Liora dipaksa menikah dengan Kaedric Volther, pria yang dikenal kejam dan berbahaya. Namun sebelum pernikahan itu terjadi, Kaedric meninggal dunia. Liora mengira rencana pernikahan itu akan dibatalkan dan ia bisa kembali menjalani hidupnya seperti biasa.
Namun keputusan keluarga Volther berubah. Untuk menjaga kepentingan keluarga, Liora justru harus menikah dengan ayah Kaedric, Maelric Volther, seorang pria berkuasa yang jauh lebih tua darinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vaelisse, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
5
"Astaga!" seru Zevran begitu masuk ke kamar Liora. "Kamu persis seperti pengantin di televisi."
Liora hanya memutar matanya. Sepertinya Zevran lupa bahwa dalam hitungan jam, pernikahan sialan itu benar-benar akan terjadi.
"Lelucon yang tidak lucu."
Liora tahu rencana mereka sudah disusun sampai ke detail terkecil. Tapi itu tidak mengusir rasa takut yang terus menggerogotinya. Bagaimana kalau ada yang salah? Bagaimana kalau bukan Maelric yang mati, melainkan dirinya?
Setetes air mata meluncur di pipinya, tapi Zevran langsung mengusapnya.
"Jangan sampai rusak. Riasanmu baru saja selesai, sayang sekali kalau dihancurkan. Meski kalau boleh jujur," Zevran melirik sanggul rumit yang dibuat oleh penata rambut tadi, "aku lebih suka rambutmu digerai."
"Aku tidak termasuk orang yang paling cerdas," kata Liora pelan. "Aku selalu bisa melakukan kesalahan. Kalau mereka menemukan racun itu di dekatku, mereka pasti curiga ada yang membantuku. Tentu saja aku tidak akan menyebut nama kalian, tapi—"
Zevran menghentikannya dengan meletakkan tangannya lembut di pipi Liora. Ia menatap matanya langsung.
"Berhenti khawatir. Kamu perempuan muda dia tidak akan punya alasan untuk mencurigaimu. Dan kalau hari ini tidak ada kesempatan, lakukan besok. Tidak ada yang perlu dirisaukan." Ia mencium kening Liora, lalu meraih tangannya dan mengajaknya turun.
Di bawah sudah menunggu seluruh keluarganya. Ayah, Raphael, dan Ronan yang berdiri dengan ekspresi seolah seluruh dunia sedang bersalah padanya.
Ketiganya memakai jas hitam senada. Liora sejenak berpikir betapa mudahnya hidup laki-laki, tinggal ambil jas dari lemari, selesai. Sementara perempuan harus merencanakan setiap detail pakaian dan aksesorinya.
"Apa yang kalian pilihkan ini?" keluh Ronan, menelusuri penampilan Liora dari atas ke bawah. Ia selalu mencari-cari. Gaun ini tidak memiliki belahan terlalu dalam, tidak ada korset transparan, tidak ada yang provokatif kecuali kalau Ronan mempermasalahkan bagian bahunya yang terbuka.
"Diam. Liora terlihat cantik sekali," kata Raphael, lalu mendekat ke arah adiknya. "Kalau kamu mengizinkan, biar aku yang mengantarmu ke altar."
"Enak saja, itu harusnya tugasku," protes Ronan, meski tadi ia masih berpura-pura cemberut pada semua orang.
"Aku yang paling tua."
"Terserah kalian saja," kata Liora, lalu berjalan menuju pintu keluar. Sudah waktunya masuk ke limusin.
**
Liora tidak tahu bagaimana kakak-kakaknya akhirnya mencapai kesepakatan, tapi yang menuntunnya ke altar adalah Raphael. Kemungkinan besar ayah mereka yang turun tangan memutuskan.
Seluruh upacara terasa sangat panjang dan menyiksa, tapi Liora berusaha keras tidak memperlihatkan perasaan apa pun. Dan ternyata Maelric pun melakukan hal yang sama, ekspresinya terkendali dan datar sepanjang prosesi.
Pendeta meminta mereka berciuman.
Liora berharap ciuman itu akan singkat dan seperlunya saja. Harapan itu buyar ketika Maelric menangkup bagian belakang kepalanya dan menciumnya dengan penuh. Meski Liora sudah dua puluh tahun, ia harus mengakui dalam hati, itu adalah ciuman paling intens yang pernah ia alami.
Maelric melepaskannya. Liora menatap matanya.
Sepertinya ia melihat sesuatu dalam ekspresi Liora, karena ia langsung menggenggam tangannya dan membimbingnya keluar dari gereja menuju limusin yang sudah menunggu.
Ini baru pertemuan kedua mereka, dan Liora sudah menjadi istrinya. Rasanya seperti plot film murahan yang tidak masuk akal.
