Shen Yu dikenal sebagai tuan muda paling bermasalah di Kota Qinghe. Ia gemar menghamburkan uang, membuat keributan, dan menghabiskan waktunya di rumah hiburan. Anehnya, setiap kali ia membuat masalah, sang nenek selalu berada di belakangnya.
Nyonya Lin bukanlah wanita tua biasa. Ia adalah legenda dunia persilatan, pendiri Aliansi Seratus Perguruan, dan sosok yang pernah menjaga kedamaian Dunia.
Namun ketika bayang-bayang perang kembali muncul dan musuh-musuh lama mulai bergerak, Shen Yu harus menghadapi kenyataan bahwa perlindungan neneknya tidak akan ada selamanya. Demi menjaga warisan orang yang paling ia cintai, ia perlahan berubah dari seorang tuan muda manja menjadi pendekar yang akan menentukan masa depan Kekaisaran dan dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mirage Ink, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Boom!
Benturan aura Han Tian dan Raja Kegelapan Pertama mengguncang seluruh hutan. Gelombang energi menyapu pepohonan hingga puluhan batang pohon raksasa tumbang. Namun...
Han Tian sama sekali tidak berniat berlama-lama. Ia mengayunkan pedangnya sekali untuk memaksa lawan mundur, lalu tubuhnya berubah menjadi bayangan.
"Aku tidak punya waktu melayanimu!"
Sreet!
Ia menerobos ke arah Kota Qinghe.
Pria bertopeng merah sudah menduga hal itu. Ia mengangkat telapak tangannya.
"Segel Kegelapan!"
Empat pilar hitam tiba-tiba muncul dari dalam tanah, membentuk sangkar raksasa yang menutup seluruh jalur keluar.
Han Tian menebas tanpa ragu.
"Pedang Pemecah Gunung!"
Crack!
Salah satu pilar retak, tetapi belum sempat hancur, energi hitam kembali memperbaikinya.
Raja Kegelapan Pertama tersenyum.
"Aku sudah bilang. Tugasku hanya menahanmu."
Han Tian mengepalkan tangan.
Kini ia benar-benar sadar.
Seluruh rencana musuh sejak awal bukan untuk memenangkan pertarungan. Mereka hanya membeli waktu. Di dalam gua...
Qin Feng akhirnya berhasil memutus seluruh rantai hitam yang melilit tubuhnya.
Namun para kultivator Kuil Kegelapan kembali menyerbu tanpa memedulikan luka mereka. Mereka tidak takut mati. Yang penting...
Qin Feng tetap berada di tempat itu.
Qin Feng menghela napas pelan.
"Kalau begitu jangan salahkan aku."
Pedangnya perlahan mengeluarkan cahaya putih. Untuk pertama kalinya sejak pertempuran dimulai...
Ia mulai menggunakan kekuatan yang sesungguhnya.
"Teknik Pedang Langit Langkah Kedua."
Seluruh gua dipenuhi tekanan tajam. Para kultivator berjubah hitam langsung berubah pucat.
"Celaka!"
Sraaang!
Ratusan cahaya pedang memenuhi ruangan. Dalam satu napas...
Seluruh rantai hitam terputus. Formasi darah yang memenuhi lantai ikut hancur berkeping-keping.
Tiga pengendali formasi memuntahkan darah sebelum terpental menghantam dinding gua.
Qin Feng tidak berhenti.
Ia segera memotong tali yang mengikat para penduduk.
"Keluarkan semua orang!"
Beberapa murid Penjaga Langit yang bersembunyi di sekitar gua segera masuk membantu mengevakuasi warga. Namun...
Ekspresi Qin Feng sama sekali tidak membaik.
"Mudah sekali..."
Ia justru semakin curiga. Kalau hanya ingin menahannya...
Mengapa musuh membiarkannya membebaskan para tawanan?
Sementara itu...
Di Kota Qinghe.
Suasana pasar mulai kembali ramai. Para pedagang membuka toko seperti biasa. Tidak ada yang mengetahui bahwa puluhan mata-mata Kuil Kegelapan telah menerima perintah baru.
Di sebuah penginapan...
