"Siniin," pinta Dara.
"Cium dulu."
Dara melotot, "lih, siniin!"
"Iya, tapi cium dulu." Rafa menunjuk ke arah pipinya.
Dara mengulum bibir. Malu, dia mulai mendekatkan wajahnya. Hingga saat bibirnya hampir mengenai pipi Rafa, suaminya itu malah menoleh dan akhirnya bibir Dara mendarat di bibir Rafa.
Andara Maheswari (17 tahun) tidak menyangka jika sosok pacar yang dia kira tulus dan juga mencintainya ternyata bertahan dengannya hanya atas dasar rasa kasihan semata.
Dara dihina, diputuskan, atau mungkin lebih tepatnya dibuang oleh pacarnya. Braden selingkuh darinya.
Tidak cukup sampai disitu, sampai di rumah dia pun harus menyaksikan pertengkaran kedua orang tuanya. Kepahitan hidupnya seakan terus berlanjut. Dia terpaksa harus menerima perjodohan dan menikah dengan pria yang sama sekali tidak dia kenal demi menebus hutang yang dimiliki oleh ayahnya.
Dara tidak menyangka, jika pria yang dijodohkan dengannya adalah salah satu guru di sekolahnya. Pria dingin serta jutek yang membenci
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aliya sofya Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15
Sampai di rumah, Dara
langsung bergegas ke dapur dan
menghembuskan napas lega saat
melihat piring kotor bekas sarapan
tadi sudah tidak ada. Rumah juga
sudah dalam keadaan bersih dan
rapi.
Tapi, rumah sudah dalam
keadaan sepi kembali. Tidak ada
orang satu pun dan mungkin yang
beres-beres sudah pulang lagi.
Saat hendak ke lantai atas,
dilihatnya Rafa pun baru pulang.
Dara sudah senyum, hendak
menyapa tapi suaminya itu
melewatinya begitu saja.
"Dih. Bener-bener deh ya. Tadi
pagi baik, pas belajar juga baik
meski ada nyebelinnya dikit. Lah,
sekarang? Dia kenapa lagi?"
gumam Dara dengan bibir yang
bergerak-gerak sebal.
Sedangkan Rafa, saat melihat
Dara, entah mengapa dia jadi ingat
saat istrinya itu tadi bersama Aiden.
Rafa kok jadi sebel bin kesel.
"Ada apa denganmu? Bukankah
terserah dia mau bersama siapa
pun juga?" gumam Rafa.
Mulut memang boleh bicara
seperti itu, tapi lihatlah
kenyataannya. Pria tampan itu
malah berbalik dan itu membuat
Dara yang berjalan di belakangnya
merasa kaget.
"Astaga!" Hampir saja Dara
menabrak tubuh suaminya itu lagi.
"Kamu seneng didekati sama
Aiden?" tanya Rafa dengan nada
suara yang terdengar tajam.
"Hah?" Dara malah bengong.
"Ck. Kamu sudah menikah.
Harusnya bisa jaga jarak dengan
pria lain!" ucap Rafa kemudian
berbalik dan mulai menaiki tangga.
Meninggalkan Dara yang masih
terpaku di tempatnya berdiri
dengan wajah cengo.
"Dia kenapa? Maksudnya apa?
Gak mungkin 'kan dia cemburu?"
Dara jadi bertanya-tanya.
Rafa masuk ke kamarnya dan
menyimpan tas kerjanya dengan
asal. Dia meraup wajah kasar.
Merasa heran dengan dirinya
sendiri. Mengapa juga harus repot-
repot mengatakan hal itu kepada
Dara?
"Dia pasti mengira aku sedang
cemburu barusan," gumam Rafa
lalu tertawa.
Tawa yang hanya sebentar,
karena setelahnya dia kembali
melamun.
"Apa iya aku cemburu? Gak
mungkin!" Rafa berusaha mengelak
dari perasaannya sendiri. Daripada
pusing sendiri, akhirnya dia
memutuskan untuk mandi.
