NovelToon NovelToon
Kembalinya Dewa Kematian

Kembalinya Dewa Kematian

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Fantasi / Anak Genius
Popularitas:147.2k
Nilai: 4.9
Nama Author: Boqin Changing

Ini adalah cerita tentang seseorang yang kembali ke masa lalunya. Seorang pendekar kuat yang berhasil mendapatkan pusaka untuk mengulang waktu.

Sembilan tahun telah berlalu semenjak kembalinya dia ke masa lalu. Banyak hal yang telah ia ubah. Kekuatannya juga perlahan mendekat ke puncak kekuatannya di kehidupan pertama.

Namun ancaman lain akhirnya muncul. Sejarah telah berubah karena campur tangannya. Kini ia harus bersiap menghadapi musuh lain yang rumit.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Boqin Changing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hanya Orang Ini yang Berani Mengubah Misi Ini

Boqin Changing mengalihkan pandangannya dari ketiga mayat di hadapannya. Tatapannya kemudian tertuju kepada Tetua Agung Peng.

"Ceritakan kepadaku gambaran besar misi ini."

Tetua Agung Peng segera menganggukkan kepala.

"Baik, Senior."

Ia kemudian membungkukkan badan dengan hormat.

"Silakan masuk ke tenda. Akan lebih mudah menjelaskannya di sana."

Boqin Changing mengangguk pelan.

"Baik."

Ia pun melangkah menuju tenda terbesar yang berdiri di tengah perkemahan. Tenda itulah yang sebelumnya digunakan sebagai tempat pertemuan seluruh pemimpin kelompok.

Wang Zhou segera mengikuti di belakang Boqin Changing. Di belakang mereka, Tetua Agung Peng beserta para petinggi kelompok lainnya juga ikut berjalan.

Namun, ketika mereka baru beberapa langkah lagi mencapai pintu tenda, tirai tenda tiba-tiba terbuka dari dalam. Seorang pria bertubuh tinggi besar melangkah keluar. Pria itu tidak lain adalah Tetua Agung Dai Xung dari Sekte Tameng Naga.

Begitu melihat rombongan yang datang, tubuh Dai Xung langsung membeku. Terlebih ketika pandangannya bertemu dengan mata Boqin Changing. Wajahnya yang semula terlihat garang seketika berubah pucat pasi. Jantungnya berdegup semakin cepat.

Boqin Changing menatapnya sekilas. Tatapan itu tenang, tetapi cukup membuat tenggorokan Dai Xung terasa kering.

Boqin Changing berkata datar,

"Pendekar suci... tiga gerbang terbuka."

Kalimat sederhana itu membuat Dai Xung menelan ludah.

"Dia... bisa mengetahui tingkat kultivasiku hanya dengan sekali melihat..."

Keringat dingin kembali mengalir di punggungnya.

Sementara itu, beberapa pemimpin kelompok yang sebelumnya berada di dalam tenda hanya bisa mengumpat di dalam hati.

"Bodoh."

"Kenapa dia tidak ikut keluar menyambut Pendekar Chang?"

"Kalau sampai Senior Chang tersinggung gara-gara ulahnya, kita semua yang akan terkena akibatnya."

Mereka benar-benar merasa kesal kepada Dai Xung.

Namun, tepat ketika suasana mulai terasa canggung, Wang Zhou justru melangkah maju. Senyum ramah muncul di wajahnya.

"Tetua Agung Dai Xung?"

Pria tua itu tertawa kecil.

"Lama tidak berjumpa."

Mendengar sapaan itu, Dai Xung seolah mendapatkan jalan keluar dari situasi yang membuatnya tertekan. Ia buru-buru memaksakan senyum di wajahnya.

"Pa... Patriak Zhou. Se-Senang bertemu denganmu."

Nada suaranya terdengar jauh lebih sopan dibanding biasanya. Bahkan sedikit gugup.

Boqin Changing sedikit memiringkan kepalanya.

"Patriak, kau mengenal orang ini?"

Wang Zhou menganggukkan kepala.

"Tentu. Dulu... kami berasal dari sekte yang sama."

"Dia adalah kakak seperguruanku."

Boqin Changing hanya menganggukkan kepala pelan.

"Oh. Begitu rupanya."

Ia tidak mengatakan apa-apa lagi.

"Ayo masuk."

Tanpa memedulikan Dai Xung, Boqin Changing langsung melangkah memasuki tenda. Wang Zhou segera mengikutinya.

Di belakang mereka, Tetua Agung Peng beserta para pemimpin kelompok lain kembali saling bertukar pandang. Dalam hati, mereka kembali mengumpat Dai Xung.

“Tadi dia mencemooh Patriak Zhou."

"Mengatakan kalau Wang Zhou hanyalah sampah yang beruntung."

"Tapi sekarang..."

"Begitu Patriak Zhou datang bersama Tetua Chang..."

"Nyalinya langsung ciut."

Tak seorang pun mengucapkan kalimat itu dengan suara keras, tetapi hampir semua orang memikirkan hal yang sama.

