Sepuluh ribu tahun yang lalu, Kaisar Pedang Kekosongan, Jian Chen, dikhianati oleh tunangannya (Permaisuri Surgawi Luo Xue) dan saudara angkatnya saat mencoba menerobos ke Alam Ilahi Primordial. Jiwanya hancur berantakan. Namun, setetes Darah Primordial misterius yang ia temukan di Reruntuhan Kekacauan menyelamatkan satu fragmen jiwanya.
Sepuluh ribu tahun kemudian, Jian Chen terbangun di tubuh seorang pemuda bernama sama di Benua Bintang Jatuh (Dunia Fana terendah). Pemuda ini dikenal sebagai "Sampah Bawaan" yang meridiannya hancur. Dengan ingatan masa lalunya, pengetahuan alkimia tingkat dewa, dan teknik kultivasi terlarang Seni Melahap Surga Primordial, Jian Chen memulai kembali langkahnya dari bawah. Ia bersumpah untuk membelah langit, menghancurkan para pengkhianat yang kini telah menjadi Penguasa Surga, dan mengungkap rahasia sejati di balik Darah Primordial.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baldy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gerbang Reruntuhan
Hawa membunuh meledak layaknya badai di tengah Perkemahan Penyatuan Enam Sekte.
Wajah Lu Mofeng yang tadinya angkuh kini memerah padam, urat-urat menonjol di pelipisnya. Kipas bulu elang di tangannya telah hancur menjadi serpihan debu akibat cengkeraman tangannya yang dipenuhi amarah. Sebagai Murid Inti Peringkat Pertama dari Sekte Awan Biru, tidak ada seorang pun di generasi muda yang pernah berani menghinanya dengan kata-kata sekasar itu, apalagi menyebut sektenya sebagai sekawanan anjing!
"Bocah yang tidak tahu seberapa tinggi langit dan setebal apa bumi!" raung Lu Mofeng. Hawa murni elemen angin berputar liar di sekeliling tubuhnya, membentuk bilah-bilah udara tak kasat mata yang merobek tanah berbatu di pijakannya. "Hari ini, aku akan mencabut lidahmu dan membiarkan gagak memakan sisa dagingmu!"
Seluruh murid Sekte Awan Biru serempak menghunuskan pedang mereka. Udara di lembah itu mendadak menjadi sangat dingin dan menekan.
Di pihak Akademi Angin Langit, Chu Tian justru mundur setengah langkah sambil menyeringai tipis. Ia sangat berharap Lu Mofeng akan membunuh Jian Chen di tempat ini, sehingga ia tidak perlu repot-repot menyingkirkan pemuda berjubah hitam itu di dalam reruntuhan nanti.
Namun, Jian Chen tidak bergeming sejengkal pun. Tangan kanannya dengan tenang meraba gagang Pedang Penguasa Kosong di punggungnya. Jika Lu Mofeng berani mengambil satu langkah lagi, tenaga murni delapan belas ribu kilogram di dalam raganya akan meratakan pemuda angkuh itu menjadi genangan darah sebelum tetua mana pun sempat berkedip.
"Cukup!"
Sebuah bentakan yang dipenuhi tekanan dari Alam Pembentukan Fondasi mengguncang lembah tersebut layaknya guntur.
Sesosok pria tua berjubah biru tua melangkah maju dari tenda utama Sekte Awan Biru. Mata tuanya menatap Jian Chen dengan sorot berbisa, namun ia segera menoleh pada murid utamanya. "Mofeng, simpan senjatamu! Mengotori tanganmu dengan darah rendahan di luar gerbang hanya akan membuang tenagamu. Tujuan utama kita adalah Buah Inti Dewa dan pusaka warisan kuno. Selesaikan urusanmu dengannya di dalam kegelapan reruntuhan!"
Penatua Zhao dari Akademi Angin Langit juga segera menengahi, melangkah menghalangi pandangan antara Jian Chen dan barisan Sekte Awan Biru. "Tetua Yun benar. Jika kita bertarung di sini, Lembah Pedang Es dan sekte lainnya hanya akan menertawakan kita dan memancing keuntungan di air keruh."
Lu Mofeng menggertakkan giginya hingga terdengar bunyi retakan pelan. Ia menatap Jian Chen lekat-lekat, seolah ingin mengukir rupa sang pemuda ke dalam ingatannya. "Hitung sisa napasmu, Bocah. Begitu kau menginjakkan kaki di tanah kuno, nyawamu adalah milikku!"
"Aku akan menunggunya," balas Jian Chen datar, melepaskan cengkeramannya dari gagang pedangnya dan kembali melipat kedua lengannya di dada.
Tepat pada saat pertikaian itu mereda, tanah di bawah kaki mereka mulai bergetar hebat.
Getaran itu bukan berasal dari para kultivator, melainkan dari kedalaman Hutan Kematian. Kabut ungu pekat yang selama ribuan tahun menyelimuti hutan tersebut mulai bergolak, membelah diri layaknya lautan yang dikoyak oleh tangan dewa.
Dari balik celah kabut beracun itu, menjulang sebuah gerbang perunggu raksasa setinggi puluhan tombak. Permukaannya dipenuhi oleh ukiran aksara kuno yang memancarkan pendaran cahaya keemasan redup. Pintu gerbang yang telah tertutup rapat itu perlahan berderit, terbuka perlahan, memancarkan hawa kuno yang luar biasa purba dan menyegarkan, bercampur dengan bau busuk mayat dari masa lalu.
"Segel Reruntuhan Kuno telah terbuka!" seru para tetua dari berbagai sekte secara serempak.
Mata setiap murid jenius di lembah itu berkilat oleh keserakahan dan ambisi yang menyala-nyala.
