NovelToon NovelToon
Aku Milikmu, Tuan Mafia

Aku Milikmu, Tuan Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Romansa / Cinta Murni
Popularitas:326
Nilai: 5
Nama Author: Yellow Sunshine

Rachel hanya ingin menyelamatkan nyawa adiknya.
Namun bantuan dari ayah tirinya itu justru berubah menjadi mimpi buruk ketika ia dijual pada Tom—seorang pria kaya, kejam, dan terobsesi memilikinya. Terperangkap dalam sangkar emas yang menyesakkan, Rachel akhirnya memilih kabur dan mempertaruhkan segalanya demi kebebasan.
Di saat itulah ia bertemu Liam Smith. Pria misterius yang tampak dingin dan tak tersentuh. Bagi Rachel, Liam hanyalah seorang penyelamat. Tapi ia tidak tahu satu hal, bahwa Liam adalah bos mafia dan dirinya adalah seseorang yang pernah menyelamatkan hidupnya yang tak pernah bisa Liam lupakan.
Namun, ketika Rachel akhirnya mengetahui siapa Liam sebenarnya, ia dihadapkan pada dua pilihan. Akankah ia mampu bertahan dengan pria yang bisa melindunginya dari seluruh dunia? Atau akankah ia justru memilih meninggalkannya sebelum dunia Liam menghancurkan hidupnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yellow Sunshine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Penjara

Mobil hitam mewah milik Tom memasuki sebuah halaman rumah yang sangat luas. Gerbang besi tinggi di belakang mereka menutup kembali dengan sistem otomatis, setelah mobil yang mereka tumpangi melewatinya dengan kecepatan rendah. Di dalam mobil, Rachel menatap lurus ke depan saat Tom turun lebih dulu, lalu membukakan pintu untuknya.

Rumah milik Tom sangat besar, bahkan terlalu besar untuk dihuni oleh satu orang. Bangunannya modern, dengan kaca tinggi dan dinding berwarna abu-abu pucat. Dan beberapa pria berbadan besar yang berjumlah sekitar lima orang berdiri tegap di beranda rumah Tom—mereka langsung membungkukkan badan dan menyambut kedatangan Tom dengan penuh hormat.

"Selamat datang di rumah, Rachel.", ucap Tom dengan wajah sumringah, begitu mereka masuk ke dalam rumah besar itu. Dan ekspresinya itu justru membuat bahu Rachel menegang. Rasanya, ia ingin memberontak dan kabur saja dari tempat itu, tapi saat ini tidak ada yang bisa ia lakukan selain menuruti perintah Tom.

Bagian dalam rumah itu sama mewahnya dengan tampilan luarnya. Rachel disuguhkan interior modern yang terkesan mahal, dengan lantai marmer putih yang mengkilap, dinding berwarna netral, sofa besar yang tampak seperti baru dan jarang disentuh, lampu gantung kristal yang begitu terang, juga berbagai perabotan mahal lainnya. Rachel sempat terdiam beberapa saat karena takjub, sebelum akhirnya realitas berhasil menyadarkannya.

'Ini bukan rumah,' pikirnya. Dan itu memang benar, bahwa ini adalah wilayah kekuasaan Tom yang memaksanya tunduk.

Tom yang berjalan di depannya bergerak santai, melepas jasnya dan melemparkannya kasar ke arah seorang pelayan wanita yang baru saja datang menghampiri mereka. Wajahnya tenang, seolah sikapnya barusan adalah hal yang normal.

“Kau bisa duduk,” katanya pelan. Bukan sebuah perintah, tapi juga bukan pilihan.

Rachel pun duduk di ujung sofa, punggungnya tegak dan tangannya terkatup di pangkuan. Ia menjaga jarak sejauh mungkin dari Tom tanpa terlihat menantang, untuk membuat dirinya aman.

Tom memberi perintah pada pelayan tadi yang masih berdiri di sekitar sofa. “Bawakan secangkir kopi kesini dengan cepat!”, ucapnya. Pelayan itu pun mengangguk cepat dan pergi untuk menjalankan perintahnya.