...*****...

Bagian dalam tenda terasa lebih luas daripada yang terlihat dari luar. Sebuah meja panjang memenuhi bagian tengah ruangan. Di sekelilingnya tersusun banyak kursi untuk para pemimpin kelompok.

Begitu masuk, Boqin Changing langsung berjalan menuju kursi utama yang berada di ujung meja. Tanpa ragu, ia duduk di sana. Di kursi yang sebelumnya diduduki Tetua Peng.

Tidak ada seorang pun yang merasa keberatan. Justru bagi mereka, memang itulah tempat yang paling pantas untuknya.

Sementara itu, Wang Zhou berdiri beberapa langkah di belakang. Ia menatap kursi-kursi yang tersedia dengan sedikit kebingungan.

"Haruskah aku duduk di bagian belakang? Atau menunggu dipersilakan?"

Sebelum ia sempat memutuskan, Boqin Changing sudah lebih dahulu menoleh.

"Patriak. Duduk di sampingku saja."

Wang Zhou sedikit tertegun. Ia lalu mengalihkan pandangannya kepada Tetua Agung Peng.

Bagaimanapun juga, Tetua Peng merupakan pemimpin gabungan dalam operasi kali ini. Sebagai orang yang baru tiba, rasanya kurang pantas jika ia langsung duduk di sisi kursi utama.

Namun Tetua Agung Peng justru tersenyum ramah.

"Silakan saja, Patriak."

"Tidak masalah."

"Kau bebas duduk di mana pun."

Nada bicaranya sangat sopan. Bahkan senyumnya terlihat tulus.

Melihat hal itu, Wang Zhou akhirnya menganggukkan kepala.

"Kalau begitu... terima kasih."

Ia pun duduk di kursi tepat di samping Boqin Changing, sementara para pemimpin kelompok lainnya baru mengambil tempat duduk mereka masing-masing setelah kedua orang itu lebih dahulu duduk.

Setelah semua orang mengambil tempat duduk masing-masing, suasana di dalam tenda perlahan menjadi hening.

Boqin Changing menyandarkan punggungnya ke kursi. Jemarinya bertumpu ringan di atas meja.

"Ceritakan garis besar misi ini."

Tatapannya mengarah kepada Tetua Agung Peng.

Tetua Peng segera menganggukkan kepala.

"Baik, Senior."

Ia menarik napas pelan sebelum mulai menjelaskan.

"Dalam beberapa bulan terakhir, istana menerima banyak laporan mengenai aktivitas mencurigakan di Bukit Cemara Berjajar."

"Banyak orang terlihat keluar masuk hutan itu.”

"Awalnya istanamengira mereka hanyalah pemburu atau pencari tanaman obat. Namun setelah dilakukan penyelidikan lebih jauh, ternyata pergerakan mereka sangat teratur."

Tetua Peng berhenti sejenak.

"Beberapa waktu lalu, salah satu dari mereka berhasil kami tangkap."

Ucapan itu langsung menarik perhatian seluruh orang di dalam tenda.

"Setelah diperiksa, diketahui bahwa orang tersebut merupakan salah satu sisa anggota Kelompok Tengkorak Hitam."

Wang Zhou sedikit mengernyit.

Tetua Peng melanjutkan,

"Sayangnya... meskipun telah diinterogasi cukup lama, orang itu tidak mau mengatakan apa pun. Ia menolak menjelaskan aktivitas mereka di dalam hutan."

"Bahkan mengenai siapa saja yang berada di sana, ia tetap bungkam."

Suasana di dalam tenda menjadi semakin serius.

Tetua Peng kembali berbicara.

"Karena itulah Putra Mahkota Qin Lang merasa khawatir. Beliau menduga sisa-sisa Kelompok Tengkorak Hitam masih berkeliaran."

"Dan kemungkinan besar... mereka sedang merencanakan pemberontakan sekali lagi."

Tatapan Tetua Peng menjadi lebih tegas.

"Untuk itulah aku ditugaskan memimpin operasi pengintaian di Bukit Cemara Berjajar."

"Putra Mahkota memberiku wewenang membentuk tim sendiri."

"Aku juga diminta berkoordinasi dengan Tuan Kota Shui agar operasi ini berjalan lancar."

"..."

Boqin Changing tidak langsung menjawab. Keningnya justru perlahan berkerut.

"Kelompok Tengkorak Hitam bangkit lagi? Bukankah ini terlalu cepat..." ujar Boqin Changing dalam hatinya.

Ia mengingat kembali tiga mayat yang baru saja dibunuhnya. Mereka sama sekali bukan anggota Kelompok Tengkorak Hitam. Mereka adalah anggota Kelompok Bulan Kelam. Ia mulai berpikir kembali.

"Lalu mengapa orang-orang yang tadi kubunuh justru berasal dari Kelompok Bulan Kelam?"

"Apakah... sisa-sisa Tengkorak Hitam telah bergabung dengan mereka?"