Sorenya, Dara baru bangun
tidur dan kaget saat melihat jam
sudah ada di angka lima. "Ya
ampun, gue tidur apa pingsan?
Belum masak!" serunya kemudian
turun dari ranjang dan lari ke
kamar mandi.
Hanya cuci muka dan buang air
saja. Karena kalau sudah mandi
terus masak, dia akan gerah lagi
nanti.
Dara langsung turun ke lantai
bawah, ada Rafa yang sedang
menonton film sendirian di ruang
tengah.
Dari kamar dia sudah semangat
ingin masak, tapi ... sampai di
dapur kok malah jadi males.
Dara menggigit bibir, berjalan
pelan mendekat ke arah sang
suami. Merasa ragu untuk
mengutarakan pendapatnya.
"Emm ... aku belum masak.
Kita beli aja buat makan malam
nanti, gimana?" tanya Dara.
Tanpa menoleh, Rafa
menggelengkan kepalanya. "Saya
gak mau. Lagian di luar kayaknya
mau ujan, kamu gak kasihan sama
kurirnya nanti nganterin ke sini
sambil ujan-ujanan?" ujarnya.
Dara langsung memanyunkan
bibirnya, dia cemberut dan kembali
ke dapur dengan mulut yang
mengomel.
"Kemarin aja gue masak dia
bilang gak mau. Meski akhirnya
dimakan juga sih sampe abis.
Sekarang, dia kekeh nyuruh gue
masak," gerutu Dara.
Rafa tersenyum tipis, padahal
barusan hanya alasannya saja.
Biarlah Dara memasak, agar dia
bisa kembali memakan masakan
buatan Dara.
Dara pun akhirnya memilih
untuk masak yang simple saja. Dia
berkutat di dapur besar itu
sendirian.
Rafa akhirnya memutuskan
untuk mematikan televisi dan pergi
ke dapur. Duduk di kursi mini bar
dan memperhatikan istrinya itu.
Iya, hanya memperhatikan
tanpa ada sedikit pun niat untuk
membantu. Tapi, lama kelamaan,
dia kasian juga.
Rafa menggaruk alis sebelah
kanannya, turun dari kursi dan
menghampiri Dara. Aroma
masakan yang terlihat enak
langsung menguar ke indera
penciumannya.
"Eh?" pekik Dara kaget saat
Rafa berdiri di sebelahnya.
"Om mau ngapain?" tanya Dara.
"Ada yang bisa saya bantu?"
tanya Rafa. Niat membantu saja
nasanya kaku sekali.
Dara mengerjapkan matanya,
dia tersadar dan menoleh ke arah
wadah kecil berisi bawang daun
yang sebelumnya sudah dia potong-
potong.
"Tolong ambilin mangkuk kecil
yang isinya potongan bawang daun
itu," tunjuknya pada mangkuk yang
dia maksud.
Rafa langsung mengambil dan
memberikannya pada Dara.
"Oh, tolong ambilin mangkuk
agak besar juga dong. Ini udah mau
selesai soalnya," ucap Dara.
"Di sebelah mana?" tanya Rafa
yang memang tidak tahu tempat
penyimpanan mangkuk di sebelah
mana.
"Di laci bawah, tinggal tarik aja
itu!"
"Yang mana, Dara? Ini lacinya
ada tiga lho."
Dara menghembuskan napas
berat. "Yang tengah!"
"Ini juga mangkuknya ada
banyak. Yang agak besar tuh yang
mana?"
Dara memejamkan matanya
sejenak dan kembali
menghembuskan napas berat. Dia
mematikan kompor dan
mengambil sendiri mangkuk besar
yang dia maksud.
"Yang ini atau yang mana aja
terserah," ucapnya.
Padahal katanya Rafa mau
bantu, tapi kok malah bikin Dara
berasa jadi double-double capenya.
Iya, karena malah ditambah sama
cape bicara dan cape hati.
