NovelToon NovelToon
Dibuang Pacar Dinikahi Guru Tampan

Dibuang Pacar Dinikahi Guru Tampan

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Dosen / Dunia Masa Depan
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: Aliya sofya Putri

"Siniin," pinta Dara.
"Cium dulu."
Dara melotot, "lih, siniin!"
"Iya, tapi cium dulu." Rafa menunjuk ke arah pipinya.
Dara mengulum bibir. Malu, dia mulai mendekatkan wajahnya. Hingga saat bibirnya hampir mengenai pipi Rafa, suaminya itu malah menoleh dan akhirnya bibir Dara mendarat di bibir Rafa.



Andara Maheswari (17 tahun) tidak menyangka jika sosok pacar yang dia kira tulus dan juga mencintainya ternyata bertahan dengannya hanya atas dasar rasa kasihan semata.
Dara dihina, diputuskan, atau mungkin lebih tepatnya dibuang oleh pacarnya. Braden selingkuh darinya.
Tidak cukup sampai disitu, sampai di rumah dia pun harus menyaksikan pertengkaran kedua orang tuanya. Kepahitan hidupnya seakan terus berlanjut. Dia terpaksa harus menerima perjodohan dan menikah dengan pria yang sama sekali tidak dia kenal demi menebus hutang yang dimiliki oleh ayahnya.
Dara tidak menyangka, jika pria yang dijodohkan dengannya adalah salah satu guru di sekolahnya. Pria dingin serta jutek yang membenci

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aliya sofya Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 15

Sampai di rumah, Dara

langsung bergegas ke dapur dan

menghembuskan napas lega saat

melihat piring kotor bekas sarapan

tadi sudah tidak ada. Rumah juga

sudah dalam keadaan bersih dan

rapi.

Tapi, rumah sudah dalam

keadaan sepi kembali. Tidak ada

orang satu pun dan mungkin yang

beres-beres sudah pulang lagi.

Saat hendak ke lantai atas,

dilihatnya Rafa pun baru pulang.

Dara sudah senyum, hendak

menyapa tapi suaminya itu

melewatinya begitu saja.

 

"Dih. Bener-bener deh ya. Tadi

pagi baik, pas belajar juga baik

meski ada nyebelinnya dikit. Lah,

sekarang? Dia kenapa lagi?"

gumam Dara dengan bibir yang

bergerak-gerak sebal.

Sedangkan Rafa, saat melihat

Dara, entah mengapa dia jadi ingat

saat istrinya itu tadi bersama Aiden.

Rafa kok jadi sebel bin kesel.

"Ada apa denganmu? Bukankah

terserah dia mau bersama siapa

pun juga?" gumam Rafa.

Mulut memang boleh bicara

seperti itu, tapi lihatlah

kenyataannya. Pria tampan itu

malah berbalik dan itu membuat

Dara yang berjalan di belakangnya

merasa kaget.

 

"Astaga!" Hampir saja Dara

menabrak tubuh suaminya itu lagi.

"Kamu seneng didekati sama

Aiden?" tanya Rafa dengan nada

suara yang terdengar tajam.

"Hah?" Dara malah bengong.

"Ck. Kamu sudah menikah.

Harusnya bisa jaga jarak dengan

pria lain!" ucap Rafa kemudian

berbalik dan mulai menaiki tangga.

Meninggalkan Dara yang masih

terpaku di tempatnya berdiri

dengan wajah cengo.

"Dia kenapa? Maksudnya apa?

Gak mungkin 'kan dia cemburu?"

Dara jadi bertanya-tanya.

 

Rafa masuk ke kamarnya dan

menyimpan tas kerjanya dengan

asal. Dia meraup wajah kasar.

Merasa heran dengan dirinya

sendiri. Mengapa juga harus repot-

repot mengatakan hal itu kepada

Dara?

"Dia pasti mengira aku sedang

cemburu barusan," gumam Rafa

lalu tertawa.

Tawa yang hanya sebentar,

karena setelahnya dia kembali

melamun.

