Menikah dengan pria yang dicintai jutaan orang adalah mimpi yang bahkan tak pernah berani Nala Aleyra Lareina harapkan. Ia hanya seorang penulis asal Indonesia—dikenal karena karya-karyanya yang menyentuh jutaan hati.
Tapi dunia berkata lain.
Pertemuannya dengan Kim Namjunho, idol ternama Korea, terjadi tak terduga. Yang semula hanya sorotan kagum… berubah menjadi kisah penuh perjuangan.
Junho lelah menjadi bayangan sempurna yang dielu-elukan semua orang. Dalam Nala, ia menemukan rumah—bukan penggemar, bukan sorotan, melainkan perempuan nyata yang mencintainya sebagai manusia biasa.
Namun cinta tak cukup. Mereka menikah tanpa restu keluarga, tanpa persetujuan dunia. Dan Nala… menjadi istri rahasia, disembunyikan dari publik demi karier Junho.
Apakah cinta mereka cukup kuat untuk melawan dunia? Atau akan hancur perlahan oleh kenyataan yang tak pernah memberi ruang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BYNK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19: Nala dan Jeongin.
Pagi itu, langit Seoul tampak berwarna pucat keperakan. Udara masih dingin saat Nala melangkah keluar dari apartemennya, mengenakan trench coat berwarna gading yang jatuh elegan hingga lutut.
Rambut panjangnya diikat setengah, membiarkan beberapa helai jatuh lembut di sisi wajah. Di bahunya tergantung tas kulit cokelat muda berisi laptop, notebook, serta pena kesayangannya — benda yang tidak pernah ia tinggalkan sejak pertama kali menulis.
Sopir pribadi yang ditunjuk oleh pihak LYNX sudah menunggu di depan gedung apartemen, tepat pukul tujuh pagi. Sopir itu, pria paruh baya bernama Pak Yang, selalu menyambut Nala dengan sopan dan profesional.
“Selamat pagi, Nona Nala,” ucapnya sambil membukakan pintu belakang mobil hitam elegan itu.
“Pagi, Pak Yang,” balas Nala lembut, masuk ke dalam dan duduk rapi di kursi belakang.
📎 (Catatan realistik: karena Nala adalah warga negara asing di Korea, SIM Indonesia-nya tidak langsung berlaku di sana. Sesuai peraturan, ia harus menukar atau mendaftarkan SIM internasional — proses ini memerlukan waktu dan penerjemahan dokumen, jadi untuk sementara, agency-nya menugaskan sopir khusus agar mobilitasnya aman dan legal. Meskipun sebenarnya dia bisa saja naik taxi tapi entah bagaimana dia mendapat hak yang jauh lebih istimewa daripada staf lain nya.)
Mobil itu melaju perlahan menembus jalanan Gangnam yang mulai ramai. Nala menatap keluar jendela, memperhatikan pantulan gedung-gedung tinggi di kaca. Ada sedikit rasa kagum — dan juga lelah — setiap kali ia sadar bahwa kini, inilah rutinitas barunya: bekerja di luar negeri, jauh dari keluarganya di Sukabumi.
“Apakah Anda ingin saya memutar musik, Nona?” tanya Pak Yang dengan sopan dari depan, dia sedikit kesulitan bicara bahasa inggris. Tapi Nala cukup mengerti.
“Tidak perlu, Pak. Terima kasih. Saya hanya ingin menikmati suasananya.” Nala tersenyum samar.
Perjalanan menuju gedung LYNX Entertainment memakan waktu sekitar lima belas menit saja, karena apartemen itu memang sangat dekat dengan gedung itu hampir sebagian besar karyawan di tempatkan di sana.
Setibanya di sana, mobil berhenti di pelataran depan gedung tinggi dengan logo berbentuk serigala perak di bagian puncaknya — lambang khas perusahaan yang menaungi grup besar seperti SOLIX.
Begitu keluar, udara pagi langsung menyambutnya. Nala merapikan coat-nya, kemudian melangkah masuk melewati pintu kaca otomatis. Suasana di dalam sudah cukup sibuk; beberapa staf berlalu-lalang sambil membawa berkas, kamera, dan alat produksi.
