Muzan Kibutsi, seorang remaja dari Bumi, meninggal akibat kecelakaan dan bereinkarnasi ke dunia One Piece beberapa bulan sebelum perjalanan Luffy dimulai. Sebagai orang biasa tanpa kekuatan apa pun, ia memperoleh Puppet System, sebuah sistem yang memungkinkannya melakukan gacha menggunakan Belly untuk mendapatkan boneka karakter dari berbagai dunia anime.
Setiap boneka memiliki penampilan, kemampuan, dan gaya bertarung seperti karakter aslinya, tetapi sepenuhnya dikendalikan oleh Muzan dan setia tanpa syarat.
Dengan mengumpulkan Belly, membangun koleksi boneka, dan bergerak dari balik bayang-bayang, Muzan perlahan mengukir namanya di lautan. Sementara sejarah One Piece terus berjalan, seorang dalang misterius mulai memainkan perannya di balik panggung, siap mengubah keseimbangan dunia dengan pasukan boneka dari berbagai dimensi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RabilMuhammadTahir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10: Rencana Gelap di Desa Syrup dan Kucing Hitam yang Licik
Malam di perairan East Blue perlahan berganti menjadi fajar yang pucat. Kapal dagang yang membawa Muzan Kibutsi akhirnya merapat di pelabuhan kecil Desa Syrup, sebuah pulau yang tenang dan damai, terkenal dengan perbukitannya yang hijau dan rumah-rumah bergaya pedesaan Eropa yang asri.
Bagi penduduk desa, ini adalah hari yang biasa. Anak-anak berkejaran di padang rumput, para nelayan memperbaiki jaring, dan seorang pemuda berhidung panjang bernama Usopp sedang berteriak-teriak di bukit, "Bajak laut datang! Bajak laut datang!"—yang selalu disambut dengan lemparan batu oleh warga yang sudah kebal dengan kebohongannya.
Namun, di sebuah penginapan kecil di sudut desa, ketenangan itu tidak berlaku bagi Muzan.
Muzan duduk di dekat jendela kamarnya, menikmati secangkir teh hitam hangat. Di dalam ruang mentalnya, ia memanggil panel status dan inventaris. Saldo Belly-nya kini bertengger di angka 25.319.850 Belly. Kekayaan yang cukup untuk membuat seorang bangsawan East Blue menelan ludah.
"Kuro dari Bajak Laut Kuroneko," gumam Muzan pelan, jemarinya mengetuk permukaan meja kayu. "Nilai buronannya Enam Belas Juta Belly. Berbeda dengan Buggy yang bodoh dan suka pamer, atau Morgan yang arogan, Kuro adalah tipe musuh yang berbahaya. Dia cerdas, sabar, teliti, dan menyamar selama tiga tahun sebagai pelayan setia di dalam rumah keluarga kaya."
Di dunia canon, Kuro merencanakan pembunuhan terhadap Nona Kaya—pewaris harta keluarga besar Kaya—untuk mendapatkan seluruh kekayaan mereka, lalu hidup tenang sebagai orang kaya menggunakan rencananya yang disebut Plan 100. Dia memalsukan kematiannya sendiri dengan bantuan hipnotis Jango dan menggunakan nama samaran Klahadore.
Muzan menyeringai dingin. "Rencana yang luar biasa rapi. Sayang sekali, ada seseorang yang bisa melihat menembus tembok dan membaca setiap skenario sebelum itu terjadi."
Muzan memanggil Neji Hyuga.
Pilar cahaya ungu bermanifestasi di ruangan kecil itu. Tanpa membuang waktu, Muzan menghubungkan kesadarannya dengan Byakugan Neji. Penglihatan hitam putih 360 derajat langsung aktif.
Melalui mata Neji, Muzan mengarahkan pandangannya ke rumah besar bergaya mansion mewah yang terletak di puncak bukit Desa Syrup—kediaman Nona Kaya.
