Melalui surat-surat yang melintasi waktu 94 tahun, cinta tumbuh di antara dua orang yang tidak mungkin bersatu. Alina jatuh cinta pada keberanian Arya, dan Arya jatuh cinta pada harapan yang dibawa Alina.
Namun, sejarah mencatat bahwa Arya dijadwalkan untuk dieksekusi mati dalam waktu tiga bulan. Alina bertekad mengubah takdir itu. Dengan pengetahuan sejarahnya, ia mencoba menuntun Arya menghindari maut. Tetapi, setiap huruf yang ia ketik untuk mengubah masa lalu, mulai mengacaukan realitas masa kini.
Di tengah ancaman marsose Belanda di tahun 1930 dan memudarnya ingatan sejarah di tahun 2024, Alina dan Arya harus memilih: Menyelamatkan nyawa satu sama lain, atau menyelamatkan kemerdekaan bangsa yang mereka cintai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18: Meja Hijau dan Meja Bundar
5 November 2024. Pukul 14.00 WIB.
Kantor Hukum HHP, Gedung Bursa Efek Jakarta, SCBD.
Ruang rapat itu dingin, berbau pengharum ruangan lavender mahal, dan didominasi oleh meja marmer hitam yang panjang. Di satu sisi meja, duduk tiga pengacara berjas licin dan Profesor Hendrik de Vries. Di sisi lain, Alina duduk sendirian.
Dia tidak membawa pengacara. Dia hanya membawa tas kerjanya dan sebuah map plastik bening.
"Nona Alina," buka pengacara utama, pria paruh baya dengan jam tangan Rolex emas. "Kami menghargai kedatangan Anda. Ini menunjukkan itikad baik. Seperti yang tertulis dalam somasi, klien kami menuntut pengembalian aset keluarga berupa mesin tik Remington NK-40992 yang Anda ambil secara ilegal."
Alina duduk tegak. Jantungnya berdegup kencang, tapi cincin perak di jari manisnya terasa hangat, seolah tangan Arya sedang menggenggamnya, memberinya kekuatan.
"Saya tidak mengambilnya secara ilegal," jawab Alina tenang. "Dan itu bukan aset keluarga De Vries."
Profesor Hendrik tertawa kecil, suara yang kering dan meremehkan.
"Nona Alina, mari jangan membuang waktu. Kakek saya, Inspektur Van Heutz, mencatat kehilangan itu di log kepolisian tahun 1930. Itu dokumen negara. Anda tidak bisa melawannya dengan argumen sentimental."
"Saya tidak punya argumen sentimental, Prof," Alina membuka map plastiknya. "Saya punya bukti hukum."
Alina mengeluarkan kertas tua yang rapuh itu—surat perjanjian jual-beli dari Babah Liong—yang sudah dia laminating dengan plastik pelindung arsip museum. Dia meletakkannya di tengah meja marmer, menggesernya pelan ke arah para pengacara.
"Silakan diperiksa."
Pengacara itu mengernyit. Dia mengambil kertas itu dengan hati-hati, lalu mengeluarkan kaca pembesar (loupe) dari sakunya.
Ruangan hening. Hanya terdengar suara dengungan AC sentral dan napas Alina yang tertahan.
Pengacara itu memeriksa serat kertas, warna tinta yang sudah teroksidasi, materai tempel Hindia Belanda 15 sen, dan cap jempol merah yang sudah pudar.
Satu menit. Dua menit.
Wajah pengacara itu berubah. Dari arogan menjadi bingung. Lalu pucat.
Dia menoleh ke arah Hendrik dan berbisik, "Profesor... ini asli."
"Apa?" Hendrik menyambar kertas itu. Matanya membelalak.
"Kertas ini... pulp Eropa tahun 1920-an. Materainya otentik seri 1928. Tinta stempelnya... ini jenis tinta Tiongkok yang dipakai pedagang Glodok zaman dulu." Pengacara itu menggeleng tak percaya. "Secara forensik, dokumen ini valid. Usianya hampir seratus tahun."
"Tidak mungkin!" desis Hendrik. "Bagaimana mungkin kau punya ini? Dokumen ini seharusnya sudah hancur atau hilang!"
Alina tersenyum tipis. Senyum kemenangan.
