NovelToon NovelToon
Dibuang Pacar Dinikahi Guru Tampan

Dibuang Pacar Dinikahi Guru Tampan

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Dosen / Dunia Masa Depan
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: Aliya sofya Putri

"Siniin," pinta Dara.
"Cium dulu."
Dara melotot, "lih, siniin!"
"Iya, tapi cium dulu." Rafa menunjuk ke arah pipinya.
Dara mengulum bibir. Malu, dia mulai mendekatkan wajahnya. Hingga saat bibirnya hampir mengenai pipi Rafa, suaminya itu malah menoleh dan akhirnya bibir Dara mendarat di bibir Rafa.



Andara Maheswari (17 tahun) tidak menyangka jika sosok pacar yang dia kira tulus dan juga mencintainya ternyata bertahan dengannya hanya atas dasar rasa kasihan semata.
Dara dihina, diputuskan, atau mungkin lebih tepatnya dibuang oleh pacarnya. Braden selingkuh darinya.
Tidak cukup sampai disitu, sampai di rumah dia pun harus menyaksikan pertengkaran kedua orang tuanya. Kepahitan hidupnya seakan terus berlanjut. Dia terpaksa harus menerima perjodohan dan menikah dengan pria yang sama sekali tidak dia kenal demi menebus hutang yang dimiliki oleh ayahnya.
Dara tidak menyangka, jika pria yang dijodohkan dengannya adalah salah satu guru di sekolahnya. Pria dingin serta jutek yang membenci

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aliya sofya Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18

Masih berada di taman. Rafa kini menyaksikan istri kecilnya yang sedang memakan permen kapas bentuk babi dengan ukuran agak besar.

Dara bilang bentuk babi itu imut, apalagi boneka nya. Padahal menurut Rafa, imut dari mana nya? Lubang hidungnya aja besar begitu.

Rafa tidak menyangka akan berada di tempat ini bersama Dara. Apalagi dia dengan sadar tadi mengatakan ingin mencoba hidup dengan Dara dan menerima pernikahan yang awalnya dijalani karena terpaksa itu.

Rafa, yang duduk di sampingnya, tanpa sadar mulai fokus memperhatikan Dara. Ada sesuatu yang menarik dalam cara Dara menikmati permen kapas itu, sesuatu yang membuat Rafa tak bisa mengalihkan pandangannya.

Fokus Rafa pada bibir Dara yang sampai manyun-manyun saat makan permen kapas yang sekali hap di mulut langsung hilang itu.

Diam-diam Rafa tersenyum tipis. Kulit putih mulus Dara tampak kontras dengan permen kapas merah muda yang dipegangnya, dan bibirnya yang juga berwarna merah muda tampak semakin menonjol di bawah sinar matahari yang mulai redup.

Rafa merasa jantungnya berdetak sedikit lebih cepat dari biasanya. "Kenapa aku jadi begini?" pikirnya dalam hati sambil mengernyitkan dahi.

Dara, yang menyadari tatapan Rafa, tersenyum dan mengulurkan permen kapasnya. "Mau coba? Ini enak banget, lho."

Rafa menggeleng pelan. "Enggak. Saya gak terlalu suka makanan manis," jawabnya singkat, raut wajahnya dibuat agar terlihat biasa saja.

Dara cemberut, bibirnya mengerucut lucu.

Rafa yang melihat wajah istri kecilnya berubah sedih jadi merasa

tak enak hati. Ada perasaan tidak tega yang tiba-tiba muncul di hatinya.

Rafa menghembuskan napas berat. "Hm. Baiklah, baiklah. Sedikit saja tapi," ucapnya.

Senyum cerah kembali menghiasi wajah Dara. Dia dengan semangat mengulurkan permen kapas ke arah Rafa. Namun, saat Rafa hendak memakan permen kapas itu, sesuatu yang tak terduga terjadi.

Dara tiba-tiba berteriak kecil dan menekan permen kapas itu ke wajah Rafa.

