Jenna tak sengaja menyelamatkan seorang anak kecil yang terkurung bersamanya di gudang bar. Tak disangka, anak itu merupakan anak kesayangan seorang duda bangsawan.
Sebelumnya, Jenna selalu tersisih dari keluarganya. Kakaknya bahkan membuat kedua orang tua mereka berbalik memusuhinya. Sementara itu, pria yang dulu ia cintai justru berpihak kepada sang kakak.
Kali ini, Jenna tidak berniat mengalah. Ia ingin membalas semua yang telah dialaminya sekaligus mengejar kembali mimpinya menjadi aktris terkenal. Namun, setiap langkahnya selalu dihadang berbagai rencana licik dari kakaknya yang terus berusaha menjatuhkannya.
Saat Jenna perlahan membantu anak sang duda membuka diri dari trauma, pria itu mulai memperhatikannya dengan cara yang berbeda.
Akankah ia jatuh cinta pada Jenna?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Make Up
“Makasih pujiannya, Tuan Alamsyah. Tapi kalau acara resmi kayak gitu, paling gak harus makeup tipis. Masalahnya aku juga gak punya baju yang cocok. Banyak media juga di sana. Aduh pusing banget…”
“Tunggu sebentar.” Marco mengangkat tangan memberi isyarat agar dia tenang lalu keluar ke halaman untuk menelepon.
Sepuluh menit kemudian seseorang datang sambil terengah-engah.
“Tuan Alamsyah, semua barang yang Kamu minta sudah aku bawa. Bisa Mulai sekarang?”
Orang itu memakai jeans robek, jaket abu-abu, dan anting biru tua mencolok di telinga kiri.
Jenna terkejut karena wajah itu sangat familiar. Tentu saja familiar dalam arti dia mengenal orang itu, tapi orang itu tidak mengenalnya.
Dia adalah Igun, penata rias terkenal dari Moonlight Entertainment. Makeup artist pribadi aktris terkenal Bunga Citra.
Sosok terkenal yang hanya bisa dia lihat dari jauh.
“Ini?” Jenna tampak bingung.
“Kamu tidak mengenalnya?” tanya Marco.
“Aku tentu kenal Igun, yang terkenal itu! Tapi kenapa dia dipanggil ke sini?”
“Untuk mendandanimu,” jawab Marco santai.
Kepala Jenna langsung penuh garis hitam. Dia mendekat ke telinga Marco dan berbisik.
“Kamu serius? Pakai makeup artist Moonlight buat dandanin aku? Kamu tau kan aku artis Royal? Moonlight sama Royal itu musuh bebuyutan!”
“Terus kenapa?” jawab Marco dengan nada yang dominan.
Terus kenapa?
Jenna langsung terdiam.
“Tuan Alamsyah … karyawan Kamu tau gak kalau Kamu pake orang perusahaan sendiri buat bantu artis perusahaan lain?”
Jelas mereka tidak tahu. Makeup artist terkenal ini bahkan pasti tidak pernah mendengar namanya.
Dia hampir ingin berlutut pada Marco. Moonlight Entertainment sebenarnya adalah salah satu anak perusahaan Alamsyah Corporation.
Walaupun sekarang dikelola Xander, bos sebenarnya tetap Marco.
Lima tahun lalu Alamsyah Corporation mulai masuk ke industri hiburan dengan membeli Moonlight Entertainment dan membangun kerajaan hiburan. Perusahaan itu bahkan mampu bersaing langsung dengan Royal Entertainment, perusahaan tertua di industri.
Persaingan mereka sangat sengit.
Artis, manajer, asisten, makeup artist, sampai stylist dari kedua perusahaan hampir tidak pernah bercampur.
Kalau artis dari dua perusahaan muncul di lokasi yang sama, pasti ada konflik.
Marco melihat jam tangannya.
“Minivan sudah di depan. Kamu bisa makeup di perjalanan dan masih sempat sampai. Mau pergi atau tidak, terserah kamu.”