Tom lalu duduk sembari menyilangkan kaki dengan santai, dalam jarak yang cukup dekat dengan Rachel. “Aku tahu kau pasti ketakutan,” katanya. “Tapi aku tidak berniat menyakitimu.” lanjutnya. Dan Rachel jelas tahu perkataan manisnya itu hanya sebuah rayuan agar Rachel menyetujui rencana liciknya.

“Aku tidak seperti yang kau bayangkan,” lanjut Tom. “Kau hanya belum mengenalku, Rachel.”

Rachel tetap diam. Namun dadanya bergerak naik turun lebih cepat.

“Aku hanya ingin kita saling mengerti,” kata Tom, suaranya rendah dan tenang. “Bukankah aku sudah berbaik hati untuk membantu? Aku tidak meminta ucapan terima kasih. Bahkan kau tidak perlu lagi membayar kembali hutang itu. Aku hanya menginginkanmu, Rachel. Dan aku tidak ingin kau terus merasa bahwa aku adalah sebuah ancaman, dan rumah ini adalah neraka bagimu.”, jelasnya. Dan kata 'neraka' membuat jari Rachel menegang. Sebab, tampaknya rumah yang kini terasa seperti penjara itu, perlahan akan berubah menjadi neraka baginya.

Rachel tahu ini hanya jebakan. Dan ia membencinya karena ia harus mengikuti permainan ini.

Beberapa saat kemudian, pelayan tadi kembali membawa nampan berisi secangkir kopi panas sesuai perintah Tom. Keberadaannya seperti penanda bahwa semua ini 'normal'. Padahal, ia jelas tahu ini bukan sesuatu yang bisa dibilang begitu.

Setelah pelayan itu pergi, Tom bersandar di sofa. “Aku tidak menuntut apa pun sekarang,” katanya, seolah membaca pikiran Rachel. “Aku bukan orang yang kejam.”, lanjutnya, membuat Rachel menelan ludah.

“Aku hanya ingin kau mulai percaya padaku.” Tom tersenyum kecil. “Kita akan tinggal di bawah atap yang sama. Dan itu membutuhkan… kepercayaan.”

Rachel menatap cangkir kopinya. Tangannya tidak bergerak. Sementara Tom masih tetap melanjutkan dialog yang sepertinya sudah tersusun rapi di pikirannya.

“Semua yang aku lakukan,” lanjut Tom, “aku lakukan untuk melindungimu. Dan juga Anna.” Ia berhenti sejenak, membiarkan nama itu menggantung. “Kau tahu betapa rapuh kondisinya.”

Rachel mengangkat wajahnya. “Jangan libatkan dia. Jangan pernah libatkan Anna dalam hal ini.”

Tom menghela napas ringan. “Aku tidak sedang mengancam, Rachel. Aku hanya bersikap realistis.”

Ia berdiri, lalu mendekat satu langkah. Ia tidak menyentuh Rachel, tapi tubuhnya berada cukup dekat untuk membuat udara di sekitar Rachel terasa berat.

“Aku tidak memintamu menyetujui keinginanku sekarang,” katanya pelan. “Aku hanya ingin kau berhenti menolak realita bahwa kita… pada akhirnya akan sampai di titik itu—titik dimana akhirnya aku memilikimu.”

Rachel menggenggam ujung sofa. Itu bukan permintaan, melainkan sebuah peringatan yang dibungkus dengan perkataan manis dan lembut yang sengaja dibuat-buat.

Rachel berdiri. Gerakannya tenang dan terkendali. "Saya tidak bisa,” katanya.

Tom menatapnya, wajahnya masih tenang. “Kau tidak bisa atau tidak mau?”

“Saya tidak setuju.” koreksinya dengan suara yang cukup stabil, meski tenggorokannya terasa kering. “Saya tidak akan melakukan itu.”

Rachel lalu mundur setengah langkah, menciptakan jarak diantara dirinya dan Tom. Tatapannya lurus, tidak memohon dan tidak juga menangis. Semwntara itu, Tom tersenyum tipis—senyum yang membuat dada Rachel terasa sesak. “Kau terlalu tegang, Sayang.” katanya. “Aku pikir kau butuh waktu.”