Di dalam ruang kerja lantai dua mansion tersebut, penglihatan x-ray Neji menembus dinding kayu jati yang tebal. Di sana, berdiri seorang pria berambut hitam klimis, mengenakan kemeja rapi dan kacamata tebal yang sering ia dorong ke atas batang hidungnya dengan punggung tangan—Klahadore, atau yang sebenarnya adalah Kapten Kuro.
Kuro sedang duduk di balik meja kerjanya, mencatat sesuatu di atas selembar kertas dengan bulu angsa. Wajahnya dingin, tanpa ekspresi kehangatan yang biasa ia tunjukkan di depan Kaya. Di sudut ruangan, tergantung sarung tangan khusus yang dilengkapi dengan bilah-bilah pisau tajam di setiap jarinya—senjata mautnya, Cat Claw.
Dia merencanakan penyerangan yang akan dilakukan oleh kelompok bajak lautnya—Bajak Laut Kuroneko yang dipimpin sementara oleh Jango si Hipnotis—yang akan mendarat di pantai selatan malam ini, analisis Muzan dalam benaknya. Kuro ingin pembunuhan itu terlihat seperti kecelakaan atau serangan bajak laut acak, agar dia bisa mewarisi seluruh harta warisan Kaya secara sah melalui surat wasiat.
"Skenario yang licik," batin Muzan. "Tapi di dunia ini, predator yang paling cerdik sekalipun akan menjadi mangsa ketika dia berhadapan dengan pemburu yang tidak terlihat."
Muzan memikirkan opsinya. Jika ia membunuh Kuro sekarang di dalam rumah besar itu, ia bisa mengambil mayatnya dan menukarkannya dengan 16 Juta Belly ke Angkatan Laut terdekat. Itu adalah cara yang paling cepat dan minim risiko.
Namun, di saat yang sama, Muzan melihat sebuah peluang untuk mendapatkan Achievement atau misi tambahan dari sistem jika ia menginterupsi rencana besar Kuro di malam hari, tepat saat Bajak Laut Kuroneko mendarat di pantai.
"Sistem," panggil Muzan secara mental. "Apakah ada misi aktif terkait Desa Syrup?"
Sebuah layar holografik biru muncul.
«"Misi Baru Terpicu: Pembongkaran Kucing Hitam."»
«"Detail: Kapten Kuro sedang menyusun rencana pembunuhan berdarah dingin di Desa Syrup. Hentikan rencana tersebut, kalahkan Kuro dan krunya, serta amankan wilayah desa."»
«"Hadiah Penyelesaian Misi: 50.000 Belly, 1 Tiket Gacha Karakter Kuat (Tier Ungu), dan Pembukaan Fitur [Shop: Black Market Tier 1]."»
Mata Muzan berbinar. Shop: Black Market Tier 1. Fitur toko khusus yang kemungkinan besar menyediakan item langka yang tidak ada di toko biasa. Ini adalah insentif yang terlalu bagus untuk dilewatkan.
"Neji, terus awasi gerak-gerik Kuro. Beritahu aku jika ada pergerakan mencurigakan," perintah Muzan.
"Dimengerti, Host," jawab suara mental Neji (yang dikendalikan oleh sistem sesuai persona kepatuhan mutlak).
Menjelang sore hari, dinamika di Desa Syrup mulai berubah.
Melalui Byakugan Neji, Muzan melihat kedatangan tiga orang pemuda asing yang memasuki desa: Monkey D. Luffy, Roronoa Zoro, dan seorang navigator berambut jingga yang baru bergabung, Nami. Mereka tiba menggunakan kapal kecil, berniat mencari kapal yang lebih besar atau memperbaiki perahu mereka.
Tak lama kemudian, mereka secara tidak sengaja bertemu dengan Usopp di bukit, yang sedang berteriak-teriak ketakutan karena ia tidak sengaja mendengar percakapan antara Klahadore (Kuro) dan Jango di hutan, membahas rencana pembunuhan Kaya malam ini.
Muzan, yang duduk di kamarnya, mengamati intervensi kelompok Topi Jerami itu dengan senyum tipis.
