mereka!"
Mendengar pengakuan tulus dari lubuk hatinya Edgar yang paling dalam, kemarahan di hati Aruni meleleh seketika. Perasaan hangat yang asing merayapi dadanya.
Kini, kedua pasang mata itu saling mengunci. Edgar perlahan mengangkat tangannya, mencangkup lembut kedua pipi Aruni dan mengusap air mata wanita itu dengan ibu jarinya. Rona merah tipis mengaliri wajah mereka berdua, menciptakan momen romantis yang teramat int1m di tengah keheningan ruko.
"Aruni, aku janji akan selalu melindungi mu dan anak-anak... Tidak akan pernah aku biarkan siapapun menyakiti kalian lagi," bisik Edgar syahdu.
Namun, tepat saat jarak wajah mereka kian mengikis...
Brak!
Pintu ruko terdorong. Sosok Rama berdiri tegap di ambang pintu, masih berbalut lengkap seragam dinas kepolisiannya. Matanya membelalak menatap pemandangan di depannya.
"Seruni... Siapa pria itu?!" suara Rama menggelegar memenuhi ruangan.
Aruni terlonjak kaget, langsung menarik wajahnya dari sentuhan Edgar dengan jantung yang berdebar kencang.
Rama melangkah masuk dengan tatapan tajam berapi-api. Dadanya bergemuruh hebat melihat keintiman yang baru saja tersaji di depan matanya. Sebagai pria yang selama tujuh tahun ini pasang badan membentengi Aruni dan si kembar dari berbagai bahaya, rasa protektifnya membumbung tinggi. Ia sama sekali tidak suka melihat Aruni berada begitu dekat dengan pria asing, apalagi pria itu hampir saja menciumnya.
Rama melangkah lebar menghampiri meja makan, memotong jarak hingga berdiri tepat berhadapan langsung dengan Edgar.
Suasana di dalam ruko mendadak mencekam, dipenuhi aura intimidasi dari dua pria tegap tersebut. Rama mengamati garis wajah Edgar dengan teliti. Hanya butuh beberapa detik bagi seorang perwira intelijen seperti Rama untuk mengenali sosok di hadapannya. Manik matanya melebar sejenak sebelum berubah menjadi tatapan penuh kewaspadaan.
‘Edgar Ganendra...’ batin Rama berdesir tajam. Pria inilah titik pusat dari segala ancaman yang membuat Aruni harus hidup dalam persembunyiannya selama bertahun-tahun.
Tanpa basa-basi, Rama menatap lurus ke dalam sorot matanya Edgar, menyuarakan perintah dingin yang tak terbantahkan.
"Sebaiknya kau pergi dari sini. Jangan pernah kau injakkan kakimu lagi di tempat ini! Kehadiranmu hanya akan membawa petaka untuk Aruni dan juga si kembar!" tegas Rama dengan nada menekan di setiap kata.
Mendengar pengusiran itu, rahang Edgar mengeras seketika. Amarah dalam dadanya mendidih, tidak terima diusir begitu saja dari hadapan wanita dan darah dagingnya. Jemari Edgar mengepal teramat kuat hingga buku-buku jarinya memutih, berjuang keras meredam emosi agar tidak meledak di depan Aruni.
"Aku adalah ayah biologis dari Rayyan dan Zayyan dan aku berhak berada di dekat mereka!" sahut Edgar dengan suara berat yang tertahan.
"Ayah?" Rama tersenyum sinis, melangkah satu tapak lebih maju. "Lantas di mana hak itu selama tujuh tahun Aruni berdarah-darah membesarkan mereka sendirian? Di mana kau saat nyawa Aruni terancam oleh orang-orang dari lingkaran keluargamu sendiri?!"
Aruni yang berada di antara kedua pria itu berdiri gemetar. "Kak Rama... Tuan Edgar... tolong, jangan bertengkar di sini..." bisiknya lirih dengan mata berkaca-kaca, takut pertikaian itu akan terdengar oleh si kembar yang berada di luar.
Bersambung...
sebenarnya aruni jugaa udah tumbuh cinta tp dia masih takut n trauma..
semangat Edgar kamu harus extra meluluhkan hatinya n jangan lupa waspada n hati-hati sm paman mu..