Jenna merasa sangat dilema.
Namun akhirnya dia menggertakkan gigi. “Aku pergi!”
Kalau Marco saja tidak peduli, dia juga tidak akan peduli.
Melihat Marco ikut berjalan, dia terkejut. “Kamu juga ikut?”
“Siapa yang mau nyetir? Juju juga masih ingin bersamamu.”
Nada bicaranya tetap datar seolah itu hal yang sangat wajar.
Juju mengangguk kuat-kuat.
“Baiklah…”
Akhirnya mereka berempat naik minivan bersama Igun.
Marco bahkan tidak mengganti pakaian rumahnya. Dia tetap mengemudi, sementara Jenna dan Igun duduk di belakang. Juju memperhatikan mereka dengan penasaran.
Igun mengamati Jenna dengan saksama, matanya penuh apresiasi. “Wajah Kamu sempurna dan kulit Kamu bagus sekali. aku hampir tidak perlu banyak kerja. Cukup makeup ringan. Acara apa yang akan Kamu hadiri?”
“Upacara pembukaan film .…”
Jenna sangat takut dia tahu bahwa dia dari Royal. Untung Igun tidak banyak bertanya. Dia hanya mengangguk lalu mulai meriasnya.
Saat hampir sampai, Jenna sudah selesai didandani dari kepala sampai kaki.
Waktunya benar-benar pas.
Marco menghentikan mobil dan menoleh ke belakang.
“Bagaimana?” Jenna bertanya gugup.
“Not bad.”
Mendapat pujian dari orang sependiam Marco bukan hal mudah.
Apalagi Juju menatapnya dengan wajah takjub.
Kepercayaan diri Jenna langsung melonjak.
Dia memeluk Juju. “Maaf ya Sayang, aku gak bisa nemenin kamu. Tapi aku janji setelah kerja aku bakal balik cepat.”
Juju memeluknya sebentar sebelum melepaskan dengan enggan.nMelihat ayah dan anak itu berdiri di belakangnya, hati Jenna terasa hangat.
Setelah bertahun-tahun berjuang sendirian, ini pertama kalinya dia merasakan kehangatan seperti itu.
Setelah Jenna pergi, Igun otomatis duduk di kursi pengemudi. Dia akhirnya tidak bisa menahan rasa penasaran.
“Bos… wanita tadi siapa? Artis baru perusahaan kita? Kok aku belum pernah lihat?”
Astaga.
Bos besar mereka ternyata punya wanita di sisinya. Ini berita besar.
Marco menopang dagunya. “Artis dari Royal.”
Igun langsung terdiam. Wajahnya langsung terasa pahit seperti menelan lemon.
Kenapa bos malah membantu pihak lawan?
Bahkan tuan muda kedua saja tidak pernah berkencan dengan artis Royal.
Kalau yang duduk di sini Xander, pasti sudah memakinya panjang lebar. Tapi yang di depannya adalah Marco. Dia hanya bisa menahan semuanya dalam hati. Namun ada satu pikiran yang tidak bisa dia tahan.
Jangan-jangan artis Royal yang tidak terkenal itu… adalah calon Nyonya Bos mereka?
Upacara pembukaan film Tanah Surga berlangsung meriah.
Para pemain dan kru sudah berkumpul. Lampu kamera berkedip tanpa henti, media berdatangan dari berbagai tempat, bahkan di luar area sudah ada banyak penggemar yang datang setelah mendengar kabar acara ini.
Sebagian besar media mengelilingi pemeran utama wanita, Maoy, dan pemeran utama pria, Bimo Dewanto.
Yang satu adalah bintang paling bersinar dari Royal Entertainment, sementara yang lain adalah aktor terkenal peraih Oscar. Kombinasi pria tampan dan wanita cantik itu tentu langsung menjadi pusat perhatian.
“Maoy, kita tahu ini sudah kedua kalinya kamu berpasangan dengan Bimo di layar. Kalau di dunia nyata, apakah kamu juga akan jatuh cinta pada pria seperti Bimo?”
