NovelToon NovelToon
TEROR!

TEROR!

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Hantu
Popularitas:6.8k
Nilai: 5
Nama Author: Maple_Latte

Sinopsis

Sabrina, seorang gadis desa yang cerdas, berhasil meraih impiannya berkuliah di kampus elite ibu kota lewat jalur beasiswa.

Namun, kehidupan barunya yang tampak sempurna hancur berantakan ketika sebuah tragedi tak terduga terjadi: Sabrina nekat melompat dari lantai atas gedung kampus dan tewas seketika.

Kematian tragis tersebut menyisakan tanda tanya besar bagi orang-orang di sekitarnya. Apa yang sebenarnya terjadi di balik tembok kampus megah itu hingga mendorong Sabrina mengambil langkah se-ekstrem itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maple_Latte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hasil yang tidak diharapkan!

Sabrina mematung cukup lama di tepi ranjang, menatap kantong plastik hitam di pangkuannya seolah-olah benda itu adalah sebuah bom waktu yang siap meledak kapan saja.

Setiap detik yang berlalu justru makin meremas dadanya dengan rasa cemas yang tak tertahankan.

Akhirnya, dengan sisa keberanian yang dipaksakan, ia bangkit. Langkah kakinya terasa begitu berat dan lambat saat ia berjalan gontai menuju kamar mandi.

Ia menutup pintu kamar mandi rapat-rapat. Ruangan sempit berkeramik dingin itu mendadak terasa makin mengecil, menyekapnya dan menyiksa.

Sabrina berdiri mematung di depan wastafel, menatap pantulan dirinya sendiri di cermin yang samar. Wajahnya begitu pucat, memancarkan rasa takut luar biasa.

Tangannya yang basah oleh keringat dingin terangkat pelan, membuka kantong plastik hitam itu. Ia mengeluarkan bungkus kemasan alumunium foil dari dalamnya.

Jemarinya gemetar hebat saat menyentuh pinggiran kemasan tersebut.

Tiba-tiba, gerakan tangannya terhenti.

Rasa ragu yang teramat sangat menyergap pikirannya dengan keras.

Bagaimana kalau hasilnya positif? bisik sebuah suara di dalam kepalanya, disusul oleh bayangan masa depannya yang hancur, kekecewaan orang tuanya, dan ketidakpastian sikap Julian.

Pikiran-pikiran mengerikan itu datang bertubi-tubi, menghentikan napasnya seketika.

Sabrina menarik kembali tangannya, meremas kemasan tes kehamilan itu di dadanya seraya memejamkan mata rapat-rapat.

Air mata ketakutan mulai menetes membasahi pipinya yang dingin. Bagian dari dirinya menjerit ingin membuang alat tes itu ke dalam tong sampah dan berpura-pura tidak terjadi apa-apa.

berpura-pura bahwa ini semua hanyalah gangguan hormon biasa. Berada dalam ketidakpastian rasanya jauh lebih aman daripada harus menghadapi kenyataan pahit yang mungkin tidak sanggup ia tanggung.

Namun, rasa mual yang mendadak kembali bergejolak tipis di perutnya seolah menjadi teguran keras. Ia tidak bisa terus berlari. Bersembunyi hanya akan membuat hidupnya disiksa oleh rasa cemas setiap hari.

"Tuhan... tolong..." bisik Sabrina dengan suara parau yang nyaris tenggelam oleh kesunyian.

Dengan bibir yang memutih dan bergetar, Sabrina membuang napas panjang lewat mulut, mencoba mengendalikan getaran hebat di seluruh tubuhnya. Ia membuka matanya perlahan, kembali pada bungkus kemasan di tangannya.

Dengan hati-hati dan gerakan serba canggung, jemarinya perlahan menyobek bungkus alat tes itu.

Bunyi gesekan plastik yang terobek terasa begitu nyaring di telinganya di dalam ruangan sepi itu.

Dia mengeluarkan stik strip putih kecil itu dengan sangat perlahan, seolah benda ringan itu sangat besar dan berat di tangannya.

Sabrina sempat membaca ulang petunjuk pemakaian di balik kemasan dengan mata berkaca-kaca, memastikan ia tidak melakukan kesalahan kecil sekalipun akibat rasa gugupnya.

Setelah menetralkan detak jantungnya yang berdegup liar seperti ingin melompat keluar dari dada, Sabrina akhirnya membulatkan tekad.

Dengan tangan yang masih bergetar dan napas yang tertahan di kerongkongan, ia mulai menjalankan proses pengujian itu langkah demi langkah, membiarkan takdir menentukan jawaban.

Mengikuti petunjuk penggunaan yang dibacanya berulang kali, Sabrina mencelupkan batas garis stik strip putih itu ke dalam wadah penampung kecil yang telah ia siapkan dengan cermat.

Selama beberapa detik yang menyiksa, matanya terfokus pada cairan yang perlahan meresap naik membasahi permukaan kertas putih tipis tersebut.

Dia dengan cepat meletakkannya secara horizontal di atas permukaan kering tepi wastafel.

Ia lalu membalikkan posisi stik tersebut.

Sabrina sengaja meletakkannya menghadap ke bawah agar indikator garisnya tidak langsung terlihat.

Dia belum siap. Dadanya bergemuruh begitu kencang hingga suara detak jantungnya sendiri terdengar memenuhi kedua telinganya, beradu dengan suara halus keran air yang sengaja ia biarkan mengalir tipis.

Dia memejamkan mata rapat-rapat. Berharap hasilnya seperti yang dia harapkan.

Satu menit. Dua menit. Tiga menit.

Waktu terasa berjalan begitu lambat, membeku dalam keheningan yang menyiksa jiwanya.