Tingkah keduanya turut
disaksikan oleh Oma Atira di
rumah yang lain. Wanita paruh
baya itu tersenyum bahagia melihat
kedekatan antara Rafa dan Dara
yang dia yakin akan terjalin
semakin intens ke depannya.
"Oma yakin. Kehadiran Dara
bisa membuatmu melupakan
Khaylila," gumam Oma Atira.
Selesai makan, suara air hujan
yang turun mulai terdengar. Dara
langsung mencuci semua perabotan
kotor dan mengeringkan
tangannya dengan lap yang ada di
dekat wastafel.
"Aaaa!" jeritnya saat tiba-tiba
terdengar suara petir yang
menggelegar disusul dengan mati
lampu tidak lama setelahnya. Hujan
juga turun makin deras.
"Gelap banget." Dara berjalan
sambil meraba dinding dapur. Dia
ingat tadi menyimpan ponsel di
meja mini bar dan ingin
mengambilnya.
Sedangkan Rafa yang setelah
makan langsung duduk lagi di
ruang tengah mulai merasa gelisah
lagi.
Suara petir yang menyambar
keras, disusul dengan hujan deras
yang menghantam jendela rumah
kembali mengingatkannya akan
kejadian lima tahun silam.
Mata Rafa membelalak, gelisah
menahan rasa cemas yang mulai
menguasai tubuhnya. Tangannya
gemetar, mencengkram erat sofa
yang dia duduki dan tangan
sebelahnya lagi mencengkram baju
yang dia kenakan.
Dadanya terasa sesak, seakan
udara yang ia hirup tak cukup
untuk mengisi paru-parunya. Rafa
mencoba bernapas dengan lebih
dalam, berusaha mengendalikan
kepanikan yang mulai menyelimuti
dirinya.
Ingatan saat kecelakaan itu
terjadi, bagaimana wajah
kekasihnya berubah menjadi pucat
dan tak bernyawa, terus
menghantui pikirannya. Rafa
merasa seperti tercekik, kesulitan
menelan ludah yang terasa semakin
kental di tenggorokannya.
"Ketemu juga," ucap Dara saat
berhasil menemukan ponselnya.
Gegas dia menghidupkan
lampu flash dari ponsel dan dia
gunakan untuk mencari lilin.
Bhuk!
Suara orang terjatuh langsung
mengalihkan atensinya, dia
berjalan menuju ruang tengah,
mencari sumber suara yang dia
yakini berasal dari sana.
Kedua matanya melotot saat
melihat Rafa yang sudah
meringkuk di atas lantai.
"Om!" serunya kemudian
berlari dan jongkok di depan sang
suami yang kelihatan tidak baik-
baik saja.
"Maafkan aku, maafkan aku,"
ujar Rafa sambil menutup telinga
dengan kedua tangannya.
Melihat Rafa yang gelisah
begini, Dara jadi ingat saat di mobil
waktu itu. Hujan tiba-tiba turun
dan Rafa pun terlihat gelisah
namun tidak parah seperti ini.
Belum lagi Oma Atira yang terlihat
sangat khawatir.
"Apa dia punya trauma?" batin
Dara.
"Om ...." Dara memanggil
dengan suara lirih.
Kedua tangannya terulur untuk
membantu Rafa duduk. Begitu
berhasil membantu suaminya
duduk, Dara segera memeluk erat
tubuh Rafa.
Dari pelukan itu, Dara bisa
merasakan jantung Rafa yang
berdetak cepat. Tubuh Rafa juga
bergetar hebat, dan suara napasnya
terdengar tersengal-sengal, seolah
kesulitan untuk mengambil nafas.
"Maafkan aku, maafkan aku,"
Rafa terus mengulang kata-kata itu,
suaranya penuh dengan rasa
gelisah dan penyesalan.
Dara merasa bingung, namun
tetap mencoba menenangkan
suaminya itu. Dengan lembut, ia
mengusap punggung Rafa dan
berbisik di telinga suaminya, "Tidak
apa-apa. Tidak apa-apa. Ini semua
bukan salahmu."
