Di antara cahaya yang tak pernah cukup dan bayangan yang tak pernah padam, namanya terucap hanya dalam hening: Orion.
Ia bukan milik dunia yang kau kenal. Pangeran dari kedalaman kegelapan, sosok yang dikabarkan tak pernah menyentuh sinar matahari, yang berjalan di tempat di mana cahaya tak mampu menjangkau. Banyak yang gemetar menyebut namanya; banyak yang menganggapnya kutukan. Namun bagi Aruna—ia adalah satu-satunya keberkahan yang menyelamatkannya dari jurang.
Aruna, gadis yang hidup di antara keraguan dan bahaya yang datang tanpa peringatan, selalu menemukan dirinya ditarik ke tepi jurang—sampai sepasang tangan yang kuat, hangat meski berasal dari kegelapan, menariknya kembali. Orion selalu hadir tepat saat dunia tampak membelakanginya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LailaHaidar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bisikan yang Memanggil Namanya
Malam itu, Aruna sulit tidur. Lampu kamar sudah dimatikan, hanya cahaya remang dari bulan purnama yang masuk lewat celah jendela, menciptakan bayangan-bayangan lembut di lantai. Ia berbaring di tempat tidur, menatap langit-langit, pikirannya terus kembali ke percakapan dengan Dinda, dan lebih dari itu — kembali ke perasaan kehadiran yang selalu mengikutinya.
Ia bangkit, duduk di tepi tempat tidur, lalu meraih jurnal kecil bersampul cokelat di meja sampingnya. Dengan cahaya bulan yang cukup untuk melihat tulisannya, ia mulai menulis:
"Ia selalu ada. Sejak aku ingat diriku, ia sudah ada. Tidak pernah menyakiti, tidak pernah menuntut. Hanya menjaga. Seperti malam yang tak pernah meninggalkan siang meski mereka tak bisa bersanding selamanya. Aku tidak tahu wajahnya. Aku tidak tahu dari mana ia berasal. Tapi aku tahu satu hal: ia menungguku. Sama seperti aku, tanpa sadar, selalu menunggunya."
Aruna berhenti menulis. Pena di tangannya berhenti bergerak di atas kertas. Ia menoleh ke arah jendela yang sedikit terbuka. Angin malam berhembus masuk, membelai rambutnya yang terurai, dan bersama angin itu datang aroma yang tak biasa — bukan bunga, bukan tanah basah, melainkan sesuatu yang segar dan dingin, seperti udara di puncak gunung yang tak tersentuh manusia.
"Kau di sini?" tanyanya pelan, suaranya bergetar di udara yang hening.
Keheningan menyambutnya. Namun aroma itu semakin kuat, dan di sudut ruangan, di tempat bayangan paling pekat, seolah ada bentuk yang berubah. Bukan bayangan meja maupun lemari — sesuatu yang lebih tinggi, lebih tegap, dan terasa hidup.
Aruna menahan napas. Ia tidak lari, tidak berteriak. Justru ia berdiri, melangkah pelan mendekati sudut ruangan itu, meski kakinya sedikit gemetar.
"Siapa kau?" tanyanya, matanya berusaha menembus kegelapan. "Mengapa kau selalu menjagaku?"
Suara itu terdengar — rendah, dalam, bergema seolah berasal dari tempat yang jauh sekaligus dari dalam dirinya sendiri.
"Aku adalah bayangan yang tak boleh memiliki cahaya... namun tak sanggup membiarkan cahayamu padam."
Aruna menatap lekat-lekat ke arah sosok itu. Wujudnya masih samar, tertutup kabut tipis yang entah bagaimana muncul di sudut kamarnya. Namun ia bisa melihat garis bahu yang lebar, kepala yang tegak, dan sepasang mata — berkilau lembut seperti bintang yang terjaga sendirian di langit paling gelap.
"Kau... kau memanggilku 'cahayaku' kemarin?" tanyanya pelan.
Sosok itu terdiam sejenak, seolah menimbang setiap kata yang akan diucapkan, takut salah atau menyakiti.
"Aku telah menunggumu lebih lama dari yang bisa kau bayangkan, Aruna. Aku melihatmu tumbuh, tertawa, menangis... tanpa pernah berani menyapamu. Aku menjagamu dari kejauhan, karena itulah satu-satunya cara aku bisa melindungimu tanpa mencelakaimu."
"Mencelakaimu?" Aruna melangkah selangkah lebih dekat, jaraknya kini hanya beberapa langkah dari sosok itu. "Mengapa kau akan mencelakaimu?"
"Karena aku bukan milik duniamu," jawabnya sedih. "Aku berasal dari tempat yang tak memiliki sinar matahari. Tempat di mana cahaya dianggap musuh. Dan kau... kau adalah cahaya terang yang paling murni yang pernah menyentuh kedalaman tempatku."