Di balik matanya yang terpejam, ribuan ketakutan menari-nari tanpa ampun. Segalanya kini bergantung pada selembar kertas kecil yang tergeletak bisu di atas wastafel.

"Tuhan... tolong, tolong cuma garis satu... Cuma masuk angin biasa, tolong..." bisik Sabrina berulang kali bagai mantra.

Ketika waktu tunggu yang ditentukan petunjuk pemakaian dirasanya sudah cukup, keheningan kamar mandi serasa menuntut jawaban.

Sabrina tahu ia tidak bisa bersembunyi di atas lantai dingin ini selamanya. Kenyataan itu harus ia hadapi detik ini juga.

Dengan sisa-sisa keberanian yang rapuh, Sabrina memaksakan kakinya yang lemas untuk bangkit berdiri.

Ia mendekat ke arah wastafel, langkah demi langkah. Pandangannya terpaku pada punggung stik putih yang masih terbalik itu.

Napas Sabrina tertahan di kerongkongan. Telapak tangannya yang basah oleh keringat dingin terulur pelan. Dengan jemari yang tak berhenti bergetar, ia menyentuh ujung stik tersebut, lalu perlahan-lahan membaliknya.

Mata Sabrina membelalak seketika.

Di atas permukaan kertas putih yang terang benderang di bawah lampu kamar mandi, tampak jelas dua garis merah menyala tegak lurus.

Tidak ada keraguan, tidak ada ketidakjelasan. Dua garis merah itu berdiri tegas, memutus seluruh harapannya menjadi serpihan tak berbekas.

Dunia Sabrina seketika hening. Pijakan kakinya serasa runtuh menghantam dasar jurang paling dalam. Dua garis merah itu menatapnya balik, sebuah kepastian mengerikan yang kini resmi mengubah seluruh garis hidupnya selamanya.

Dua garis merah itu seolah menertawakan seluruh penyangkalan yang ia bangun sejak tadi.

Sabrina membeku. Lututnya seketika lolos, tak lagi mampu menopang bobot tubuhnya. Ia ambruk ke lantai kamar mandi yang dingin, terduduk pasrah dengan mata melebar menatap kosong ke udara. Stik kecil di tangannya terlepas, jatuh tergeletak begitu saja.

Aku... hamil?

Suara batinnya berbisik parau, namun rasanya seperti dentuman meriam yang menghancurkan seluruh dunianya menjadi kepingan tak berharga.

Ini adalah hal yang paling tidak pernah ia harapkan dalam hidupnya. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya pecah seketika, mengalir deras membasahi pipinya yang pucat pasi.

Tangisnya pecah tanpa suara, berganti menjadi isakan sesak yang begitu menyiksa di dalam dada. Ia meremas bajunya sendiri rapat-rapat di bagian perut, bergidik ketakutan membayangkan masa depan yang kini mendadak gelap gulita.

Kuliahnya, impian-impian yang sering ia bicarakan dengan bangga, harapan besar orang tuanya, semuanya sirna dalam sekejap hanya karena dua garis merah tersebut.

Lalu, bagaimana dengan Julian? Pria yang selalu memintanya percaya, pria yang selalu meyakinkannya bahwa obat itu aman. Apakah Julian akan bertanggung jawab, atau justru berbalik meninggalkannya sendirian menghadapi badai ini?

Di dalam kamar mandi yang sempit dan remang itu, Sabrina memeluk tubuhnya sendiri yang bergetar hebat, tenggelam dalam penyesalan dan ketakutan luar biasa akan takdir baru yang kini terhampar di depannya.

1
Nurr Tika
apa teman"julian ada hubunganya dengan kematian sabrina
Nurr Tika
julian km ga akan hidup tenang
Nurr Tika
kayanya sabrina hamil terus julian ga mau tanggung jawab
Nurr Tika
nanti km menyesal sabrina
Nurr Tika
sabrina knpa langsung suka sih harusnya selidiki dulu
Nurr Tika
ternyata julian palayboy
Siti Yatmi
nah kan..bener 1 lagi test pack menghancurkan wanita bodoh....sabrina kamu sadar ga sih...kamu itu cinta bukan budak nafsu, setiap ketemu ko pasti anu2..ya hamil lah...
Siti Yatmi
test pack.....jawaban yg selalu membuat hancur wanita bodoh....
Siti Yatmi
ya Tuhan sabrina..kasian banget kamu, terlalu naif kamu jd cwe....
Siti Yatmi
nah..kan hamidun...deh...hadehhh..sabrina oon amat sih..ga selamanya itu pil bisa cegah kehamilan...astogeeeee....
Siti Yatmi
masih abu2 sementara..menerka nerka...😄
Siti Yatmi
ya Tuhan sabrina..lo mah bukan polos, tapi begoooo....pacaran aja belom lama, udh mau aja di anu anu..haduhh
Siti Yatmi
hadehhh .julian....kamu mah bukan cinta, tapi nafsu....harus nya sabrina jgn mau...
Siti Yatmi
ngga ada caption nya thor..🤣
Siti Yatmi
thor...itu flash back kah???sumpah..ga mudeng aku...😄
Maple latte: iya itu flashback🤭 aduhh🤣
total 1 replies
Siti Yatmi
kaya lagu kotak...🤭
Siti Yatmi
masih teka teki banget..hemmmm...ayo thor...jadi penasaran tingkat dewa...wk2
Maple latte: 🥰🥰 Sabar ya, pelan2 aja🤭
total 1 replies
Siti Yatmi
ya ampun julian....org mah ikut kata hati, bukan kata temen, ya kali temen lu mati, lu juga ikut..dablek banget ih...
Siti Yatmi
kaya nya julian cinta sama sabrina,tapi ego nya terlalu tinggi, kasian sabrina ..
Riska Salahudin
masih penasaran apa yg membuat sabrina bundir
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!