"Apa iya aku cemburu? Gak

mungkin!" Rafa berusaha mengelak

dari perasaannya sendiri. Daripada

pusing sendiri, akhirnya dia

memutuskan untuk mandi.

 

 

Sorenya, Dara baru bangun

tidur dan kaget saat melihat jam

sudah ada di angka lima. "Ya

ampun, gue tidur apa pingsan?

Belum masak!" serunya kemudian

turun dari ranjang dan lari ke

kamar mandi.

Hanya cuci muka dan buang air

saja. Karena kalau sudah mandi

terus masak, dia akan gerah lagi

nanti.

Dara langsung turun ke lantai

bawah, ada Rafa yang sedang

menonton film sendirian di ruang

tengah.

Dari kamar dia sudah semangat

ingin masak, tapi ... sampai di

 

dapur kok malah jadi males.

Dara menggigit bibir, berjalan

pelan mendekat ke arah sang

suami. Merasa ragu untuk

mengutarakan pendapatnya.

"Emm ... aku belum masak.

Kita beli aja buat makan malam

nanti, gimana?" tanya Dara.

Tanpa menoleh, Rafa

menggelengkan kepalanya. "Saya

gak mau. Lagian di luar kayaknya

mau ujan, kamu gak kasihan sama

kurirnya nanti nganterin ke sini

sambil ujan-ujanan?" ujarnya.

Dara langsung memanyunkan

bibirnya, dia cemberut dan kembali

ke dapur dengan mulut yang

mengomel.

 

"Kemarin aja gue masak dia

bilang gak mau. Meski akhirnya

dimakan juga sih sampe abis.

Sekarang, dia kekeh nyuruh gue

masak," gerutu Dara.

Rafa tersenyum tipis, padahal

barusan hanya alasannya saja.

Biarlah Dara memasak, agar dia

bisa kembali memakan masakan

buatan Dara.

Dara pun akhirnya memilih

untuk masak yang simple saja. Dia

berkutat di dapur besar itu

sendirian.

Rafa akhirnya memutuskan

untuk mematikan televisi dan pergi

ke dapur. Duduk di kursi mini bar

dan memperhatikan istrinya itu.

 

Iya, hanya memperhatikan

tanpa ada sedikit pun niat untuk

membantu. Tapi, lama kelamaan,

dia kasian juga.

Rafa menggaruk alis sebelah

kanannya, turun dari kursi dan

menghampiri Dara. Aroma

masakan yang terlihat enak

langsung menguar ke indera

penciumannya.

"Eh?" pekik Dara kaget saat

Rafa berdiri di sebelahnya.

"Om mau ngapain?" tanya Dara.

"Ada yang bisa saya bantu?"

tanya Rafa. Niat membantu saja

nasanya kaku sekali.

Dara mengerjapkan matanya,

dia tersadar dan menoleh ke arah

 

wadah kecil berisi bawang daun

yang sebelumnya sudah dia potong-

potong.

"Tolong ambilin mangkuk kecil

yang isinya potongan bawang daun

itu," tunjuknya pada mangkuk yang

dia maksud.

Rafa langsung mengambil dan

memberikannya pada Dara.

"Oh, tolong ambilin mangkuk

agak besar juga dong. Ini udah mau

selesai soalnya," ucap Dara.

"Di sebelah mana?" tanya Rafa

yang memang tidak tahu tempat

penyimpanan mangkuk di sebelah

mana.

"Di laci bawah, tinggal tarik aja

itu!"

 

"Yang mana, Dara? Ini lacinya

ada tiga lho."

Dara menghembuskan napas

berat. "Yang tengah!"

"Ini juga mangkuknya ada

banyak. Yang agak besar tuh yang

mana?"

Dara memejamkan matanya

sejenak dan kembali

menghembuskan napas berat. Dia

mematikan kompor dan

mengambil sendiri mangkuk besar

yang dia maksud.

"Yang ini atau yang mana aja

terserah," ucapnya.

Padahal katanya Rafa mau

bantu, tapi kok malah bikin Dara

berasa jadi double-double capenya.

Iya, karena malah ditambah sama

cape bicara dan cape hati.

