Di Medan tahun 2026, Rania Putri pendiri startup yang membantu UMKM dengan teknologi data terpaksa bekerja sama dengan perusahaan besar dari Jakarta yang dipimpin oleh Reza Aditya, mantan kekasihnya yang menghilang tanpa kabar sepuluh tahun lalu.
Pada awalnya, mereka hanya fokus pada pengembangan aplikasi "UMKM Connect", namun menemukan kode aneh dalam sistem yang menyimpan jejak masa lalunya. Saat menyelidiki asal usul kode tersebut, mereka mengungkap rahasia mengejutkan, perpisahan mereka dulu adalah rencana jahat dari Doni Pratama, mantan sahabat Rania yang mengambil alih bisnis keluarga dia.
Di tengah penyelidikan yang penuh kejadian lucu dan tantangan bisnis, rasa cinta lama mereka kembali muncul. Setelah berhasil membongkar kejahatan Doni dan mendapatkan dukungan pemerintah, mereka tidak hanya menyelesaikan proyek aplikasi yang bermanfaat bagi jutaan UMKM, tapi juga menemukan kesempatan kedua untuk cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gretha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5 : Lelucon Bahasa dan Permulaan Kerja
Suara mesin cetak yang berdenyut stabil memenuhi ruangan kantor kecil Nusantara Analytics yang terletak di belakang warung keluarga. Rania sedang menyusun berkas-berkas penting yang akan dikirimkan ke Jakarta besok pagi, sementara Siti sedang mengecek ulang data riset yang telah mereka kumpulkan selama beberapa minggu terakhir. Udara di dalam ruangan terasa sedikit lembap karena cuaca Medan yang mulai memasuki musim kemarau.
“Rania, kamu lihat nih,” ucap Siti dengan suara penuh kegembiraan sambil menunjukkan layar laptopnya. “Banyak UMKM baru yang sudah mendaftarkan diri untuk bergabung dengan proyek kita lho. Bahkan ada beberapa dari luar kota yang kontak kita melalui media sosial.”
Rania segera mendekat dan melihat layar laptop Siti yang menampilkan daftar nama-nama usaha kecil yang baru saja mengirimkan permintaan bergabung. Beberapa di antaranya adalah usaha yang sudah mereka kenal, tapi banyak juga yang baru saja muncul dengan ide-ide segar dan menarik.
“Luar biasa ya, Siti,” ucap Rania dengan mata yang bersinar melihat data tersebut. “Kita harus segera mempersiapkan kunjungan lapangan untuk mereka semua minggu depan. Selain itu, kita juga harus mulai menyusun jadwal kerja sama dengan tim dari Jakarta agar tidak terjadi kesalahpahaman lagi.”
Sementara itu, di meja sebelahnya, ponselnya berdering dengan nada yang sudah tidak asing lagi—suara pesan masuk dari aplikasi perpesanan kerja. Dia segera mengambilnya dan melihat isi pesannya:
“Halo Rania, ini Reza. Saya sudah melihat semua data yang kamu kirimkan kemarin. Tim kami sangat terkesan dengan hasil kerja kamu dan teman-temanmu. Minggu depan kami akan datang ke Medan untuk kunjungan lapangan bersama ya. Semoga kita bisa bekerja sama dengan baik seperti yang kita harapkan.”
Rania menghela nafas panjang setelah membaca pesan tersebut. Pikiran tentang pertemuan dengan Reza beberapa hari lalu masih terus mengganggu pikirannya, namun dia tahu harus fokus pada pekerjaan yang ada di depan mata. Dia segera menyiapkan barang-barang yang akan dibawa untuk perjalanan kunjungan lapangan minggu depan, mulai dari kamera dokumentasi hingga alat tulis yang akan digunakan untuk mencatat semua informasi penting dari setiap usaha yang akan mereka kunjungi.
“Sampai di sini dulu ya, Siti,” ucap Rania sambil mengambil tas kerja nya yang sudah siap dipakai. “Kita harus segera berangkat jika tidak ingin terlambat lagi seperti kemarin. Kali ini kita akan berangkat lebih pagi untuk menghindari kemacetan jalanan seperti biasa.”