“Selamat pagi, Nala-ssi,” sapa resepsionis dengan senyum ramah.
“Pagi,” balas Nala sopan.
Ia lalu menandatangani attendance sheet khusus staf internasional, sebelum menuju ke lantai tempat Creative Writing & Concept Division – Sub A.— lantai yang diperuntukkan bagi tim kreatif.
Begitu pintu lift terbuka, aroma kopi bercampur wangi kertas memenuhi udara. Di ruangannya, Eunseo, Hamin dan Jeongin — sudah duduk di meja sebelah, menatap layar komputer dengan ekspresi serius.
“Kau datang lebih pagi dari biasanya,” ucap Eunseok tanpa menoleh. Nala tersenyum kecil sambil meletakkan tasnya.
“Aku tidak bisa tidur terlalu lama, mungkin karena masih menyesuaikan diri dengan waktu di sini Eonni,” ujar Nala yang membuat Eunseok mengangguk pelan.
"Tolong jangan terlalu tertekan dulu ya, ini masih dua hari. Kontrak mu masih panjang,” goda Eunseok, menatapnya sekilas.
“Akhh... tidak begitu Eonni,” jawab Nala pelan, membuka laptopnya.
Nala kemudian menatap daftar tugas hari itu. Sekilas matanya berhenti di nama itu, sebelum dengan cepat ia mengalihkan pandangannya.
“Baiklah, sepertinya hari ini akan panjang.” gumamnya dalam bahasa Indonesia.
Nala mulai bekerja dalam diam, tangan nya bergerak cepat di atas keyboard tatapan nya terlihat begitu serius.
Begitu jam digital di dinding menunjukkan pukul delapan lewat lima belas menit, ruangan Creative Writing & Concept Division – Sub A mulai dipenuhi dengan ritme yang khas: suara ketikan cepat di papan ketik, deru mesin kopi, dan bisikan diskusi di antara staf.
Nala menatap layar monitornya, lalu mulai menata ulang storyline board yang kemarin belum sempat diselesaikan. Tugas utamanya cukup kompleks — menciptakan conceptual storyline untuk proyek musik dan visual para artis, termasuk SOLIX, dengan memadukan elemen sastra, filosofi, serta kepribadian tiap member ke dalam narasi yang menyatu dengan lirik dan konsep visual album.
Itulah sebabnya posisinya di tim itu disebut “penulis dengan imajinasi dan presisi”.
“Eonni, aku sudah masukkan draft narrative bridge untuk proyek SOLIX – Eternal Sequence, bisa tolong cek?” tanya Nala sambil menoleh pada Eunseok yang sedang mengatur file di komputer besar. Eunseok mencondongkan tubuh, menatap layar Nala.
“Hmm... aku suka bagian ini, ‘the world where silence hums like guilt.’ Baris ini indah sekali, tapi mungkin terlalu puitis untuk Yoohan-ssi, dia suka struktur yang lebih to the point,” ucap nya menunjuk paragraf dengan ujung pensil.
“Benar juga, aku masih terlalu terbawa gaya novel, ya?” Jawab Nala sembari tertawa pelan.
“Kau memang penulis sejati, tapi di sini, konsep harus bisa dinyanyikan,” ujar Eunseok sembari tersenyum manis.
"Aku mengerti, terimakasih sudah mengajariku," ujar nya, sementara mereka berbicara, Jeongin baru saja datang membawa dua gelas iced latte. Ia menaruh satu di meja Nala sambil berkata pelan.
“Untukmu, Nala-ya. Kau tampak butuh kafein,” ujar nya yang membuat Nala mengerjap kaget.
“Jeongin-ssi, aku—” ucapan Nala di potong cepat.
“Panggil aku oppa saja,” potongnya cepat sambil tersenyum tipis. “Kau sudah diperingatkan kan, di sini semua senior dan co-worker lebih suka dipanggil begitu. Lagipula, kau terlihat jauh lebih muda daripada umurmu yang dua puluh dua,” lanjut nya yang membuat Eunseok langsung menimpali sambil terkekeh.
