Tiga tahun berbakti sebagai istri seolah tak ada artinya bagi Aira ketika Radit diceraikannya secara mendadak tepat di hari ulang tahun pernikahan mereka.
Demi kehadiran sekretaris cantik, Aira terpaksa melangkah menembus hujan deras membawa kopernya. Kemalangan tak berhenti di situ; di tengah jalan ia diserang sekelompok preman hingga tak berdaya.
Di saat kritis, sosok pria tinggi bertato bernama Lucas datang menyelamatkannya. Namun, pertolongan itu membawa takdir baru. Dalam pengaruh obat akibat dijebak, Lucas membawa Aira ke hotel. Dengan bisikan "Jangan takut, aku mandul," Aira yang hancur akhirnya memejamkan mata dan pasrah.
Esok harinya, Aira pergi memulai hidup baru dari nol—mencari kontrakan dan pekerjaan. Namun beberapa minggu kemudian, garis dua di alat tes kehamilan meruntuhkan dunianya. Jika Radit sudah lama tak menyentuhnya, maka janin itu jelas milik Lucas. Lantas, apakah pengakuan mandul itu hanya kebohongan manis, atau ada rahasia besar yang sengaja Lucas sembunyikan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Lucas menyunggingkan senyum tipis, lalu menatap Aira dengan pendar mata yang penuh kelakar.
"Omong-omong, aku tadi belum mencoba Ikan Kerapu Asam Manis milik calon ibu dari anakku ini." ucap Lucas.
Perkataan Lucas membuat Aira langsung salah tingkah.
Tanpa menunggu jawaban Aira, Lucas meraih gagang telepon interkom di samping ranjang dan menekan tombol ke ruangan HRD.
"Arum," panggil Lucas begitu sambungan terhubung.
"Tolong, bawakan masakan ikan kerapu asam manis yang ada di meja kerjaku tadi ke suite room sekarang."
Aira yang mendengar hal itu langsung panik dan menahan lengan Lucas.
"Jangan, Pak! Ikan ini sudah dingin ? Nanti saya buatkan yang baru saja di dapur." ucap Aira.
"Jangan aneh-aneh. Kamu baru saja pingsan dan harus banyak istirahat," potong Lucas lembut namun tegas.
Ia meletakkan kembali teleponnya, lalu menatap Aira mantap.
"Dingin atau panas, tidak masalah buatku. Yang penting ini buatan kamu."
Aira menghela napas pasrah, tak mampu membantah lagi perlakuan manis namun dominan dari pria di hadapannya.
Pipinya merona hangat, membayangkan betapa cepatnya takdir membalikkan hidupnya dalam sekejap.
Tok! Tok! Tok!
Suara ketukan pintu menghentikan percikan kehangatan di antara mereka.
"Masuk," ucap Lucas.
Arum melangkah masuk dengan membawa nampan berisi piring Ikan Kerapu Asam Manis Karamelisasi Nanas yang sebelumnya disajikan Aira di ruang kerja.
Langkah Arum terhenti seketika di tengah ruangan. Matanya membelalak lebar mendapati Lucas—yang sedang duduk mesra di tepi ranjang sambil menggenggam erat tangan Aira.
Arum mengerjap-ngerjapkan matanya beberapa kali, memastikan ia tidak sedang bermimpi.
"Pak, Anda?"
Lucas menoleh tanpa melepaskan genggaman tangannya dari Aira.
Pria itu menatap Arum dengan sorot mata tenang namun penuh deklarasi.
"Arum, perkenalkan. Dia bukan lagi sekadar Head Chef kita. Tapi, dia adalah calon istriku dan calon ibu dari anakku."
"Apa?!" pekik Arum tertahan dan menutup mulutnya dengan sebelah tangan karena terkejut luar biasa. Matanya berganti menatap Lucas dan Aira yang wajahnya kini sudah merona merah bak kepiting rebus.
Namun, keterkejutan itu dengan cepat berubah menjadi gelombang kebahagiaan yang tulus.
