Dimas hanyalah seorang pegawai kantoran biasa yang hidup dalam rutinitas yang melelahkan. Namun, di balik pintu apartemennya, menanti sebuah rahasia yang tidak akan dipercayai oleh siapapun: seorang istri cantik luar biasa bernama Linda, yang berasal dari ras siluman rubah.
Linda bukan sekadar istri biasa. Ia memiliki kasih sayang yang meluap-luap, namun berbanding lurus dengan sifatnya yang sangat posesif. Baginya, keterlambatan Dimas pulang kerja adalah "kejahatan besar" yang hanya bisa ditebus dengan perhatian penuh dan kemanjaan yang intens. Linda tidak segan-segan menggunakan pesona silumannya untuk memastikan Dimas tidak pernah berpaling darinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SNOWBIRDS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4
...«----------------🍀{LINDA}🍀----------------»...
Matahari sudah lama tenggelam di ufuk barat, digantikan oleh selimut malam yang dingin dan sunyi. Di dalam apartemen nomor 404, aku duduk bersila di atas sofa beludru, menatap pintu depan dengan intensitas yang mungkin bisa melubangi kayu jati tersebut. Jam dinding berdetak pelan, setiap detiknya terasa seperti tetesan air yang jatuh ke permukaan kolam yang tenang, menciptakan riak kegelisahan di dalam dada ku.
“Dia seharusnya sudah sampai lima menit yang lalu,” batin ku, jemari ku mencengkeram kain yukata yang aku kenakan. “Aku sudah memasang sihir pelacak di bekalnya, tapi kenapa sinyalnya terasa samar? Apakah dia sengaja menutupinya? Atau ada gangguan lain?”
Telinga rubah ku berdiri tegak, menangkap frekuensi suara dari lorong apartemen. Langkah kaki yang aku kenal terdengar. Berat, sedikit menyeret, tanda dia sangat lelah, tapi ada sesuatu yang salah. Iramanya tidak seperti biasanya. Ada keraguan di sana.
Klik.
Pintu terbuka. Dimas melangkah masuk, wajahnya terlihat kuyu dengan dasi yang sudah dilonggarkan. "Aku pulang, Linda..." suaranya serak, mencoba memberikan senyum yang biasanya membuat hati ku luluh.
Namun, sebelum dia sempat meletakkan tasnya, indra penciuman ku yang tajam menangkap sesuatu. Sebuah aroma yang tidak seharusnya ada di sana. Aroma itu menyeruak di antara bau keringat dan kopi kantor yang membosankan. Itu adalah aroma floral yang manis, sentuhan vanilla dan musk yang terlalu feminim. Itu bukan bau sabun cuci piring ku. Itu bukan bau parfum melati kesukaan ku.
Itu adalah parfum wanita lain.
Seketika, darah ku terasa mendidih. Pupil mata ku menyempit menjadi celah vertikal yang tajam. Aku berdiri dari sofa tanpa suara, melangkah mendekatinya seperti bayangan yang mengintai mangsa.
"Selamat datang kembali, Dimas," kata ku, suara ku rendah dan penuh tekanan. Aku tidak mendekat untuk memeluknya. Aku mendekat untuk mengendus.
Dimas tampak sedikit tersentak. "Eh, ya... Linda? Kenapa kau menatap ku begitu?"
Aku tidak menjawab. Aku menarik kerah jagonya, memaksanya menunduk, dan membenamkan hidung ku di ceruk lehernya. Di sana, tepat di dekat kerah kemeja putihnya, aroma itu paling kuat. Aroma parfum yang sangat "manusia". Sangat "kantor".
"Bau apa ini?" tanya ku, suara ku bergetar karena emosi yang tertahan.
"Bau apa? Oh, mungkin bau debu jalanan?" Dimas mencoba tertawa canggung, tapi dia tidak bisa menyembunyikan kegugupannya.
"Jangan berbohong pada ku, Dimas!" aku mendorongnya hingga punggungnya membentur pintu yang baru saja ia tutup. "Ini parfum wanita. Peony dan Amber. Merk mahal. Dan baunya menempel di jas ku... jas yang sudah aku beri tanda klaim pagi tadi!"
“Beraninya wanita itu,” geram ku dalam hati. “Beraninya dia menindih aroma ku dengan aromanya yang murahan. Apakah dia sengaja menggesekkan tubuhnya pada suami ku? Apakah dia mencoba menantang kekuasaan ku?”
"Tunggu, Linda! Biar aku jelaskan!" Dimas mengangkat kedua tangannya, panik. "Tadi di lift... bukan, maksud ku saat rapat, Shinta, rekan kerja ku itu, hampir jatuh karena tersandung kabel. Aku hanya refleks menangkap lengannya agar dia tidak terbentur meja. Hanya itu! Sumpah!"
