Alena menikah dengan Hendra meski tak direstui keluarganya karena dianggap miskin. Selama lima tahun ia dihina, dianggap mandul, dan hanya diberi satu juta rupiah sebulan untuk kebutuhan rumah. Saat Alena mulai berusaha bangkit, tekanan ibu mertua membuat Hendra akhirnya berselingkuh. Alena memilih bertahan, hingga ia menemukan jalan untuk membuktikan dirinya dan membalas semua perlakuan yang menyakitkan itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERTEMUAN TAK TERDUGA
Jam dinding di ruang tengah sudah menunjukkan pukul sembilan malam Pintu depan terbuka perlahan, dan Siska masuk dengan langkah sempoyongan. Tubuhnya berbau alkohol
Hendra yang sejak tadi menunggu di ruang tengah langsung berdiri dengan wajah marah
"Dari mana saja kamu baru pulang jam segini? Dan ini,,bau apa ini?"
Siska melempar tasnya ke sofa dengan kasar, lalu menatap suaminya dengan pandangan sayu.
"Aku habis dari tempat hiburan bersama teman-teman lama. Kenapa? Kamu nggak suka?"
"Kamu ini gimana sih! Kamu itu istriku Siska! Pulang jam sembilan malam dengan bau alkohol begitu! Apa kata orang nanti?" bentak Hendra mulai marah.
"Biarkan saja mereka bicara! Aku nggak peduli mas, Aku capek diatur-atur terus," sahut Siska ketus. Ia langsung berjalan menuju kamar tanpa menoleh lagi. "Aku mau tidur. Jangan ganggu aku malam ini."
Hendra hanya bisa memukul meja dengan kesal. Ia merasa semakin menyesal dengan keputusannya menikah dengan Siska.
Keesokan paginya, Hendra bangun lebih awal dari biasanya. Ia mandi dan berpakaian rapi seragam kantor. Setelah siap, ia masuk ke kamar hendak membangunkan istrinya.
"Siska! Bangun! Sudah pagi, kita harus berangkat ke kantor!" seru Hendra sambil menggoyangkan bahu wanita itu.
Siska mengerang kesal, lalu menyingkirkan tangan Hendra kasar.
"Jangan digoyangkan! Aku tidak mau ke kantor lagi."
Hendra tertegun tak percaya.
"Apa maksudmu tidak mau ke kantor? Kenapa tiba-tiba ngomong begitu?"
Siska duduk sambil mengucek matanya malas.
"Maksudku aku sudah berhenti kerja. Sekarang kan aku sudah punya suami yang bekerja. Untuk apa aku capek-capek cari uang sendiri? Kamu yang akan menanggung semua kebutuhanku," jawabnya santai sekali.
"Kamu gila ya Siska! Gajiku saja pas-pasan! Bagaimana mungkin kita hidup kalau hanya mengandalkan gajiku saja?" Hendra mulai meninggikan suaranya.
"Itu urusanmu sebagai kepala rumah tangga. Aku nggak mau tau," jawab Siska dingin lalu menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya.
Hendra keluar dari kamar dengan perasaan sangat kacau. Ia duduk di meja makan sambil menatap nasi di piring tanpa nafsu makan sedikit pun.
Ibu Sari datang duduk di sebelahnya.
"Ndra... kenapa wajahmu kusut begitu? apa Ada masalah ?"
Hendra menggeleng pelan.
"nggak ada kok Bu. Aku hanya sedikit pusing saja."
Ia tidak menceritakan soal Siska pada ibunya. Ia tahu kalau Ibu Sari mendengarnya, pasti akan terjadi pertengkaran hebat lagi.
Sesampainya di kantor, pikiran Hendra tidak tenang sama sekali. Ia sering salah baca dokumen, sampai beberapa kali ditegur oleh atasannya. Selama bekerja, bayangan wajah Alena yang rajin dan sabar terus muncul di kepalanya. Ia baru sadar betapa beruntungnya ia dulu, dan betapa bodohnya ia membuang kebahagiaan itu demi wanita yang tidak tahu diri.
Sementara itu di toko tempat Alena bekerja, hari itu terasa sangat sibuk. Alena sibuk menyusun barang di rak depan. Siang harinya, seorang pria tampan dan gagah datang berjalan masuk. Pria itu mengenakan pakaian sederhana namun sangat rapi, senyumnya ramah sekali.
"Selamat siang. Saya mau beli beberapa kebutuhan harian," sapa pria itu sopan.
"Selamat siang Mas. Silakan pilih barang yang dibutuhkan," jawab Alena sambil tersenyum ramah.
Pria itu berkeliling mengambil barang, lalu saat hendak membayar, ia berjalan menuju meja kasir. Di dekat rak sepatu, Alena tidak sengaja menyandung kaki kirinya hingga terhuyung ke depan dan hampir terjatuh.
"Ah!" seru Alena kaget.
Pria itu dengan sigap melangkah maju dan menahan lengan Alena agar tidak terjatuh. Jarak wajah mereka menjadi sangat dekat sejenak.
"Hati-hati mbak" kata pria itu lembut.
Wajah Alena langsung memerah padam. "Terima kasih banyak Mas. Saya nggak sengaja."
"Sama-sama. Tidak apa-apa," pria itu tersenyum tulus.
Dari arah belakang, Reihan melihat kejadian itu dengan jelas. Tangan yang sedang memegang buku catatan sedikit mencengkeram kuat. Wajahnya terlihat datar, tapi ada rasa cemburu yang samar muncul di hatinya. Namun ia segera menghela napas panjang dan mencoba menahannya. Ia tahu ia tidak berhak melarang Alena berinteraksi dengan orang lain.
Pria itu membayar barangnya, lalu sebelum pergi ia menoleh lagi pada Alena.
"Saya sering melihat mbak di sini. mbak kerja nya rajin sekali."
"Terima kasih Mas. Itu sudah tugas saya," jawab Alena malu-malu.
Pria itu mengangguk hormat lalu berjalan keluar toko.
Saat pria itu pergi, Reihan mendekat ke arah Alena dengan senyum yang dipaksakan.
"Kamu nggak apa-apa kan tadi? Sepertinya kamu hampir jatuh."
"Ya, saya tidak apa-apa Mas Reihan. Terima kasih sudah perhatian," jawab Alena.
"Siapa nama pria itu ya? Sepertinya dia sering lewat di sini," tanya Reihan pura-pura santai.
"Saya juga nggak tahu. Ini pertama kalinya dia datang ke sini," jawab Alena jujur.
Reihan hanya mengangguk pelan, lalu kembali ke tempat kerjanya. Dalam hatinya, ia merasa ada rasa tidak nyaman yang muncul. Entah kenapa, ia merasa pria tadi bukan sekadar pembeli biasa bagi Alena.
BANTU LIKE KOMENT DAN SUBSCRIBE YA TEMAN2