"Tinggal beberapa jam lagi pesta selesai, dan semua ini sudah kita lalui," kata Maelric di dalam limusin. "Karena aku masih dalam masa berkabung, aku tidak akan mengajakmu berdansa. Semoga kamu mengerti."
Liora mengangguk. Kabar yang menggembirakan, meski ia tidak berani menunjukkannya. Kedekatan fisik dengan Maelric adalah hal yang ingin ia batasi sebisa mungkin.
"Aku lihat kamu sangat tegang." Maelric mengambil tangannya. "Tidak perlu takut. Aku akan berusaha agar kamu merasa senyaman mungkin di sisiku."
"Aku juga akan melakukan semua yang aku bisa agar kamu tidak kecewa," jawab Liora.
Maelric tersenyum tipis. Ia mencondongkan tubuh dan menyentuh bibir Liora dengan lembut, sama sekali berbeda dari ciuman di gereja tadi. Kali ini terasa pelan, hati-hati, hampir seperti pertanyaan yang belum sempat diucapkan.
Bukan seperti yang Liora bayangkan dari seseorang yang seharusnya menjadi penjahat dalam hidupnya.
Dia seharusnya menjadi orang brengsek yang layak disingkirkan. Lalu kenapa semuanya tidak sesederhana itu?
"Aku ingin semua ini cepat selesai," gumam Liora tanpa sengaja, kata-kata itu meluncur begitu saja.
Maelric menatapnya, lalu mengangguk pelan. "Aku juga."
**
Zevran tidak pernah jauh dari sisinya sejak pesta dimulai. Ia bergantian membawakan gelas sampanye dan mengajaknya berdansa dan Zevran memang penari yang sangat baik, memimpin dengan percaya diri tanpa membuat Liora merasa canggung.
Aula pesta itu sangat luas, didekorasi serba putih, penuh dengan tamu-tamu yang wajahnya belum pernah Liora lihat sebelumnya.
"Mungkin aku harus kembali ke sisinya?"
"Jangan," jawab Zevran singkat.
"Sekarang giliranku." Suara Ronan terdengar di dekat telinganya. Zevran mengalah dan menyerahkan posisinya kepada kakak mereka.
Liora tidak ingat kapan terakhir kali ia berdansa dengan Ronan. Kakaknya ini hampir tidak pernah mau diajak ke lantai dansa.
"Dia tidak mengganggumu di limusin tadi?"
"Tidak."
"Bagus." Ronan mendekatkan wajahnya sedikit, suaranya turun menjadi bisikan. "Nanti aku akan berikan tablet yang bisa kamu larutkan di sampanye-nya. Kalau semuanya berjalan lancar, dia tidak akan sempat menyentuhmu."
Di matanya Liora melihat kemarahan yang sesungguhnya. Sesuatu yang lebih dalam dari sekadar rasa protektif biasa.
"Aku tidak yakin bisa melakukannya malam ini."
"Harus. Hal seperti ini tidak boleh ditunda-tunda," kata Ronan.
Suasana hati yang sempat membaik berkat Zevran seketika runtuh.
Ronan menemaninya berdansa sebentar lagi sebelum akhirnya Liora kembali ke sisi Maelric. Ia langsung meraih gelasnya.
"Sebentar lagi kita pulang," kata Maelric.
Pulang. Kata itu terasa aneh di telinga Liora. Mulai malam ini, rumah yang belum pernah ia kunjungi itu akan menjadi tempatnya tinggal. Rasanya seperti mundur ke abad pertengahan, ketika perempuan dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain tanpa pernah ditanya mau atau tidak.
"Boleh aku pamit dengan keluargaku dulu?"
"Tentu saja."
Liora bangkit dan menghampiri ayahnya terlebih dahulu.
"Mau berdansa dulu, Stroberi?" tanya ayahnya, memakai nama panggilan masa kecilnya julukan yang lahir dari kecintaan Liora pada stroberi sejak kecil.
"Sebentar lagi aku berangkat," jawab Liora pelan.
Ayahnya berdiri dan memegang bahunya dengan lembut.
"Aku tahu kamu sulit memahami ini. Tapi semua yang aku lakukan adalah untukmu."
Liora tidak menjawab. Ia tidak bisa membenarkan kata-kata itu. Dan ini bukan waktu maupun tempat yang tepat untuk berdebat.
Ayahnya membaca diamnya, lalu mencium keningnya.
Liora kemudian mencari Raphael, tapi kakak sulungnya itu tidak terlihat di mana pun. Mungkin ia keluar sebentar.
Sebelum sempat mencari lebih jauh, sepasang tangan memeluknya dari belakang.
"Aku akan merindukanmu, adikku," bisik Ronan.
Lalu diam-diam ia menyelipkan sebuah kotak plastik kecil ke dalam genggaman tangan Liora.