Ia mengenal dunia ini sebagai permainan. Kini, setiap kesalahan bisa merenggut nyawanya.
Setelah meninggal saat mengejar quest rahasia, Lin Feng terbangun di dunia Eternal Heaven Online, game kultivasi yang telah ia mainkan bertahun-tahun. Pengetahuannya tentang peta, sekte, dungeon, dan alkimia memberinya bekal untuk bertahan. Namun, dunia ini nyata: tak ada tombol keluar atau kesempatan respawn.
Lebih buruk lagi, peristiwa mulai menyimpang dari ingatannya. Orang-orang yang dulu ia anggap karakter permainan memiliki kehendak sendiri, dan setiap pilihan membawa konsekuensi. Untuk bertahan dan mengungkap misteri dunia barunya, Lin Feng menempuh jalan alkimia—dari meracik pil sederhana hingga mengejar puncak yang disebut Pill Sovereign.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uranenantios, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18 - YANG TIDAK DITINGGALKAN
Pagi itu, Lin Feng menutup catatannya saat suara dari jalan depan toko meninggi.
Bai Xiao berdiri di ambang pintu Mercenary Hall, pedangnya tergantung di pinggang. Balutan di tangan kanannya tampak bersih, tetapi bahunya tegang. Di hadapannya, seorang petugas berseragam memeriksa daftar peserta dan menanyakan apakah ia masih merasakan nyeri.
“Sedikit,” jawab Bai. “Tapi tidak terbuka.”
“Kalau lukamu terbuka saat ujian, kau harus berhenti.”
“Aku mengerti.”
Lin baru selesai mengantar catatan kiriman ke meja Mo. Ketika ia melangkah mendekat, Bai meliriknya.
“Kau datang.”
“Aku bilang akan menonton.”
“Bagus. Kalau aku melakukan sesuatu yang bodoh, ingatkan aku setelah selesai.”
“Dari luar pagar?”
“Kalau kau bisa berteriak cukup keras.”
Petugas memandang mereka. “Tidak ada yang boleh memberi arahan dari luar.”
Lin mengangkat kedua tangan. “Saya hanya menonton.”
Halaman Mercenary Hall dipenuhi calon pengawal. Ada yang membawa tombak, ada yang memakai rompi kulit, dan beberapa datang tanpa senjata. Di bagian tengah, sebuah kereta muatan kecil disiapkan untuk ujian. Roda belakangnya sengaja dipasang sedikit longgar. Tiga penguji berdiri mengelilingi lintasan tanah yang membentang dari gerbang halaman ke sebuah gudang kosong.
Lin memperhatikan peserta lain. Sebagian tampak lebih kuat daripada Bai. Seorang pemuda berarmor ringan berjalan sambil mengayunkan pedang, seolah ingin meyakinkan semua orang bahwa ia tidak gugup. Seorang perempuan berambut pendek memeriksa tali muatan dua kali. Ia tidak banyak bicara, tetapi teliti.
“Peserta dibagi berempat,” kata penguji. “Kalian mengawal kereta sampai gudang. Pengganggu akan mencoba memisahkan kalian dan merusak muatan. Kalian dinilai dari keputusan, kerja sama, dan kemampuan melindungi barang. Mengejar pengganggu bukan tujuan.”
Tim Bai terdiri dari dirinya, perempuan berambut pendek, seorang lelaki besar dengan tombak pendek, dan pemuda berarmor ringan yang sejak tadi mengayunkan pedangnya. Mereka berkumpul di sisi kereta.
“Aku di depan,” kata pemuda berarmor. “Aku bisa menangani siapa pun yang muncul.”
“Kalau kau maju, siapa menjaga sisi muatan?” tanya perempuan itu.
“Orang yang lain.”
“Jadi kau menyerahkan semua pekerjaan pada orang lain?”
“Aku cuma bilang—”
Bai mengangkat tangan kirinya. “Kita tidak tahu dari arah mana mereka datang. Perempuan itu menjaga sisi kiri, kau di kanan. Tombak di belakang. Aku tetap dekat roda dan mengawasi jalur.”
“Kenapa kau yang memberi perintah?” tanya pemuda berarmor.
“Karena kau belum memberi usul yang lain.” Bai tersenyum tipis. “Kalau ada yang lebih baik, katakan sekarang.”
Pemuda itu hendak membantah, tetapi peluit panjang memotong percakapan. Kereta bergerak.
Mereka baru menempuh setengah lintasan ketika dua penguji muncul dari balik gudang. Yang satu mengayunkan tongkat ke arah kereta, yang lain mendekati pemuda berarmor. Ia mengejar penyerang pertama, meninggalkan sisi kanan terbuka. Perempuan berambut pendek menahan serangan pada muatan, sementara Bai tetap dekat roda seperti yang ia rencanakan.
Teriakan terdengar dari sisi belakang. Lelaki bertombak jatuh berlutut dan memegangi bahunya. Penguji berseru bahwa ia terluka.
Bai menoleh, lalu sempat maju satu langkah. Ia berhenti. Pemuda berarmor masih berada jauh dari kereta, dan penyerang kedua mengarah ke muatan.