Siti mengangguk dan segera mengikuti langkah Rania menuju luar ruangan. Di luar kantor yang sudah mulai sepi karena malam menjelang, mereka melihat beberapa anak muda sedang bermain sepeda di depan warung kecil yang terletak di sudut jalan. Udara malam yang segar dengan aroma bunga kamboja dari kebun belakang warung membuat suasana menjadi lebih tenang.
“Sampai di sana kita akan langsung mulai kerja sama dengan mereka ya,” ucap Rania sambil menyeberangi jalan yang mulai sepi. “Kita harus menunjukkan bahwa usaha kecil seperti kita juga bisa memberikan kontribusi yang besar jika diberi kesempatan yang sama.”
Setelah sampai di depan gerbang stasiun yang sudah mulai ramai dengan penumpang yang akan berangkat malam, mereka segera mencari tempat duduk di dalam kereta yang akan membawa mereka ke beberapa kota kecil di sekitar Medan. Saat menunggu kereta datang, Rania melihat seorang wanita dengan anak kecil sedang berdiri di dekat gerobak makanan yang baru saja datang dari arah kota. Wanita tersebut mengenalnya dan segera menghampirinya dengan senyum hangat.
“Rania kan? Sudah lama tidak bertemu ya,” ucap wanita tersebut dengan suara ramah. “Kabarnya kamu sedang bekerja sama dengan perusahaan besar dari Jakarta ya? Semoga saja berhasil ya.”
Rania tersenyum dan mengangguk. “Terima kasih Bu Sri. Insya Allah kita akan berusaha semaksimal mungkin ya.”
Setelah beberapa saat bersalaman dan berbicara sebentar, mereka kembali menunggu kedatangan kereta yang sudah terlihat dari kejauhan. Suara mesin kereta yang semakin dekat membuat semua orang di sekitar mulai bergerak menuju gerbong yang akan membawa mereka menuju kota tujuan berikutnya.
Ketika pintu kereta terbuka dan mereka masuk ke dalam gerbong yang cukup luas dengan tempat duduk yang nyaman, Rania langsung mencari tempat duduk di dekat jendela agar bisa melihat pemandangan luar selama perjalanan. Siti duduk di sebelahnya sambil membuka laptop untuk mengecek kembali data yang akan mereka sajikan besok pagi.
“Sampai di sana kita akan langsung mulai kerja sama dengan mereka ya, Siti,” ucap Rania dengan suara yang penuh semangat. “Kita harus menunjukkan bahwa kita punya nilai tambah yang tidak bisa ditandingi oleh usaha besar mana pun.”
Saat kereta mulai bergerak perlahan keluar dari stasiun dengan suara mesin yang stabil, Rania melihat kota Medan yang semakin jauh di belakang jendela. Lampu-lampu jalan yang semakin redup dan digantikan oleh pemandangan hamparan sawah yang luas di luar kota membuatnya merenung tentang semua usaha kecil yang ada di sana—semua berjuang dengan cara mereka sendiri untuk bisa terus bertahan hidup di tengah persaingan yang semakin ketat.
Di dalam kereta yang mulai melaju dengan kecepatan yang stabil, Rania mulai membuka laptopnya kembali untuk menyusun catatan-catatan penting yang harus mereka bahas pada pertemuan besok. Beberapa penumpang lain sudah mulai merasa kantuk dan mulai tertidur dengan kepala menyandar pada jendela. Suara mesin kereta yang stabil dan getaran yang lembut membuat suasana menjadi lebih tenang.
“Sampai di sana kita akan langsung bertemu dengan mereka kan?” tanya Siti dengan suara pelan sambil menutup laptopnya yang sudah menunjukkan jam tengah malam. “Kita harus siap menghadapi segala kemungkinan ya Bu.”
Rania mengangguk dan melihat ke luar jendela yang menunjukkan pemandangan desa yang sudah mulai tidur dengan lampu-lampu rumah yang semakin redup satu per satu. “Ya Siti, kita harus siap menghadapi semua hal yang akan terjadi. Tidak hanya untuk kita sendiri tapi juga untuk semua orang yang telah mempercayakan usaha mereka pada kita.”