Arum, yang sangat mengenal dedikasi dan kebaikan Aira, tahu persis wanita itu pantas mendapatkan kebahagiaan setelah apa yang telah ia lewati.
Dengan senyum lebar yang merekah di wajahnya, Arum membungkuk hormat.
"Ya ampun. Selamat, Pak Lucas! Selamat ya, Aira! Saya ikut bahagia mendengarnya. Kalau begitu, saya permisi dulu membiarkan kalian berdua istirahat."
Arum meletakkan nampan berisi hidangan itu di atas meja nakas dengan hati-hati, lalu berbalik dan melangkah keluar kamar, menutup pintu dengan pelan.
Suasana di dalam suite room kembali senyap, menyisakan kehangatan yang mengalir di antara Lucas dan Aira.
Aira menunduk malu, namun perlahan ia memberanikan diri mendongak untuk menatap wajah pria di hadapannya.
Pandangannya mendarat pada kerah kemeja Lucas yang sedikit terbuka karena gerakan pria itu sebelumnya, memperlihatkan sebagian guratan tato seni bernuansa gelap yang menghiasi sisi leher hingga ke balik balik kemejanya.
"Tato Bapak, banyak."
Lucas tersenyum tipis mendengar komentar polos itu.
Ia membiarkan jemarinya tetap menggenggam tangan Aira, lalu balas menatap wanita itu dengan sorot mata menyelidik yang penuh kelembutan.
"Apakah kamu takut?" tanya Lucas pelan, nada suaranya menyuratkan sedikit rasa ingin tahu.
Aira perlahan menggelengkan kepalanya, menghadirkan senyuman tipis yang menenangkan di bibirnya.
"Tidak, sama sekali tidak, Pak."
Lucas melepaskan genggaman tangannya sejenak, lalu meraih piring saji yang baru saja diletakkan Arum di atas nakas.
Piring berisi Ikan Kerapu Asam Manis Karamelisasi Nanas itu masih mengepulkan aroma harum nanas madu berpadu dengan gurihnya kaldu udang dan bawang putih panggang.
Meskipun sudah sedikit mendingin seperti yang dikhawatirkan Aira sebelumnya, tampilannya tetap terlihat begitu menggugah selera dengan kilau saus karamel yang sempurna.
Lucas mengambil garpu dan pisau kecil, lalu memotong sepotong kecil daging ikan kerapu yang terselimuti sempurna oleh saus merah kecokelatan itu. Ia menyuapnya perlahan ke dalam mulutnya.
Aira memperhatikan gerak-gerik Lucas dengan debaran jantung yang kembali meningkat.
Bagaimanapun, ini adalah penilaian langsung dari sang pemilik hotel, pria berlidah tajam yang terbiasa menyantap hidangan mewah berstandar internasional di berbagai belahan dunia.
Detik berikutnya, gerakan mengunyah Lucas terhenti.
Mata pria itu sedikit membelalak, menangkap ledakan rasa yang begitu kaya di indra pengecapnya.
Ada sensasi asam segar yang alami dari belimbing wuluh dan tomat segar, berpadu harmonis dengan manisnya karamelisasi nanas madu dan gurihnya rempah pilihan.
Daging ikan kerapunya terasa begitu lembut di lidah, sama sekali tidak amis meski sudah tidak dalam kondisi panas mengepul.
Ekspresi dingin dan berwibawa di wajah Lucas seketika melebur, digantikan oleh binar kekaguman yang teramat sangat.
"Bagaimana, Pak?" tanya Aira cemas, tidak tahan dengan keheningan sesaat itu.
"Kalau kurang pas, nanti saya bisa perbaiki—"
Belum sempat Aira menyelesaikan kalimatnya, Lucas tidak lagi menjawab dengan kata-kata.
Pria itu justru mengambil porsi yang lebih besar, menyuapinya lagi dengan cepat, dan dalam hitungan menit dan tanpa memedulikan citra dinginnya sebagai bos besar.
Ia menghabiskan seluruh porsi ikan kerapu di piring tersebut hingga bersih tak bersisa.
Lucas meletakkan piring kosong itu kembali ke atas nakas, lalu mengambil serbet untuk menyapukan bibirnya.