“Bawa kereta ke sisi kanan lintasan!” serunya kepada perempuan itu. “Aku menutup belakang. Tombak, tetap berdiri kalau masih bisa.”
Lelaki itu mengangguk dan bangkit. Pemuda berarmor berlari kembali, tetapi roda belakang menabrak parit dangkal dan kereta miring.
Bai bisa saja mengejar penguji yang baru mundur. Ia menatapnya sebentar, lalu memilih membantu menahan sisi kereta bersama perempuan itu. Tangan kanannya tetap dekat tubuh. Dengan tangan kiri, ia menarik tali pengikat, sementara kaki dan bahunya menahan beban agar kereta tidak jatuh.
Penguji ketiga muncul di depan. Bai mengambil posisi di antara kereta dan serangan, mencabut pedang dengan tangan kanan, tetapi tidak melakukan tebasan lebar. Ia menangkis satu pukulan kayu, menahan rasa sakit, lalu mundur satu langkah agar tidak meninggalkan muatan.
“Jangan kejar!” teriak perempuan itu kepada pemuda berarmor. “Kereta dulu!”
Kali ini pemuda itu mendengarkan. Mereka mendorong roda keluar dari parit dan bergerak bersama sampai melewati garis akhir. Tim lain telah tiba lebih dahulu, tetapi kereta mereka kehilangan satu kotak muatan selama lintasan.
Penguji mengumpulkan peserta. Ia memeriksa tangan Bai dan membuka balutan dengan izin. Lukanya tidak mengeluarkan darah, tetapi kulit di sekitarnya memerah.
“Kau mengendalikan gerakanmu,” kata penguji. “Kau juga meninggalkan posisi untuk membantu mengangkat kereta.”
“Roda itu akan jatuh kalau kami terus berjalan.”
“Kau seharusnya tidak perlu memegangnya sendiri.”
“Benar. Saya seharusnya memberi aba-aba lebih awal.”
Penguji menatapnya lebih lama, lalu menandai lembar penilaian. “Kau belum cukup siap untuk menjadi pengawal penuh. Tetapi kau bisa mengikuti dua perjalanan sebagai calon pendamping. Jika penilaian lapanganmu baik, Mercenary Hall akan mempertimbangkanmu untuk tugas tetap.”
Bai menatap hasil itu, lalu menghela napas. “Jadi bukan lulus, bukan gagal.”
“Ini tahap berikutnya. Jangan memaksanya menjadi hal lain.”
Ia menerima lembar kecil dengan tanda cap. Lin melihat bahunya turun. Bukan kemenangan yang ia bayangkan, tetapi bukan pintu tertutup juga.
“Kau berhasil,” kata Lin saat Bai mendekat.
“Aku berhasil mendapat dua perjalanan percobaan.” Bai mengangkat kertas itu. “Kalau aku membuat kesalahan besar, mereka tidak akan memanggilku lagi.”
“Setidaknya kau tidak perlu menyalahkan pedang.”
“Aku masih bisa menyalahkan pedang karena tanganku sakit.”
Mereka tertawa. Bai kemudian berhenti dan melihat balutan yang kembali dipasang penguji. “Aku harus istirahat sebelum perjalanan pertama. Kalau aku memaksa latihan lagi, aku bisa kehilangan semuanya.”
“Keputusan bagus.”
“Aku tahu. Jangan dibiasakan memujiku.”
Di halaman, para penguji masih mencatat hasil kandidat lain. Ada yang lulus, ada yang diminta kembali, dan ada yang tak lagi berbicara setelah namanya dipanggil. Tidak ada papan yang membagi hadiah untuk semua orang. Setiap peserta pulang membawa hasil berbeda.
Bai menyimpan lembar penilaiannya di dalam baju. “Aku akan mampir ke toko Mo setelah mengambil pedangku. Kita makan kalau hari ini aku dapat uang dari pekerjaan kecil.”
“Aku belum tahu kapan Mo membayar.”
“Kalau begitu, kita makan saat salah satu dari kita punya uang.”
Lin mengangguk. Ia tidak tahu kapan itu akan terjadi, tetapi ia tidak menertawakan tawaran tersebut. Bai berjalan pulang dengan langkah hati-hati, membiarkan tangan kanannya tetap dekat dada.
Lin kembali ke toko. Mo sedang menunggu catatan kiriman.
“Bagaimana ujiannya?” tanyanya.
“Bai mendapat dua perjalanan percobaan.”
“Berarti dia belum punya pekerjaan tetap.”
“Belum.”
“Jangan merayakan hasil yang belum selesai.”
Lin menaruh catatan di meja. “Saya mengerti.”
Sore itu, ia melanjutkan kerja tanpa memikirkan apakah Bai menang atau kalah. Pemuda itu telah melewati satu pintu, tetapi masih harus membuktikan diri di jalan. Lin pun belum memperoleh apa pun selain upah kecil dan pengetahuan tentang daun.
Saat toko tutup, Mo membayar satu keping upah seperti biasa. Lin menyisihkannya untuk tempat tidur malam itu. Ia tidak punya simpanan, tetapi setidaknya dapat beristirahat di dalam ruangan sebelum bekerja lagi besok.
Namun sekarang, mereka memiliki alasan untuk bertemu lagi.