"Dengarkan baik-baik!" Penatua Zhao berbalik menghadap tiga puluh murid Akademi Angin Langit, suaranya dipenuhi ketegasan mutlak. "Gerbang itu adalah jembatan yang melintasi kehampaan. Begitu kalian melangkah masuk, kalian akan terlempar secara acak ke berbagai penjuru Reruntuhan Kuno! Ingat, jangan langsung mencari musuh. Bertahan hiduplah, cari rekan sekte kalian, dan pusatkan pencarian pada wilayah Altar Pusat untuk menemukan Buah Inti Dewa! Bergerak!"
Seperti bendungan yang pecah, ratusan pemuda dan pemudi dari Enam Sekte Besar melesat maju layaknya sekawanan belalang. Mereka berlomba-lomba melompati gerbang perunggu tersebut, takut tertinggal satu tarikan napas dari pusaka yang menanti di dalam.
Jian Chen tidak terburu-buru. Ia membiarkan Chu Tian dan rombongannya melesat lebih dulu. Baru setelah sebagian besar kultivator masuk, ia berjalan dengan langkah tenang melewati ambang gerbang perunggu itu.
Begitu kakinya melewati tirai cahaya keemasan, dunia di sekelilingnya berputar. Rasa pusing yang ringan menghantam pikirannya akibat perpindahan yang menembus ruang hampa, namun lautan kesadarannya yang sekuat baja dengan mudah menetralkan guncangan tersebut.
Wush!
Pemandangan kembali jelas.
Jian Chen mendapati dirinya berdiri di tengah sebuah rawa yang sangat luas. Langit di atasnya tidak berwarna biru, melainkan merah kelam layaknya genangan darah yang mengering. Tidak ada matahari maupun bulan, hanya pendaran cahaya suram yang memantul dari tulang-belulang raksasa yang menyembul dari dalam lumpur rawa yang mendidih.
Hawa di tempat ini sangat buas. Qi Langit dan Bumi bercampur dengan hawa iblis kuno yang bisa membuat kultivator berpikiran lemah menjadi gila.
"Jadi ini Reruntuhan Kuno Hutan Kematian. Medan pertempuran dari era purbakala yang terkubur," gumam Jian Chen, matanya menyapu sekeliling.
Tanpa ragu, ia memejamkan mata dan menyebarkan jaring Indra Spiritual-nya. Kesadarannya meluas menembus udara merah tersebut hingga radius lima ratus langkah panjang.
Tiba-tiba, sudut bibirnya melengkung membentuk senyuman dingin.
Lumpur rawa berjarak sepuluh tombak di belakangnya bergolak tanpa suara. Tiga ekor makhluk seukuran kereta kuda muncul dari balik lumpur pekat. Mereka menyerupai kalajengking, namun cangkang mereka berwarna semerah darah segar, dan ekor mereka tidak memiliki sengat, melainkan sebuah capit bergerigi yang terus meneteskan racun pelebur tulang.
Kalajengking Ekor Darah. Binatang Iblis Tingkat Dua Kelas Atas.
Setiap ekor dari makhluk ini memiliki ketangguhan setara kultivator Kondensasi Qi Tingkat Sembilan Awal. Bertemu tiga ekor sekaligus di awal perjalanan adalah mimpi buruk yang akan merenggut nyawa murid inti mana pun.
Ketiga monster itu mengunci hawa keberadaan Jian Chen dan melesat maju dengan kecepatan kilat, bersiap menjepit dan merobek tubuh pemuda berjubah hitam itu menjadi kepingan daging.
Jian Chen perlahan membalikkan tubuhnya. Ia tidak mencabut pedangnya. Ia hanya mengangkat tangan kanannya, membiarkan tenaga delapan belas ribu kilogram mengalir murni dari sumsum tulang Raga Tirani Kekacauan-nya menuju telapak tangannya.
"Pemanasan yang lumayan," bisik Jian Chen.
"Pukulan Dominasi Primordial!"
Ia meninju udara kosong di depannya. Tidak ada cahaya keterampilan bela diri yang menyilaukan, murni hanya dorongan tenaga jasmani yang memecahkan batasan fana.
BOOOOOOM!!!
Udara di depannya hancur, menciptakan gelombang badai kejut yang melesat bagai palu godam raksasa tak kasat mata.
Ketiga Kalajengking Ekor Darah itu bahkan tidak sempat mengeluarkan suara jeritan. Cangkang keras mereka yang dibanggakan hancur lebur layaknya tanah liat yang ditabrak gunung besi. Tubuh mereka meledak menjadi hujan kabut berdarah, menghujani rawa lumpur di bawahnya.
Tiga Binatang Iblis Tingkat Dua musnah dalam satu hembusan napas!
Jian Chen membuka telapak tangannya. Pusaran hitam Seni Melahap Surga Primordial berputar dalam keheningan, menyedot kabut darah dan intisari hawa murni dari ketiga monster tersebut sebelum sempat menyentuh tanah.
Meski begitu, Dantian Jian Chen yang kini berada di Tingkat Sembilan Puncak hampir tidak merasakan riak apa pun. Dibutuhkan lautan energi yang jauh lebih besar untuk mendorongnya mendobrak gerbang Alam Pembentukan Fondasi.
"Hewan ternak di tempat ini terlalu miskin intisari," Jian Chen menurunkan tangannya, menatap jauh melintasi hamparan rawa merah. Niat membunuh yang telah lama ia tekan kini perlahan merembes keluar, menodai jubah hitamnya dengan hawa kematian yang pekat.
"Lu Mofeng... Sekte Awan Biru... kuharap leher kalian cukup panjang untuk menanti kedatanganku."
Sang Raja Asura memulai langkah pertamanya di tanah kuno. Perburuan darah akhirnya dimulai.