Nara Setianingrum, guru SMA berusia 25 tahun yang cantik, anggun, dan teguh berprinsip, menghadapi murid bermasalah bernama Karin Setiawan. Karin adalah adik dari Danu Setiawan, seorang CEO muda berusia 28 tahun yang berpengaruh di dunia bisnis. Karena dimanjakan, Karin tumbuh sombong, seenaknya, dan sering membuat kekacauan di sekolah bersama gengnya: bolos, membully, hingga berkelahi. Banyak guru tak sanggup menghadapi Karin, karena masalah selalu diselesaikan dengan uang atau campur tangan Danu yang dingin dan berkuasa. Namun, Nara berbeda—ia menolak kompromi dan sogokan. Merasa dipermalukan, Karin melapor pada kakaknya. Danu pun bersekongkol menjebak Nara agar malu, namun rencana itu justru terbongkar oleh orang tua Danu. Mereka memaksa Danu menikahi Nara. Dari pernikahan penuh intrik ini, lahirlah perjalanan emosional: keteguhan hati Nara, usaha Danu menemukan cinta sejati, dan akhirnya kesadaran Karin yang berbalik menyayangi kakak iparnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Malolo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 16: Menyelamatkan Pak Surya
Tiga hari telah berlalu sejak akad nikah yang sunyi itu. Mansion Setiawan terasa seperti museum besar yang indah namun tak berpenghuni. Danu dan Nara hidup seperti dua orang asing yang terjebak dalam satu lift yang macet tidak bicara, tidak bersentuhan, hanya saling melempar tatapan dingin saat berpapasan di ruang makan.
Danu menenggelamkan diri dalam pekerjaan. Ia pergi sebelum matahari terbit dan pulang setelah tengah malam, sengaja menghindari keharusan menatap mata Nara yang selalu mengingatkannya pada dosa terbesarnya.
Sementara itu, Nara menjalankan perannya sebagai "istri pajangan" dengan disiplin baja. Ia menyiapkan keperluan Tuan Surya dan Nyonya Sofia, namun ia menutup pintu kamar rapat-rapat begitu Danu menginjakkan kaki di rumah.
Pukul 14.00 WIB. Danu sedang memimpin rapat direksi melalui Zoom di ruang kerjanya ketika terdengar suara benda jatuh yang sangat keras dari lantai bawah, diikuti jeritan histeris seorang pelayan.
"TUAN BESAR! TUAN SURYA!"
Danu melempar headset-nya dan berlari keluar. Di ruang tengah, ia melihat ayahnya tergeletak di lantai marmer, wajahnya membiru, napasnya tersengal-sengal seperti orang yang tercekik. Nyonya Sofia panik, tangannya gemetar hebat mencoba mencari obat di laci meja, sementara para pelayan hanya bisa berdiri mematung ketakutan.
"Papa!" Danu berlutut, mencoba mengangkat tubuh ayahnya, namun Tuan Surya justru semakin sesak.
"Jangan diangkat!" sebuah suara tegas namun tenang memotong kepanikan itu.
Nara muncul dari arah dapur. Tanpa ragu, ia berlutut di sisi lain Tuan Surya. Ia melepaskan kancing kerah baju Tuan Surya yang mencekik lehernya, lalu dengan gerakan cekatan yang terlatih, ia memosisikan tubuh mertuanya itu menyamping.
"Pak Danu, panggil dokter pribadi sekarang! Nyonya, tolong ambilkan oksigen portabel di kamar!" perintah Nara tanpa menoleh. Suaranya tidak lagi bergetar seperti saat ia diintimidasi Danu; kali ini, ia adalah seorang kapten di tengah badai.
Selama menunggu dokter, suasana begitu tegang. Danu berdiri mematung, ponsel di telinganya, namun matanya tak lepas dari Nara.
Ia melihat Nara memijat titik-titik tertentu di tangan Tuan Surya dengan sangat lembut. Nara membisikkan ayat-ayat suci yang menenangkan tepat di telinga Tuan Surya, sambil mengusap kening pria tua itu dengan air hangat yang ia minta dari pelayan.
Ada sesuatu yang aneh terjadi pada Danu saat melihat itu. Selama bertahun-tahun, ia melihat Nara sebagai musuh, sebagai pengganggu, dan sebagai alat transaksi. Namun sekarang, ia melihat Nara sebagai manusia.
