"Raka Pradana, pengangguran dengan uang pas-pasan, tiba-tiba mendapatkan Sistem Arsitek Talenta—kemampuan melihat potensi tersembunyi yang dibuang perusahaan besar.
Syaratnya: dirikan perusahaan legal, bayar karyawan layak, ubah bakat menjadi keuntungan. Dari pabrik kasur kecil di Cikarang, ia membangun PT Arunika Karya Nusantara menjadi jaringan bisnis raksasa.
Konglomerat lama panik dan melancarkan fitnah, perang harga, hingga sabotase ekspor. Namun setiap serangan justru membuka kekuatan baru. Ketika Arunika ekspansi ke Kuala Lumpur, musuh menawarkan harga yang bisa membuatnya kaya seumur hidup.
Dua pilihan: menjual semua orang yang percaya padanya, atau gunakan bakat yang dulu diremehkan untuk menumbangkan imperium. Kali ini, sistem tak akan memilihkan jawabannya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hadid, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 34
Pabrik Rasa Kita berdiri di kawasan industri tua Bekasi seperti bangunan yang lupa caranya ramai.
Gerbangnya masih dicat merah pudar. Logo biskuit bulat di papan nama retak di pinggir. Di halaman, beberapa pekerja senior duduk di bangku panjang, memakai seragam yang terlalu bersih untuk orang yang seharusnya sibuk produksi.
Mereka tetap datang.
Itu yang pertama kali membuat Raka berhenti.
"Lini produksi hanya jalan dua hari seminggu," kata Hadi Santoso sambil membuka pintu kantor. Usianya enam puluh tiga, tubuhnya agak membungkuk, tetapi matanya masih keras. "Namun sebagian orang tua itu tetap datang seperti jam kerja penuh. Mereka bilang lebih baik menunggu di pabrik daripada menunggu telepon penutupan di rumah."
Yusuf tidak ikut larut.
"Kami perlu lihat utang, izin, aset, kontrak karyawan, dan status pajak."
Hadi tersenyum pahit. "Langsung ke luka."
"Kalau lukanya ditutup kain, investor biasanya terpeleset darah."
Reza hampir tertawa, tetapi menahannya.
Di ruang rapat, Hadi menjelaskan permintaan awalnya. Ia tidak ingin menjual merek saja. Ia ingin Rasa Kita tetap memproduksi dengan pekerja lama, setidaknya sebagian besar. Resep biskuit kelapa, kacang jahe, dan wafer tipis sudah ada sejak ayahnya.
"Saya tidak mencari orang yang mengambil nama lalu membuang dapurnya," kata Hadi.
Raka membuka map. "Saya juga tidak datang untuk membeli nostalgia dengan utang yang belum saya lihat."
Kalimat itu membuat wajah Hadi mengeras.
"Jadi Anda sama saja."
"Tidak. Yang sama adalah saya tidak mau pura-pura. Kalau pabrik ini diselamatkan, ia harus bisa hidup setelah uang pertama habis."
Yusuf masuk ke gudang dokumen. Hasilnya tidak cantik. Beberapa izin masih aktif, beberapa perlu pembaruan. Catatan label tidak rapi. Rencana halal dan BPOM pernah diajukan, tetapi dokumennya tercecer. Mesin otomatis kecil dibeli dua tahun lalu, namun SOP masih memakai pola lama seperti industri rumahan.
"Tidak bisa jual batch baru sebelum jalur izin dan label jelas," kata Yusuf.
Hadi menghela napas. "Dulu kami jual lewat toko langganan. Semua orang tahu Rasa Kita."
"Semua orang tahu bukan izin edar," jawab Yusuf.
Reza meminta satu nampan biskuit lama. Seorang pekerja perempuan membawa kaleng besi. Aromanya keluar begitu tutup dibuka: kelapa panggang, margarin, dan sedikit jahe. Tidak mewah. Tidak modern. Tetapi ada sesuatu yang langsung membuat orang ingin mengambil satu lagi.
Reza menggigit, lalu diam.
"Brand-nya tua," katanya. "Kemasan mati. Channel mati. Tapi rasa ini punya ingatan."
Hadi menatapnya. "Itu pujian?"
"Setengah. Sisanya penghinaan gratis."
Raka mengambil satu biskuit. Teksturnya sedikit aromanya kuat. Di luar jendela, seorang pekerja tua melihat ke arah ruang rapat, lalu cepat-cepat menunduk.
Reza melanjutkan, "Paket camilan Saga bisa jadi pintu. Tapi kalau produknya hanya jadi tempelan game, orang beli sekali lalu selesai. Rasa Kita harus punya alasan dibeli lagi tanpa Saga."
Hadi terlihat ingin membantah, lalu gagal.
Saat mereka turun ke lantai produksi, salah satu oven dinyalakan untuk uji kecil. Api biru muncul pelan. Suara mesin tua bergetar seperti batuk panjang.
Aroma kelapa panggang menyebar.
Pekerja-pekerja yang tadi duduk di halaman mengangkat kepala hampir bersamaan. Ada yang berdiri mendekat. Ada yang mengusap tangan ke celana seragam, seolah tubuhnya ingat gerakan lama.
Untuk sesaat, pabrik yang sunyi terdengar bernapas.