"Ada ulat bulu!" teriaknya kaget, menunjuk ke bangku di

dekat mereka. Ada ulat bulu berwarna kuning di sana.

Rafa memejamkan matanya, merasa permen kapas yang besar itu menempel di seluruh wajahnya. Rasa lengket dan manis langsung menyelimutinya.

"Dara!" serunya dengan suara tertahan.

Dara yang sadar akan kesalahannya langsung panik. "Ya ampun! Maaf! Aku nggak sengaja!" katanya sambil berusaha membantu membersihkan wajah Rafa.

Tangannya yang kecil dan lembut mulai mengusap wajah Rafa dengan hati-hati.

Rafa membuka matanya perlahan, melihat Dara yang begitu dekat dengannya. Wajah mereka hanya berjarak beberapa inci saja, dan Rafa bisa merasakan napas Dara yang hangat menyentuh kulitnya.

Keduanya saling pandang dalam jarak yang begitu dekat, mata mereka bertemu dalam keheningan yang tiba-tiba.

Jantung Rafa berdetak semakin cepat, dan ia bisa merasakan hal yang sama dari Dara. Keduanya terdiam, terjebak dalam momen yang tak terduga namun begitu intens. Ada sesuatu yang tak terucapkan di antara mereka, sebuah perasaan yang mulai

tumbuh dan menguat tanpa mereka sadari sebelumnya.

Dara menelan ludah, mencoba mengalihkan pandangannya namun gagal.

"O-Om marah?" bisiknya pelan, hampir tak terdengar.

Rafa menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.

"Oh bentar!" seru Dara kemudian hendak membuka tas sekolahnya namun dia kembali menjerit dan berdiri saat melihat ulat bulu itu masih ada di bangku dan sedang mendekat ke arahnya.

"Iiih. Geli! Ulat bulunya masih ada!" seru Dara.

Rafa melihat ulat bulu yang

ukurannya sangat kecil. Mungkin ulat itu masih anak-anak. "Kamu takut pada ulat bulu yang hanya sekecil itu?" tanya Rafa.

"Ya udah buang sana ulatnya. Hiiiih!" Dara kembali bergidik geli.

"Malas ah! Ayo bersihin wajah saya!"

Kedua mata Dara memicing penuh curiga. "Jangan bilang Om juga takut?" tanyanya.

Rafa berdecak. Dia menegakkan posisi duduknya. "Saya gak takut. Cuman apa kamu gak kasian itu dia masih kecil begitu harus dibuang? Kamu harus punya rasa simpati dikit dong."

"Hiliiih. Bilang aja takut!" ledek

Dara. "Ya udah pindahin aja ke.."

Dara melihat sekeliling dan menunjuk ke arah tumbuhan yang daunnya agak lebar, "pindahin ke sana aja, di sana dia bisa langsung makan daun, kalau di sana kan gak bisa makan besi, keras."

"Iiih ayo dong!" rengek Dara.

Rafa tertawa dalam hati melihat wajah frustasi Dara. Dia gemas sekali. Rafa kemudian berdiri dan mengambil daun kering untuk membawa ulat bulu kecil tersebut.

"Kok pake daun kering? Kenapa gak pake tangan langsung aja? Takut ya?" tanya Dara.

Rafa menghela napas pelan dan

kembali pada Dara. "Kamu mau tangan dan tubuh saya gatal-gatal?" tanyanya.

Dara membulatkan mulutnya kemudian nyengir. "Oh iya. Gak kepikiran."

Rafa berdecak dan mencubit gemas hidung mancung Dara. "Ayo bersihin wajah saya. Nanti keburu banyak semut yang datang."

"Di mobil aja. Gak enak diliat orang kalau di sini," ucap Dara.

 

Di dalam mobil, Rafa memejamkan matanya, membiarkan Dara membersihkan wajahnya menggunakan tissue basah yang selalu dibawa oleh gadis itu ke mana pun.

Perlahan, kelopak mata Rafa terbuka dan pandangannya langsung tertuju pada wajah cantik Dara yang jaraknya begitu dekat dengannya.