Rachel tidak menjawab. Dan beberapa detik berlalu dalam keheningan yang mencekam. Lalu, tanpa peringatan, Tom meraih pergelangan tangannya. Tidak kasar, tapi cukup kuat untuk memastikan Rachel tidak bisa langsung melepaskan diri.

“Aku bilang aku tidak ingin menuntut sekarang,” katanya, suaranya masih rendah. “Tapi jangan coba uji kesabaranku.”

Rachel menarik tangannya. Dan kali ini Tom melepasnya. Keheningan pun kembali turun di antara mereka.

Tom melangkah mundur, ekspresinya berubah datar. “Kamarmu ada di lantai atas. Pelayan akan menunjukan jalannya. Dan ingat! Jangan pernah berpikir untuk lari dariku. Karena ini bukan permintaan, tapi sebuah perintah yang harus kau patuhi.”

Rachel menatapnya. “Dan jika saya ingin keluar?”, tantangnya.

Tom menoleh. “Aku yakin kau tidak akan melakukannya.”

Rachel terdiam. Punggungnya tegang dan napasnya tertahan. Ia jelas tahu kemana arah pembicaraan itu. Lagi-lagi Tom menjadikan Anna sebagai alat untuk mengancamnya.

Tom akhirnya melangkah mendekat ke arah Rachel dengan pelan. Tidak ada kemarahan di wajahnya, melainkan hanya sesuatu yang lebih dingin, yakni sebuah keputusan. Ia lalu mengangkat tangan dan menyentuh bahu Rachel. Sentuhan itu berlangsung cukup singkat—namun cukup mengintimidasi hingga membuat tubuh Rachel bergidik.

“Aku sudah bersabar,” kata Tom pelan. Dan Rachel menahan diri agar tidak menjauh terlalu cepat.

“Jangan paksa aku bertindak lebih jauh, Rachel.” lanjutnya. Nadanya masih lembut, tapi ada tekanan di setiap katanya. “Atau kau akan menyesalinya.”

Rachel menatap lantai dengan air mata yang tertahan di sudut matanya. Ia akhirnya mengerti, bahwa kelembutan itu bukan sifat aslinya, melainkan hanya sebuah alat. Dan alat itu hanya digunakan selama Rachel patuh padanya.

Tom menarik tangannya dan mundur satu langkah. Kini wajahnya berubah. Tidak lagi ada senyum tipis, juga tidak ada nada hangat. “Aku rasa kau perlu diingatkan sesekali,” katanya. Suaranya kini datar dan dingin.

Rachel pun mengangkat kepala, menatapnya dengan hati-hati. Namun tak ada sepatah katapun yang mampu lolos dari mulutnya sejak tadi.

“Kau di sini karena aku mengizinkanmu,” lanjut Tom. Tatapannya tajam dan mengintimidasi. “Aku yang memutuskan apa yang akan kau dapatkan, ke mana kau pergi, dan kapan kau akan lanjut atau berhenti melakukan sesuatu.”

“Aku sedang melindungimu,” katanya. “Jangan salah paham soal itu.”

“Dengan mengurung saya di sini?” Rachel akhirnya bicara. Suaranya tidak gemetar, tapi ada kemarahan tipis yang tidak bisa ia sembunyikan.

Tom menoleh perlahan. “Dengan memastikan kau tidak membuat kesalahan.”

Ia mendekat lagi. Kali ini cukup dekat untuk membuat Rachel mencium aroma parfumnya. “Anna masih membutuhkan perawatan,” kata Tom, nyaris seperti mengingatkan realitas yang terjadi. “Dan aku bisa terus membantu untuk biaya adikmu hingga ia benar-benar sembuh…” Ia berhenti sejenak. “Asal kau bersedia menuruti keinginanku, Rachel.”

Rachel menelan ludah. Ancaman itu tidak diucapkan sebagai ancaman terbuka. Dan itulah yang membuatnya lebih mengerikan.

Tom lalu melangkah menjauh dan menunjuk ke arah tangga. “Antar dia ke kamarnya!”, perintahnya pada dua orang pelayan yang tampak takut dan tunduk.

Rachel masih tidak bergerak. Tom menatapnya—tidak tampak marah, tidak juga tergesa. Hanya menunggu bagaimana respon Rachel setelahnya.