Tingkah keduanya turut

disaksikan oleh Oma Atira di

rumah yang lain. Wanita paruh

baya itu tersenyum bahagia melihat

kedekatan antara Rafa dan Dara

yang dia yakin akan terjalin

semakin intens ke depannya.

"Oma yakin. Kehadiran Dara

bisa membuatmu melupakan

Khaylila," gumam Oma Atira.

Selesai makan, suara air hujan

yang turun mulai terdengar. Dara

langsung mencuci semua perabotan

kotor dan mengeringkan

tangannya dengan lap yang ada di

 

dekat wastafel.

"Aaaa!" jeritnya saat tiba-tiba

terdengar suara petir yang

menggelegar disusul dengan mati

lampu tidak lama setelahnya. Hujan

juga turun makin deras.

"Gelap banget." Dara berjalan

sambil meraba dinding dapur. Dia

ingat tadi menyimpan ponsel di

meja mini bar dan ingin

mengambilnya.

Sedangkan Rafa yang setelah

makan langsung duduk lagi di

ruang tengah mulai merasa gelisah

lagi.

Suara petir yang menyambar

keras, disusul dengan hujan deras

yang menghantam jendela rumah

 

kembali mengingatkannya akan

kejadian lima tahun silam.

Mata Rafa membelalak, gelisah

menahan rasa cemas yang mulai

menguasai tubuhnya. Tangannya

gemetar, mencengkram erat sofa

yang dia duduki dan tangan

sebelahnya lagi mencengkram baju

yang dia kenakan.

Dadanya terasa sesak, seakan

udara yang ia hirup tak cukup

untuk mengisi paru-parunya. Rafa

mencoba bernapas dengan lebih

dalam, berusaha mengendalikan

kepanikan yang mulai menyelimuti

dirinya.

Ingatan saat kecelakaan itu

terjadi, bagaimana wajah

kekasihnya berubah menjadi pucat

 

dan tak bernyawa, terus

menghantui pikirannya. Rafa

merasa seperti tercekik, kesulitan

menelan ludah yang terasa semakin

kental di tenggorokannya.

"Ketemu juga," ucap Dara saat

berhasil menemukan ponselnya.

Gegas dia menghidupkan

lampu flash dari ponsel dan dia

gunakan untuk mencari lilin.

Bhuk!

Suara orang terjatuh langsung

mengalihkan atensinya, dia

berjalan menuju ruang tengah,

mencari sumber suara yang dia

yakini berasal dari sana.

Kedua matanya melotot saat

melihat Rafa yang sudah

 

meringkuk di atas lantai.

"Om!" serunya kemudian

berlari dan jongkok di depan sang

suami yang kelihatan tidak baik-

baik saja.

"Maafkan aku, maafkan aku,"

ujar Rafa sambil menutup telinga

dengan kedua tangannya.

Melihat Rafa yang gelisah

begini, Dara jadi ingat saat di mobil

waktu itu. Hujan tiba-tiba turun

dan Rafa pun terlihat gelisah

namun tidak parah seperti ini.

Belum lagi Oma Atira yang terlihat

sangat khawatir.

"Apa dia punya trauma?" batin

Dara.

"Om ...." Dara memanggil

 

dengan suara lirih.

Kedua tangannya terulur untuk

membantu Rafa duduk. Begitu

berhasil membantu suaminya

duduk, Dara segera memeluk erat

tubuh Rafa.

Dari pelukan itu, Dara bisa

merasakan jantung Rafa yang

berdetak cepat. Tubuh Rafa juga

bergetar hebat, dan suara napasnya

terdengar tersengal-sengal, seolah

kesulitan untuk mengambil nafas.

"Maafkan aku, maafkan aku,"

Rafa terus mengulang kata-kata itu,

suaranya penuh dengan rasa

gelisah dan penyesalan.

Dara merasa bingung, namun

tetap mencoba menenangkan

 

suaminya itu. Dengan lembut, ia

mengusap punggung Rafa dan

berbisik di telinga suaminya, "Tidak

apa-apa. Tidak apa-apa. Ini semua

bukan salahmu."