"Benda itu tidak dicuri, Profesor. Raden Mas Arya membelinya secara sah di Pasar Senen dua tahun sebelum kakek Anda mengklaimnya hilang. Jadi, klaim 'pencurian' yang kakek Anda buat di log polisi tahun 1930 adalah palsu. Rekayasa untuk memberatkan hukuman seorang aktivis."
Alina mencondongkan tubuhnya ke depan.
"Dalam istilah hukum modern, itu disebut pemalsuan laporan dan pencemaran nama baik. Jadi, siapa yang sebenarnya melanggar hukum di sini? Saya, atau kakek Anda?"
Skakmat.
Para pengacara itu saling pandang. Mereka tahu kasus ini sudah mati sebelum masuk pengadilan. Jika dokumen ini dibawa ke hakim, kredibilitas Van Heutz—dan klaim warisan Hendrik—akan hancur.
"Kami... kami butuh waktu untuk memverifikasi ini lebih lanjut," kata pengacara itu terbata-bata, mencoba menyelamatkan muka.
"Silakan," kata Alina sambil mengambil kembali surat itu dan memasukkannya ke tas. "Tapi mesin tik itu tetap milik saya. Dan jika Anda mencoba mengganggu saya lagi, saya akan publikasikan fakta bahwa Pahlawan Kolonial Van Heutz adalah seorang pemalsu dokumen."
Alina berdiri, merapikan roknya. Dia merasa menang telak.
"Pertemuan selesai."
Alina berbalik menuju pintu. Namun, suara Hendrik menghentikannya.
"Kau menang pertempuran ini, Nona. Tapi kau tidak akan memenangkan perangnya."
Alina berhenti, tangannya memegang gagang pintu. Dia menoleh.
Hendrik tidak lagi terlihat marah. Dia terlihat... dingin. Menakutkan. Dia menatap cincin di jari manis Alina.
"Cincin perak dengan motif Truntum," gumam Hendrik. "Motif yang melambangkan cinta yang tumbuh kembali. Cincin pertunangan Jawa klasik."
Hendrik menatap mata Alina tajam.
"Kau benar-benar jatuh cinta padanya, bukan? Pada si Hantu itu."
Alina tidak menjawab.
"Kau pikir dengan menyelamatkan mesin tiknya, kau menyelamatkan nyawanya?" Hendrik berdiri, berjalan mendekati Alina. "Saya sudah membaca jurnal kakek saya sampai habis, Nona. Sampai halaman terakhir."
"Apa maksudmu?" suara Alina mulai goyah.
"Van Heutz memang gagal menangkap Arya di tahun 1930. Dia gagal menangkapnya di Sumpah Pemuda. Dia gagal menangkapnya di Glodok."
Hendrik tersenyum miring.
"Tapi obsesi kakek saya tidak berhenti di situ. Di jurnal tahun 1931, ada catatan penutup. Sebuah operasi senyap di malam tahun baru."
Jantung Alina serasa berhenti.
"Arya tidak mati karena ditangkap, Nona. Dia tidak mati di penjara. Sejarah mencatat dia 'hilang'. Kau tahu kenapa?"
Hendrik berbisik di telinga Alina.
"Karena mayatnya tidak pernah ditemukan setelah dibuang ke rawa-rawa Ancol. Tanggal 31 Desember 1930. Dua bulan lagi dari waktu 'sekarang' kalian."
Darah Alina mendesir hebat. Kakinya lemas.
"Nikmatilah kemenangan kecilmu hari ini," kata Hendrik kejam. "Karena takdir tidak bisa diubah. Kau hanya menunda kematiannya, bukan membatalkannya."
Alina membuka pintu dan keluar dari ruangan itu secepat kilat. Dia tidak mau Hendrik melihatnya menangis.
5 November 1930. Pukul 20.00 waktu Batavia.
Kamar Kos Gang Kenari.
Arya sedang membersihkan tuts mesin tiknya dengan sikat gigi bekas saat kertasnya bergerak sendiri.
> Arya...
> Kita menang.
> Surat Babah Liong berhasil. Pengacaranya tidak bisa berkutik. Mereka mundur.
> Mesin tik ini aman selamanya.
>
Arya bersorak kegirangan. Dia mengepalkan tinjunya ke udara. "Yes! Rasakan itu, Londo!"
Dia segera membalas.
> Luar biasa, Alina! Kau hebat!