Saat kereta memasuki rel yang melengkung ke arah pegunungan yang semakin tampak jelas di depan mata, Rania melihat bulan yang sudah mulai muncul dengan jelas di atas langit yang penuh bintang. Cahaya bulan yang menyinari hamparan kebun teh di sisi jalan membuatnya merenung tentang semua usaha kecil yang ada di sana—semua berjuang dengan cara mereka sendiri untuk bisa terus berkembang dan memberikan yang terbaik bagi keluarga mereka.
“Kita akan berhasil ya Bu,” ucap Siti dengan suara yang penuh keyakinan. “Karena kita tidak bekerja hanya untuk diri sendiri tapi untuk banyak orang yang mengandalkan kita.”
Rania mengangguk dengan senyum yang semakin meyakinkan. Dia tahu bahwa jalan yang akan ditempuh masih panjang dan penuh dengan tantangan, namun dia juga yakin bahwa setiap langkah yang diambil akan membawa manfaat bagi banyak orang yang membutuhkan bantuan mereka.
Ketika kereta melaju melalui rel yang menghubungkan kota dengan desa-desa di sekitarnya, Rania melihat beberapa rumah kecil dengan lampu yang masih menyala di malam hari. Beberapa di antaranya mungkin adalah usaha kecil yang sedang berjuang untuk tetap bertahan hidup—sama seperti warung keluarga nya yang dulu juga pernah melalui masa-masa sulit sebelum akhirnya bisa berkembang seperti sekarang.
“Semoga semua usaha kecil bisa mendapatkan kesempatan yang sama seperti kita ya Bu,” ucap Siti dengan suara yang penuh harapan. “Kita akan tunjukkan bahwa mereka juga bisa berkembang jika diberi kesempatan yang tepat.”
Rania mengangguk dan melihat ke luar jendela yang semakin gelap dengan pemandangan alam yang semakin jelas. Dia merasakan bahwa setiap usaha kecil memiliki potensi besar yang hanya perlu diberi kesempatan untuk tumbuh dan berkembang sesuai dengan kemampuan mereka sendiri.
Sebelum matahari benar-benar terbenam dan malam datang dengan penuh misteri, Rania melihat sekelompok anak-anak muda sedang bermain bola di lapangan kecil di luar desa. Suara tawa mereka yang riang membuat hatinya menjadi lebih ringan—seolah semua beban yang dia pikul akan segera sirna dengan sendirinya.
“Sampai di sana kita akan mulai bekerja sama dengan mereka dengan sepenuh hati ya Siti,” ucap Rania dengan suara yang penuh tekad. “Kita akan tunjukkan bahwa kerja sama yang baik akan menghasilkan sesuatu yang berharga bagi banyak orang.”
Siti mengangguk dengan senyum yang semakin meyakinkan. “Ya Bu, kita akan buktikan bahwa usaha kecil bisa memberikan kontribusi yang besar jika diberi kesempatan yang sama.”
Ketika kereta mulai memasuki rel yang lebih lurus menuju kota berikutnya, Rania melihat langit yang semakin gelap dengan bintang-bintang yang mulai muncul satu per satu. Dia merasakan bahwa setiap usaha kecil seperti bintang di langit malam—meskipun kecil tapi memiliki cahaya sendiri yang bisa menerangi jalan bagi orang lain yang sedang dalam perjalanan panjang di malam hari yang kelabu.
Setelah beberapa jam perjalanan dan kereta mulai memasuki area yang lebih ramai dengan aktivitas malam, Rania melihat beberapa gerobak makanan malam yang mulai berjualan di pinggir jalan. Suara-suara tawaran makanan yang meriah membuat suasana menjadi lebih hidup. Dia melihat seorang pria tua sedang berjualan makanan dengan gerobak kecil di sudut jalan—mungkin juga adalah usaha kecil yang berjuang untuk menghidupi keluarga nya.
“Betapa banyak orang yang berjuang dengan usaha kecil mereka sendiri ya Bu,” ucap Siti dengan suara pelan sambil melihat ke luar jendela. “Kita benar-benar harus memberikan yang terbaik untuk mereka semua.”
Rania mengangguk dan melihat ke arah jam di dinding kereta yang menunjukkan pukul sebelas malam. Mereka masih punya waktu beberapa jam lagi sebelum tiba di tujuan akhir perjalanan malam ini. Dia mulai merapikan berkas-berkas yang ada di mejanya sambil berpikir tentang semua persiapan yang harus dilakukan besok pagi.