“Itu benar! Bahkan aku sempat mengira dia mahasiswa magang saat pertama datang bersama manajer Han,” balas nya yang membuat Nala menutupi wajahnya dengan kedua tangan.
“Eonni, kalian berdua tidak adil.” protes Nala yang membuat Eunseok menggeleng pelan lalu kembali ke tempat kerja nya.
Semua orang di ruangan itu memang benar-benar memperhatikan Nala seperti adik mereka sendiri. Selain karena dia yang termuda, Nala juga mudah diajarkan dan selalu bersikap sopan kepada siapa pun.
“Ambil ini, tanganku hampir patah,” ujar Jeongin sambil menyodorkan gelas tersebut. Namun Nala langsung berkata dengan canggung.
“Aku minta maaf… tapi aku tidak minum kopi ataupun teh. Aku tidak suka,” ujar Nala pelan, Jeongin langsung terlihat terkejut.
“Sungguh? Kopi seenak ini tidak suka?” tanyanya bingung.
Nala hanya mengangguk kecil. Memang sejak dulu ia tidak menyukai kopi ataupun teh. Entah kenapa, menurutnya dua minuman itu selalu terasa aneh di lidahnya.
“Aku bahkan tidak pernah minum kopi seumur hidupku. Kalau teh… mungkin pernah sesekali,” tambahnya jujur.
Jeongin mengangguk pelan, masih sedikit heran.
“Baiklah…” gumamnya singkat, dia lalu menoleh ke arah Eunseok.
“Noona, untukmu saja. Maaf ya, aku tadi menawarkannya pada Nala lebih dulu. Ternyata dia tidak suka.”
“Oh? Untukku?” tanya Eunseok sambil menunjuk dirinya sendiri. Jeongin mengangguk cepat.
“Untukmu. Terima kasih sudah menerimanya,” ujar Jeongin dengan nada lega, Eunseok terkekeh pelan sambil menerima gelas kopi itu.
“Aku memang tadi sempat ingin memesan kopi juga. Untung Nala tidak mau,” ujarnya santai sambil membuka penutup gelas kopi tersebut. Aroma kopi hangat langsung menyebar pelan di sekitar meja mereka.
Setelah percakapan singkat itu, semua orang kembali sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Suara ketikan keyboard kembali memenuhi ruangan. Sesekali terdengar tawa kecil atau gurauan ringan dari beberapa staf yang bekerja berdekatan.
Suasana kantor kembali hidup seperti biasa.
“Siang nanti ayo makan siang bersama, Nala-ya,” ajak Jeongin tiba-tiba. Meja kerjanya memang berada tepat di sebelah meja Nala.
“Tentu, Oppa,” jawab Nala sambil melirik sekilas ke arahnya sebelum kembali fokus pada layar komputer di depannya.
Jarinya bergerak cepat di atas keyboard. Sesekali keningnya berkerut halus, seolah benar-benar tenggelam dalam pikirannya sendiri. Matanya menatap layar dengan serius—seperti seseorang yang sedang mencoba menyusun sesuatu yang penting di dalam kepalanya.
☾ ── ❖ ── ☾
Hari pun berjalan dengan cepat. Nala menghabiskan sebagian besar waktunya meninjau naskah lirik dan catatan konsep visual untuk proyek mendatang. Setiap kali ia menemukan celah yang bisa dikembangkan, ia mencatat ide-ide baru dalam notebook nya — sebuah kebiasaan lama yang tetap ia bawa dari Indonesia.
Menjelang siang, ia berjalan ke story mapping wall, sebuah papan besar di dinding tempat ide-ide ditulis dengan spidol warna-warni. Eunseo tengah berdiri di sana bersama Hamin, membahas detail emotional arc untuk bagian chorus.
“Bagian ini harus menunjukkan pergulatan batin, tapi tetap universal,” jelas Eunseok sambil menatap papan.
“Bagaimana kalau pakai analogi ‘cahaya yang menolak redup meski dikelilingi bayangan’?” usul Nala pelan, ragu apakah pendapatnya pantas disampaikan.
Semua kepala menoleh. Hamin mengangkat alis, lalu mengangguk singkat.