Maoy tertawa.
“Bimo memang sangat menarik. Tapi sayangnya tidak mungkin. Hati aku sudah penuh, gak ada ruang lagi buat dia.”
Para wartawan langsung heboh.
Setahun lalu Maoy memang sudah mengumumkan bahwa dia punya pacar. Banyak orang menyelidiki dan akhirnya mengetahui bahwa pacarnya adalah Zergan Pratama, putra CEO Dragon Electric Corporation, Johan Pratama.
Pria itu bukan hanya kaya dan berstatus tinggi, tapi juga tampan. Banyak orang iri pada Maoy.
Walau para penggemar sempat kecewa, sekarang fans tidak lagi terlalu menolak idolanya menikah seperti dulu. Banyak fans justru berharap idolanya menemukan pasangan yang baik.
Setelah mengungkap hubungan itu, popularitas Maoy justru tidak turun. Dia bahkan semakin sering menjadi bahan pembicaraan dengan topik seperti “pacar kaya dan tampan”.
Bimo Dewanto yang berdiri di sampingnya langsung menimpali.
“Putri Larasati, Kamu kejam banget. Raja ini sudah memberikan seluruh hati dan hidupnya buat kamu!”
Tokoh yang dimainkan Maoy kali ini adalah Larasati, sementara Bimo Dewanto berperan sebagai seorang pangeran.
Para wartawan tertawa dan suasana langsung menjadi hangat. Selain pemeran utama pria dan wanita, orang yang paling menarik perhatian media sebenarnya adalah pemeran wanita pendukung.
Kerumunan wartawan langsung mengelilingi sutradara Mamayo.
“Sutradara Mamayo, di mana pemeran Arimbi? Apakah dia akan datang hari ini?”
“Tentu saja.”
“Benarkah Kamu menolak Prilly karena dia tidak cukup cantik untuk peran ini?”
Pertanyaan itu jelas berniat memancing masalah.
Namun Mamayo sudah sangat berpengalaman.
“Untuk karakter seperti Arimbi, memang ada standar tertentu untuk penampilan. Tapi penampilan bukan satu-satunya kriteria. Prilly sebenarnya tidak bermasalah dari segi wajah, hanya saja auranya tidak sesuai dengan karakter.”
“Kami dengar pemeran Arimbi adalah pendatang baru. Mengingat peran ini cukup sulit, apakah dia mampu memenuhi harapan?”
Mamayo mulai merasa heran.
Kenapa para wartawan hari ini seperti sengaja menyerang? Apakah mereka kurang diberi uang tambahan?
Mereka bahkan terus menyoroti pemeran wanita pendukung.
“Untuk pertanyaan itu, silakan tunggu sampai filmnya tayang.”
Namun para wartawan masih belum menyerah.
“Sutradara Mamayo, apakah pemeran Arimbi lebih cantik daripada Prilly?”
Mamayo sudah hampir kehilangan kesabaran.
Tentu saja lebih cantik!
Bahkan jauh lebih cantik!
Tunggu saja sampai kalian melihat Jenna!
Saat itu, Mamayo tiba-tiba melihat seseorang muncul di ujung karpet merah.
Dia tertegun selama beberapa detik sebelum tersenyum. “Nah, kebetulan sekali. Orangnya sudah datang.”
Setelah mengatakan itu, Mamayo memasang ekspresi menunggu reaksi mereka.
Benar saja.
Ketika para wartawan menoleh ke arah yang ditunjuknya, reaksi pertama mereka adalah terpaku.
Jenna mengenakan gaun renda berwarna magenta.
Potongannya menonjolkan pinggangnya yang ramping, sementara bagian leher memperlihatkan tulang selangkanya yang indah.
Warna ini bahkan lebih sulit dipakai dibanding merah terang. Ditambah lagi bahan renda sering membuat orang terlihat murahan.