> Saya membayangkan wajah merah padam si Profesor itu. Pasti lucu sekali.
> Ini harus dirayakan. Nanti saya beli martabak telur di ujung jalan.
>
Alina membaca balasan ceria itu di apartemennya. Air matanya mengalir deras, kontras dengan berita kemenangan yang dia sampaikan.
Kata-kata Hendrik terngiang-ngiang di kepalanya seperti lonceng kematian.
31 Desember 1930. Rawa-rawa Ancol. Operasi Senyap.
Dua bulan lagi. Hanya tinggal 8 minggu.
Alina ingin mengetik peringatan itu. Dia ingin berteriak: "ARYA! JANGAN KELUAR RUMAH TANGGAL 31 DESEMBER!"
Tapi tangannya terhenti di atas tuts.
Jika dia memberitahu Arya sekarang, Arya akan hidup dalam ketakutan selama dua bulan. Kebahagiaan kemenangannya hari ini akan hancur. Dan lebih parah lagi... jika Arya tahu tanggal kematiannya, dia mungkin akan melakukan sesuatu yang drastis yang justru memicu kejadian itu lebih cepat (self-fulfilling prophecy).
Alina menggigit bibirnya sampai berdarah.
Dia harus menanggung beban ini sendirian. Setidaknya untuk saat ini.
> Iya, Arya. Lucu sekali.
> Rayakanlah. Makan martabak yang banyak.
> Kau pantas bahagia malam ini.
>
> Kau juga, Tunanganku. Makanlah yang enak di masa depan.
> Malam ini saya akan tidur nyenyak. Tidak ada lagi bayangan penjara.
>
Arya tidak tahu, bayangan yang lebih gelap dari penjara sedang menantinya di ujung tahun.
Alina menutup wajahnya dengan bantal, menjerit melampiaskan rasa takutnya.
Dia memenangkan mesin tik itu. Tapi sekarang dia harus bertarung melawan maut itu sendiri.
Dan kali ini, musuhnya bukan hukum, melainkan takdir yang tertulis di buku harian seorang pembunuh.
...****************...
...Bersambung......
...Terima kasih telah membaca📖...
...Jangan lupa bantu like komen dan share❣️...
...****************...
menjalani hidup semestinya, dari berbagai peristiwa yang mendebarkan, heroik ,penuh welas asih kepada musuh bebuyutannya.
Legowo melepas rasa yang tak mungkin untuk bisa bersatu.
semoga takdir bisa mempertemukan ikatan kasih inu meski di keabadian kelak.
terimakasih thor, telah berkenan memberi suguhan novel yang begitu apik, memompa semangat, menderaikan airmata, senyum kelegaan dan keikhlasan , apa lagi yang mau di pinta : melihat yang tersayang hidup bahagia itu sdh cukup.
maturnuwun sanget thor
mengajarkan arti cinta tanpa keegoisan🙏
Datang2 bawa dendam, mari kita pulang dalam kekalahan
semoga keadaan menjadi lebih baik ,setelah van heutz tiada.
semoga ambisi cucu nya juga terkubur bersama kabar sang kakek yang telah tiada.
selanjutnya menata babak baru dalam kehidupan yang semoga saja lebih damai, aman dan tentram.
aamiin
satu untuk mengalahkan dan satu nya harus di kalahkan.
Memelihara rasa benci dan kesumat itu berat tuan heutz, semoga jiwamu nanti tenang disana.
ntah siapa yang akan menghembuskan nafas terakhirnya duluan,semoga dendam juga ikut terkubur bersama jasad masuk liang lahat.
"Legowo"
suasana kacau ,mencekam ,genting begitu nyata terbaca.
sukses selalu dengan karya mu thor.
kali ini adegan demi adegan yang detail memacu adrenalin pembaca, ikut larut dalam suasana yang lebih mendebarkan,betapa mereka ketakutan tapi semangat juang tetap membara dengan satu tujuan.
semoga bung miko ketika sampai Yogyakarta ,bisa selamat dari musuh bebuyutannya.
kegembiraan membuncah dalam dada...
haru biru serasa dalam hangat dekap mu.
airmata bahagia memuncak berderai seperti air terjun.
tangis bahagia ,dibingkai pertemuan.
andai suatu masa bisa bertemu sungguhan