NovelToon NovelToon
Pak Dosen Galak, Awas Jatuh Cinta

Pak Dosen Galak, Awas Jatuh Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Dosen / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: W_ Wulandari

Kirana cuma pengen kuliah tenang. Tapi dosen paling galak sekampus malah jadi orang yang bikin jantungnya berdebar tanpa alasan.

Status dosen dan mahasiswi jadi tembok pemisah. Masa lalu kelam Alden jadi ancaman yang siap menghancurkan semuanya.

Satu pertanyaan tersisa: berani nggak, Kirana, jatuh cinta pada orang yang paling dilarang buat dicintai?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon W_ Wulandari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18: TEGURAN YANG TERASA BERBEDA

Suasana kelas Manajemen Strategis terasa lebih formal dari biasanya sejak Alden memutuskan untuk kembali menjaga jarak dengan Kirana. Dia kembali mengajar dengan gaya tegas seperti dulu, tidak ada lagi tatapan lama, tidak ada lagi pertanyaan personal di luar konteks akademik.

Kirana duduk di bangkunya, mencoba fokus pada materi presentasi bisnis yang sedang dijelaskan, meski dalam hati dia masih merasakan sisa kekecewaan dari percakapan mereka beberapa hari lalu. Dia mengerti alasan Alden, tapi mengerti tidak selalu membuat perasaan itu menjadi lebih ringan untuk dijalani.

"Hari ini kita akan mulai sesi presentasi individu untuk menilai kemampuan analisis kalian secara personal," kata Alden, membagikan lembar undian nomor urut presentasi ke setiap mahasiswa. "Setiap orang punya waktu lima menit untuk mempresentasikan studi kasus yang sudah saya bagikan minggu lalu."

Kirana mengambil undian nomornya, mendapati dia berada di urutan keenam, cukup di tengah tengah sehingga dia punya waktu untuk mengamati beberapa presentasi sebelum gilirannya tiba.

Presentasi berjalan satu demi satu, Alden mendengarkan dengan seksama, sesekali memberikan pertanyaan tajam yang membuat beberapa mahasiswa terlihat kewalahan menjawab. Kirana memperhatikan caranya menilai, tetap objektif dan tegas seperti biasa, tidak ada perbedaan perlakuan yang mencolok meski Kirana tahu ada sesuatu yang berbeda di balik topeng profesional itu.

Ketika giliran Kirana tiba, dia berdiri di depan kelas dengan sedikit gugup, membuka slide presentasinya yang sudah dia siapkan dengan detail selama beberapa hari terakhir.

"Silakan mulai," kata Alden, nadanya datar seperti biasa, tanpa ada nada khusus yang membedakan dari mahasiswa lain.

Kirana menarik napas dalam, mulai mempresentasikan analisisnya tentang studi kasus perusahaan retail yang menghadapi persaingan ketat dari platform e-commerce. Dia menjelaskan dengan lancar, meski sesekali matanya secara tidak sengaja bertemu dengan mata Alden yang mengamati dari kursi penilai.

"Berdasarkan analisis SWOT yang saya lakukan," Kirana melanjutkan, "strategi yang paling tepat adalah diversifikasi channel penjualan, dengan fokus utama pada integrasi platform online dan offline secara bersamaan."

Presentasi berjalan lancar selama empat menit pertama, tapi ketika Kirana masuk ke bagian rekomendasi implementasi, Alden mengangkat tangan, memotong presentasinya di tengah jalan.

"Tunggu sebentar," katanya, nadanya tegas.

"Kamu bilang integrasi online dan offline, tapi kamu nggak jelasin gimana perusahaan ini bisa danai investasi teknologi yang dibutuhkan untuk integrasi itu."

Kirana terdiam sejenak, sedikit terkejut dengan interupsi yang cukup tajam itu.

"Saya... asumsikan perusahaan bisa dapet pendanaan dari investor, Pak."

"Asumsi itu terlalu lemah," Alden menjawab, nadanya lebih tegas dari yang biasa dia gunakan ke mahasiswa lain hari ini. "Coba jelaskan lebih spesifik, dari mana sumber dana itu, dan berapa proyeksi return of investment-nya."

Kirana merasakan tekanan yang lebih besar dari biasanya, jantungnya berdebar bukan karena hal manis kali ini, melainkan karena rasa gugup menghadapi pertanyaan yang tidak dia siapkan jawabannya secara detail.

"Saya... belum hitung spesifik soal itu, Pak. Tapi saya bisa asumsikan berdasarkan rata rata industri."

"Kalau begitu, presentasi kamu belum lengkap," kata Alden, nadanya lebih dingin dari yang pernah Kirana dengar belakangan ini. "Analisis tanpa perhitungan finansial yang jelas cuma teori kosong."

Kritik itu terasa lebih tajam dari biasanya, membuat Kirana merasa seperti dipermalukan di depan kelas, sesuatu yang sudah lama tidak dia rasakan sejak minggu minggu awal perkuliahan. Beberapa mahasiswa lain saling melirik, sedikit terkejut dengan nada Alden yang terdengar lebih keras dari biasanya untuk kasus seperti ini.

"Baik, Pak, saya akan perbaiki di revisi berikutnya," jawab Kirana, mencoba menjaga suaranya tetap tenang meski dalam hati dia merasa tertohok.