Luffy dan kawan-kawan akan menjadi gangguan yang sangat menyenangkan bagi Kuro, pikir Muzan. Mereka akan bertindak sebagai pengalih perhatian yang sempurna. Sementara Kuro sibuk menghadapi Luffy dan Usopp di pantai selatan malam ini, aku bisa menyusup ke dalam mansion, mengamankan jalurnya, atau bahkan menghadang Kuro di tempat pelariannya.
Muzan merencanakan formasi pertempurannya untuk malam ini.
"Kita tidak akan bertarung secara frontal di pantai," batin Muzan merumuskan strategi. "Kuro memiliki kecepatan luar biasa dengan teknik Shakushi (Death Hole)—di mana dia bergerak begitu cepat hingga membunuh semua orang di sekitarnya tanpa pandang bulu, termasuk anak buahnya sendiri. Menghadapinya di ruang terbuka dengan banyak variabel akan merepotkan."
Muzan membutuhkan area terbatas di mana kecepatan ekstrem Kuro bisa dibatasi atau di- counter secara absolut. Dan tempat terbaik untuk itu adalah di dalam hutan atau di lorong-lorong mansion.
"Gaara, dengan manipulasi pasirnya, bisa menciptakan medan pasir hisap atau dinding pembatas untuk memperlambat gerakan Kuro. Dan Zenitsu... kecepatan kilat Hekireki Issen miliknya adalah satu-satunya hal yang bisa menyamai atau bahkan melampaui kecepatan Shakushi milik Kuro."
Komposisi pertarungan telah dirancang. Sang Dalang mulai menarik benang-benang takdir di desa yang tenang itu.
Matahari perlahan tenggelam di ufuk barat, meninggalkan warna kemerahan yang perlahan berubah menjadi kegelapan malam. Di pantai selatan Desa Syrup, suara deburan ombak berpadu dengan suara angin malam yang dingin.
Di pinggir hutan yang mengarah ke pantai, Muzan Kibutsi berdiri di atas dahan sebuah pohon besar yang tinggi, mengenakan jubah hitam berkerudungnya. Di sampingnya, berdiri tanpa suara dua sosok bayangan: Gaara dan Zenitsu Agatsuma.
Melalui Byakugan Neji (yang memantau dari kejauhan di atap mansion Kaya), Muzan melihat bahwa kelompok Usopp dan Luffy telah bersiap di pantai, menunggu kedatangan pasukan Bajak Laut Kuroneko.
"Mereka sudah mulai bergerak," bisik Muzan pelan pada dirinya sendiri.
Di pantai selatan, kapal Bajak Laut Kuroneko merapat. Puluhan bajak laut bersenjata turun di bawah pimpinan Jango si Hipnotis—pria berambut mangkok dengan kacamata berbentuk hati dan cakram logam melingkar di dagunya. Pertarungan kecil akan segera meletus di antara pasir pantai.
Namun, fokus Muzan bukanlah pantai. Fokusnya adalah pria berambut hitam yang saat ini masih mengenakan jas pelayan, berjalan keluar dari mansion menuju pantai untuk memastikan rencana pembunuhan itu berjalan sesuai jadwalnya.
"Gaara," perintah Muzan dengan suara dingin. "Pergilah ke jalur setapak hutan yang menghubungkan mansion dan pantai. Buat penghalang pasir. Jangan biarkan Kuro melewatinya sebelum waktunya, dan jangan biarkan dia melarikan diri."
Tanpa suara, Gaara melangkah maju. Tubuhnya larut menjadi butiran pasir yang berterbangan ditiup angin malam, meluncur cepat di antara pepohonan menuju jalur yang dimaksud.
Muzan menoleh ke arah Zenitsu. Pemuda berambut kuning itu masih berdiri dalam posisi tertidur, namun aura listrik statis mulai berderak pelan di sekitar sarung pedangnya, merespons kehadiran energi musuh yang kuat di kejauhan.
"Dan kau, Zenitsu," bisik Muzan, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang penuh percaya diri. "Malam ini, kita akan melihat apakah kucing hitam yang cerdik itu bisa berlari lebih cepat dari sambaran petir."