Sadar dirinya terus diperhatikan, Dara pun mencoba untuk tetap fokus membersihkan permen kapas yang masih menempel di wajah Rafa. Dia berusaha agar tidak terpesona pada wajah tampan sang suami.

Dara hanya ingin membentengi hatinya agar tidak jatuh hati pada pria yang belum bisa melupakan masa lalunya itu. Meski Rafa adalah suaminya.

"Cantik," ucap Rafa.

"Kamu cantik, Dara," ucap Rafa tulus sambil memandang Dara.

Dara mencebik, matanya menatap curiga ke arah Rafa. "Om bilang kayak gitu karena aku udah ngerubah penampilanku aja, 'kan?" tanyanya.

Rafa menggeleng pelan. "Waktu kamu masih memakai kacamata besar dan rambut yang selalu dikepang tanpa adanya poni juga kamu sudah cantik," balasnya, kedua matanya tak ingin berpaling.

Rafa memang jujur. Dia mengakui, awalnya dia sempat terkesan jijik melihat penampilan culun Dara.

Tapi, seiring berjalannya waktu dan pertemuan-pertemuan mereka, kecantikan Dara mulai terungkap meski tertutup penampilannya yang kurang menarik.

Hatinya yang keras berusaha menyangkal, namun ia tak bisa lagi menutupi kekagumannya pada Dara.

Sekarang, melihat perubahan Dara, Rafa tak ingin munafik sebagai seorang pria. Ia harus mengakui bahwa Dara kini terlihat jauh lebih cantik dari sebelumnya.

Dara jadi salah tingkah, wajahnya bersemu merah mendengar pujian dari Rafa. Dia membuang tissue basah bekas

pakai itu ke tempat sampah kecil yang ada di dekat kakinya.

"Udah bersih," ucap Dara.

"Kamu yakin? Nanti kalau wajah saya tiba-tiba digigit semut karena masih ada permen yang nempel, gimana?" tanya Rafa.

"Iya udah. Om jangan berusaha buat modus sama aku ya!"

Rafa tertawa kecil. Dia mulai menghidupkan mesin mobil hingga akhirnya mobil warna hitam itu mulai pergi meninggalkan taman.

"Langsung pulang, 'kan?" tanya Rafa memastikan.

Dara berpikir sejenak. "Oh, kayaknya harus ke supermarket dulu deh. Stok daging, sayur,

bumbu sama buah-buahan di lemari es mulai habis."

Rafa mengangguk. "Baiklah."

Sampai di supermarket, Rafa langsung mengambil alih troli yang sebelumnya hendak Dara dorong sendiri. Dara tersenyum manis dan berjalan lebih dulu, membiarkan Rafa mengikutinya dari belakang.

Tujuan utamanya adalah ke tempat sayuran. Dia mengambil beberapa macam sayuran yang dia inginkan.

"Brokolinya ambil dua bungkus," ucap Rafa.

Menurut, Dara pun mengambil dua bungkus sayuran yang

suaminya minta.

"Sekarang apa lagi?" tanya Rafa.

"Dagingnya belum," balas Dara.

Dara mengambil paha ayam yang nampak berjejer rapi dan tertawa kecil saat mengingat dia pernah rebutan paha ayam goreng dengan Rafa dan berakhir suaminya itu yang menang.

"Kamu jangan tiba-tiba ketawa kayak gitu. Mana ketawanya sendiri lagih," celetuk Rafa.

"Diih!" Dara mengerucutkan bibirnya. Dia mengambil daging yang lain dan juga aneka seafood yang dia dan Rafa mau.

Selesai dengan sayur dan daging serta seafood. Keduanya beralih ke tempat buah-buahan. Dara mengambil buah strawberry berukuran besar-besar yang sangat menggodanya.

Rafa mengernyitkan keningnya. Dia tiba-tiba teringat pada sosok Khaylila yang tidak menyukai buah tersebut sedangkan dia suka.

