NovelToon NovelToon
Dead School List: Menjaga Kewarasan Di Antara Zombi Dan Delusi

Dead School List: Menjaga Kewarasan Di Antara Zombi Dan Delusi

Status: sedang berlangsung
Genre:Zombie / Romansa Fantasi / Hari Kiamat
Popularitas:344
Nilai: 5
Nama Author: Nayla Zidan

Dua minggu terjebak sendirian di Mall yang penuh mayat hidup, aku pikir kewarasan adalah satu-satunya senjataku. Sampai akhirnya, sekelompok gadis SMA datang membawa keceriaan yang tidak masuk akal di tengah kiamat. Di antara zombi yang kelaparan dan gadis-gadis yang hidup dalam delusi, apakah aku bisa bertahan sebagai satu-satunya orang yang masih melihat kenyataan? Selamat datang di Klub Kehidupan Sekolah yang sesungguhnya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nayla Zidan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 25: Pelabuhan Terakhir di Ujung Dunia

Kapal tanker The Eternal Hope membelah samudera yang tenang dengan suara mesin yang berat dan monoton. Di belakang kami, daratan Saint Mary sudah benar-benar hilang, hanya menyisakan kegelapan laut yang tak berujung. Aku berdiri di anjungan kapal, tanganku mencengkeram erat pagar besi yang dingin, menatap ke arah busur kapal yang menghantam ombak.

Logikaku sedang berada di titik nadir. Aku baru saja membiarkan ancaman tingkat global naik ke atas kapal ini demi menyelamatkan satu orang. Secara statistik, aku adalah pengkhianat umat manusia. Tapi, melihat Kurumi yang sedang tertidur di kursi kapten dengan wajah yang kembali merona, aku tahu bahwa dalam "persamaan" pribadiku, keputusanku adalah variabel yang tepat.

"Kenapa kamu tidak membunuhnya saat punya kesempatan, Zidan?"

Suara itu kecil, datar, dan muncul tepat di belakangku. Aku tidak perlu menoleh untuk tahu siapa itu. Gadis kecil itu—Subjek E—berdiri di sana, gaun putihnya berkibar tertiup angin laut yang kencang. Dia tidak terlihat terganggu oleh suhu dingin yang menusuk.

"Karena logikanya, kamu lebih berguna hidup untuk saat ini," jawabku tanpa menoleh. "Kamu bilang kamu bisa menghentikan virus di tubuh Kurumi. Jika dia mati, alasanmu untuk hidup juga hilang."

Gadis itu tertawa pelan. "Manusia selalu mencari alasan logis untuk menutupi perasaan mereka. Kamu takut kehilangan dia karena dia adalah satu-satunya cermin yang membuatmu merasa masih menjadi manusia, bukan?"

Aku berbalik, menatap matanya yang putih hampa. "Jangan mencoba membaca pikiranku, monster kecil. Aku sudah bilang, jika kamu melewati batas, kita semua tenggelam."

"Aku tidak butuh membaca pikiranmu. Detak jantungmu bicara lebih keras daripada kata-katamu," dia melangkah maju ke tepi pagar. "Laboratorium itu... ada di sebuah pulau terpencil di utara. Tempat itu disebut 'Nirvana'. Jika kita sampai di sana, aku bisa memberikan apa yang kalian cari: kedamaian."

"Kedamaian versimu adalah kepunahan versiku," kataku dingin.

Aku meninggalkan gadis itu dan berjalan mendekati Kurumi. Dia terbangun saat mendengar langkah kakiku. Matanya yang jernih menatapku, mencari kepastian di tengah ketidakpastian ini.

"Zidan... anak itu... dia siapa sebenarnya?" tanya Kurumi pelan. Dia belum tahu tentang percakapanku dengan Subjek E di palka bawah.

Aku duduk di sampingnya, meletakkan senapanku di meja. "Dia adalah hasil eksperimen yang gagal—atau mungkin terlalu berhasil—dari Saint Mary. Dia punya kemampuan frekuensi untuk mengendalikan mutasi. Dia adalah alasan kenapa kamu sembuh, Kurumi."