“Bagus. Itu cukup menggambarkan gaya Junho-ssi menulis. Filosofis tapi tetap bisa diterjemahkan ke dalam musik.”
Ucapan itu membuat pipi Nala sedikit memanas, namun ia menutupi kegugupannya dengan senyum kecil.
“Lihat? Kau mulai paham ritme ruangan ini,” kata Eunseok pelan di telinganya. Nala mengangguk pelan, lalu kembali menulis.
Di antara tumpukan kertas, suara tawa, dan diskusi yang terus berputar, ia mulai menyadari satu hal: meskipun jauh dari rumah, ia perlahan menemukan tempat yang bisa disebut keluarga baru.
════ ⋆★⋆ ════
Sedangkan di tempat lain semua anggota SOLIX baru saja sampai di lokasi syuting mereka. Mobil hitam berhenti di area parkir yang telah disterilkan untuk proses syuting.
Dari kejauhan, beberapa penggemar sudah menunggu di balik pembatas, sebagian membawa banner kecil bertuliskan “SOLIX ♡ LUNARIS FOREVER” dan *"SOLIX, fighting!” dengan hiasan perak yang berkilau tertimpa cahaya matahari pagi.
Begitu pintu mobil terbuka, satu per satu member SOLIX keluar dengan pakaian kasual tapi tetap rapi—airport look yang tak pernah gagal memancarkan aura selebritas. Jinwoo turun paling dulu, tersenyum lebar dan melambaikan tangan.
“Annyeong, LUNARIS!” suaranya lantang, segera disambut jeritan kecil dari para fans.
“Hyung, jangan terlalu semangat, itu baru lima menit pertama,” goda Yoohan sambil menyesuaikan topinya.
“Kalau bukan aku yang membuat suasana hidup, kalian semua seperti rapat keluarga,” balas Jinwoo dengan tawa renyah.
Junho turun terakhir. Ia mengenakan kemeja linen putih dengan jaket di atasnya, rambutnya disisir rapi tapi sedikit berantakan di ujung—terlalu sempurna untuk disebut alami.
Begitu ia melangkah keluar, riuh suara fans meningkat. Beberapa kamera segera mengarah padanya, tapi ia tetap tenang. Senyumnya tipis, elegan, namun cukup untuk membuat suasana sekitar berubah hangat.
Mereka berjalan bersama menuju area syuting. Staf berlarian menyiapkan alat, kamera, dan cue card. Para MC sudah menunggu di panggung kecil berwarna biru, dikelilingi pepohonan hijau dan pancaran Sungai Han di belakangnya.
“Kita mulai syuting lima belas menit lagi!” teriak asisten sutradara.
Member SOLIX segera berpencar—ada yang duduk di kursi make-up, ada yang latihan pose, dan tentu saja, ada Kiyoon yang sibuk selfie bersama Hoseung untuk konten Starnet update.
Junho duduk di kursi samping tenda rias. Seorang penata rambut membenarkan poni halusnya, sementara make-up artist menepuk ringan pipinya dengan sponge.
“Terlihat lelah, Junho-ssi,” ujar sang make-up artist pelan. Junho menatap pantulan dirinya di cermin dan tersenyum samar.
“Tidak terlalu. Hanya belum sepenuhnya terbiasa tidur tiga jam per hari. Untuk beberapa bulan ini,” ujar nya dengan nada tenang khas dirinya.
“Kalau begitu jangan lupa makan nanti, ya. Kami semua butuh leader yang sehat,” ujar nya sembari tersenyum, dia kembali melanjutkan riasan nya.
“Terima kasih,” balasnya singkat namun tulus.
Tak lama kemudian, staf memberi aba-aba untuk menuju lokasi. Para member berkumpul di sisi panggung, menunggu giliran masuk.
“Oke, SOLIX masuk dari kiri, ya! Kamera standby, tiga... dua... satu... music cue!”
Musik pembuka yang ceria mengalun, dan SOLIX muncul di depan kamera dengan senyum dan energi khas mereka. Penonton yang hadir langsung bersorak. Junho memimpin perkenalan grupnya seperti biasanya karena dia leader nya.
