"Aku tidak mau menikah dengan laki-laki itu, Kak. Tolong gantikan aku."
Violet tahu ia seharusnya menolak. Tapi dua puluh dua tahun ia menjadi anak pungut di rumah orang mengajarinya satu hal: hutang budi tidak pernah benar-benar lunas.
Maka ia berdiri di pelaminan itu. Mengenakan gaun yang bukan untuknya, membawa nama yang bukan miliknya sejak lahir, menikahi laki-laki yang bahkan tidak menoleh padanya sampai akad selesai diucapkan.
Jenderal Muda Adriel Voss. Kejam, dingin, dan menyimpan kehancuran di balik setiap keputusannya. Pernikahan ini seharusnya menjadi awal penderitaan Violet.
Yang tidak ia duga, justru di rumah laki-laki itulah untuk pertama kali ada seseorang yang melihatnya sebagai manusia, bukan sekadar bayangan yang mengisi ruang kosong.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeju Oranye, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#5
Hari pernikahan pun tiba dengan langit yang terlalu cerah untuk suasana hati Violet.
Pagi itu rumah Hartawan sibuk dengan cara yang terasa asing. Ada perempuan tata rias yang datang sejak subuh, ada karangan bunga yang terus berdatangan, ada suara Bu Hartawan yang nyaring memerintah ini itu dari lantai bawah. Semuanya berputar di sekitar pernikahan Teresa Hartawan, putri kebanggaan keluarga, yang hari ini akan menjadi istri seorang jenderal muda.
Tidak ada yang tahu Teresa sudah tidak ada di rumah sejak pukul lima pagi.
Violet menemukan kamar Teresa kosong ketika ia mengetuk pintu untuk membangunkan. Ranjang rapi seperti tidak pernah ditiduri. Lemari setengah terbuka dengan beberapa gantungan baju yang kosong. Dan di atas meja belajar, selembar kertas kecil yang dilipat dua dengan tulisan tangan Teresa.
Tangannya gemetar membuka kertas yang dilipat dua itu.
(Maaf, Kak. Aku tidak bisa.)
Hanya itu.
Violet membaca kalimat itu dua kali, lalu menarik napas panjang untuk meredam amarah dalam dada. Mengetahui kenyataan kalau adiknya telah mengkhianati nya adalah pukulan terberat lebih berat daripada tanggung jawab yang harus dijalani nya saat ini. Apalagi semalam Violet tak sengaja mendengar percakapan adiknya dengan seorang pria didalam telepon. Dari suaranya saja violet sudah mengenali jika laki-laki itu adalah Diego, mantan pacar Teresa yang terpaksa memutuskan hubungan karena ditentang oleh ayah mereka.
Jika Teresa kabur maka ada yang membantu dibelakang nya dan mungkin jasa Diego. Instingnya sangat kuat mengatakan itu. Padahal jika dicerna lagi Diego bahkan lebih buruk dari seorang jenderal muda yang dianggap kejam dikota ini. Diego hanyalah pemuda kampung yang berperilaku kasar, Violet sudah mendengar lebih dari ratusan kali curhatan Teresa tentang betapa kasar dan tempramental nya laki-laki itu.
Mengapa Teresa mengulangi sejarah kelam yang sama dengan berhubungan lagi dengan nya? Violet tak habis pikir.
Dan memang tidak ada waktu untuk nya berpikir lagi. Melipat kertasnya kembali, memasukkannya ke saku bajunya, ia kemudian berdiri di tengah kamar kosong adik angkatnya selama beberapa detik yang terasa sangat panjang.
Lalu ia pergi ke kamarnya sendiri, mengambil gaun putih yang tergantung di balik pintu, dan mulai berpakaian.
Bukan karena ia tidak punya pilihan lain.
Tapi karena di antara semua pilihan yang ada, ini adalah satu-satunya yang tidak akan membuat ia menyesal dengan cara yang tidak bisa ia tanggung.
Di lantai bawah, suara Bu Hartawan masih nyaring memanggil-manggil nama Teresa yang tidak akan pernah menjawab hari ini.
Violet mengancingkan gaun putih itu satu per satu, menatap bayangannya di cermin kecil, dan berkata pelan pada perempuan yang menatapnya balik.
"Selesaikan ini."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Teresa, cepat! Mobilnya sudah menunggu!"
Violet menarik napas panjang di balik pintu kamar. Tangannya menggenggam buket bunga putih kecil yang tadi disiapkan untuk Teresa. Setelah beberapa detik, ia akhirnya membuka pintu.
Bu Hartawan sudah berdiri di ujung lorong. Wajahnya rapi, makeup sempurna, kebaya hijau tua membuatnya tampak seperti seorang ibu yang benar-benar bahagia di hari pernikahan putrinya. Tatapannya langsung jatuh ke Violet dan seketika ada sesuatu yang sekilas lewat di matanya sebelum alisnya terangkat.
"Kenapa kamu yang keluar? Teresa mana?" suaranya terdengar sinis.
"Teresa kurang enak badan sejak tadi malam." Suara Violet lebih tenang dari yang ia bayangkan. "Saya yang antar dulu ke gedung. Teresa nanti menyusul sama mobil Ayah."
