"Satu tahun pernikahan kontrak, Levara," bisik Dante dingin di antara remang ruang kerjanya. "Kamu dapat akses dokumen ayahmu, dan saya dapat mengunci saham perusahaan dari ambisi Paman Julian Perkasa."
"Dan jika bahaya mengincarku?" tantang Levara.
Dante memajukan kursi rodanya, menatapnya tajam.
"Selama kamu menyandang nama Velmore, keselamatanmu adalah tanggung jawab saya."
Di balik kemewahan ibu kota, Levara bertaruh nyawa mengungkap misteri hilangnya sang ayah dua puluh tahun silam. Petunjuk terakhir mengarah pada dokumen rahasia milik Velmore Group. Satu-satunya jalan masuk adalah Dante Castillo Velmore, pewaris tunggal nan dingin di atas kursi roda.
Perjanjian di atas kertas berubah menjadi ancaman maut saat fakta terkuak. Di tengah gempuran teror dan perang hukum, mampukah pernikahan tanpa rasa itu bertahan ketika dendam masa lalu menuntut keadilan?
Di tambah, sosok bocah menggemaskan yang menjadi tambahan hiburan untuk mereka.
"Om cate magelan, kenapa jadi cuami?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kenz....567, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ancaman David Veyron
Mobil antipeluru yang dikendarai Riko membelah jalanan malam Jakarta dengan kecepatan tinggi, meninggalkan pekarangan rumah tua Edlan yang hancur. Di baris tengah kabin, Levara masih memeluk kotak besi berdebu di pangkuannya, sementara genggaman tangan Dante di jemarinya terasa kokoh dan hangat.
Namun, ketenangan itu tak bertahan lama.
Bip!
Bip!
Bip!
Layar monitor navigasi di dashboard depan mendadak berkedip merah. Riko melirik spion tengah dengan sorot mata yang seketika berubah tajam.
"Tuan Dante, ada dua sedan hitam tanpa plat nomor membuntuti kita sejak keluar dari kawasan perumahan tadi. Mereka menjaga jarak lima puluh meter," lapor Riko dingin.
Dante menoleh ke belakang, menembus kaca antipeluru yang tersamar gelap. Lampu sorot tajam dari dua kendaraan di belakang mereka tampak mengintai bagaikan predator malam.
"Orang-orang Julian," gumam Dante rendah, rahangnya mengeras. "Mereka tahu kita mendapatkan apa yang kita cari."
Dante dengan cepat mengoperasikan tablet di samping kursinya, memantau pergerakan radar jaringan keamanan Velmore. Panik dan tegang melintas di raut wajahnya saat melihat titik-titik merah tambahan bermunculan di peta navigasi.
"Riko! Jangan ambil rute jalan tol utama!" perintah Dante cepat dengan suara tegas dan terengah-engah penuh kewaspadaan. "Julian sudah menempatkan barikade tersembunyi di pintu keluar tol. Kalau kita masuk tol, kita bakal dijebak di area terbuka!"
"Lalu rute mana yang harus kita ambil, Dante?" tanya Levara panik, matanya membesar saat melirik spion samping, satu sedan hitam mulai mempercepat laju dan mencoba sejajar dengan mobil mereka.
"Belok kanan lima ratus meter di depan! Masuk ke kawasan industri lama!" intruksi Dante cepat, jarinya meretas akses lalu lintas kawasan secara real-time. "Jalanan di sana sempit dan banyak celah kontainer. Saya bisa meretas sistem lampu lalu lintas dan gerbang otomatis kawasan untuk memotong rute mereka!"
Brakkk!
Guncangan keras membuat kabin mobil bergoyang hebat. Salah satu sedan hitam sengaja menghantam bumper belakang mobil mereka.
"Riko! Potong jalur ke kanan sekarang!" teriak Dante.
"Baik, Tuan!" Riko membanting kemudi ke kanan dengan tajam. Ban mobil berdecit keras menghantam aspal saat mobil antipeluru itu melesat masuk ke rute jalanan kawasan industri yang gelap dan sepi.