“Kita akan mulai dengan kunjungan ke beberapa usaha yang sudah kita kontak sebelumnya ya Siti,” ucap Rania dengan suara yang jelas di tengah kebisingan mesin kereta. “Mereka sudah menunggu kunjungan kita untuk membicarakan bagaimana teknologi bisa membantu mereka meningkatkan penjualan dan efisiensi kerja mereka.”
Siti mengangguk dan mulai menyiapkan catatan penting yang akan mereka bahas pada pertemuan besok. “Saya sudah membuat daftar semua usaha yang akan kita kunjungi mulai dari besok pagi ya Bu. Mulai dari usaha makanan hingga usaha kerajinan tangan yang ada di sekitar kota.”
Rania mengangguk dan melihat sekeliling gerbong kereta yang sudah mulai sepi dengan sebagian penumpang yang sudah tertidur. Suara mesin yang stabil dan getaran yang lembut membuatnya merasa semakin tenang. Dia merasakan bahwa semua usaha kecil yang ada di seluruh Indonesia seperti bintang-bintang di langit malam—masing-masing memiliki cahaya sendiri yang bisa menerangi jalan bagi orang lain yang sedang dalam perjalanan.
Ketika kereta memasuki rel yang melengkung menuju kota besar berikutnya, Rania melihat pemandangan kota yang semakin jelas dengan lampu-lampu jalan yang menyala terang. Dia merasakan bahwa setiap langkah yang diambil untuk membantu usaha kecil seperti ini adalah langkah penting menuju masa depan yang lebih baik bagi banyak orang.
“Kita akan berusaha semaksimal mungkin ya Siti,” ucap Rania dengan suara yang penuh tekad. “Semua usaha kecil yang ada di seluruh Indonesia layak mendapatkan kesempatan yang sama untuk berkembang dan memberikan manfaat bagi banyak orang.”
Siti mengangguk dengan senyum yang semakin meyakinkan. “Ya Bu, kita akan buktikan bahwa kerja sama yang baik akan menghasilkan hasil yang luar biasa bagi semua orang yang terlibat.”
Saat kereta melaju dengan kecepatan yang stabil dan pemandangan luar semakin jelas terlihat dengan rumah-rumah yang terletak di sepanjang rel, Rania merasakan bahwa setiap usaha kecil yang ada di sana adalah bagian penting dari kehidupan banyak orang—bagian yang tidak bisa tergantikan oleh usaha besar mana pun.
Sebelum matahari mulai muncul dari balik bukit dan menyinari hamparan sawah yang luas di luar kota, Rania melihat sebuah rumah kecil dengan taman bunga yang terawat rapi di depan pintu. Mungkin itu juga adalah usaha kecil yang dijalankan dengan cinta dan perhatian oleh keluarga yang mencintainya—sama seperti warung keluarga nya yang selalu menjadi bagian penting dalam kehidupan banyak orang di sekitarnya.
“Semoga besok kita bisa mulai dengan baik ya Bu,” ucap Siti dengan suara yang penuh harapan. “Kita akan buktikan bahwa usaha kecil bisa memberikan kontribusi besar jika diberi kesempatan yang sama.”
Rania mengangguk dan melihat ke luar jendela yang sudah mulai menunjukkan sinar matahari yang semakin terang. Dia merasakan bahwa setiap usaha kecil seperti bintang di langit malam—meskipun kecil tapi memiliki peran penting dalam menerangi jalan bagi orang lain yang sedang dalam perjalanan panjang menuju tujuan mereka.
Ketika kereta mulai melambat memasuki stasiun berikutnya dengan lampu-lampu yang sudah menyala terang, Rania melihat beberapa orang yang sudah menunggu di platform dengan wajah yang penuh harapan. Beberapa di antaranya mungkin juga adalah pengusaha kecil yang sedang menunggu kesempatan untuk bisa berkembang seperti yang mereka lakukan sekarang.
“Sampai di sini kita akan mulai dengan langkah yang pasti ya Siti,” ucap Rania dengan suara yang semakin mantap. “Kita akan buktikan bahwa setiap usaha kecil memiliki nilai tersendiri yang tidak bisa digantikan oleh usaha mana pun.”
