Rumi sudah tiga tahun menikah dengan Fathur. Sebenarnya rumah tangga mereka baik-baik saja. Hanya saja menjadi tidak baik-baik karena selalu di recoki oleh ibu dan keluarga Fathur lainnya.
Hingga akhirnya saat Rumi kembali hamil, namun untuk kedua kalinya juga dia harus kegu guran karena ulah sang ibu mertua. Bu Sri tak pernah ingin jika Fathur memiliki anak dari Rumi.
Rumi jelas marah dan pun cak amarahnya saat Bu Sri membawa mantan dari Fathur ke dalam kehidupan ruang tangga mereka. Fathur bahkan tak mampu untuk membela istrinya.
Apakah dengan kenyataan seperti ini Rumi siap menjadi janda? Ataukah dia malah lebih memilih bertahan dengan kenyataan seperti itu?
"Jangan banyak membantah jika kamu tak ingin di Jan da kan oleh Fathur!" ancam Bu Sri.
"Jadi Jan da? Siapa takut Bu!" jawab Rumi membuat suami dan ibu mertuanya melongo tak percaya.
Ikuti terus kisah Arumi selengkapnya. Jangan lupa baca sampai akhir, karena ada banyak keseruan dari Rumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jadi Janda? Siapa Takut? 31
"Sebentar saja! Ada hal penting yang harus ibu bicarakan. Ini Masalah Rumi!" jawab Bu Sri.
"Rumi? Ada apa lagi dengan wanita kampung itu?" ketus Hana sambil mengelus perut buncitnya. Tinggal menghitung hari akan melahirkan.
Mendengar nama Rumi disebut, suasana ruang tamu yang pengap itu mendadak jadi makin tegang. Hana dan Intan segera memperbaiki posisi duduk, wajah mereka berubah sinis. Begitupun dengan Dona dan Bu Siti yang tampak sangat antusias mendengarkan rencana keluarga Fathur untuk Rumi.
"Rumi sudah keterlaluan!" seru Bu Sri.
"Dia sudah berkali-kali mempermalukan ibu! Di rumah kontrakan, di depan para tetangga, di toko roti tempat dia bekerja dan terakhir di rumah dinas milik mereka yang baru! Bahkan ibu tak di perbolehkan untuk masuk ke dalam sana!" Bu Sri memulai pembicaraan dengan da-da naik turun menahan emosi.
"Tak cukup sampai di situ! Karena ulahnya juga kini sisa cicilan motor Elisa yang satu tahun mereka tak mau membayarnya! Kemudian uang bulanan untuk ibu juga tak ada lagi. Begitupun denhan uang kuliah Elisa. Fathur menghentikan semuanya karena ulah Rumi. Fathur membela Rumi terang-terangan di depan semua orang. Apalagi dia dalam keadaan hamil sekarang!" ucapan Bu Sri membuat kedua menantunya saling pandang.
Tidak. Mereka tak mau tanggungan Bu Sri yang banyak itu. Selama ini mereka selalu senang karena seumur rumah tangga mereka tak pernah di pusingkan dengan memberikan jatah kepada Bu Sri kecuali saat hari raya saja. mendengar hal itu mereka saling pandang seolah satu sama lain mengerti isi hatinya hanya dengan isyarat mata.
"Kenapa bisa berubah seperti itu? Bukannya selama ini Fathur sangat menyayangi dan bahkan selalu menuruti semua ucapan ibu? Aku dengar dia juga baru naik jabatan jadi wakil manager. Gajinya pasti sangat besar Bu! Bahkan jatah ibu juga bisa lebih dari kemarin. Hamil bukan alasan untuk Fathur memberikan kewajibannya sebagai anak kepada ibu," Hana berbicara seolah dia adalah menantu yang paling banyak memberi kepada mertuanya.
Padahal di antara ketiga menantunya, Hana adalah menantu yang berasal dari keluarga kaya. Makanya Bu Sri sangat bangga dengan menantunya itu. Tapi dia selalu menutup mata jika kedua menantu dan anaknya yang lain tak pernah memberikan kewajibannya kepada dia seperti yang dia minta kepada Fathur dan Rumi yang di anggap menantu paling miskin itu.
"Benar Bu! Hamil bukan alasan yang tepat membuat mereka menghentikan kewajibannya. Fathur harus bisa kita sadarkan kembali dari pengaruh wanita itu. Jangan sampai di biarkan malah membuat dia merasa di atas angin dan pada akhirnya menguasai Fathur sendirian. Fathur akan menelantarkan Ibu karena pengaruh wanita itu!" ujar Intan dengan menggebu.