Kurumi terdiam, menatap ke arah gadis kecil yang masih berdiri di anjungan. "Dia menyelamatkanku? Tapi... rasanya ada yang salah. Setiap kali dia melihatku, aku merasa seolah-olah jiwaku ditarik keluar."

"Itu karena dia bukan manusia lagi. Jangan pernah bicara dengannya tanpa kehadiranku. Gunakan penutup telinga jika kamu mendengar dia mulai bersenandung," peringatku.

Kurumi mengangguk patuh. Dia meraih tanganku, jari-jarinya yang hangat kini terasa sangat nyata. "Zidan... setelah semua ini, apa kita benar-benar akan sampai ke tempat yang aman? Pulau Nirvana itu... kedengarannya terlalu indah untuk jadi kenyataan."

Aku menatap tangannya yang menggenggamku. "Di dunia ini, tempat aman adalah tempat yang kita bangun sendiri dengan peluru dan barikade. Tapi jika pulau itu memiliki teknologi untuk mengakhiri virus ini, maka itulah misi terakhir kita."

"Zidan," panggilnya lagi, suaranya lebih lembut. "Terima kasih. Aku tahu kamu melakukan semua ini demi aku. Kamu mengorbankan prinsip logikamu... demi satu orang beban sepertiku."

Aku menatap matanya dalam-dalam. "Kamu bukan beban, Kurumi. Kamu adalah satu-satunya variabel yang membuat seluruh perhitungan logikaku tetap memiliki hasil positif. Tanpamu, bertahan hidup hanyalah sekadar menunda kematian tanpa tujuan. Dan aku... aku tidak suka melakukan sesuatu tanpa tujuan."

Kurumi tersenyum, senyum yang paling tulus yang pernah kulihat sejak awal kiamat ini. Dia mendekat dan menyandarkan kepalanya di bahuku. Kali ini, aku tidak hanya membiarkannya; aku melingkarkan lenganku di bahunya, menariknya lebih dekat.

"Janji ya, jangan tinggalkan aku sendirian," bisiknya.

"Aku tidak akan meninggalkan investasiku," balasku dengan nada bercanda yang kaku, yang membuat Kurumi tertawa kecil.

Namun, di balik momen itu, mataku tetap waspada. Aku melihat Subjek E menoleh ke arah kami dari kejauhan. Dia memberikan senyuman tipis—senyuman yang tidak memberikan rasa hangat, melainkan firasat buruk.

Malam semakin larut. Kapal tanker terus bergerak menuju koordinat utara yang diberikan oleh gadis itu. Aku menghabiskan sisa malam dengan memeriksa persediaan senjata. Magazen HK416 sisa empat, pistol Glock sisa dua magazen, dan tiga granat tangan. Persediaan yang sangat tipis untuk menghadapi apa pun yang ada di pulau Nirvana.

Tiba-tiba, radar kapal mengeluarkan suara ping yang konstan. Ada sesuatu yang besar sedang mendekati kami dari arah belakang. Bukan kapal, tapi sesuatu yang bergerak di bawah permukaan air.

"Zidan! Lihat radarnya!" Kurumi berteriak dari kursi operator.

Aku segera berlari ke layar radar. Sebuah massa besar sedang mengejar kapal kami dengan kecepatan yang tidak masuk akal untuk ukuran makhluk laut.

"Subjek E! Apa itu?" teriakku ke arah anjungan.

Gadis itu berjalan masuk ke ruang kemudi dengan santai. "Itu adalah 'Penjaga'. Mereka dikirim oleh si Pemimpin di Saint Mary untuk menjemputku kembali. Tampaknya dia tidak suka aku pergi dengan manusia sepertimu."

"Kenapa kamu tidak bilang mereka bisa mengejar lewat laut?!" aku menyambar senapanku.

"Karena aku ingin melihat sejauh mana logikamu bisa menyelamatkan kita kali ini," jawabnya dengan nada mengejek.