Semakin dipikirkan, semakin rumit keadaan yang ada di balik bukit itu.

Boqin Changing mengangkat pandangannya.

"Lanjutkan."

Tetua Peng segera menganggukkan kepala.

"Dari hasil pengintaian awal kami..."

"Kami semakin yakin bahwa orang-orang yang berada di dalam hutan memang merupakan sisa-sisa Kelompok Tengkorak Hitam."

"Hanya saja... apa yang sedang mereka lakukan di sana, sampai sekarang masih belum diketahui."

Ia menghela napas pelan.

"Karena itu, rencanaku adalah menunggu seluruh kelompok yang belum tiba."

“Dua atau tiga hari lagi, setelah semua berkumpul, kita akan memasuki hutan bersama-sama untuk melakukan pengintaian."

Baru saja kalimat itu selesai diucapkan, terdengar suara ketukan pelan di atas meja.

Tok...

Tok...

Tok...

Boqin Changing mengetukkan jarinya beberapa kali. Lalu ia menatap Tetua Peng.

"Apa kau tidak ingat apa yang sudah kukatakan sebelumnya?"

Tetua Peng langsung terdiam.

Boqin Changing melanjutkan dengan nada datar.

"Kalau tujuan kalian hanya mengintai... jumlah orang di luar sana saja sudah terlalu banyak."

"Lalu sekarang... kau masih ingin menunggu kelompok lain datang?"

"..."

Tidak ada seorang pun yang mampu menjawab.

Seluruh pemimpin kelompok hanya saling berpandangan. Apa yang dikatakan Boqin Changing memang tidak bisa dibantah.

Semakin banyak orang yang berkumpul, semakin besar pula kemungkinan keberadaan mereka diketahui musuh. Operasi pengintaian seperti itu justru kehilangan maknanya.

Boqin Changing kemudian tersenyum tipis.

"Kalau begitu... mari kita ubah saja misi ini."

Semua orang langsung menoleh kepadanya.

"Aku kebetulan tidak terlalu menyukai pekerjaan mengintai."

Senyumnya masih terlihat tenang.

"Jadi... mari kita ubah misi ini menjadi..."

"Menghancurkan kelompok yang berada di dalam."

Kalimat itu membuat seluruh isi tenda membeku.

Tetua Peng sampai berkedip beberapa kali.

"Ta-tapi Senior... bukankah itu terlalu berbahaya?"

Boqin Changing menjawab dengan santai.

"Ada aku di sini."

Jawaban yang sangat sederhana. Namun justru membuat suasana menjadi semakin sunyi.

Tetua Peng masih terlihat ragu.

"Senior... Misi yang diberikan Putra Mahkota hanya sebatas melakukan pengintaian."

Boqin Changing menatapnya tanpa perubahan ekspresi.

"Kalau begitu... katakan kepadanya."

"Aku yang meminta mengubah misi ini."

"..."

Tidak ada suara lagi di dalam tenda. Para pemimpin kelompok saling berpandangan dengan wajah yang dipenuhi keterkejutan.

Di dalam hati mereka muncul pemikiran yang sama. Mungkin di seluruh Kekaisaran Qin, hanya Boqin Changing seorang yang berani mengubah isi misi yang diberikan langsung oleh pihak istana.

Bahkan lebih tepatnya, bukan sekadar berani. Melainkan memang memiliki kemampuan untuk melakukannya.

Boqin Changing kemudian berdiri dari kursinya. Tatapannya menyapu seluruh orang yang berada di dalam tenda.

"Bersiaplah. Kita berangkat sekarang."

1
Raju
hadeeeeech.....
ta apalah !!
biar alurnya lambat asal selamat
༄🥑⃟⍟Mᷤbᷡah²_Atta࿐
Mantap 👍👍
Nanik S
Baru kejutan si Tuan muda menyerah 👍👍👍
Nanik S
Wkwkwkwkwk Tuan besar kalah sama Boqin Feng...🤣🤣🤣🤣
yayat
diracunin ayahnya untuk mancing n dpt ijin dr ibunya boqin ga berkutik
Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️
hehehehe ayoooo mancing mania 👍🤣
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Hiburan 🌽🔥
༄🥑⃟⍟Mᷤbᷡah²_Atta࿐
Wu Xing tepat untuk tetap diSekte, karena dia Ketua Sekte yang ikut Boqin Changing ke Kaisaran Qin. selain menjaga Sekte bisa juga melatih orang diSekte.
Zainal Arifin
libur ???
Joedhi Ghenitz
sangat bagus, keren
Akhmad Baihaki
🤭🤭🤭🤭🤭
Blue Manusia Biasa
kacian Wu Xing🤣🤣
Nurhasnah Yolanda
mana kelanjutanya
bogel
top markotop
A 170 RI
menjaga kedua orang tuaku🤣🤣🤭
Xiao Shuxiang
VOTE MELUNCUR
Mamat Stone
/Shhh/
Mamat Stone
/Bye-Bye/
Mamat Stone
/Casual/
Mamat Stone
/CoolGuy/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!