Dara terus memeluk Rafa,
berharap pelukannya bisa
memberikan kekuatan dan
ketenangan bagi suaminya yang
terlihat rapuh dan tidak baik-baik
saja tersebut.
Mendengar ucapan Dara, Rafa
langsung membalas pelukan
istrinya itu. Dia memejamkan
matanya erat, berusaha mengusir
kenangan pahit yang selama ini
terasa terus mengurung dirinya
setiap kali hujan datang.
Lama kelamaan, bisa Dara
rasakan detak jantung suaminya
yang tidak lagi secepat tadi.
Iramanya mulai melambat dan
teratur.
Sedangkan Rafa, dia merasa
jauh lebih tenang dengan cepat saat
Dara memeluknya dan memberikan
usapan lembut di punggung serta
rambutnya. Padahal, sebelumnya
dia selalu merasa kesulitan
mengusir trauma tersebut.
Dirasa suaminya sudah jauh
lebih tenang, Dara berniat untuk
melepaskan pelukannya. Namun,
Rafa ternyata malah kembali
memeluknya dengan erat.
"Biarkan seperti ini dulu
sebentar saja. Saya mohon," ucap
Rafa.
Entah dia sadar atau tidak
dengan yang dia ucapkan. Yang
pasti, dia hanya sungguh merasa
tenang saat Dara memeluknya.
Menurut, Dara pun memilih
untuk membiarkan saja Rafa
memeluknya. Gadis cantik itu juga
kembali membalas pelukan itu dan
memberikan usapan lembut di
punggung Rafa yang membuat pria
tampan itu jauh lebih tenang meski
sejujurnya Dara merasa kakinya
kesemutan.
Rafa menarik napas dalam dan
menghembuskannya perlahan. Dia
melepaskan pelukannya dan kini
keduanya saling berhadapan.
Rafa menatap wajah cantik
Dara yang diterangi oleh lampu
flash dari ponsel milik Dara yang
masih menyala. Rambutnya yang
dikuncir asal kini terlihat sedikit
acak-acakan. Tangan kanannya
terulur untuk menyingkirkan
helaian rambut yang ada di wajah
Dara.
Dara merasa jantungnya
berdetak dengan cepat, dia juga
dibuat menahan napas saat tangan
Rafa menyentuh kulit wajahnya.
"Bagaimana bisa gadis ini
membuatku lebih tenang di saat
Oma sendiri tidak bisa
melakukannya?" batin Rafa
bertanya-tanya.
"O-Om gak apa-apa?" tanya
Dara.
Rafa tersadar dan
menggelengkan kepalanya. Dia juga
memalingkan wajahnya,
menghindari kontak mata dengan
istri kecilnya itu.
Ingin bertanya mengenai apa
yang sebenarnya terjadi, tapi Dara
tidak berani. Lebih tepatnya dia
tidak ingin malah terkesan
mengorek kembali luka yang
mungkin dimiliki oleh suaminya
itu.
Dara meringis, merasakan
kakinya yang kesemutan. Tadi
hanya sebelah, tapi sekarang jadi
dua-duanya.
"Kamu kenapa?" tanya Rafa.
"Kakiku kesemutan," balas
Dara.
Lampu di ponsel Dara tiba-tiba
padam, mungkin karena baterainya
habis. Dara mencoba berdiri sambil
berpegangan pada pinggiran sofa.
Begitu juga dengan Rafa.
Namun, saat Dara mulai
melangkahkan kaki kanannya, dia
merasa keseimbangan tubuhnya
terganggu oleh kesemutan yang
masih ada.
Tidak sengaja, Dara tersandung
dan jatuh ke arah Rafa. Rafa yang
tidak siap, ikut terdorong oleh
tubuh Dara dan jatuh ke lantai.
Saat jatuh, posisi tubuh mereka
berdua menjadi sangat dekat,
dengan wajah Dara berada tepat di
atas wajah Rafa.