Saat pintu kereta terbuka dan mereka siap untuk turun di stasiun berikutnya, Rania melihat sekeliling dengan mata yang semakin jelas melihat peluang yang terbentang di depan mata nya. Setiap usaha kecil yang ada di sana adalah bukti bahwa kerja keras dan kerja sama yang baik akan selalu menghasilkan sesuatu yang berharga bagi banyak orang—seperti bubur pedas yang selalu dinikmati banyak orang karena dibuat dengan cinta dan perhatian yang tulus.
Setelah turun dari kereta dan berjalan menuju keluar stasiun yang sudah mulai sepi karena malam menjelang, Rania melihat beberapa orang yang masih sibuk dengan pekerjaan mereka di malam hari. Beberapa pedagang kecil masih berjualan dengan terang-terangan di sudut jalan, sementara beberapa orang lain sudah mulai membersihkan barang dagangan mereka untuk hari esok.
“Kita akan mulai dengan mengunjungi beberapa usaha yang sudah kita hubungi sebelumnya ya Siti,” ucap Rania sambil berjalan menuju angkot yang akan mengantar mereka pulang ke warung. “Besok pagi kita akan langsung mulai kunjungan lapangan seperti yang sudah kita rencanakan.”
Siti mengangguk dan segera mengikuti langkah Rania yang semakin cepat menuju arah parkiran mobil. Udara malam yang segar dengan aroma bunga kamboja dari kebun belakang rumah-rumah di sekitar membuat suasana menjadi lebih tenang.
“Sampai di rumah kita akan segera mempersiapkan semua dokumen yang dibutuhkan untuk pertemuan besok ya Bu,” ucap Siti dengan suara yang penuh semangat. “Kita akan menunjukkan bahwa kita bisa bekerja sama dengan baik dan menghasilkan sesuatu yang berguna bagi banyak orang.”
Rania mengangguk dan melihat ke langit yang sudah mulai penuh dengan bintang-bintang yang bersinar terang. Dia merasakan bahwa setiap usaha kecil seperti mereka adalah sebuah bintang kecil di langit yang luas—masing-masing memiliki cahaya sendiri yang bisa menerangi jalan bagi orang lain yang sedang dalam perjalanan.
Ketika mereka sampai di depan warung yang sudah mulai sepi dengan lampu yang masih menyala di depan pintu, Rania melihat neneknya yang masih ada di dalam warung yang sedang membersihkan meja-meja dengan hati-hati. Suara cuci piring yang bersih terdengar jelas di malam yang sepi.
“Kamu sudah kembali ya nak?” tanya neneknya dengan suara yang lembut namun jelas terdengar. “Sudah makan belum?”
“Belum Nenek,” jawab Rania dengan senyum yang hangat. “Kita baru saja sampai dan langsung ingin melihat kondisi warung.”
Neneknya segera mengangkat mangkuk berisi makanan yang sudah siap dan menaruh di atas meja yang sudah mereka gunakan untuk makan malam. “Mari kita makan dulu ya sebelum kamu mulai bekerja lagi. Kamu harus makan cukup agar badanmu kuat untuk bekerja besok.”
Rania segera duduk dan mulai menikmati makanan yang sudah disiapkan neneknya. Rasa yang khas membuatnya merasakan kembali kenangan indah bersama keluarga yang selalu ada untuknya dalam suka maupun duka.
Setelah selesai makan dan membantu nenek membersihkan warung, Rania segera masuk ke kamar belakang untuk mengambil laptopnya yang masih terbuka di atas meja kerja lama yang penuh dengan kenangan. Dia mulai membuka file presentasi yang akan mereka sampaikan pada pertemuan besok pagi dengan tim dari Jakarta.
“Besok kita akan mulai dengan kunjungan ke beberapa usaha yang sudah kita hubungi sebelumnya ya Siti,” ucap Rania sambil melihat jam yang menunjukkan sudah hampir tengah malam. “Kita harus berangkat lebih pagi agar bisa mengunjungi sebanyak mungkin tempat dalam satu hari.”
Siti mengangguk dan mulai menyiapkan barang-barang yang akan mereka bawa besok pagi. “Saya sudah siap Bu, semua data sudah saya susun rapi dalam folder yang sudah kita siapkan bersama.”