Ia menatap Aira dengan senyum lebar yang membuat auranya tampak jauh lebih hangat dan memesona.
"Kurang pas katamu?" puji Lucas dengan suara baritonnya yang lembut.
"Aira, ini bukan sekadar enak. Ini adalah hidangan terbaik yang pernah aku cicipi seumur hidupku."
Aira mengerjap-ningkat, pipinya merona merah padam mendengar pujian setinggi langit dari pria di hadapannya.
Lucas kembali meraih tangan Aira, menggenggamnya erat-erat di atas selimut.
"Sekarang aku semakin yakin dan tidak salah jika aku memilihmu menjadi Head Chef di hotel ini, dan jauh lebih tidak salah lagi,aku memilihmu menjadi pendamping hidupku."
Rona merah di pipi Aira semakin merebak luas, menjalar hingga ke balik telinganya.
Pujian setinggi langit yang baru saja meluncur dari bibir Lucas sukses membuat debaran di dadanya semakin tak terkendali.
Ia menunduk sejenak, salah tingkah di bawah tatapan hangat pria yang kini sah menjadi belahan jiwanya.
Melihat respons malu-malu Aira, Lucas tersenyum kecil.
Ada binar keusilan yang lembut di sudut matanya. Ia menggeser duduknya sedikit lebih dekat, lalu mengangkat sebelah tangannya untuk menyangga dagu, membiarkan mata tajamnya mengunci manik mata wanita itu.
"Ada satu hal lagi," ucap Lucas dengan nada rendah yang sarat wibawa namun penuh kehangatan.
Aira mendongak perlahan, mengerjap bingung. "Apa itu?"
Lucas meraih kembali jemari Aira yang tersemat di atas selimut, membawanya ke dalam genggaman tangannya yang hangat. Jempolnya mengusap pelan buku-buku jari Aira.
"Mulai sekarang, jangan panggil aku 'Pak' lagi," bisik Lucas lembut.
"Panggil aku Lucas saja. Kita tidak lagi berada di ruang rapat atau di area dapur hotel."
Aira terpaku, bibirnya sedikit terbuka. Rasanya masih asing di lidahnya untuk memanggil sang pemilik hotel bintang lima, pria berkuasa yang ditakuti dan disegani banyak orang, hanya dengan nama depannya saja.
"T-tapi, tidak enak, Pak Lucas." cicit Aira pelan, pipinya kembali merona merah seketika saat nama itu berhasil meluncur keluar dari bibirnya sendiri.
"Bagaimana pun kamu adalah atasanku."
Lucas tertawa pelan, suara baritonnya terdengar begitu menenangkan di telinga Aira.
"Aku bukan lagi atasanmu di saat seperti ini, Aira," sangkal Lucas penuh kelembutan.
"Aku adalah calon suamimu, dan ayah dari anak yang sedang kamu kandung. Jadi, panggil namaku, atau aku tidak akan melepaskan tanganmu seharian ini."
Ancaman ringan itu diiringi senyuman maut yang membuat pertahanan Aira runtuh seketika.
Dengan napas tertahan dan senyum simpul yang akhirnya terukir di bibirnya, Aira mengangguk pelan.
"Baiklah, Lu-cas," ucap Aira malu-malu.
Lucas tersenyum puas, memancarkan kebahagiaan tulus yang jarang sekali diperlihatkannya kepada dunia luar.
Ia merengkuh tubuh Aira dalam dekapannya yang hangat, membiarkan wanita itu bersandar nyaman di dadanya dan menikmati detik-detik damai di tengah badai takdir yang justru membawa mereka pada kebahagiaan sejati.
Lucas menoleh ke arah Aira yng ternyata sudah tertidur pulas.
waduh... dapat orderan nih menu barunya 🤣🤣
gimana Radit, ternyata kamu yang mandul 🤣🤣 jadi anak siapa yang dalam kandungan Mila? kan pelacur murahan yah 🤣🤣
niat hati menjatuhkan chef Aira, kamu yang akan menghadapi kekuasaan Lucas