BRAKKKK!

Sesuatu yang sangat besar menghantam lambung kapal tanker. Getarannya begitu kuat hingga Kurumi terlempar dari kursinya. Aku segera menangkapnya sebelum dia menghantam dinding baja.

"Ke dek atas! Sekarang!" perintahku.

Kami berlari keluar menuju dek utama. Di bawah cahaya lampu sorot kapal, aku melihat tentakel-tentakel hitam raksasa yang dipenuhi dengan mata-mata merah kecil mulai merayap naik ke lambung kapal. Itu bukan gurita; itu adalah massa daging zombi yang telah bermutasi menjadi predator laut.

"Zidan! Itu terlalu besar!" Kurumi berteriak ketakutan.

Aku melepaskan tembakan ke arah mata-mata merah itu. RATATATAT! Cairan hitam menyembur, tapi makhluk itu tidak berhenti. Massa daging itu mulai menelan bagian belakang kapal, beratnya membuat haluan kapal tanker terangkat ke atas.

"Gunakan meriam air pemadam kebakaran! Arahkan ke titik tumpuan mereka!" teriakku pada Kurumi.

Kurumi segera berlari menuju kendali meriam air di dek. Dia menyemprotkan air bertekanan tinggi yang dicampur dengan busa kimia pemadam. Tekanannya cukup kuat untuk melepaskan beberapa tentakel, tapi lebih banyak lagi yang muncul dari bawah air.

Subjek E berdiri di tengah dek, menutup matanya. Dia mulai bersenandung lagi, kali ini nadanya tinggi dan menyayat.

"HENTIKAN!" teriakku.

"Aku sedang mencoba menenangkan mereka, Zidan! Tapi mereka lapar! Mereka butuh tumbal!" teriak gadis itu di antara senandungnya.

Logikaku berputar cepat. Kapal tanker ini membawa ribuan ton minyak mentah yang belum diolah. Jika aku meledakkan satu bagian, aku bisa menciptakan lautan api yang akan membakar makhluk itu. Tapi itu juga berarti kami akan terjebak di tengah laut tanpa kapal.

"Kurumi! Lari ke helikopter! Cepat!"

"Tapi bahan bakarnya tidak cukup, Zidan!"

"LAKUKAN SAJA! Aku akan menyambungkan tangki helikopter langsung ke tangki bahan bakar cadangan kapal lewat selang darurat!"

Aku bekerja seperti orang gila di tengah guncangan kapal yang semakin hebat. Aku menyambungkan selang bahan bakar, memompa avgas sisa ke dalam Little Bird. Kurumi sudah berada di dalam, mencoba menyalakan mesin.

Makhluk laut itu kini sudah mencapai dek utama. Sosok raksasa yang terbuat dari ribuan mayat yang menyatu mulai muncul dari air, mengeluarkan raungan yang membuat telingaku berdarah.

Aku melempar granat terakhirku ke arah lubang palka minyak yang terbuka.

"ZIDAN, LOMPAT!" Kurumi berteriak.

Aku melompat ke arah pintu helikopter tepat saat granat itu meledak.

BOOOOOOOOOOMMMMMMMMM!

Ledakan raksasa itu membelah kapal tanker The Eternal Hope menjadi dua. Api membubung tinggi ke langit malam, menciptakan neraka di atas samudera. Makhluk raksasa itu menjerit saat api melalap tubuh organiknya yang rapuh terhadap panas ekstrem.

Helikopter Little Bird terangkat dari dek yang sedang tenggelam, bergoyang hebat karena gelombang kejut ledakan. Aku melihat ke bawah. Kapal tanker itu perlahan tenggelam dalam kobaran api, membawa serta sebagian besar massa daging monster itu ke dasar laut.

Namun, di tengah puing-puing yang terbakar, aku melihat Subjek E. Dia berdiri di atas bagian kapal yang belum tenggelam, menatap kami yang terbang menjauh. Dia tidak mencoba ikut. Dia hanya melambaikan tangan, sebelum akhirnya dia juga ikut tenggelam ke dalam kegelapan laut.