“Annyeonghaseyo! Urineun SOLIX imnida! (Halo! Kami SOLIX!)"
Semua member membungkuk bersamaan seolah gerakan itu sudah menjadi refleks tubuh mereka selama bertahun-tahun. Sorakan semakin menggema. Spanduk LUNARIS berkibar di antara kerumunan, dan kamera menyorot wajah para member satu per satu—menangkap tawa, sapa, dan sorot mata yang memantulkan profesionalisme seorang idol sejati.
MC mulai memperkenalkan segmen permainan pertama, sementara Junho berdiri di sisi kanan, sedikit di belakang Jinwoo. Ia tersenyum sopan setiap kali kamera mendekat, menjawab pertanyaan dengan nada kalem dan humor halus yang selalu disukai publik.
Namun di sela tawa dan canda, ada sekelebat keheningan di matanya—seolah sebagian pikirannya tak benar-benar berada di tempat itu.
Mungkin karena lelah.
Atau mungkin karena seseorang yang tanpa sadar sudah mengisi pikirannya belakangan ini.
════ ⋆★⋆ ════
“Nala-ssi… ayo makan siang dulu, kau bekerja terlalu keras,” ujar salah satu staf senior yang lewat sambil menepuk ringan bahu Nala.
Gadis itu tersenyum kecil, menatap layar di hadapannya yang penuh coretan ide, catatan emosi, dan potongan kalimat lirik yang belum tersusun.
Sebelum sempat menjawab, Jeongin datang dari sisi lain ruangan, membawa beberapa lembar print-out yang masih hangat dari mesin. Kemeja putihnya tergulung di bagian lengan, dan wajahnya sedikit memerah karena terburu-buru. Ia menurunkan tumpukan kertas di meja, lalu tanpa ragu duduk di samping Nala.
“Nala, ayo makan bersama. Kamu tadi sudah janji,” katanya lembut, sedikit menundukkan wajah agar sejajar dengan pandangan Nala.
Nala menatapnya sebentar, lalu tersenyum tipis.
“Benar juga. Aku hampir lupa,” ucapnya seraya menutup laptop.
Ia menata alat tulis dan catatan dengan rapi, kebiasaan yang sulit ia ubah sejak di Indonesia.
“Baiklah, ayo pergi sebelum aku kembali terjebak di babak revisi,” balasnya sambil berdiri.
Jeongin tertawa kecil, mengikuti langkahnya keluar ruangan. Mereka berjalan berdampingan melewati koridor panjang yang dipenuhi poster artis LYNX Entertainment. Di sepanjang jalan, beberapa karyawan menyapa mereka dengan senyum menggoda.
“Kalian berdua makin sering makan bareng, ya?” celetuk seorang staf lighting saat mereka masuk lift.
Jeongin hanya mengangkat alis, tersenyum tanpa menjawab. Sedangkan Nala, seperti biasa, menanggapinya dengan canggung namun sopan.
“Bukan begitu, kami hanya kebetulan punya jam istirahat yang sama,” katanya singkat.
Tapi responnya justru memancing tawa kecil dari beberapa orang yang mendengarnya.
Begitu pintu lift terbuka, aroma kaldu dan bumbu khas Korea langsung menyapa mereka. Di lantai bawah, terdapat kantin khusus staf — ruangan luas dengan jendela besar yang menatap ke taman kecil di sisi gedung. Tempat itu selalu ramai, tapi siang ini suasananya lebih tenang.
Jeongin mempersilakan Nala duduk di salah satu meja dekat jendela.
"Kau ingin duduk dulu? Aku yang ambilkan makanannya?” tanya Nya yang membuat Nala mengangguk pelan.
Dia memang belum bisa memesan makanan dalam bahasa Korea, dia hanya bisa bahasa inggris dan sayang nya tidak semua orang di sana mengerti, jadi Mala benar benar kesulitan untuk makan.
“Terima kasih, Oppa. Aku masih belum hafal semua menunya,” balas Nala jujur.
“Baik. Tapi boleh aku tanya sesuatu dulu? Kau... ada pantangan makanan, kan?” jawabnya sambil tersenyum, tapi belum beranjak.