Dara terus memeluk Rafa,

berharap pelukannya bisa

memberikan kekuatan dan

ketenangan bagi suaminya yang

terlihat rapuh dan tidak baik-baik

saja tersebut.

Mendengar ucapan Dara, Rafa

langsung membalas pelukan

istrinya itu. Dia memejamkan

matanya erat, berusaha mengusir

kenangan pahit yang selama ini

terasa terus mengurung dirinya

setiap kali hujan datang.

Lama kelamaan, bisa Dara

 

rasakan detak jantung suaminya

yang tidak lagi secepat tadi.

Iramanya mulai melambat dan

teratur.

Sedangkan Rafa, dia merasa

jauh lebih tenang dengan cepat saat

Dara memeluknya dan memberikan

usapan lembut di punggung serta

rambutnya. Padahal, sebelumnya

dia selalu merasa kesulitan

mengusir trauma tersebut.

Dirasa suaminya sudah jauh

lebih tenang, Dara berniat untuk

melepaskan pelukannya. Namun,

Rafa ternyata malah kembali

memeluknya dengan erat.

"Biarkan seperti ini dulu

sebentar saja. Saya mohon," ucap

Rafa.

 

Entah dia sadar atau tidak

dengan yang dia ucapkan. Yang

pasti, dia hanya sungguh merasa

tenang saat Dara memeluknya.

Menurut, Dara pun memilih

untuk membiarkan saja Rafa

memeluknya. Gadis cantik itu juga

kembali membalas pelukan itu dan

memberikan usapan lembut di

punggung Rafa yang membuat pria

tampan itu jauh lebih tenang meski

sejujurnya Dara merasa kakinya

kesemutan.

Rafa menarik napas dalam dan

menghembuskannya perlahan. Dia

melepaskan pelukannya dan kini

keduanya saling berhadapan.

Rafa menatap wajah cantik

Dara yang diterangi oleh lampu

 

flash dari ponsel milik Dara yang

masih menyala. Rambutnya yang

dikuncir asal kini terlihat sedikit

acak-acakan. Tangan kanannya

terulur untuk menyingkirkan

helaian rambut yang ada di wajah

Dara.

Dara merasa jantungnya

berdetak dengan cepat, dia juga

dibuat menahan napas saat tangan

Rafa menyentuh kulit wajahnya.

"Bagaimana bisa gadis ini

membuatku lebih tenang di saat

Oma sendiri tidak bisa

melakukannya?" batin Rafa

bertanya-tanya.

"O-Om gak apa-apa?" tanya

Dara.

Rafa tersadar dan

menggelengkan kepalanya. Dia juga

memalingkan wajahnya,

menghindari kontak mata dengan

istri kecilnya itu.

Ingin bertanya mengenai apa

yang sebenarnya terjadi, tapi Dara

tidak berani. Lebih tepatnya dia

tidak ingin malah terkesan

mengorek kembali luka yang

mungkin dimiliki oleh suaminya

itu.

Dara meringis, merasakan

kakinya yang kesemutan. Tadi

hanya sebelah, tapi sekarang jadi

dua-duanya.

"Kamu kenapa?" tanya Rafa.

"Kakiku kesemutan," balas

 

Dara.

Lampu di ponsel Dara tiba-tiba

padam, mungkin karena baterainya

habis. Dara mencoba berdiri sambil

berpegangan pada pinggiran sofa.

Begitu juga dengan Rafa.

Namun, saat Dara mulai

melangkahkan kaki kanannya, dia

merasa keseimbangan tubuhnya

terganggu oleh kesemutan yang

masih ada.

Tidak sengaja, Dara tersandung

dan jatuh ke arah Rafa. Rafa yang

tidak siap, ikut terdorong oleh

tubuh Dara dan jatuh ke lantai.

Saat jatuh, posisi tubuh mereka

berdua menjadi sangat dekat,

dengan wajah Dara berada tepat di

 

atas wajah Rafa.

Kedua mata Dara melotot saat

dia menyadari bahwa bibirnya

menempel pada bibir Rafa. Mereka

berdua terdiam sejenak, saling

menatap dengan mata yang

terkejut. Hatinya berdebar

kencang, merasakan jantung Rafa

yang juga berdetak di dada yang

bersentuhan.

