NovelToon NovelToon
Dicampakkan Suami, Diam-Diam Jadi Miliarder

Dicampakkan Suami, Diam-Diam Jadi Miliarder

Status: sedang berlangsung
Genre:Perubahan Hidup / Kaya Raya / Penyesalan Suami / Penyesalan Keluarga
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Awan

elama dua belas tahun, Nan Shin Sim mengabdikan hidupnya untuk keluarga.
Ia bekerja sebagai perawat, melayani ibu mertua, membesarkan dua anak, sementara suaminya, dr. Cheng An Kho, diam-diam membangun keluarga lain bersama wanita yang dicintainya.
Ketika perselingkuhan itu terbongkar, Nan Shin kehilangan segalanya.
Rumah.
Harta.
Bahkan hak asuh kedua putranya.
Semua orang mengira wanita itu telah benar-benar hancur.
Namun tepat ketika ia meninggalkan keluarga Kho dengan tangan kosong, sebuah telepon misterius dari Singapura mengubah jalan hidupnya.
Sejak hari itu, Nan Shin mulai menyembunyikan sesuatu.
Sesuatu yang cukup besar untuk membalikkan nasibnya.
Dan ketika mantan suami, ibu mertua, serta orang-orang yang pernah menginjaknya mulai menyadari ada yang tidak beres...
sudah terlambat.
Karena wanita yang mereka kenal...
bukan lagi Nan Shin Sim yang dulu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Awan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 18

Bab 18

“Jangan Ganggu dr. Kho”

Map kontrak terus menekan sisi tubuh Nan Shin sampai ia turun dari ojek online di depan Cluster Verona.

Lampu ruang kerja masih menyala. Dari balik jendela, ia melihat Cheng An berdiri di depan layar laptop sambil berlatih presentasi. Ibu Kho duduk di sofa dengan beberapa lembar catatan, sesekali mengangkat jari untuk mengoreksi.

Nan Shin menarik napas sebelum membuka pintu.

Yi Chen berlari menyambutnya. “Mama pulang!”

Ia berjongkok dan memeluk putranya. Tubuh kecil itu hangat dan berbau sabun.

“Sudah makan?”

“Sudah. Popo masak ayam.”

Yi Ming muncul dari tangga. “Mama, besok tanda tangan buku tugas.”

“Taruh di meja kamar. Nanti Mama lihat.”

“Sekarang aja, Ma. Besok aku lupa.”

Nan Shin melihat ruang kerja, lalu mengangguk. Ia naik bersama Yi Ming, memeriksa satu halaman matematika, dan menandatangani kolom orang tua. Kegiatan itu hanya memerlukan empat menit, tetapi ketika kembali turun, Cheng An sudah menutup pintu ruang kerja.

Nan Shin mengetuk.

Ibu Kho segera berdiri dari sofa. “Cheng An lagi latihan.”

“Aku perlu bicara sebentar.”

“Besok saja. Hari Senin presentasi terakhir.”

“Ini tentang pekerjaanku.”

“Justru jangan ganggu dr. Kho pas lagi seleksi wakil kepala unit.”

Nan Shin memandangnya. “Dia suamiku, Ma. Aku nggak sedang minta konsultasi dokter.”

Pintu ruang kerja terbuka. Cheng An tampak lelah.

“Ada apa?”

Nan Shin mengangkat map. “Namaku masuk draf daftar penghentian kontrak.”

Cheng An melirik ibunya, lalu kembali kepada Nan Shin. “Draf berarti belum final.”

“Jadwalku sudah dipotong. HRD sudah memanggil.”

“Apa kata Bu Ratna?”

“Dia minta aku bersiap.”

Ibu Kho menyela, “Sudah, kan? Belum final. Jangan bikin Cheng An kehilangan fokus karena kabar yang belum pasti.”

“Bagi saya ini bukan kabar kecil.”

Cheng An mengusap wajah. “Aku nggak bilang kecil. Tapi aku harus kirim revisi presentasi malam ini.”

“Aku cuma butuh sepuluh menit.”

“Sepuluh menit untuk apa? Kalau keputusan HRD belum keluar, kita juga belum bisa melakukan apa-apa.”