Ia melihat jemari yang biasanya gemetar karena takut padanya, kini bergerak sangat stabil dan penuh kasih sayang demi menyelamatkan ayahnya, pria yang sebenarnya juga memaksanya masuk ke dalam neraka pernikahan ini.
Nara tidak melakukannya karena kewajiban kontrak. Ia melakukannya karena jiwanya memang dibentuk untuk merawat. Ia teringat ayahnya sendiri yang sering mengalami serangan serupa.
Di saat semua orang di mansion itu panik karena kehilangan kendali, Nara adalah satu-satunya yang memberikan ketenangan.
Malam harinya, kondisi Tuan Surya sudah stabil. Dokter menyatakan bahwa tindakan pertama yang dilakukan Nara sangat krusial; jika terlambat atau salah posisi, Tuan Surya bisa saja mengalami gagal napas permanen.
Tuan Surya tertidur lelap di kamarnya. Nyonya Sofia juga sudah beristirahat setelah kelelahan menangis. Danu berjalan menuju kamar ayahnya untuk mengecek kondisi terakhir, namun ia berhenti di ambang pintu yang sedikit terbuka.
Di dalam, ia melihat Nara masih duduk di samping tempat tidur ayahnya. Nara sedang mengganti kompres di kening Tuan Surya. Ia melakukan semuanya dengan sangat sunyi, seolah tidak ingin dunia tahu akan kebaikannya.
Danu memperhatikan wajah Nara dari samping. Sinar lampu tidur yang temaram memperlihatkan guratan kelelahan di matanya, namun tidak ada raut benci di sana. Padahal, Tuan Surya adalah orang yang memaksa Nara agar mau menikah dengan Danu.
Kenapa dia masih bisa berbuat baik pada keluarga yang menghancurkannya? batin Danu.
Ia membandingkan Nara dengan Vanya. Vanya mungkin akan menelepon dokter terbaik, lalu pergi ke salon karena tidak tahan melihat suasana rumah sakit yang depresi. Tapi Nara? Dia justru masuk ke dalam lumpur penderitaan itu dan mencoba membereskannya.
Nara keluar dari kamar Tuan Surya dan tersentak saat menemukan Danu berdiri di koridor gelap. Ia segera menundukkan pandangannya, kembali ke mode "istri kontrak" yang dingin.
"Dia sudah stabil. Jangan masuk dulu, dia butuh istirahat total," ucap Nara datar, hendak melewati Danu.
"Nara, tunggu," Danu menahan lengan baju Nara, bukan kulitnya, karena ia ingat poin kontrak tentang kontak fisik.
Nara berhenti, namun tidak menoleh.
"Terima kasih," bisik Danu. Suaranya terdengar tulus untuk pertama kalinya dalam seumur hidupnya. "Dokter bilang... tindakanmu tadi menyelamatkan nyawanya."
Nara menarik napas panjang. "Saya melakukannya bukan untuk Bapak. Saya melakukannya karena Tuan Surya adalah seorang ayah. Dan saya tahu rasanya melihat seorang ayah berjuang antara hidup dan mati."
Danu terdiam. Kata-kata itu adalah tamparan halus. "Aku... aku tidak tahu kamu punya keahlian medis seperti itu."
"Saya bukan ahli medis. Saya hanya seorang anak yang sudah bertahun-tahun merawat ayahnya sendirian karena tidak punya uang untuk membayar perawat," Nara menoleh sekilas, matanya berkaca-kaca namun tetap tajam.
"Kesenjangan antara kita, Pak Danu, bukan hanya soal uang. Tapi soal bagaimana kita melihat nilai sebuah nyawa."
Nara melepaskan lengannya dari jangkauan Danu dan berjalan pergi menuju kamarnya.
Danu berdiri sendirian di koridor yang sunyi. Ucapan Nara bergaung di kepalanya. Selama ini ia menganggap kemiskinan Nara sebagai kelemahan, namun malam ini ia sadar bahwa kemiskinan itulah yang membentuk ketangguhan dan empati Nara yang luar biasa.
Ia masuk ke kamarnya yang kini terasa sangat asing dan melihat kontrak pernikahan yang tersimpan di atas meja. Ia mengambil pena, namun bukan untuk merobeknya. Ia hanya menatap tanda tangan Nara di sana.
Untuk pertama kalinya, Danu merasa bahwa dialah yang miskin. Ia kaya akan harta, namun ia miskin akan ketulusan yang baru saja ditunjukkan oleh wanita yang ia anggap "pajangan" itu. Dinding egonya yang setinggi langit mulai menampakkan retakan kecil.
...***...