Rania mengangguk dan mulai memeriksa semua berkas yang sudah siap untuk dikirimkan besok pagi. Dia melihat sekeliling kamar yang sudah mulai terasa sepi dengan hanya suara kipas angin yang berputar lembut di malam hari yang semakin dingin.
“Semoga besok berjalan dengan lancar ya Siti,” ucap Rania dengan suara yang penuh harapan untuk semua yang akan terjadi. Kita sudah melakukan yang terbaik untuk mempersiapkan segalanya dengan baik.”
Siti mengangguk dan mulai membersihkan meja kerja mereka dari barang-barang yang sudah tidak terpakai lagi. “Ya Bu, kita sudah siap menghadapi segala kemungkinan yang akan terjadi. Baik itu tentang kerja sama maupun tentang hal-hal lain yang mungkin muncul sepanjang perjalanan ini.”
Ketika malam benar-benar tiba dan lampu-lampu di sekitar warung mulai menyala satu per satu, Rania melihat sekeliling kota Medan yang semakin tenang dengan hanya beberapa sumber cahaya yang masih menyala di jalanan sepi. Udara malam yang sejuk membuatnya merenung tentang semua yang telah terjadi selama ini—dari awal memulai usaha kecil hingga saat ini yang akan bekerja sama dengan perusahaan besar.
“Kita harus tetap fokus pada tujuan kita ya Siti,” ucap Rania dengan suara yang lebih tenang. “Tidak peduli apa yang akan terjadi atau siapa yang akan kita temui di jalan—kita tidak boleh melupakan mengapa kita memulai semua ini dari awal.”
Siti mengangguk dan mulai mematikan lampu-lampu di dalam kantor. “Ya Bu, saya mengerti sepenuhnya. Kita akan terus berjalan sesuai dengan prinsip yang sudah kita tetapkan bersama.”
Setelah semua barang sudah disusun rapi dan ruangan kantor sudah terkunci dengan aman, mereka segera berjalan menuju keluar stasiun yang sudah mulai sepi dengan hanya beberapa orang yang masih berada di dalamnya. Udara malam yang semakin dingin membuat mereka berjalan lebih cepat menuju arah parkiran mobil yang sudah menunggu mereka.
“Sampai di sini kita akan langsung pulang ya Bu,” suara sopir mobil yang sudah berada di depan mereka menyapa dengan ramah. “Semoga saja perjalanan kerja Anda lancar ya.”
Rania mengucapkan terima kasih dan segera naik ke dalam mobil bersama Siti. Saat mesin mobil hidup dan mulai melaju keluar dari area stasiun, Rania melihat pandangan kota Jakarta yang semakin jauh di balik jendela—bangunan-bangunan tinggi yang menjulang tinggi dengan lampu-lampu yang masih menyala terang di malam hari.
Namun, ketika mereka memasuki jalan raya yang menghubungkan Jakarta dengan luar kota, Rania melihat sesuatu yang membuat hatinya berdebar kencang. Di sisi jalan yang jarang dilalui ada sebuah gerobakan kecil dengan nama yang sangat akrab—“Warung Makan Bu Lina”—nama yang sama seperti yang pernah dia kunjungi bersama keluarga beberapa tahun yang lalu.
“Pak, bolehkah kita berhenti sebentar di sana?” tanya Rania dengan suara yang sedikit gemetar.
Sopir mobil mengangguk dan menginjak rem perlahan. “Tentu saja boleh Bu, mau apa nih?”
Rania menggeleng dan segera turun dari mobil tanpa menunggu jawaban lebih lanjut. Dia berjalan menuju gerobakan kecil yang terletak di pinggir jalan raya tersebut. Seorang wanita dengan baju kerja sedang menyusun makanan di atas meja kecil yang ditempatkan di luar gerobakan. Wanita tersebut menoleh dan tersenyum ketika melihatnya mendekat.
“Permisi Bu, mau pesan makanan atau hanya melihat-lihat saja?” tanya wanita tersebut dengan suara ramah.
Rania menggeleng perlahan. “Cuma melihat-lihat saja Bu, baru saja kembali dari Jakarta untuk urusan kerja.”
Wanita tersebut mengangguk dengan senyum. “Oalah kerja ya, nak. Semoga saja lancar ya. Kalau ada yang bisa saya bantu bilang saja ya.”