"Zidan... dia tidak ikut?" tanya Kurumi dengan nafas tersengal.

"Dia sudah melakukan tugasnya," kataku, mataku tetap fokus ke depan. "Dia memberiku koordinat pulau itu sebelum ledakan tadi. Dia tahu dia tidak bisa masuk ke sana bersamaku."

Kami terbang dalam keheningan. Di depan kami, sebuah pulau kecil dengan lampu-lampu yang menyala terang mulai terlihat di cakrawala. Itu bukan lampu kota yang kacau, tapi lampu perimeter yang tertata rapi.

Pulau Nirvana.

"Kita sampai, Kurumi," kataku pelan.

Indikator bahan bakar benar-benar menyentuh nol saat kami mendarat di pantai berpasir putih pulau itu. Mesin helikopter mati untuk terakhir kalinya.

Kami turun, menginjakkan kaki di tanah yang terasa sangat tenang. Tidak ada suara geraman, tidak ada bau busuk. Hanya suara ombak dan angin laut yang segar. Namun, di depan kami, sebuah gerbang baja raksasa terbuka, dan sepasang pria dengan baju pelindung putih (hazmat) keluar membawa senjata canggih yang belum pernah kulihat sebelumnya.

"Subjek Z-01 dan asistennya telah tiba," salah satu dari mereka bicara melalui interkom helmnya.

Aku tertegun. Subjek Z-01? Logikaku berputar hebat. Apakah selama ini aku juga bagian dari eksperimen mereka?

Aku menatap Kurumi, yang juga tampak bingung. Aku menggenggam tangannya lebih erat dari sebelumnya.

"Selamat datang di rumah, Zidan," kata pria itu. "Volume satu dari perjalananmu telah selesai. Sekarang, mari kita bicara soal Volume dua."

Aku mengangkat HK416-ku, mengarahkannya ke kepala pria itu. "Aku tidak tahu siapa kalian, tapi jika kalian menyentuh Kurumi, aku akan memastikan pulau ini menjadi kuburan kalian yang paling mewah."

Pria itu tertawa kecil. "Logika yang bagus, Zidan. Persis seperti yang kami rancang."

Lampu sorot raksasa dari dalam fasilitas menyinari kami, membutakan pandangan. Dan di sanalah, di ujung Volume 1, aku menyadari bahwa pelarianku selama ini mungkin hanyalah perpindahan dari satu kandang ke kandang yang lain.

Tapi satu hal yang pasti: Aku masih punya senjataku, aku masih punya logikaku, dan yang paling penting... aku masih memiliki Kurumi di sisiku. Dan itu sudah lebih dari cukup untuk menghadapi apa pun yang ada di balik gerbang itu.

[VOLUME 1: SELESAI]

​Catatan Penulis:

Terima kasih telah membaca Volume 1 dari perjalanan Zidan dan Kurumi! Rahasia tentang jati diri Zidan sebagai "Subjek Z-01" dan misteri Pulau Nirvana akan dikupas tuntas di Volume 2. Apakah Zidan benar-benar hanya sebuah eksperimen? Dan apa peran Kurumi sebenarnya dalam rencana besar ini? Tetap ikuti kelanjutan kisahnya! Like, Favorit, dan Komentar kalian adalah bahan bakar saya untuk lanjut ke Volume 2!

1
Nadja 🎀
waah kyk anime saja! kereen!
Zidanmahiru: terimakasih telah mampir
total 1 replies
Garuda Bayang
mayan lah yaaaa kurang pake gambar ajaaa
Zidanmahiru
apanya kak yg dipisah?
Zidanmahiru: judul nya kah?kalau iya ga sengaja ke pisah
total 2 replies
Kaelits
kok ini dipisah kak?
Zidanmahiru: oh iya ,itu emang sengaja aja
total 1 replies
Kaelits
keren! semangat, kak! btw ada nama karakter yang sama di novelku
Zidanmahiru: terimakasih telah mampir
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!