Bu Hartawan mengernyit. "Mengantar? Kamu mau ke gedung pakai gaun itu?"
"Teresa minta saya pakaikan gaunnya di sana. Resletingnya susah."
Alasan yang tipis. Hampir terlalu mudah untuk dibaca.
Tapi Bu Hartawan tidak sempat mengulik lebih jauh. Karena dari bawah tangga, suara Jenderal Hartawan sudah memanggil dengan tegas, tidak memberi ruang untuk terlambat.
Dan Violet langsung melangkah turun sebelum pertanyaan lain muncul.
****
Gedung pernikahan itu megah dengan tenda putih besar, rangkaian bunga segar di setiap sudut, dan kursi-kursi yang sudah terisi tamu undangan dengan pakaian terbaik mereka. Keluarga besar Hartawan duduk di deretan depan dengan wajah-wajah yang Violet kenal tapi tidak pernah benar-benar akrab. Kolega Jenderal Hartawan berseragam. Beberapa wajah asing yang Violet asumsikan dari pihak keluarga Adriel.
Tidak ada yang memperhatikan Violet masuk dari pintu samping.
Panitia pernikahan yang sudah sibuk sejak tadi tidak punya waktu untuk mempertanyakan wajah yang berbeda di balik kerudung putih. Mereka melihat gaun, melihat buket, dan langsung mengarahkan ke ruang persiapan dengan efisien.
Di ruang persiapan yang kecil itu Violet duduk sendirian selama hampir dua puluh menit, mendengarkan suara riuh di luar dan menunggu ponselnya berbunyi. Pesan dari Teresa yang bilang ia sudah di jalan, atau sudah sampai, atau apapun yang membuktikan bahwa adik angkatnya itu akan datang dan menyelesaikan apa yang seharusnya menjadi urusannya sendiri.
Tapi ponselnya tidak berbunyi.
Violet memeriksa layarnya tiga kali. Tidak ada pesan baru. Panggilan yang ia coba dua kali tidak diangkat.
Dari luar pintu, panitia mengetuk. "Sepuluh menit lagi, Nona Teresa."
Violet meletakkan ponselnya di dalam tas kecil yang menggantung di pergelangan tangannya, berdiri, dan merapikan kerudungnya di depan cermin kecil di sudut ruangan.
Wajahnya tenang. Terlalu tenang, mungkin, untuk seseorang yang sedang berdiri di ambang sesuatu yang tidak bisa diurungkan begitu saja.
Tapi keputusan itu sudah ia ambil sejak pagi.
Dan keputusan yang sudah diambil… bukankah tidak ada gunanya diratapi lama-lama di depan cermin.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Musik mulai mengalun saat Violet melangkah masuk ke ruangan utama.
Para tamu berdiri.
Ia menatap lurus ke depan, ke pelaminan yang dipenuhi bunga putih dan lampu-lampu kecil. Di sana, seseorang sudah menunggu. Siluet yang langsung ia kenali, meski baru sekali dilihat.
Adriel Voss.
Seragam dinasnya rapi seperti saat di pesta Wiranto. Bahunya tegap, caranya berdiri… seperti tidak perlu usaha untuk menguasai ruangan.
Waktu itu Violet hanya melihat punggungnya.
Sekarang, dengan jarak yang makin dekat, ia melihat semuanya.
Dan rasanya pria itu lebih dingin dari yang terlihat dari jauh.
Dan ketika jarak mereka tinggal tiga langkah, mata Adriel berpindah ke arahnya.
Tatapannya bukan sebuah keterkejutan. Bukan marah. Bukan juga ekspresi laki-laki yang pertama kali melihat pengantinnya.
Lebih seperti ... memastikan.
Seolah ini memang yang ia tunggu, dan semuanya berjalan persis seperti yang ia perkirakan.
Violet membalas tatapannya. Tidak menghindar.
Akad lalu diucapkan atas nama Teresa Hartawan.
Violet menjawab dengan suara jelas.
Hingga akhirnya ikatan itu benar-benar sah!
******
Satu jam pertama pesta berjalan tanpa masalah. Violet duduk di kursi pelaminan, senyumnya mulai terasa kaku di ujung bibir. Di sampingnya, Adriel duduk tegak, diam, tidak menoleh. Hadir, tapi seperti tidak benar-benar ada di sana.
Violet tidak mempermasalahkan itu.
Yang mulai mengganggu justru seorang perempuan di baris kedua. Rambutnya pendek, kacamatanya merah. Sejak tadi ia terus menatap ke arah pelaminan, ekspresinya makin lama makin aneh.
Ia berbisik pada suaminya. Suaminya ikut menatap ke depan. Membalas bisikannya.
Lalu perempuan itu berdiri.
Jangan…
Sejak tadi tidak ada yang memperhatikannya, lalu kenapa tiba- tiba wanita ini--
Tapi bahkan Violet tidak sempat melakukan apa-apa.
Perempuan itu sudah lebih dulu melangkah maju. Langkahnya mantap, seperti sudah memutuskan sesuatu.
"Ini bukan Teresa."
Suaranya tidak terlalu keras, tapi cukup untuk membuat meja di sekitarnya langsung diam seketika.
Lalu sunyi menyebar dengan cepat.
****
BERSAMBUNG