"Lanjutkan presentasinya," kata Alden singkat, kembali fokus mencatat sesuatu di kertas penilaiannya.

Kirana melanjutkan sisa presentasinya dengan suara yang sedikit bergetar, kepercayaan dirinya goyah karena kritik tajam tadi. Begitu selesai, dia kembali duduk di bangkunya, menahan rasa malu dan kecewa yang bercampur aduk.

"Kir, kamu nggak apa apa?" bisik Tesa yang duduk di sebelahnya, memperhatikan raut wajah Kirana yang terlihat murung.

"Nggak apa apa," jawab Kirana pelan, meski suaranya jelas menunjukkan sebaliknya.

Sepanjang sisa kelas, Kirana tidak lagi seaktif biasanya, hanya mencatat seadanya sambil sesekali menahan diri agar tidak menatap ke arah Alden yang terus melanjutkan sesi presentasi mahasiswa lain dengan gaya yang sama tegasnya.

Begitu kelas selesai, Kirana buru buru merapikan bukunya, berniat segera keluar sebelum rasa kecewa itu semakin terlihat jelas di wajahnya. Tapi ketika dia melewati meja Alden, dosen itu memanggilnya pelan.

"Kirana, sebentar."

Kirana berhenti, menoleh dengan ekspresi yang berusaha dia jaga tetap netral. "Ada apa, Pak?"

Alden menunggu sampai kelas benar benar kosong, hanya menyisakan mereka berdua.

"Saya tau tadi kritik saya terdengar keras."

"Nggak apa apa, Pak. Itu emang kesalahan saya kok, nggak siapin perhitungan finansial dengan baik," jawab Kirana, mencoba terdengar profesional meski hatinya masih terasa berat.

"Kirana," Alden menghela napas, matanya menunjukkan sedikit penyesalan, "sejujurnya, saya sengaja lebih keras ke kamu tadi."

Pengakuan itu membuat Kirana terkejut.

"Kenapa, Pak?"

"Karena saya khawatir, kalau saya terlalu lunak ke kamu di depan kelas, orang lain bakal curiga," jelas Alden, nadanya lebih pelan. "Jadi saya kompensasi dengan jadi lebih keras, mungkin terlalu keras."

Kirana terdiam, mencerna penjelasan itu. Rasa kecewa yang tadi dia rasakan berubah menjadi sesuatu yang lebih kompleks, campuran antara pengertian dan kesedihan yang sulit dia definisikan. "Jadi ini juga bagian dari... jaga jarak yang Bapak bilang kemarin?"

Alden mengangguk pelan, tampak tidak nyaman dengan situasi itu. "Saya minta maaf kalau caranya bikin kamu ngerasa dipermalukan. Itu bukan maksud saya."

"Saya ngerti, Pak," Kirana menjawab, meski suaranya masih terdengar sedikit kecewa.

"Tapi jujur aja, rasanya beda. Biasanya kalau Bapak kritik, saya bisa terima karena emang buat kebaikan saya. Tapi kali ini rasanya kayak... ada alasan lain di baliknya."

Alden terdiam, menatap Kirana dengan ekspresi yang menunjukkan pergulatan batin.

"Kamu benar. Dan saya minta maaf soal itu."

"Nggak apa apa, Pak," Kirana mencoba tersenyum, meski senyum itu tidak sepenuhnya tulus. "Saya ngerti posisi Bapak susah. Saya cuma... butuh waktu buat nyesuaiin diri sama cara baru ini."

"Saya juga," Alden mengakui, suaranya pelan. "Ini nggak mudah buat saya juga, Kirana."

Mereka terdiam sejenak, keheningan yang canggung mengisi ruangan itu. Kirana akhirnya memutuskan untuk mengakhiri percakapan sebelum suasana semakin berat.

"Kalau gitu saya permisi dulu, Pak. Makasih penjelasannya."

"Kirana," panggil Alden sekali lagi sebelum dia benar benar pergi. "Perhitungan finansial yang kamu skip tadi, itu beneran perlu diperbaiki. Bukan cuma alasan buat kritik keras aja."

"Siap, Pak. Saya bakal perbaiki," jawab Kirana, mengangguk sebelum akhirnya benar benar keluar ruangan.

Dia berjalan menyusuri koridor dengan perasaan yang campur aduk, kecewa karena cara Alden memperlakukannya di kelas, tapi juga mengerti alasan di baliknya, dan yang paling berat, sedih karena menyadari betapa rumitnya situasi yang mereka berdua hadapi, situasi yang membuat kedekatan yang baru saja mereka bangun harus dibungkus dengan sikap dingin di depan umum demi menjaga agar tidak ada yang curiga.

Di dalam ruangan yang kini kosong, Alden duduk diam, menatap kertas penilaian yang baru saja dia isi untuk presentasi Kirana. Nilainya tetap bagus, meski dia sengaja menuliskan catatan kritik yang lebih detail dari biasanya, sebagai bentuk kompensasi atas kelembutan yang mungkin akan terlihat mencolok kalau dia menilai terlalu baik.

"Semoga ini cara yang benar," gumamnya pelan, meski keraguan masih menggantung berat di dadanya, menyadari bahwa menjaga jarak ternyata jauh lebih menyakitkan dari yang dia bayangkan, baik untuk dirinya sendiri maupun untuk Kirana yang harus menanggung akibat dari keputusan itu tanpa sepenuhnya mengerti alasan di baliknya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!