"Bahkan dia juga sudah berani menghina aku dan ibu saat akan membeli roti di sana. Dia mempermalukan aku dengan ucapannya kalau aku sengaja mendekati Fathur dan ingin merebutnya dari dia. Padahal, aku juga tahu kalau Fathur masih mencintaiku seperti dulu. Dia hanya menggunakan anak yang belum tentu lahir sebagai alasan agar menjauhkan Fathur dari semua orang seperti mbak intan bilang tadi. Dia ingin menguasai Fathur beserta uangnya sendirian. Tanpa peduli dengan ibu dan saudaranya yang lain. Rumi ini dia licik! Walaupun penampilannya kampungan!" Dona mengompori.
"Satu-satunya cara menarik Fathur kembali peduli kepada ibu seperti yang aku katakan tadi. Ibu pura-pura sakit parah! Kita tak punya jalan lain!" Ujar Fajar.
Semua orang saling pandang. Berharap ini adalah solusi yang bagus untuk mereka saat ini. Bu Sri terdiam sejenak, lalu seringai tipis muncul di wajahnya yang mulai keriput.
"Sakit ya? Sakit yang membuat Fathur merasa bersalah setengah mati sampai dia harus menceraikan wanita itu karena dianggap pembawa sial." ujar Bu Sri dengan kilatan yang lebih dalam.
Dia membayangkan uang gaji Fathur yang banyak akan menjadi miliknya. Belum lagi fasilitas kantor dari rumah, kendaraan dan fasilitas lainnya. Hidupnya bisa jauh lebih enak. Apalagi nanti juga akan punya menantu yang kerja kantoran seperti Dona. Bu Sri berfikir jika dia akan mendapatkan keuntungan dua kali lipat.
Namun dia lupa, bahkan dua anaknya yang lain saja tak ada yang memberinya uang bulanan. Padahal kedua anak dan menantunya bekerja dan memiliki penghasilan sendiri. Mereka selalu perhitungan dan punya seribu alasan saat ibu mertuanya meminta uang. Entahlah matanya ketutupan gajah sepetinya Bu Sri ini.
"Tapi bagaimana rencananya agar terlihat sempurna dan Fathur percaya?" tanya Intan.
Fajar menyeringai. Dia dan Fikri semalam sudah membicarakannya sepulang dari rumah ibunya dan bertemu dengan Pak Bono. Fajar menjelaskannya sedangakan yang lain mendengarkan dengan seksama.
"Lalu dari mana uang untuk semua itu, Mas?" tanya Hana menatap tajam ke arah suaminya. Jangan bilang menggunakan uang mereka.
"Semalam Pak Bono memberikan uang kepada Ibu, kita bisa menggunakan uang itu!" jawab Fajar membuat Hana mengangguk lega.
"Loh uangnya sebagian sudah di pakai untuk bayar cicilan motor yang jatuh tempo hari ini dan uang saku Elisa untuk satu Minggu kedepan. Uangnya sisa tujuh ratus ribu lagi," Bu Sri menunjukkan sisa uang kepada anak dan menantunya.
Senyum lega dari kedua menantunya perlahan mulai hilang. Pada akhinya mereka harus patungan untuk menyewa ini dan itu yang akan di gunakan untuk menunjang akting Bu Sri nantinya. Senyum keduanya berubah menjadi wajah yang di tekuk. Sedangkan kedua suaminya tak bisa berkutik.
rencana pura2 sakit akhir ny sakit beneran ,, fathur yg kecewa krn di bohongi dg alasan sakit ,, jd gx percaya ( semoga ) dsaat ibu ny sakit beneran ,, gmna tuuuh rasa ny bu sriii Dan kawan2 ,, 😒😒😒😒
punya rencana koq dangkal ,,
semoga rencana mereka gagal total ,, biarin tu si Dona Dan menantu bu Sri yg lain jd babu dadakan ,,
Dan Elisa yg tau rencana ini bisa kasih tau fathur ,,
biar fathur gx ke jebak ,,
nnti penyesalan akn tiba tempat pda waktu ny ,, disaat semua terjadii mungkin Rumi udh pergiii atau udh menjadi sosok yg gx mereka kiraa sebelum ny ,, 😒😒😒😒
bukan sama manusia ,, bner kata Rumi ,, rencana manusia tu baik ,, tp rencana Tuhan tu luar biasa ,,, semangat trus rumii ,, Tuhan tu tdak tidur ,, /Smile//Smile//Smile/