Kedua mata Dara melotot saat
dia menyadari bahwa bibirnya
menempel pada bibir Rafa. Mereka
berdua terdiam sejenak, saling
menatap dengan mata yang
terkejut. Hatinya berdebar
kencang, merasakan jantung Rafa
yang juga berdetak di dada yang
bersentuhan.
Rafa pun sama terkejutnya
dengan Dara. Tubuhnya seakan
membeku dan dia hanya diam saja
dengan mata yang terus berkedip
cepat.
Tidak berselang lama, lampu
kembali menyala dan Dara buru-
buru bangkit meski harus menahan
ngilu pada kedua kakinya. "Ma-
maaf, aku gak sengaja!" ucapnya
dengan wajah yang bersemu merah
karena malu.
Rafa pun mencoba bangun dan
punggungnya terasa sakit karena
menghantam lantai tadi.
Tanpa menunggu jawaban dari
Rafa, Dara bergegas lari menaiki
tangga. Dia terus-terusan merutuki
dirinya sendiri karena kejadian
memalukan barusan.
Di lantai bawah, Rafa
menyentuh bibirnya yang barusan
bersentuhan dengan bibir Dara.
Rafa mengulas senyum tipis.
Jantungnya juga masih berdetak
dengan cepat, tapi bukan karena
trauma yang dia rasakan tadi.
Rafa melirik ke lantai atas,
tubuh kecil istrinya sudah
menghilang dan sudah bisa
dipastikan kalau Dara kini sudah
ada di kamarnya sendiri.
Rafa kembali duduk di sofa.
Menyugar rambutnya lalu
mengusap wajahnya dengan kasar.
Trauma itu, entah sampai kapan dia
akan mengalaminya. Namun, satu
hal yang kini Rafa sadari. Trauma
itu datang bukan karena dia
bersama Dara seperti pemikirannya
waktu itu.
Trauma itu masih ada karena
dia sendiri yang memilih untuk
tidak melupakan kejadian pahit
tersebut.
Malam itu, Rafa termenung di
kamarnya. Dia tengah memikirkan
apa yang dia rasakan dan alami
beberapa waktu ke belakang.
Rafa yang sebelumnya
membenci Dara karena dianggap
menjadi penyebab dia harus
terjebak dalam status pernikahan
yang tidak dia inginkan kini malah
terkesan nyaman dengan kehadiran
gadis cantik itu.
Perasaan kesal dan jengkel yang
tiba-tiba datang saat dia melihat
Dara bicara dan tertawa dengan
Aiden juga mulai mengganggu
pikirannya.
"Tidak mungkin aku menaruh
hati padanya dalam waktu secepat
ini," gumamnya.
Tapi, ingatan saat Dara
memeluknya dan mengucapkan
sesuatu yang membuatnya tenang
saat dia gelisah dan ketakutan
karena trauma itu datang juga terus
mengusik pikirannya.
"Ada apa denganku?"
Rafa membuka laci paling atas
yang ada di samping ranjang.
Pandangannya langsung tertuju
pada gelang perak dengan bandul
bintang yang dia temukan di dekat
ruang komputer kala itu.
Di kamarnya, Dara pun duduk
termenung di kamarnya sambil
memandangi ponsel yang berada di
genggamannya. Rasa penasaran
tentang kejadian yang menimpa
Rafa semakin menghantuinya.
Dalam hati, Dara merasa mesti
menghubungi Oma Atira untuk
mendapatkan informasi yang lebih
jelas.
Dara menggigit kuku ibu
jarinya, rasa ragu dan takut
membuatnya berpikir ulang.
Namun, akhirnya keinginan tahu
lebih besar daripada ketakutan.
Dengan jantung yang berdebar,
Dara mengambil keputusan dan
menekan tombol memanggil pada
kontak Oma Atira. Percakapan itu
mungkin menjadi awal dari segala
jawaban yang selama ini dicarinya.