Pria berjanggut tipis mengeluarkan batu komunikasi hitam. Suara dingin terdengar dari dalamnya.
"Mulai."
Hanya satu kata. Namun seluruh mata-mata langsung bergerak. Seorang penjual teh diam-diam menaburkan bubuk hitam ke dalam sumur umum.
Seorang pengemis menyelipkan jimat hitam di bawah jembatan batu. Beberapa orang lain menuju empat penjuru kota. Tak seorang pun menyerang warga. Mereka hanya...
Menanam sesuatu. Di atap Kediaman Shen...
Shen Yu berdiri memandang Kota Qinghe dari kejauhan. Entah mengapa...
Dadanya terasa gelisah.
Mu Xueyi datang menghampiri.
"Apa yang kau pikirkan?"
Shen Yu tidak langsung menjawab.
"Lawan terlalu tenang. Mereka sudah berhasil memancing Han Tian dan Qin Feng keluar. Kalau target mereka hanya Mei Lihua, seharusnya mereka sudah menyerang sekarang."
Mu Xueyi ikut memandang ke arah kota.
"Lalu apa tujuan mereka?"
Shen Yu menggeleng pelan.
"Itu yang sedang kupikirkan."
Saat itulah...
Seekor burung putih milik Han Tian mendarat di lengannya.
Di kakinya hanya ada secarik kertas.
Shen Yu membukanya.
Wajahnya langsung berubah.
"Han Tian bertemu Raja Kegelapan Pertama."
Lin Xue yang baru keluar dari aula ikut membaca isi pesan itu.
"Qin Feng juga belum kembali."
Kini...
Dua petarung terkuat mereka sama-sama tertahan.
Lin Xue tiba-tiba berkata pelan,
"Yuer. Perintahkan seluruh murid menyelidiki semua sumur, jembatan, gerbang, dan tempat berkumpulnya warga."
Shen Yu sedikit terkejut.
"Nenek menduga mereka sudah masuk ke dalam kota?"
Lin Xue mengangguk.
"Aku mencium bau darah."
Belum sempat Shen Yu bergerak...
Boom!
Ledakan kecil terdengar dari arah barat kota.
Disusul ledakan kedua.
Kemudian ketiga.
Ledakan itu tidak besar.
Namun terjadi hampir bersamaan di berbagai tempat.
Pak Hong berlari tergesa-gesa.
"Tuan Muda! Beberapa sumur kota berubah menjadi hitam! Orang-orang yang meminum airnya tiba-tiba kehilangan kesadaran!"
Ekspresi Lin Xue berubah dingin.
"Racun."
Namun...
Qin Feng pernah mengatakan bahwa Kuil Kegelapan tidak suka menggunakan cara yang sederhana. Kalau hanya ingin meracuni warga...
Mereka tidak perlu mengerahkan Lima Raja Kegelapan. Shen Yu tiba-tiba menoleh ke arah langit.
Awan hitam mulai berkumpul tepat di atas Kota Qinghe. Di empat penjuru kota...
Cahaya hitam muncul dari bawah tanah.
Satu...
Dua...
Tiga...
Empat.
Keempat cahaya itu saling terhubung, membentuk lingkaran raksasa yang menyelimuti seluruh kota.
Mei Lihua yang melihatnya langsung kehilangan warna wajah.
"Itu..."
Lin Xue mengepalkan tangannya.
"Formasi Penyegel Surga."
Pak Hong kebingungan.
"Formasi apa itu?"
Qin Feng memang belum berada di kota untuk menjelaskan. Lin Xue menjawab dengan suara berat.
"Formasi ini tidak digunakan untuk membunuh. Melainkan mengunci seluruh aura di dalam wilayahnya."
Shen Yu langsung memahami maksudnya. Begitu formasi itu selesai...
Aura siapa pun yang meledak di dalam kota akan langsung terlacak. Artinya...
Jika ia menggunakan kekuatan Esensi Naga Purba untuk menyelamatkan warga...
Lima Raja Kegelapan akhirnya akan menemukan pemilik aura emas yang selama ini mereka cari. Di kejauhan...
Di puncak Gunung Tianhuang. Wanita berjubah hitam memandang cahaya yang mulai menutupi Kota Qinghe.