"Refleks menangkap lengannya?" aku mendekatkan wajah ku ke wajahnya, telinga rubah ku menyembul keluar sepenuhnya, bergetar karena amarah. "Lalu kenapa aromanya menempel sampai ke leher mu? Apakah kau menangkapnya dengan leher mu, Dimas? Atau dia sengaja membenamkan wajahnya di dada mu saat kau 'menyelamatkannya'?"
"Tidak, tidak seperti itu! Dia hanya... mungkin parfumnya terlalu kuat, jadi menyebar saat kami bersentuhan sesaat. Linda, kau tahu aku tidak akan pernah—"
"Cukup!" aku memotong kalimatnya. Aku bisa merasakan ekor ku mencuat keluar dari balik yukata, mengibas-ngibas dengan liar, menjatuhkan vas bunga plastik di meja samping pintu. "Kau sudah terkontaminasi. Kau berbau seperti wanita lain, dan aku tidak bisa membiarkan aroma menjijikkan ini ada di dalam rumah ku. Di dalam wilayah ku!"
"Linda, tenanglah... aku akan langsung mandi," kata Dimas, mencoba menenangkan istrinya yang sedang dalam mode predator.
"Mandi saja tidak cukup," aku menyeringai, sebuah seringai yang membuat bulu kuduk Dimas berdiri. "Air manusia tidak bisa menghapus jejak provokasi ini. Aku sendiri yang akan melakukan 'pembersihan' aroma."
Aku menarik dasinya, menyeretnya menuju kamar tidur dengan kekuatan siluman yang tak tertahankan. Dimas hanya bisa pasrah, dia tahu bahwa melawan Linda dalam kondisi seperti ini hanya akan memperburuk keadaan.
Sesampainya di kamar, aku menjatuhkannya ke atas tempat tidur. Aku segera merobek kemejanya, beberapa kancing terlepas dan memantul di lantai. Aku tidak peduli. Yang aku pedulikan hanyalah menghapus jejak wanita itu.
"Linda, kemeja ini mahal..." keluh Dimas pelan.
"Diam! Aku akan membelikan mu sepuluh kemeja baru, tapi sekarang, diamlah dan biarkan aku bekerja!"
Aku naik ke atas tubuhnya, mengunci tangannya di atas kepala. Aku mulai menciumi lehernya dengan kasar, memberikan gigitan-gigitan kecil di tempat parfum itu menempel. Aku ingin meninggalkan tanda ku sendiri. Tanda yang jauh lebih kuat, yang tidak akan bisa dihapus oleh parfum manapun di dunia ini.
"Ah... Linda, pelan-pelan..." Dimas mengerang, setengah kesakitan, setengah menikmati intensitas yang aku berikan.
“Rasakan ini, Dimas,” batin ku sambil menjilati kulit lehernya, menggunakan air liur siluman ku yang mengandung sihir penenang sekaligus pengikat. “Kau adalah milik ku. Setiap inci kulit mu, setiap helai rambut mu, bahkan napas mu adalah milik ku. Tidak akan aku biarkan satu molekul parfum wanita lain pun tersisa di sini.”
Aku beralih ke dadanya, menghirup aroma aslinya yang mulai kembali muncul setelah aku seka dengan ciuman ku. Aku merasa seperti seekor binatang yang sedang menandai kembali wilayahnya yang sempat dicemarkan oleh penyusup.
"Kau harus tahu, Dimas," bisik ku di telinganya, suara ku sekarang berubah menjadi desahan yang menggoda namun tetap dominan. "Ras siluman rubah sangat menghargai kesetiaan. Jika kau membiarkan hal ini terjadi lagi, aku mungkin tidak akan hanya merobek kemeja mu. Aku mungkin akan mengurung mu di dimensi lain di mana hanya ada aku dan kau, selamanya."
"Aku mengerti... maafkan aku, Linda," Dimas menatap ku dengan mata yang sayu, terhipnotis oleh aura dan aroma melati ku yang sekarang mendominasi ruangan. "Hanya kau... hanya kau istri ku."
"Bagus," aku tersenyum puas. Aku mulai melepas yukata ku sendiri, membiarkan kulit kami bersentuhan langsung. Hawa panas dari tubuh Dimas merambat ke tubuh ku, dan aku bisa merasakan detak jantungnya yang cepat. "Sekarang, aku akan memastikan aroma 'Linda' meresap sampai ke tulang mu, sehingga besok saat kau ke kantor, wanita itu akan merasa mual hanya dengan berada di dekat mu."
Aku memulai proses "pembersihan" yang sebenarnya. Ini bukan lagi tentang kemarahan, tapi tentang kepemilikan. Setiap sentuhan, setiap gesekan kulit, adalah cara ku untuk mengklaim kembali apa yang menjadi hak ku. