NovelToon NovelToon
Setelah Taksi Itu Berlalu

Setelah Taksi Itu Berlalu

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Perjodohan / Nikah Kontrak / Tamat
Popularitas:12.3k
Nilai: 5
Nama Author: Selie Noris

Diabaikan oleh Arka—suaminya yang dingin—Kirana terbiasa menelan rasa sakit sendirian. Namun, sebuah kecelakaan tragis yang merenggut janinnya mengubah segalanya. Kirana yang manja dan cengeng mati di hari itu, berganti menjadi sosok wanita dingin dan mandiri yang membangun usahanya sendiri dari nol.

Saat Kirana mengembalikan fasilitas rumah tangga dan mengajukan perceraian, Arka baru tersadar dari kesalahannya. Pria yang dulu acuh kini harus meruntuhkan egonya dan mempertaruhkan segalanya demi mendapatkan kembali maaf serta cinta dari sang istri.




#NikahPaksa
#Penyesalansuami
#WanitaMandiri

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Selie Noris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 7 : Air Mata di Balik Pintu

Malam itu, langit Jakarta seolah runtuh.

Badai petir melanda kota dengan keganasan yang luar biasa. Angin kencang menderu-deru menghantam kaca jendela rumah besar keluarga Pratama, menciptakan suara bising yang menyeramkan. Kilatan cahaya putih keperakan menyambar silih berganti dari balik kaca, disusul oleh suara gemuruh guntur yang menggelegar dahsyat hingga membuat lantai di bawah kaki terasa bergetar.

Di tengah amukan badai tersebut, jaringan listrik rumah mengalami gangguan. Seluruh lampu di dalam rumah mendadak padam total, meninggalkan kegelapan pekat yang mencekam tanpa celah.

Di dalam kamar tamunya yang berada di sudut lantai bawah, Kirana meringkuk di atas tempat tidur. Ia menarik selimut tebal hingga menutupi seluruh tubuhnya, merapatkan lutut ke dada dengan tubuh yang bergetar hebat.

Phobia masa kecil Kirana terhadap kegelapan total dan suara petir yang menggelegar kembali menghantamnya tanpa ampun. Sejak kecil, Kirana selalu ditemani lampu tidur temaram dan kehadiran orang-orang terdekatnya saat badai datang. Namun malam ini, ia berada seorang diri di dalam rumah yang luas, di dalam ruangan asing, dikelilingi oleh kegelapan mutlak yang terasa seperti monster siap menerkamnya.

*CARRR-BUUK!*

Sebuah sambaran petir yang sangat dekat meledak di langit malam, disusul suara guntur yang memekakkan telinga.

"Ah!" Kirana menjerit kecil. Jeritannya tertahan di balik selimut. Jantungnya berdegup kencang tak beraturan, napasnya memburu pendek-pendek, dan keringat dingin membasahi pelipisnya. Rasa takut yang luar biasa meremukkan kewarasannya. Ketakutan itu begitu nyata hingga membuatnya merasa seolah-olah ia bisa pingsan kapan saja.

Di tengah kepanikan yang mencapai puncaknya, naluri dasar manusianya untuk mencari perlindungan mengambil alih. Dalam benaknya, ia tidak lagi mengingat aturan-aturan kaku, kontrak rumah tangga, atau benteng es yang dibangun suaminya. Yang ia tahu, di lantai atas sana, ada suaminya—pria yang memiliki ikatan sah dengannya, pria yang seharusnya menjadi tempat perlindungan di saat-saat paling mengerikan seperti ini.

Dengan langkah terhuyung-huyung, tertatih-tatih di dalam kamar yang gelap gulita, Kirana meraba dinding untuk keluar dari kamar. Ia membuka pintu, berlari menaiki anak tangga menuju lantai atas dengan kaki telanjang, menembus lorong yang gelap gulita hanya berpedoman pada kilatan cahaya petir yang sesekali menerobos jendela besar di ujung lorong.

Sesampainya di depan pintu ruang kerja Arka, Kirana mendapati celah cahaya tipis terpancar dari bawah pintu. Arka masih terjaga di dalam sana, menggunakan lampu darurat (*emergency lamp*) meja untuk menyelesaikan pekerjaannya.

Tanpa memikirkan apa pun lagi, Kirana mengetuk pintu itu dengan panik.

*Tok, tok, tok!*

"Mas... Mas Arka..." suara Kirana memanggil, bergetar hebat, nyaris tenggelam di tengah suara deru angin dan guntur di luar. "Buka pintunya, Mas... Tolong..."

Di dalam ruang kerja, Arka yang sedang memandangi layar laptop mendengarkan ketukan panik tersebut. Dahinya mengernyit. Ia bangkit dari kursi kerjanya dengan rasa terganggu yang teramat sangat. Pria itu baru saja hendak membuka dokumen penting, dan kini seseorang—yang sudah bisa ia tebak siapa pelakunya—malah datang mengetuk pintunya di malam-malam begini.

Arka melangkah cepat dan membuka pintu lebar-lebar.

"Ada apa lagi, Kirana?" suara Arka langsung meluncur tajam, penuh ketidaksabaran.

Namun, kalimat selanjutnya tertahan di tenggorokan saat melihat kondisi istrinya. Di hadapannya, Kirana berdiri dengan rambut berantakan, wajah pucat pasi tanpa warna, bibir bergetar hebat, dan air mata yang mengalir deras membasahi pipi. Kedua tangan Kirana terulur gemetar, seolah hendak mencengkeram lengan kemeja Arka untuk mencari pegangan.

"Mas... di bawah... gelap banget..." bisik Kirana terbata-bata, suaranya parau oleh isak tangis ketakutan. "Aku... aku takut sama petir. Mati lampu... Tolong temani aku sebentar saja, Mas... Kumohon..."

Bagi Kirana, itu adalah permohonan tulus dari seseorang yang sedang ketakutan setengah mati.

Namun bagi Arka, yang berdiri di balik benteng egonya yang kaku, pemandangan itu justru memicu rasa jengkel yang teramat sangat. Di tengah situasi darurat rumah yang mati lampu, Arka melihat istrinya tidak lebih dari seorang anak kecil yang merengek ketakutan hanya karena masalah cuaca sepele. Ingatannya kembali pada berbagai keluhan manja Kirana sebelumnya—mulai dari minta dijemput hujan, merajuk soal sarapan, hingga hal-hal kecil lainnya.

Raut wajah Arka mengeras. Sorot matanya berubah dingin setajam es.

"Kamu datang ke sini hanya karena mati lampu dan petir?" tanya Arka dengan nada suara rendah yang menusuk.

Kirana mengangguk pelan, air matanya semakin deras tumpah. "Iya, Mas... aku phobia... di bawah gelap banget, aku nggak tahan sendirian..."

"Cukup, Kirana!" bentak Arka tiba-tiba, memotong kalimat Kirana tanpa ampun. Suaranya bergema tegas di sepanjang lorong.

Bentakan itu membuat Kirana terperanjat mundur satu langkah, dadanya berdenyut nyeri.

"Kamu ini wanita dewasa, bukan anak kecil berumur lima tahun yang ketakutan saat badai datang!" Arka menatap Kirana dengan pandangan penuh muak dan ketidakhormatan. "Hanya karena mati lampu sebentar saja, kamu berlari ke sini membuat keributan dan mengganggu pekerjaan saya? Betapa cengeng dan memalukannya dirimu!"

Kata *cengeng* itu meluncur begitu saja dari bibir Arka, menghujam langsung ke ulu hati Kirana bagaikan belati panas.

"Mas... aku benar-benar takut..." suara Kirana mencicit putus asa, mencoba meraih sisi jas Arka.

"Jangan sentuh saya!" Arka menepis tangan Kirana dengan gerakan kasar dan cepat, seolah sentuhan itu adalah sesuatu yang menjijikkan.

Kirana tertegun. Tangannya melayang di udara, terpaku melihat reaksi suaminya yang begitu kejam.

"Pulang ke kamar kamu sekarang," perintah Arka dengan nada mutlak yang tidak bisa diganggu gugat. "Saya tidak punya waktu untuk meladeni ketakutan konyol atau sifat cengeng kamu. Berhenti bersikap manja dan belajarlah menghadapi dunia nyata seorang diri."

*Brak!*

Pintu ruang kerja itu dibanting tertutup di depan wajah Kirana. Kunci berputar dari dalam, menandakan gerbang perlindungan terakhir itu telah dikunci rapat-rapat untuknya.

Kirana berdiri terpaku di dalam lorong yang gelap gulita. Sesaat setelah pintu tertutup, sebuah sambaran petir kembali menyambar dahsyat, menerangi lorong lewat jendela kaca di sampingnya dengan kilatan cahaya putih yang menyilaukan, disusul suara guntur menggelegar.

Namun, ketakutan terhadap petir dan kegelapan yang tadinya mencekik leher Kirana mendadak lenyap begitu saja, tergantikan oleh sesuatu yang jauh lebih dingin dan mati di dalam dadanya.

Tidak ada lagi air mata yang tersisa. Napasnya yang tadinya memburu kini perlahan-lahan mereda, digantikan oleh keheningan total di dalam rongga dadanya.

Kirana membalikkan badannya secara perlahan. Dengan langkah gontai namun pasti, ia menuruni tangga kembali ke dalam kegelapan lantai bawah seorang diri. Ia memasuki kamar tamunya, menutup pintu rapat-rapat, dan merebahkan diri di atas tempat tidur tanpa menyalakan apa pun. Ia membiarkan kegelapan malam menelannya bulat-bulat.

Malam itu, di dalam kamar yang gelap dan sunyi, Kirana menyadari satu kebenaran mutlak: di dunia ini, ia benar-benar sendirian. Dan mulai detik itu juga, air mata cengeng yang selama ini menjadi kelemahannya telah resmi menguap, membakar habis sisa-sisa gadis manja yang mendamba cinta suaminya.

1
putmelyana
semangat thor 💪
Selie Noris: Kak, terima kasih ya.... ♥️
total 1 replies
Selie Noris
♥️♥️♥️
Sulicungliieee
ડɑ𝗍υ ƙɑ𝗍ɑ υ𐓣𝗍υƙოυ ɑ𝗋ƙɑ.......ડυ𝗈𝗈ƙ𝗈𝗋𝗋𝗋𝗋𝗋.....
Selie Noris: Kak, makasih sudah mampir....
total 1 replies
Yusria Mumba
seorang wanita kalau sudah sakit hatiny, susah d, obati,
Selie Noris: Kak, terima kasih sudah mampir. ♥️
total 1 replies
Yusria Mumba
nyesalkan sudah terlambat,
Selie Noris: Kak, terima kasih sudah mampir. ♥️
total 1 replies
Yusria Mumba
ti galon ajasumi kaya gitu,
Selie Noris: Kak, terima kasih sudah mampir. ♥️
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!