Namun gaun itu seolah dibuat khusus untuk Jenna. Gaun itu justru membuatnya terlihat semakin menawan. Saat stylist memilih gaun ini, Jenna sendiri sempat merasa dia tidak akan cocok memakainya.
Ternyata dia salah.
Seperti yang diharapkan dari tangan ajaib Moonlight Entertainment. Stylist itu bahkan lebih memahami dirinya daripada dirinya sendiri.
Ini memang pertama kalinya Jenna berjalan di karpet merah.
Namun dia adalah seorang aktris. Dia pernah memainkan berbagai peran, termasuk selebriti. Dia bahkan pernah berakting sebagai seorang bintang beberapa kali.
Berjalan di karpet merah bukan hal sulit baginya. Setiap langkah, setiap senyuman, setiap gerakan selalu berada di sudut terbaik untuk kamera.
Para wartawan bahkan terpaku lebih lama daripada Mamayo tadi.
Butuh beberapa saat sebelum mereka akhirnya sadar.
Ini … Jenna?
Aktris yang akan memerankan Arimbi?
Pendatang baru tanpa karya terkenal?
Dia… terlalu cantik.
Tidak ada kata lain.
Cantik.
Sekarang mereka akhirnya mengerti kenapa ekspresi Mamayo tadi aneh ketika mereka terus bertanya soal Prilly.
Membandingkan kecantikan Prilly dengan Jenna jelas tidak masuk akal.nDi depan kecantikan seperti Jenna, bahkan bintang cantik seperti Prilly terlihat biasa saja.
Bukan hanya wajahnya. Aura Jenna juga sangat berbeda dari para pendatang baru lainnya. Gerakannya elegan namun santai, bahkan memancarkan aura bangsawan alami.
Jenna berjalan ke tengah karpet merah, berpose beberapa kali untuk kamera, lalu mengambil pena dan menandatangani namanya di papan.
Saat dia berbalik, kamera langsung berbunyi tanpa henti. Gaun itu memang dirancang dengan bagian punggung terbuka. Itu juga alasan stylist memilihnya.
Tulang belikat Jenna terlalu indah. Itu adalah bagian paling memikat dari tubuhnya. Kalau tidak diperlihatkan, sayang sekali. Sebagian besar aktris suka memperlihatkan dada untuk menarik perhatian di karpet merah. Namun Jenna memilih cara berbeda.
Dia langsung menonjol di antara mereka. Setelah para wartawan puas mengambil foto, akhirnya sesi wawancara dimulai. Para wartawan sebenarnya cukup kasihan pada diri mereka sendiri hari ini.
Mereka sudah menyiapkan banyak pertanyaan tajam.
Misalnya:
“Apakah menurut Kamu wajah Kamu cocok memerankan wanita penggoda seperti Arimbi?”
“Menurut Kamu siapa yang lebih cantik, Kamu atau Prilly?”
“Kami dengar Kamu dipilih lewat jalur khusus. Apakah ada alasan tertentu?”
Namun sekarang semua pertanyaan itu tidak bisa digunakan.
Selama mereka tidak buta, mereka bisa melihat bahwa tidak ada skandal apa pun.
Wajah Jenna saja sudah cukup menjelaskan semuanya. Dia memang orang yang paling cocok memerankan Arimbi. Para wartawan akhirnya harus memutar otak mencari pertanyaan baru.
“Nona Adiputra, apakah gaun yang Kamu pakai ini desain khusus Butik Bandung?”
Jenna langsung tertegun.
Apa?
Gaun ini desain Butik Bandung?
Dia tadi memakai gaun yang harganya tiga ratus jutaan?
Bos Iblis Alamsyah, apa yang Kamu pikirkan!
Namun ternyata ada pertanyaan yang lebih menakutkan lagi.
Wartawan yang sama kemudian menyebutkan satu per satu merek aksesorinya, lalu bertanya,
“Nona Adiputra, apakah Igun yang menata rias Anda?”
Jenna hampir panik.
Mata macam apa itu!