"Dante, mobil kedua mencoba memepet sisi kiri!" teriak Levara seraya memeluk erat kotak besi Edlan ke dadanya.
"Tetap tenang, Levara! Saya pegang kendalinya!" sahut Dante dengan konsentrasi penuh pada layar taktisnya. "Tiga puluh meter di depan ada simpang tiga gudang kontainer. Riko, begitu mobil kita lewat, saya akan menutup pintu gerbang besi otomatis nomor empat!"
"Diterima, Tuan!" Riko menginjak pedal gas dalam-dalam. Mobil itu melesat membelah jalanan sempit di antara himpitan tumpukan kontainer raksasa.
Begitu bagian depan mobil Riko melewati batas garis gerbang besi kawasan gudang, Dante menekan tombol eksekusi pada tabletnya.
Brakkk!
Cklekkk!
Gerbang besi otomatis raksasa meluncur turun dengan cepat dari atas lintasan, menghantam tanah dan menyegel jalan persis di depan hidung dua sedan pengejar. Suara dentuman benturan sedan musuh yang menghantam gerbang besi bergema nyaring di kejauhan.
"Gerbang terkunci! Dua mobil musuh terisolasi di belakang!" ujar Dante melepaskan napas lega yang berat, napasnya tersengah-sengah. "Sisa rute menuju rute arteri timur bersih, Riko. Langsung menuju rumah aman."
Di dalam mobil, suasana mendadak hening. Riko perlahan menurunkan kecepatan mobil menuju batas aman, memastikan tidak ada lagi kendaraan yang membuntuti.
Dante menghembuskan napas panjang, dan menoleh pada Levara. "Kamu aman sekarang, Levara ...," bisik Dante lembut, suara beratnya menenangkan getaran di tubuh Levara.
Levara menunduk, menatap kotak besi berdebu di atas pangkuannya lalu menyenderkan tubuhnya. Teror jalanan malam ini tidak membuat mentalnya ciut, melainkan justru semakin menyulut keberanian mereka berdua untuk membongkar seluruh kejahatan Julian dan juga Veyron.
.
.
.
.
PRANG!!
Gelas kristal berisi whisky mahoni itu hancur berkeping-keping saat dihantamkan ke dinding kaca kantor lantai teratas Veyron Tower. Dinding kaca tebal itu menyisakan retakan halus bercabang, memantulkan bayangan wajah Julian yang merah padam diselimuti kemarahan luar biasa.
"Sampah tak berguna!" raung Julian dengan napas memburu. Kedua tangannya mencengkeram tepi meja kayu mahoni hingga buku-buku jarinya memutih.
Anak buahnya yang berdiri berbaris di hadapan meja hanya bisa menunduk dalam-dalam, gemetar ketakutan.
"Bagaimana mungkin dua tim mobil dengan senjata lengkap bisa dikelabui dan dikunci di dalam kawasan gudang tua?!" bentak Julian, suaranya menggema dingin di seluruh ruangan yang senyap. "Bukan cuma gagal mengambil kotak itu, kalian bahkan membiarkan Levara lepas bersama Dante!"
"M-maaf, Tuan Julian ... sistem gerbang otomatis kawasan industri itu mendadak diretas secara real-time," sahut kepala pengawal dengan suara bergetar. "Pintu gerbang langsung terkunci mati sebelum mobil kami bisa memotong jalur mobil mereka."
"Aku tidak butuh alasan!" potong Julian dingin. "Kalian tahu apa artinya kalau isi kotak fisik Edlan itu sampai jatuh ke tangan pengadilan?! Semua aset, investasi, dan topeng kebaikan yang kita bangun belasan tahun ini bisa runtuh dalam semalam!"
Saat aura ketegangan di dalam ruangan mencapai puncaknya, ponsel pribadi milik Julian yang berada di atas meja mendadak berdering.