Pertanyaan itu membuat Nala sedikit terkejut dia tidak menyangka jika Jeongin akan mempertanyakan hal seperti itu.
“Eh? Oh—iya,” jawabnya cepat, “Aku muslim, jadi... aku tidak bisa makan daging babi atau makanan yang mengandung alkohol, seperti mirin atau wine. Tapi kalau seafood atau ayam, tidak masalah,” ucap Nala yang membuat Jeongin mengangguk serius, matanya tampak penuh perhatian.
“Baik. Aku akan pastikan semuanya aman untukmu. Aku sering melihat label halal di restoran dekat sini, tapi di kantin kadang campur, jadi aku akan tanya ke ahjumma dapur dulu. Tunggu ya,” balas nya yang membuat Nala sempat menatapnya sedikit lama, lalu tersenyum lembut.
“Kau perhatian sekali, Oppa. Terima kasih, aku menghargainya.” Nala sedikit menunduk kan kepalanya, sedangkan Jeongin hanya tertawa kecil, menggaruk tengkuknya.
“Tentu saja. Aku tidak ingin kau lapar hanya karena takut makan sesuatu yang salah.” Ia pun beranjak ke meja penyajian, berbicara sebentar dengan staf dapur menggunakan bahasa Korea cepat.
Nala memperhatikan dari jauh — melihat bagaimana Jeongin menunjuk beberapa menu sambil memastikan sesuatu. Ahjumma dapur sempat tersenyum lebar, menepuk lengannya seolah memuji sikapnya yang sopan. Beberapa menit kemudian, Jeongin kembali membawa nampan berisi dua set makanan.
“Aku sudah pastikan ini tanpa bahan yang dilarang. Untukmu ada doenjang jjigae tanpa daging, telur gulung, dan nasi. Tidak ada minyak babi, tidak ada mirin,” ujar Nya yang membuat Nala menatapnya takjub.
“Kau bahkan sampai tanya soal minyaknya?” tanya Nala yang membuat Jeongin mengangguk tenang.
“Tentu saja,” jawabnya ringan, lalu menatap ke arah mejanya sendiri. “Untukku... yah, aku tetap makan apa saja. Tapi aku pastikan tidak mencampurnya dengan punyamu,” lanjut nya yang membuat Nala terkekeh kecil, lalu menunduk sebelum berkata.
“Kau benar-benar perhatian ya, Oppa. Terimakasih banyak, aku memang belum bisa bahasa Korea jadi aku benar-benar kesulitan berinteraksi dengan orang yang tidak mengerti bahasa inggris, untung nya kamu paham,” ujar nya yang membuat Jeongin tersenyum lembut, menatapnya sejenak sebelum berujar pelan.
“Aku hanya tidak ingin kau merasa sendirian di sini. Bekerja jauh dari rumah sudah cukup sulit, bukan?” ujar nya yang membuat Nala mengangguk, senyumnya tipis tapi hangat.
“Ya… benar juga. Aku baru dua hari bekerja tapi sudah ingin pulang,” ujar nya yang membuat Jeongin terkekeh.
"Klasik... Aku juga sama, awal bekerja semangat pas sudah mulai bekerja normal rasanya ingin kembali jadi pengangguran saja," ujar nya yang membuat Nala terkekeh geli .
Mereka mulai makan dalam diam. Di meja itu, percakapan sederhana terasa nyaman. Tidak ada kejanggalan, tidak ada basa-basi yang dibuat-buat — hanya dua orang asing yang mulai memahami bahasa perhatian dengan cara masing-masing. Beberapa staf lain yang melintas menatap mereka dengan senyum menggoda. Satu dua orang bahkan berbisik pelan.
“Mereka terlihat cocok, ya.”
Tapi Nala hanya sibuk dengan makanannya, tidak terlalu menggubris.
Bagi Nala, Jeongin hanyalah rekan kerja yang sopan dan baik hati.
Namun bagi Jeongin, entah sejak kapan, setiap tawa kecil gadis itu mulai terasa seperti alasan kecil untuk tetap datang lebih pagi ke kantor.