Chu Xuan menjadi orang pertama dalam sejarah yang menolak reinkarnasi.
Karena murka, utusan akhirat mengutuknya untuk menjalani delapan belas tahun kehidupan yang penuh penderitaan di dunia kultivasi tanpa bakat, tanpa kekayaan, dan tanpa harapan.
Setelah kehilangan satu-satunya keluarga yang membesarkannya dan hidup sendirian selama tiga tahun di sebuah kuil tua yang hampir roboh, Chu Xuan akhirnya disambar petir pada usia delapan belas tahun.
Hari itu, seluruh dunia kultivasi tidak mengetahui satu hal:
Orang paling malas di dua dunia akhirnya memperoleh kekuatan untuk menjadi tak terkalahkan.
Namun, Chu Xuan hanya memiliki satu tujuan.
Memperbaiki atap Kuil Qingfeng.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon D'Silent Novel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23 — Permintaan Sang Senior
Keheningan menyelimuti aula utama.
Semua mata tertuju kepada Penguasa Kota yang perlahan turun dari ranjang.
Meski wajahnya masih sedikit pucat...
Napasnya telah kembali stabil.
Ia melangkah hingga berada di hadapan pria berjubah putih.
Lalu...
Membungkukkan badan dengan hormat.
"Senior..."
"Anda telah menyelamatkan nyawa saya."
"Juga menyelamatkan Kota Canglan."
"Saya, Qin Tiancheng, tidak akan pernah melupakan budi ini."
Di belakangnya...
Nyonya Kota ikut memberi hormat.
"Terima kasih, Senior."
Air mata masih membasahi sudut matanya.
Sementara sang putri hanya menatap pria berjubah putih itu dengan kagum.
Tak ada sedikit pun kesombongan.
Tak ada sedikit pun keinginan meminta balasan.
Seolah-olah...
Menyelamatkan seseorang hanyalah hal biasa baginya.
Penguasa Kota menarik napas dalam.
"Senior."
"Silakan sebutkan."
"Apa pun yang Anda inginkan..."
"Selama saya mampu..."
"Saya pasti akan memenuhinya."
Seluruh aula menjadi sunyi.
Para tabib.
Para penjaga.
Para pelayan.
Semuanya menunggu jawaban pria berjubah putih itu.
Namun...
Avatar Chu Xuan hanya mengalihkan pandangannya.
Tatapan mata emasnya jatuh kepada putri Penguasa Kota.
Beberapa detik berlalu.
Lalu...
Ia berkata datar.
"Aku menginginkannya."
Seketika...
Seluruh aula membeku.
Semua orang mengikuti arah pandang Avatar.
Tatapan mereka berhenti pada sang putri.
Putri Penguasa Kota sendiri terkejut.
"A... aku?"
Penguasa Kota juga terdiam.
"Senior..."
"Apakah maksud Anda..."
Avatar Chu Xuan mengangguk pelan.
"Aku ingin menjadikannya muridku."
...
Sunyi.
Tak ada satu pun orang yang berbicara.
Para tabib saling berpandangan.
Mereka semula mengira Senior misterius itu akan meminta gunung batu roh.
Senjata pusaka.
Atau bahkan separuh kekuasaan Kota Canglan.
Namun...
Permintaannya hanyalah...
Seorang murid.
Bahkan Penguasa Kota tidak dapat menyembunyikan keterkejutannya.
"Senior..."
"Putri saya..."
"Apakah benar memiliki kualifikasi?"
Avatar menjawab singkat.
"Lebih dari cukup."
Empat kata itu membuat jantung sang putri berdegup semakin cepat.
Sejak kecil...
Tak pernah ada seorang pun yang memujinya seperti itu.
Di saat yang sama...
Tulisan hitam muncul di hadapan Chu Xuan.
━━━━━━━━━━━━━━━━━━
【Misi Utama Selesai】
━━━━━━━━━━━━━━━━━━
Hadiah:
• 5.000 Poin Tak Terkalahkan.
━━━━━━━━━━━━━━━━━━
【Target telah memenuhi syarat menjadi Murid Kedua Kuil Qingfeng.】
━━━━━━━━━━━━━━━━━━
Chu Xuan menutup panel itu tanpa mengubah ekspresi.
Bagi orang lain...
Ia baru saja menyelamatkan Penguasa Kota.
Namun baginya...
Tujuan utama perjalanan ini telah tercapai.
Saat itulah...
Penguasa Kota tertawa pelan.
"Kalau itu keinginan Senior..."
"Saya tentu tidak berhak menolak."
Ia menoleh kepada putrinya.
"Nak."
"Keputusan tetap berada di tanganmu."
"Ayah tidak akan memaksamu."
Sang putri menggigit bibirnya.
Ia memandang ayahnya.
Lalu memandang pria berjubah putih yang berdiri tenang di hadapannya.