Layar ponsel tidak menampilkan nomor telepon, melainkan sebuah simbol rahasia yang terenkripsi penuh. Melihat simbol tersebut, wajah Julian yang semula beringas mendadak berubah pucat pasi. Kemarahan di matanya berganti menjadi kilatan kecemasan yang nyata.
Julian memberi isyarat tangan yang tajam kepada seluruh anak buahnya. "Keluar dari sini. Sekarang!"
Anak buahnya membungkuk cepat dan terburu-buru melangkah keluar, menutup pintu ganda ruangan itu rapat-rapat.
Dengan tangan yang sedikit gemetar, Julian menggeser layar dan menempelkan ponsel ke telinganya. Ia menelan ludah sebelum bersuara dengan nada yang jauh dari kesan angkuh.
"Halo ... Tuan," sapa Julian pelan.
Dari seberang saluran, hening sejenak. Yang terdengar hanyalah suara detak jarum jam analog yang berat dan deru napas teratur dari seorang pria tua.
"Julian," suara berat, dingin, dan sarat akan dominasi bergema di telinga Julian. Suara David Veyron, pria tua yang selama belasan tahun ini bersembunyi di balik layar, mengendalikan seluruh benang takdir dan kejahatan Keluarga Veyron.
"A-aku bisa jelaskan soal kejadian malam ini, Tuan—"
"Aku tidak menelpon untuk mendengarkan rintihan kegagalanmu, Julian," potong David dingin, menembus perkataan putranya tanpa celah. Suaranya tenang, namun mengandung ancaman mematikan yang sanggup membekukan darah siapa pun yang mendengarnya.
Julian membisu, mengepalkan tangannya rapat-rapat.
"Dua puluh satu tahun lalu, Edlan berhasil kita singkirkan," lanjut David pelan, setiap kata yang diucapkannya dijeda dengan ketelitian yang mengerikan. "Tapi kamu membiarkan benihnya tumbuh. Kamu biarkan anak perempuan Edlan hidup dan bahkan membiarkannya masuk ke dalam lingkaran Velmore."
"Dante yang melindunginya, Tuan! Dia mengamankan gadis itu di bawah nama keluarga Velmore—"
"Dan kamu gagal mengatasinya!" desis David tajam, memotong alasan Julian.
Terdengar suara ketukan pelan jemari David pada permukaan meja kayu di seberang sana, seolah menghitung sisa waktu yang dimiliki Julian.
"Dengarkan aku baik-baik, Julian," kata David, suaranya turun satu oktaf, menjadi sangat berbisik namun mematikan. "Keberadaan anak perempuan Edlan adalah dosa terbesar yang belum kamu selesaikan. Jika berkas fisik Edlan di dalam kotak itu sampai terkuak ke publik dan menyeret nama Veyron ...,"
David berhenti sejenak, memberikan jeda yang menekan mental Julian hingga ke titik terendah.
"Maka kamu yang akan menjadi tumbal pertama untuk membayar kekacauan ini. Nyawamu ada di tanganku, Julian. Jika keturunan Edlan tidak berhasil kamu lenyapkan sebelum minggu ini berakhir, aku sendiri yang akan menghapusmu dari dunia ini."
Bip!
Sambungan telepon terputus seketika.
Julian terpaku di tempatnya. Ponsel di tangannya terasa sangat berat. Keringat dingin menetes dari pelipisnya, jatuh membasahi kerah kemeja mewahnya.
Ancaman David Veyron bukanlah gertakan kosong. Julian tahu betul betapa kejamnya dia, pria yang tak akan ragu mengorbankan seseorang demi mempertahankan kekuasaan dan rahasia kelam masa lalu.
Mata Julian menyipit tajam, memancarkan keputusasaan yang berubah menjadi kegilaan. Ia tidak punya pilihan lain. Permainan ini bukan lagi sekadar memperebutkan harta atau membalas dendam, melainkan pertaruhan nyawanya sendiri.
"Levara harus mati, apa pun taruhannya."