Jantung Aruna berdebar kencang. Ia merasakan kesedihan yang mendalam dari suara itu — kesepian yang begitu panjang, begitu menyakitkan, hingga ia ikut merasakannya di dalam tulang-tulangnya.
"Apakah namamu Orion?" tanyanya tiba-tiba.
Sosok itu tersentak. Kabut yang menyelimutinya bergerak tak tenang.
"Dari mana kau tahu namaku?"
"Aku... aku mendengarnya," jawab Aruna lembut. "Di momen-momen hening, saat aku merasa paling kesepian. Namamu muncul di kepalaku, seolah sudah ada di sana sejak lama. Seolah itu namaku sendiri."
Keheningan kembali menyelimuti ruangan, namun kali ini tidak berat. Ada kelembutan yang mengalir di udara, seolah dinding pemisah antara mereka perlahan menipis.
"Orion..." ulangnya pelan, seperti mencicipi nama itu sendiri. "Itu nama yang diberikan kepadaku sebelum aku dikutuk hidup di perbatasan dunia. Namaku yang hampir terlupakan."
"Dikutuk?" tanya Aruna, matanya membelalak. "Siapa yang mengutukmu?"
"Itu cerita yang panjang dan kelam," jawabnya. "Dan belum saatnya kau mendengar semuanya. Yang perlu kau ketahui sekarang... adalah bahwa kehadiranku di sisimu membawa bahaya, sekaligus perlindungan."
"Apakah kau akan pergi?" tanya Aruna dengan cemas, takut mendengar jawabannya.
Sosok itu bergerak pelan, seolah ingin mengulurkan tangan namun menahan diri.
"Aku tidak akan pergi, Aruna. Selama kau mengizinkanku, aku akan tetap di sini. Menjagamu. Meski aku tak boleh menyentuhmu terlalu lama. Meski aku tak boleh terlihat oleh siapa pun."
"Mengapa tidak?" tanyanya sedih. "Apakah aku begitu berbahaya bagimu?"
Orion menghela napas panjang, suara napasnya terdengar berat dan penuh kerinduan.
"Justru sebaliknya. Cahayamu menyakitiku, perlahan melemahkan kekuatanku. Namun anehnya... tanpamu, aku jauh lebih lemah. Kau adalah paradoks yang tak mampu aku pecahkan, Aruna — sumber kebahagiaanku sekaligus kelemahanku."
Aruna merasakan air mata menetes di pipinya. Ia tak mengerti sepenuhnya apa maksud kata-kata itu, namun ia paham perasaannya — cinta yang tak seharusnya ada, kerinduan yang tak seharusnya tumbuh, namun keduanya tak mampu menghentikannya.
"Jika aku tidak takut," tanyanya pelan, "jika aku tidak takut padamu... apakah kau akan tetap datang?"
"Aku akan datang setiap kali kau memanggilku," jawabnya mantap. "Di mana pun kau berada, sedalam apa pun kegelapan yang menyelimutimu... aku akan menemukan jalanku menuju kepadamu."
"Bahkan jika itu menyakitimu?"
"Bahkan jika itu menyakitiku."
Aruna tersenyum di tengah air matanya. Ia menyeka pipinya dengan punggung tangan, lalu menatap Orion dengan keyakinan penuh.
"Kalau begitu, datanglah. Aku tidak akan memintamu pergi. Aku ingin mengenalmu, Orion. Bukan sebagai bayangan yang menjaga dari kejauhan, tapi sebagai seseorang yang aku..." Ia berhenti, takut menyebut kata itu terlalu cepat, namun hatinya sudah berkata lebih dulu. "Sebagai seseorang yang ingin aku temani."
Orion terdiam lama sekali. Kabut di sekelilingnya perlahan memudar, dan untuk sesaat, Aruna melihat sepasang matanya dengan lebih jelas — berwarna keemasan lembut, penuh kasih sayang yang tak terlukiskan.
"Kau tidak tahu apa yang kau minta, Aruna," ucapnya pelan, namun tidak menolak. "Tapi jika itu keinginanmu... aku akan berusaha menjadi seseorang yang pantas berdiri di sisimu."
"Kau sudah pantas," jawab Aruna tegas. "Selama ini kau sudah membuktikannya."
Sebelum Orion menjawab, ia perlahan memudar kembali, menyatu dengan bayangan di sudut ruangan.
"Istirahatlah, cahayaku. Besok, di tempat pertemuan kita... aku akan menampakkan diri lebih jelas. Jika kau berani datang."
"Aku akan datang," janji Aruna tanpa ragu.
Dan sosok itu lenyap sepenuhnya, seolah tak pernah ada. Namun aroma udara dingin yang segar masih tertinggal, dan di udara terasa kehangatan yang aneh — seolah pelukan yang tak terlihat telah mengelilinginya sebelum pergi.
Aruna kembali duduk di tepi tempat tidur, tersenyum sendirian di tengah kegelapan. Ia membuka jurnalnya lagi, dan menulis satu baris saja:
"Namanya Orion. Dan ia bukan mimpi."