Seorang lelaki tua dengan rambut putih berdiri paling dekat pintu oven. Hadi memanggilnya Pak Darso. Lelaki itu tidak bertanya apakah pabrik selamat. Ia hanya melihat loyang pertama keluar, mengambil satu biskuit yang pinggirnya sedikit gosong, lalu mematahkannya.
"Terlalu panas di sisi kiri," katanya.
Pekerja lain langsung menoleh. Kalimat kecil itu membuat mereka seperti kembali menerima perintah produksi. Satu orang mencari buku catatan suhu. Satu orang membuka rak bahan. Yang lain membersihkan meja tanpa diminta.
Yusuf menatap Raka sebentar. Data tetap data. Tetapi ada jenis aset yang tidak muncul di neraca sampai ia hilang.
Raka melihat momen itu. Ia menyukainya, tetapi ia tidak membiarkan rasa itu menandatangani kontrak.
Di kantor, seorang pria berjas datang sebelum kunjungan selesai. Ia memperkenalkan diri sebagai perwakilan Mahardika Konsumer. Namanya tidak penting; kartu namanya yang bicara lebih keras.
"Pak Hadi, tawaran kami masih terbuka," katanya sambil meletakkan dokumen. "Nilainya lebih tinggi dari angka indikatif kemarin."
Hadi membeku.
Raka tidak membuka dokumen itu. Yusuf melihat sekilas, lalu wajahnya semakin datar.
Syarat utamanya jelas: pembelian aset dan merek, penutupan lini lama, efisiensi pekerja minimal lima puluh persen, produksi dipindahkan ke fasilitas grup.
"Kami memberi pensiun yang layak untuk Pak Hadi," kata pria itu. "Dan menghindari risiko pabrik tua membebani semua pihak."
Ia sengaja mengucapkan "Pak Hadi", bukan "Rasa Kita". Pilihan kata itu halus, tetapi Raka menangkapnya. Tawaran itu menyelamatkan pemilik, bukan pabrik. Membayar masa lalu, lalu menghapus orang-orang yang membuat masa lalu itu bernilai.
Reza juga menangkapnya. Ia mengambil satu biskuit lagi, menggigit, lalu berkata, "Kalau brand ini masuk grup besar dan rasanya diganti, orang mungkin tetap beli sekali karena nama. Setelah itu mereka tahu mereka ditipu."
Perwakilan Mahardika tersenyum. "Konsumen modern membeli konsistensi."
"Bukan rasa plastik yang konsisten."
Nadia Raka hampir bisa mendengar suaranya memperingatkan Reza. Untungnya, Reza berhenti di sana.
Di lantai bawah, pekerja lama masih berdiri dekat oven yang baru menyala.
Hadi memegang dokumen itu lama. Tangannya sedikit bergetar. Raka tidak menyalahkannya. Seorang pemilik tua dengan kas dua bulan tidak hanya memikirkan kehormatan. Ia memikirkan rumah, utang, kesehatan, dan malam ketika telepon bank berbunyi.
"Kalau saya ambil ini," kata Hadi pelan, "saya selesai."
"Secara pribadi, ya," kata Raka.
"Dan mereka?"
Tidak ada yang menjawab.
Perwakilan Mahardika tersenyum tipis. "Kami tentu mengikuti aturan ketenagakerjaan."
Kalimat legal itu tidak salah. Justru karena tidak salah, ia terasa dingin.
Raka akhirnya membuka proposalnya sendiri.
"AKN tidak membeli perusahaan hari ini. Tidak mengambil saham. Tidak mengambil kontrol. Kami menawarkan conditional purchase order untuk produk Rasa Kita, jika due diligence, izin, label, uji kualitas, dan kapasitas memenuhi syarat. Pembayaran bertahap. Batch tanpa izin tidak kami jual."
Hadi menatapnya. "Jadi Anda tidak menyelamatkan saya."
"Saya memberi pabrik ini kesempatan membuktikan ia masih bisa berdiri."
"Dengan risiko saya tetap gagal."
"Ya."
Reza menambahkan, "Dan kalau berhasil, Bapak tidak perlu menjual nama ayah Bapak hanya untuk membayar listrik."
Kalimat itu menusuk lebih dalam daripada brosur indah.
Hadi menutup dokumen Mahardika. Belum menolak. Belum menerima AKN. Tetapi untuk pertama kalinya hari itu, ia tidak melihat pabrik seperti jenazah.
"Besok," katanya. "Kita bicara angka."
Di mobil pulang, Yusuf menghitung risiko kas. Reza menatap pabrik dari kaca belakang.
"Proyek ini akan makan uang," katanya.
"Saya tahu."
"Makan perhatian juga."
"Saya tahu."
"Kalau Anda meminta saya membangunkan brand makanan dari pabrik tua, saya mau hak yang bisa diuangkan jika berhasil."
Raka menoleh.
Reza tidak menghindar. "Profit share. Bukan saham. Bukan kursi. Tapi kalau saya ikut mengangkat mayat ini menjadi bisnis, saya tidak mau dibayar hanya dengan tepuk tangan."
Di belakang mereka, bau kelapa panggang masih menempel di baju.
Raka melihat jalan Bekasi yang macet dan lampu pabrik yang mulai padam lagi.
Besok, kesempatan itu harus punya harga.