Rafa menggelengkan kepalanya pelan. "Sadarlah, Rafa. Dia bukan Khaylila," batinnya menyadarkan diri sendiri.

Tidak begitu jauh dari mereka, ada sosok wanita paruh baya yang memperhatikan kedekatan keduanya. "Itu, Rafa, 'kan? Dia

bersama siapa?" gumam Sari, ibu kandung Khaylila.

Kedua tangannya mengepal saat melihat Rafa yang nampak tertawa dengan gadis Sari tidak tahu siapa itu.

"Kamu berjanji tidak akan pernah merasa bahagia untuk menebus kesalahanmu karena Khaylila meninggal. Tapi apa ini?" gumam Sari lagi.

 

Selesai belanja, keduanya memutuskan untuk langsung pulang. Sudah sangat sore dan mereka memutuskan untuk membeli makan di jalan saja kemudian dibekal ke rumah.

Dara memandang beberapa kantung plastik berisi belanjaan yang jumlahnya lumayan banyak. Dia menggigit bibir, tidak tahu habis berapa karena Rafa yang membayarnya.

"Ah, masa bodo. Ini kan buat dia juga," ucap Dara.

Dia memutuskan untuk mandi dulu dan akan membereskan semua belanjaan itu nanti.

Selesai mandi dan berganti pakaian, Dara kembali turun ke lantai bawah. Mengambil beberapa buah toples dari ukuran kecil, sedang sampai yang agak besar untuk menyimpan sayuran dan daging serta seafood agar tetap rapi di dalam lemari es nanti. sedangkan

untuk buah-buahan, ada tempat khusus.

Dara tidak melihat keberadaan Rafa. Gadis cantik itu mengedikkan bahunya, mungkin Rafa masih berada di kamarnya.

Rafa duduk di kamarnya, memegang erat bingkai foto Khaylila. Di lubuk hatinya, dia merasakan keanehan yang sulit dijelaskan. Perasaan sedih yang biasanya menyelimuti pikirannya menghilang.

Rafa pun berbicara kepada foto Khaylila dengan nada ragu, "Maafkan aku, Khay. Tapi ... aku yakin kamu juga tidak ingin melihatku terus terpuruk dan tak bisa menerima orang lain selama lima tahun ini, kan?"

Dia menghela nafas sejenak, kemudian melanjutkan, "Aku ... aku ... rasanya Dara mulai bisa menyentuh hatiku. Aku merasa lebih nyaman saat bersamanya."

Rafa tersenyum pahit, "Dia istriku, dan aku sadar bahwa aku tidak bisa bersikap dingin terhadapnya selamanya. Karena sekarang, perlahan tapi pasti, aku merasa aku mulai jatuh hati padanya."

Mata Rafa berkaca-kaca, namun ia tetap melanjutkan, "Tapi, itu semua bukan berarti aku benar-benar melupakanmu, Khay. Kamu

akan selalu memiliki tempat spesial di hatiku."

Malamnya, selesai makan, Dara berniat untuk mencuci piring bekas makan dia dan sang suami.

"Biar saya saja," ucap Rafa saat Dara hendak mengambil piring kotor bekas makan dirinya.

"Om mau cuciin punyaku juga maksudnya?" tanya Dara.

"Ck. Punyamu ya cuci sendiri," balas Rafa.

Dara mengerucutkan bibirnya. Sedangkan Rafa langsung tertawa. "Iya, siniin. Saya yang cuci juga," ucapnya.

Dara tersenyum lebar. Dia memberikan piring miliknya dan memilih untuk mengelap meja makan agar bersih kembali.

Setelah semuanya selesai, keduanya masuk ke kamar masing-masing. Meski Rafa merasa agak aneh juga. Sudah menikah tapi pisah kamar.

Dara kini sedang fokus mengerjakan PR matematika yang tadi siang diberikan oleh Rafa. Dia agak kesulitan saat mengerjakan soal nomor tiga. Bayangan wajah tampan Rafa seakan terus mengganggunya.