Entah mengapa...
Di dalam hatinya muncul sebuah keyakinan.
Mengikuti pria ini...
Akan mengubah seluruh hidupnya.
Namun...
Sebelum ia sempat memberikan jawaban...
Ledakan keras tiba-tiba mengguncang gerbang kediaman Penguasa Kota.
BOOOM!!
Seluruh aula bergetar.
Seorang penjaga berlari masuk dengan wajah pucat.
"T-Tuan Kota!"
"Keluarga Han..."
"Keluarga Han mengepung kediaman kita!"
Begitu laporan itu terdengar...
Seluruh aula menjadi gempar.
Penguasa Kota langsung mengerutkan kening.
"Keluarga Han?"
"Apa maksud mereka?"
Belum sempat ada yang menjawab...
Puluhan aura kuat menyelimuti seluruh kediaman.
Dari luar gerbang...
Terdengar suara tawa dingin.
"Hahaha..."
"Qin Tiancheng..."
"Ternyata racun itu gagal membunuhmu."
Suara itu bergema ke seluruh kediaman.
Wajah Penguasa Kota langsung berubah.
"Kau..."
"Tetua Han!"
BOOM!
Gerbang utama hancur berkeping-keping.
Puluhan kultivator berjubah hitam memasuki halaman.
Di depan mereka...
Seorang lelaki tua berjubah ungu melangkah perlahan sambil membawa tongkat hitam.
Tatapannya tajam.
Aura kultivasinya jauh melampaui para kultivator biasa.
Dialah...
Tetua Agung Keluarga Han.
Tatapannya langsung berhenti pada Penguasa Kota.
Kemudian...
Berpindah kepada pria berjubah putih.
Senyumnya perlahan menghilang.
"Jadi..."
"Kaulah yang telah merusak rencana Keluarga Han."
Avatar Chu Xuan tidak menjawab.
Ia hanya berdiri tenang.
Tetua Han mendengus dingin.
"Beberapa hari lalu..."
"Kau membunuh Tuan Muda."
"Hari ini..."
"Kau menyelamatkan Qin Tiancheng."
"Sepertinya..."
"Kau memang sengaja ingin menjadi musuh Keluarga Han."
Avatar akhirnya membuka mulut.
"Bukan."
Tetua Han mengangkat alis.
"Lalu?"
Chu Xuan menatapnya dengan mata emas yang tenang.
"Yang mencari mati..."
"Adalah kalian."
Kalimat sederhana itu...
Membuat udara di seluruh halaman seolah membeku.
Beberapa anggota Keluarga Han tanpa sadar mundur selangkah.
Mereka tidak tahu mengapa...
Namun tatapan pria berjubah putih itu membuat hati mereka dipenuhi firasat buruk.
Tetua Han tertawa keras.
"Hahaha!"
"Baik!"
"Kalau begitu..."
"Aku ingin melihat..."
"Apakah kesombonganmu sebesar kekuatanmu!"
Aura spiritualnya meledak.
Lantai batu di halaman mulai retak.
Pohon-pohon bergoyang hebat.
Para penjaga Kota Canglan langsung mencabut senjata.
Penguasa Kota maju selangkah.
"Tetua Han!"
"Beraninya kau menyerang kediaman resmi Penguasa Kota!"
Tetua Han hanya mencibir.
"Mulai hari ini..."
"Kota Canglan tidak lagi membutuhkan Penguasa Kota."
Ucapan itu membuat wajah Qin Tiancheng berubah suram.
Kini tidak ada lagi keraguan.
Dalang di balik racun yang hampir merenggut nyawanya...
Benar-benar Keluarga Han.
Di belakang Qin Tiancheng...
Putrinya mengepalkan tangan.
Tatapannya dipenuhi amarah.
"Jadi..."
"Kalianlah yang mencoba membunuh Ayah..."
Nyonya Kota juga menggigit bibirnya.
Air mata di matanya kini berubah menjadi kemarahan.
Sementara itu...
Avatar Chu Xuan melangkah satu langkah ke depan.
Jubah putihnya berkibar pelan.
Ia berdiri di antara Penguasa Kota dan Keluarga Han.
Kemudian...
Dengan nada tetap datar, ia berkata,
"Kalian."
"Mengganggu."
Hanya dua kata.
Namun...
Bagi seluruh anggota Keluarga Han...
Entah mengapa...
Dua kata itu terasa jauh lebih menyesakkan daripada ledakan aura seorang ahli.
Tetua Han menyipitkan mata.
"Kalau begitu..."
"Biarkan aku melihat..."
"Berapa lama kau bisa tetap setenang itu."
Puluhan kultivator Keluarga Han serentak mencabut senjata mereka.
Suasana menjadi tegang.
Pertempuran besar...
Tinggal menunggu satu pemicu.
Bersambung...