Rafa pun sama terkejutnya

dengan Dara. Tubuhnya seakan

membeku dan dia hanya diam saja

dengan mata yang terus berkedip

cepat.

Tidak berselang lama, lampu

kembali menyala dan Dara buru-

buru bangkit meski harus menahan

ngilu pada kedua kakinya. "Ma-

 

maaf, aku gak sengaja!" ucapnya

dengan wajah yang bersemu merah

karena malu.

Rafa pun mencoba bangun dan

punggungnya terasa sakit karena

menghantam lantai tadi.

Tanpa menunggu jawaban dari

Rafa, Dara bergegas lari menaiki

tangga. Dia terus-terusan merutuki

dirinya sendiri karena kejadian

memalukan barusan.

Di lantai bawah, Rafa

menyentuh bibirnya yang barusan

bersentuhan dengan bibir Dara.

Rafa mengulas senyum tipis.

Jantungnya juga masih berdetak

dengan cepat, tapi bukan karena

trauma yang dia rasakan tadi.

 

Rafa melirik ke lantai atas,

tubuh kecil istrinya sudah

menghilang dan sudah bisa

dipastikan kalau Dara kini sudah

ada di kamarnya sendiri.

Rafa kembali duduk di sofa.

Menyugar rambutnya lalu

mengusap wajahnya dengan kasar.

Trauma itu, entah sampai kapan dia

akan mengalaminya. Namun, satu

hal yang kini Rafa sadari. Trauma

itu datang bukan karena dia

bersama Dara seperti pemikirannya

waktu itu.

Trauma itu masih ada karena

dia sendiri yang memilih untuk

tidak melupakan kejadian pahit

tersebut.

 

 

Malam itu, Rafa termenung di

kamarnya. Dia tengah memikirkan

apa yang dia rasakan dan alami

beberapa waktu ke belakang.

Rafa yang sebelumnya

membenci Dara karena dianggap

menjadi penyebab dia harus

terjebak dalam status pernikahan

yang tidak dia inginkan kini malah

terkesan nyaman dengan kehadiran

gadis cantik itu.

Perasaan kesal dan jengkel yang

tiba-tiba datang saat dia melihat

Dara bicara dan tertawa dengan

Aiden juga mulai mengganggu

pikirannya.

"Tidak mungkin aku menaruh

hati padanya dalam waktu secepat

ini," gumamnya.

 

Tapi, ingatan saat Dara

memeluknya dan mengucapkan

sesuatu yang membuatnya tenang

saat dia gelisah dan ketakutan

karena trauma itu datang juga terus

mengusik pikirannya.

"Ada apa denganku?"

Rafa membuka laci paling atas

yang ada di samping ranjang.

Pandangannya langsung tertuju

pada gelang perak dengan bandul

bintang yang dia temukan di dekat

ruang komputer kala itu.

Di kamarnya, Dara pun duduk

termenung di kamarnya sambil

memandangi ponsel yang berada di

genggamannya. Rasa penasaran

 

tentang kejadian yang menimpa

Rafa semakin menghantuinya.

Dalam hati, Dara merasa mesti

menghubungi Oma Atira untuk

mendapatkan informasi yang lebih

jelas.

Dara menggigit kuku ibu

jarinya, rasa ragu dan takut

membuatnya berpikir ulang.

Namun, akhirnya keinginan tahu

lebih besar daripada ketakutan.

Dengan jantung yang berdebar,

Dara mengambil keputusan dan

menekan tombol memanggil pada

kontak Oma Atira. Percakapan itu

mungkin menjadi awal dari segala

jawaban yang selama ini dicarinya.

1
falea sezi
enak bgt si aldi najis pas sakit ke istri pas seneng2 ke. selingkuh an jangan. bego erina np erina di buat bloon sih
falea sezi
erina mending cerai duda tua banyak ngapain suami mu bekas. jalang lu mau
Ikky
dipersilahkan
Ikky
3
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!