Setelah berbicara sebentar dan berterima kasih, Rania kembali ke mobil dan melanjutkan perjalanan pulang. Saat mobil mulai melaju lagi melalui jalanan yang semakin sepi dengan hanya beberapa lampu jalan yang menyala terang, Rania melihat sekeliling dengan hati yang semakin tenang—meskipun masih ada rasa penasaran yang besar tentang pertemuan yang akan datang.
“Sampai di Medan kita akan langsung mulai mempersiapkan segala sesuatu untuk kunjungan mereka ya Siti,” ucap Rania dengan suara yang lebih mantap. “Kita tidak boleh membiarkan apa pun mengganggu fokus kita pada tujuan utama kita.”
Siti mengangguk dan mulai mengecek kembali jadwal kunjungan yang sudah mereka buat bersama. “Ya Bu, kita punya waktu tiga hari untuk mempersiapkan segala sesuatu sebelum mereka datang minggu depan. Saya sudah mulai menghubungi beberapa UMKM yang pernah kita bantu sebelumnya agar bisa bersiap untuk kunjungan bersama.”
Rania mengangguk dan melihat ke luar jendela mobil yang sudah mulai memasuki area pegunungan dengan udara yang semakin sejuk. Dia melihat beberapa rumah kecil yang tersebar di lereng bukit dengan kebun sayuran yang terawat rapi di sekelilingnya. Suasana pedesaan yang damai membuatnya merenung tentang semua usaha kecil yang ada di luar sana—semua berjuang dengan cara mereka sendiri untuk bisa hidup layak.
“Kita benar-benar harus memberikan yang terbaik untuk mereka semua ya Siti,” ucap Rania dengan suara yang penuh tekad. “Tidak peduli seberapa besar atau seberapa kecil usaha mereka—semua layak mendapatkan kesempatan yang sama untuk berkembang.”
Saat mobil melaju melalui jalanan yang semakin landai dengan pemandangan sawah yang luas di kedua sisi jalan, Rania melihat seorang anak kecil sedang bermain dengan bola di halaman rumahnya. Suasana yang damai membuatnya merasakan kembali betapa berharganya setiap usaha yang dilakukan dengan tulus untuk membantu orang lain.
“Kita akan berhasil, Bu,” ucap Siti dengan suara yang penuh keyakinan. “Karena kita tidak bekerja semata-mata untuk diri sendiri—kita bekerja untuk masa depan yang lebih baik bagi banyak orang.”
Rania mengangguk dan melihat ke langit yang sudah mulai menunjukkan warna jingga di ufuk timur. Dia merasakan bahwa setelah semua yang telah terjadi, setelah semua perjalanan yang telah ditempuh, mereka akhirnya akan sampai pada tujuan yang sebenarnya—memberikan harapan bagi mereka yang paling membutuhkan.
Ketika mobil akhirnya memasuki area sekitar Stasiun Medan dengan lampu-lampu yang mulai menyala terang di malam hari yang semakin dingin, Rania melihat sekeliling dengan hati yang penuh rasa syukur. Meskipun jalan yang ditempuh panjang dan penuh dengan lika-liku, dia tahu bahwa setiap langkah yang diambil adalah untuk sesuatu yang lebih besar dari dirinya sendiri.
“Sampai di sini kita sudah hampir sampai ya Bu,” suara sopir mobil terdengar dari depan. “Kita akan segera tiba di Stasiun Medan dalam beberapa menit lagi.”
Rania mengangguk dan melihat ke luar jendela yang menunjukkan pemandangan kota Medan yang sudah mulai terlihat jelas dengan lampu-lampu jalan yang bersinar terang. Dia merasakan bahwa dia sudah siap menghadapi segala sesuatu yang akan terjadi—baik itu tentang proyek besar yang akan mereka jalankan maupun tentang masa lalunya yang kini mulai terbongkar sedikit demi sedikit.
Sebelum mobil akhirnya berhenti di depan stasiun yang sudah ramai dengan penumpang yang akan melakukan perjalanan malam, Rania melihat sekeliling dengan hati yang semakin tenang. Dia tahu bahwa apa pun yang akan terjadi besok atau kelak—dia sudah siap menghadapinya dengan penuh keyakinan bahwa semua yang dilakukan adalah untuk kebaikan bersama.