Rachel akhirnya berjalan naik ke lantai dua dengan seorang pelayan yang berjalan di depannya, dan satu lainnya berjalan beriringan di sampingnya. Sementara Tom berjalan di belakangnya, seakan ingin memastikan bahwa Rachel tidak akan pernah menoleh ke belakang dan kabur. Dan saat itu, setiap langkah terasa seperti tengah menyerahkan sesuatu yang tidak bisa ia ambil kembali.

Sesampainya di sana, Rachel langsung masuk ke dalam kamar yang sudah disiapkan untuknya, tepat setelah dua orang pelayan tadi pamit untuk kembali ke tempat mereka di lantai satu. Sementara Tom masih berdiri di ambang pintu kamar itu, menatap Rachel cukup lama, dengan ekspresi dingin dan angkuh.

“Aku memberimu waktu,” katanya. Ia mengangkat ponsel Rachel dan memutarnya dengan satu tangan—lalu memasukkannya ke dalam saku celananya, “Aku akan menyimpan yang satu ini.”

Entah sejak kapan ponsel Rachel berhasil berpindah ke tangan Tom. Mungkin saat dirinya berada di dalam mobil, dalam perjalanan ke rumah Tom tadi. Atau mungkin saat dirinya ditarik paksa oleh para pria berbadan besar. Entahlah, Rachel tidak bisa mengingatnya dengan baik karena merasa terlalu khawatir sejak berada di bar.

Beberapa saat kemudian, Tom beranjak pergi dan pintu di belakang Rachel menutup perlahan. Rachel sontak membalikkan badan mencoba menarik gagang pintu di depannya dan mencoba membukanya, namun ternyata pintu itu terkunci.

Ia menoleh ke jendela di dalam kamar itu. Namun jendela itu juga tidak bisa dibuka. Di dalam kamar besar yang tampak asing itu, hanya ada tempat tidur yang tertata rapi, meja nakas kecil di samping tempat tidur dengan lampu tidur di atasnya, lemari pakaian berukuran cukup besar, dan sebuah cermin besar di ujung ruangan, yang seolah sedang mengawasinya.

Rachel duduk di tepi tempat tidur, memeluk dirinya sendiri sambil mengusap air mata yang terus jatuh membasahi pipinya, hingga ia tidak tahu sudah berapa lama ia seperti itu. Saat ini pikirannya dipenuhi oleh Anna—tubuh kecilnya yang berada di atas tempat tidur di rumah yang jauh dari kata kehangatan, juga sosok Sam yang hampir selalu bersikap kasar yang membuat segalanya terasa semakin sulit.

Ia terus menangis. Dan menangis terasa seperti sebuah kemewahan yang hanya sanggup ia beli malam itu. Hingga akhirnya tanpa peringatan, beberapa saat kemudian suara kunci terdengar dan membuat Rachel refleks berdiri saat pintu kamar tiba-tiba terbuka. Tom berdiri di ambang pintu, dengan lampu koridor di belakangnya yang menyala redup membuat wajahnya tampak setengah gelap dan berbahaya.

Ia menatap Rachel cukup lama dengan ekspresi serius. “Ingat satu hal, Rachel,” katanya dengan penuh penekanan. “Aku selalu mendapatkan apa yang kuinginkan.”, lanjutnya.

Ia tidak bergerak mendekat. “Pada akhirnya kau akan mengikuti keinginanku, cepat atau lambat.”, katanya, lalu pintu menutup kembali dengan keras dan kasar.

Rachel berdiri di tengah kamar, tubuhnya dingin meski udara di dalam kamar itu hangat. Ia mengerti sekarang bahwa penolakannya tadi sama sekali tidak berarti kemenangan untuknya. Itu hanya menundanya dari hukuman yang akan ia terima esok hari. Sebuah hukuman yang belum ia ketahui akan berbentuk seperti apa.

1
Yellow Sunshine
Hai, Readers! Selamat menikmati karya baru dari author ya? Jangan lupa tinggalkan like dan komentarnya. bcos ur support means a lot. Salam hangat, dari author 🤗
Mia Camelia
miris banget😔
Yellow Sunshine: Happy reading, Reader! Selamat menikmati episode-episode selanjutnya yg semakin menarik 🤗
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!