Nan Shin membuka map dan menunjukkan foto daftar serta salinan panggilan.

“Kita bisa membahas pengeluaran kalau pendapatanku turun. Kita bisa lihat kontrak, cari informasi, atau setidaknya sepakat jangan mengambil biaya baru.”

Ibu Kho mendecakkan lidah. “Ujung-ujungnya uang lagi.”

“Karena kalau aku kehilangan penghasilan, tagihan tetap datang.”

“Cheng An punya penghasilan.”

Nan Shin menoleh kepada suaminya. “Apakah gajimu cukup mengambil semua yang selama ini kubayar?”

Cheng An tidak langsung menjawab.

Rumah itu mendadak sunyi, hanya suara pendingin ruangan dan notifikasi laptop dari dalam ruang kerja.

“Nanti aja dipikirin,” katanya akhirnya. “Tunggu hasil resmi.”

“Kalau hasil resmi datang bersama tanggal terakhir kerja, kita sudah terlambat menyiapkan apa pun.”

“Nan Shin, aku juga sedang menentukan masa depan.”

“Masa depanmu dibahas semua orang. Masa depanku disuruh menunggu.”

Ibu Kho berdiri di antara mereka. “Cukup. Kalau Cheng An gagal karena pikirannya terganggu, kamu mau bertanggung jawab?”

Nan Shin menatap perempuan itu lama. “Kalau pekerjaanku hilang karena semua orang menganggapnya nggak penting, siapa yang bertanggung jawab?”

Ibu Kho menyilangkan tangan. “Jangan membalikkan kesalahan kepada keluarga.”

“Saya tidak membalikkan apa pun. Saya meminta sepuluh menit untuk rencana yang memengaruhi hidup kita.”

Cheng An melihat jam. “Besok malam kita bicara.”

“Catat waktunya,” jawab Nan Shin. “Saya tidak mau janji ini hilang setelah presentasimu selesai.”

Tidak ada jawaban.

Cheng An mengambil map dari tangannya dan meletakkannya di meja samping sofa tanpa membuka satu lembar pun.

“Setelah presentasi, kita bicara.”

“Jam berapa?”

“Aku belum tahu. Presentasinya bisa panjang.”

“Pilih satu waktu. Kalau molor, beri kabar.”

Cheng An merapikan halaman presentasinya. “Senin malam setelah anak-anak tidur.”

“Tanpa ponsel di meja.”

“Baik.”

“Saya akan membawa hitungan pengeluaran. Kamu bawa rincian cicilan yang kamu bayar.”

Cheng An berhenti sesaat. “Harus sedetail itu?”

“Kalau penghasilanku hilang, kita perlu tahu angka sebenarnya.”

Ia masuk lagi ke ruang kerja. Pintu menutup.

Ibu Kho mengikuti sampai depan pintu, lalu mengecilkan suara. “Jangan tambah beban dia. Posisi wakil kepala unit itu kesempatan besar untuk keluarga.”

“Pekerjaanku juga untuk keluarga.”

“Tapi hasilnya tidak sama.”

Kalimat tersebut tidak diucapkan keras, tetapi cukup untuk membuat Nan Shin merasa dua belas tahun gajinya, shift malamnya, dan tubuhnya yang rusak sedang ditimbang lalu dianggap lebih ringan.

Ia membawa map ke kamar.

Sebelum menyentuh buku biru, Nan Shin membuka kalkulator. Dengan enam shift per dua minggu, penghasilannya akan turun bahkan sebelum kontrak diputus. Tambahan malam dan akhir pekan yang biasanya menutup biaya sekolah hampir hilang seluruhnya.

Ia membuka rekening bersama. Saldo masih cukup untuk kebutuhan bulan itu, tetapi ada pembayaran cicilan, listrik, asuransi kendaraan Cheng An, dan dua transaksi rumah sakit yang belum ia kenali. Tidak ada dana khusus jika gajinya berhenti.

Nan Shin memotret mutasi rekening, lalu mengirim satu pesan kepada suaminya meski hanya terpisah satu dinding.

Besok tolong lihat perhitungan rumah. Dengan jadwal baru, pendapatanku turun. Jangan ambil biaya tambahan dulu.