Senyumnya semakin lebar.
"Permainan dimulai."
Di sampingnya...
Raja Kegelapan Kedua tertawa pelan.
"Sekarang kita lihat apakah pemilik aura emas memilih menyelamatkan identitasnya, atau menyelamatkan seluruh Kota Qinghe."
Cahaya hitam terus menjalar di bawah tanah.
Empat pilar cahaya di empat penjuru Kota Qinghe kini telah tersambung sempurna. Lapisan energi transparan perlahan menutupi langit kota seperti mangkuk raksasa.
Para kultivator yang berjaga di tembok kota langsung merasakan perubahan.
"Qi Langit... melemah?"
"Bukan melemah..."
"Qi kita sedang ditekan!"
Beberapa murid mencoba menerobos lapisan cahaya itu. Namun setiap kali menyentuhnya, tubuh mereka terpental kembali.
Pak Hong menggertakkan gigi.
"Seluruh kota telah dikurung."
Lin Xue memandang langit tanpa berkedip.
"Mereka tidak ingin seorang pun keluar."
Shen Yu mengerutkan alis.
"Atau..."
"Mereka tidak ingin seseorang melarikan diri."
Di puncak menara pengawas sebelah barat...
Seorang pria berjubah hitam berdiri sendirian. Topengnya berwarna putih. Di tangannya terdapat sebuah cakram hitam sebesar telapak tangan yang terus berputar perlahan.
Ia tersenyum.
"Formasi telah aktif."
Beberapa saat kemudian...
Dari balik bayang-bayang muncul tiga orang lainnya.
"Laporan. Seluruh titik formasi telah berhasil dipasang. Tidak ada yang menyadarinya."
Pria bertopeng putih mengangguk puas.
"Bagus. Tunggu perintah Raja Pertama."
Sementara itu...
Di tengah pasar. Seorang anak kecil tiba-tiba pingsan. Disusul seorang wanita. Kemudian seorang pedagang.
Dalam hitungan napas...
Puluhan warga mulai roboh satu demi satu. Jeritan memenuhi jalanan.
"Apa yang terjadi?!"
"Tabib!"
"Panggil tabib!"
Murid-murid berbagai perguruan segera berlari membantu. Namun...
Begitu mereka menyalurkan energi spiritual untuk memeriksa tubuh para korban...
Ekspresi mereka berubah.
"Tidak ada racun. Lalu kenapa mereka tidak sadar?"
Tak seorang pun menemukan jawabannya.
Di Kediaman Shen. Han Tian memang belum kembali. Qin Feng juga masih berada di luar kota. Kini seluruh tanggung jawab berada di tangan Lin Xue.
Ia segera memberi perintah.
"Yan Luo. Bawa tiga perguruan menuju distrik barat."
"Baik."
"Tetua Zhao."
"Siap."
"Lindungi seluruh tabib."
"Patuh."
"Pak Hong. Kosongkan aula utama. Jadikan tempat perawatan sementara."
Semua segera bergerak.
Namun Shen Yu tetap berdiri di tempat. Tatapannya tertuju ke langit. Semakin lama...
Rasa tidak nyaman di dadanya semakin kuat. Ia merasa...
Masih ada sesuatu yang belum muncul. Di luar kota.
Qin Feng baru saja mengantar kelompok terakhir penduduk keluar dari gua. Salah seorang murid Penjaga Langit berlari menghampirinya.
"Senior! Batu komunikasi!"
Qin Feng segera menerima batu giok itu.
Suara Lin Xue terdengar dari dalam.
"Formasi Penyegel Surga telah aktif."
Wajah Qin Feng langsung berubah.
"Celaka!"
Ia langsung memahami seluruh rencana lawan. Mereka sama sekali tidak berniat menggunakan para tawanan sebagai persembahan.
Para tawanan...
Hanyalah umpan agar dirinya meninggalkan Kota Qinghe. Ia menggenggam pedangnya.
"Aku harus kembali."
Namun...
Baru beberapa langkah ia bergerak...
Dua sosok berjubah hitam mendarat di hadapannya.