Dara menyimpan pensilnya dengan kasar. "Lo kenapa sih, Dara? Kenapa lo kepikiran terus sama

wajah suami lo sendiri?!" geramnya pada diri sendiri.

"Ini juga. Kenapa gak bisa-bisa? Hiih!"

Menyerah, Dara pun memutuskan untuk membawa buku tugasnya. Dia memberanikan diri untuk bertanya pada Rafa langsung saja.

Tok, tok, tok!

Dara mengetuk pintu kamar Rafa. Namun, tiga kali diketuk, Rafa tidak kunjung membuka pintunya.

"Ibu bilang, adab bertamu itu mengetuk pintu jangan lebih dari tiga kali. Tapi ... sekali lagi aja deh," gumam Dara.

Namun, saat dia hendak mengetuk pintu itu untuk yang keempat kalinya, pintunya terbuka dan Rafa berdiri hanya menggunakan celana training polos warna putih saja.

Dara bengong dan mengerjapkan matanya beberapa kali. Tingginya yang hanya sebatas dada Rafa membuatnya bisa melihat jelas barisan roti sobek yang ada di perut sang suami.

"Kotak-kotaknya, kenapa banyak sekali?" batin Dara.

Selama ini, dia hanya melihat perut kotak-kotak di idol k-pop favoritnya. Tentunya dia pun hanya melihat di video saja.

Tapi sekarang, mengapa milik Rafa terlihat lebih menarik?

"Ada apa?" tanya Rafa. Dia baru selesai olahraga dan barusan sedang di kamar mandi untuk membersihkan dirinya dari keringat.

"Hah?" Dara terkesiap. "Emm ... itu. A-aku mau tanya soal PR nomor 3," ucap Dara. Dia memilih untuk menunduk, tidak sanggup melihat pahatan tubuh yang menggoda iman tersebut. Apalagi yang di depannya halal untuk dilihat serta disentuh.

"Oh, masuk aja dulu. Saya mau mandi dulu bentar," ucap Rafa dengan santainya.

"Mandi?" gumam Dara lirih. Pikirannya tiba-tiba jadi travelling ke sana kemari.

Tuk!

"Awww!" Dara mengusap keningnya yang disentil oleh Rafa.

"Pasti lagi mikir yang aneh-aneh," tebak Rafa.

Kedua mata Dara melotot, tapi wajahnya bersemu merah. Jadi, meski dia mengelak pun, Rafa tahu kalau Dara sedang berbohong.

"Aku mau apa? D-diem di sana!" ucap Dara saat Rafa mendekat ke dirinya.

"Kenapa? Bukannya kamu mau nanyain PR? Ya udah, kenapa malah mundur?" goda Rafa sambil

tersenyum miring.

"I-iya. Tapi bukan begini," balas Dara terus memundurkan langkahnya.

"Lalu, bagaimana?" tanya Rafa, tidak memperdulikan Dara yang terus berjalan mundur, dia pun terus maju.

Hingga akhirnya Dara tidak bisa mundur lagi. Punggungnya mentok pada pagar besi pembatas dengan Rafa yang juga menahan punggungnya itu.

"Om, bisa mundur dikit, gak?" tanya Dara.

"Kalau saya gak mau. Kamu mau apa?" Rafa balik bertanya.

"Om bau keringat," ucap Dara

asal.

"Mana ada? Meski tubuh saya berkeringat banyak. Tapi tubuh saya tidak pernah bau."

"Om-"

"Mas!"

"Hah?" Dara bingung.

"Panggil saya, Mas. Saya suami kamu. Bukan paman kamu," ujar Rafa.

1
falea sezi
enak bgt si aldi najis pas sakit ke istri pas seneng2 ke. selingkuh an jangan. bego erina np erina di buat bloon sih
falea sezi
erina mending cerai duda tua banyak ngapain suami mu bekas. jalang lu mau
Ikky
dipersilahkan
Ikky
3
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!