Tanda dibaca muncul beberapa menit kemudian.

Tidak ada jawaban.

Pintu kamar terbuka pelan. Yi Ming masuk membawa buku tugas.

“Mama marah sama Papa?”

Nan Shin mematikan layar ponsel. “Mama sedang bicara soal pekerjaan.”

“Popo bilang Mama mungkin nggak kerja lagi.”

“Belum pasti.”

“Kalau nggak kerja, Mama sedih?”

Pertanyaan itu begitu sederhana sampai Nan Shin tidak bisa menjawab dengan kalimat penghiburan biasa.

“Mama sudah lama kerja di sana. Jadi kalau harus berhenti, Mama pasti sedih.”

Yi Ming meremas tepi bukunya. “Mama bisa kerja di rumah sakit lain?”

“Mama bisa mencoba.”

“Kalau Mama belum dapat?”

“Mama tetap Mama. Pekerjaan bisa berubah, tapi kalian tidak perlu menyelesaikan masalahnya.”

“Aku cuma mau Mama nggak sendirian.”

Nan Shin mengusap rambutnya. “Kalimat itu sudah cukup membuat Mama ditemani.”

Yi Ming berdiri diam, lalu menyodorkan buku tugasnya. “Aku bisa tunggu tanda tangannya.”

Nan Shin menarik putranya mendekat dan memeluk pinggangnya. “Kamu nggak perlu menunggu. Urusan orang dewasa bukan salah kamu.”

“Aku tahu.”

Namun cara Yi Ming mengatakan itu menunjukkan ia sedang berusaha tidak menjadi beban tambahan.

Di meja kecil, buku tugas Yi Ming sudah menunggu. Nan Shin memeriksa ulang jawabannya, membetulkan satu angka yang terlewat, lalu menyiapkan seragam anak-anak. Setelah semua tidur, ia membuka buku biru.

Tanggal hari itu.

Panggilan HRD pertama.

Shift dipotong.

Nama masuk draf penghentian.

Permintaan bicara dengan suami ditunda sampai setelah presentasi.

Ia menambahkan bukti foto untuk setiap baris.

Pukul satu lewat, Cheng An masuk kamar. Nan Shin masih terjaga.

“Sudah selesai?” tanyanya.

“Belum. Besok aku harus revisi data operasi.”

Nan Shin menutup buku sebelum ia melihat sampulnya. “Kamu sudah baca pesan dan hitungannya?”

“Aku lihat.”

“Kenapa tidak jawab?”

Cheng An meletakkan ponsel di meja samping tempat tidur. “Karena kalau kubalas, pembicaraannya akan panjang. Aku belum punya waktu malam ini.”

“Satu kalimat bahwa kamu mengerti juga cukup.”

“Aku mengerti sekarang.”

Nan Shin tidak merasa lebih didengar. Ia hanya berhasil mendapatkan jawaban setelah memintanya dua kali.

“Kapan kita bicara?”

“Senin malam.”

“Janji?”

“Kalau rapatnya nggak molor.”

Nan Shin menatapnya. “Kalau molor, kirim satu pesan sebelum pukul delapan.”

“Iya.”

“Jangan membuat saya menunggu sambil menebak apakah pembicaraan ini tetap penting.”

Cheng An menghela napas. “Aku dengar.”

“Saya perlu kamu mengerti, bukan hanya mendengar.”

Itu bukan janji. Hanya syarat lain.

Keesokan paginya, bel rumah berbunyi ketika Nan Shin sedang menyiapkan sarapan. Seorang kurir menyerahkan amplop dari lembaga pendidikan. Nama Yi Chen tercetak pada sudut kiri.

“Apa itu?” tanya Nan Shin.

Ibu Kho mengambil amplop lebih cepat. “Tagihan pendaftaran.”

“Pendaftaran apa?”

“Kelas persiapan membaca. Mama sudah amankan tempatnya kemarin.”

Nan Shin menarik lembar tagihan dari dalam amplop.

Pada bagian bawah tertulis batas pembayaran tiga hari lagi.

1
Lili Inggrid
tetap semangat...
Ika Kirana
terlalu lambat alur ny thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!