Raja Kegelapan Ketiga. Dan Raja Kegelapan Keempat.
Pria berjubah ungu tersenyum tipis.
"Tujuanmu bukan ke sana."
Wanita berjubah hitam mengangkat kipasnya.
"Kami hanya perlu menahan mu beberapa saat lagi."
Qin Feng perlahan mengangkat pedangnya.
"Kalau begitu...Kalian akan mati."
Aura pedang putih langsung memenuhi seluruh lembah. Pada saat yang sama...
Di dalam hutan. Han Tian masih terus menghantam Segel Kegelapan.
Boom!
Boom!
Retakan mulai muncul pada salah satu pilar.
Raja Kegelapan Pertama tertawa kecil.
"Kau semakin terburu-buru."
Han Tian tidak menjawab.
Pedangnya kembali terangkat. Seluruh energi spiritual di sekitarnya berkumpul pada ujung pedang.
Udara mulai bergetar.
Pria bertopeng merah akhirnya sedikit menyipitkan mata.
"Teknik itu..."
Han Tian berkata pelan.
"Aku memang tidak ingin menggunakannya. Tapi kau memaksaku."
Pedangnya memancarkan cahaya biru menyilaukan.
"Pedang Langit langkah Ketiga."
"Belahan Cakrawala."
Sraaang!!
Satu tebasan lurus melesat ke depan. Empat pilar hitam hancur bersamaan. Ledakan dahsyat mengguncang seluruh kawasan.
Tubuh Raja Kegelapan Pertama bahkan terdorong puluhan meter ke belakang. Han Tian tidak mengejar.
Ia langsung berubah menjadi cahaya dan melesat menuju Kota Qinghe. Pria bertopeng merah mengusap darah di sudut bibirnya.
Lalu...
Ia justru tersenyum.
"Terlambat."
Kembali di Kota Qinghe.
Jumlah warga yang pingsan kini mencapai ratusan orang. Bahkan beberapa kultivator muda mulai mengalami gejala yang sama.
Mu Xueyi membantu para tabib tanpa henti.
Mei Lihua juga ikut mengobati para korban.
Namun tidak ada perubahan.
Lin Xue memeriksa seorang anak kecil. Lalu perlahan menutup matanya.
"Ini bukan penyakit ataupun racun."
Shen Yu menoleh.
"Lalu?"
Lin Xue membuka mata.
"Mereka kehilangan Jiwa Kesadaran."
Kalimat itu membuat seluruh ruangan terdiam. Pak Hong bertanya dengan wajah pucat.
"Bisakah disembuhkan?"
Lin Xue menggeleng perlahan.
"Hanya orang yang menguasai Formasi Penyegel Surga yang bisa mengembalikannya."
Shen Yu mengepalkan tangan.
"Itu berarti mereka sengaja mencuri jiwa warga."
Tepat saat itu...
Suara bergema dari langit.
"Hahaha..."
Seluruh penduduk Kota Qinghe mendongak bersamaan.
Di atas lapisan formasi...
Lima sosok berjubah hitam berdiri berdampingan. Mereka akhirnya muncul tanpa lagi menyembunyikan diri. Pria bertopeng merah melangkah maju. Suaranya menggema ke seluruh kota.
"Penduduk Kota Qinghe. Kalian memiliki satu jam. Serahkan pemilik aura emas kepada kami. Kalau tidak..."
Ia mengangkat sebuah bola kristal hitam. Di dalam bola itu...
Ratusan titik cahaya putih terus berputar. Begitu melihatnya...
Wajah Lin Xue langsung berubah.
"Itu jiwa warga!"
Pria bertopeng merah tersenyum dingin.
"Benar. Setiap seperempat jam aku akan menghancurkan satu bagian dan mereka tidak akan pernah bisa bangun lagi."
Suasana kota langsung berubah menjadi kepanikan. Tangisan terdengar di mana-mana.
Shen Yu menatap bola kristal itu tanpa berkedip. Kini ia memahami tujuan sebenarnya musuh. Mereka tidak memaksanya bertarung tapi memaksanya memilih tetap menyembunyikan aura emas atau menyelamatkan seluruh Kota Qinghe.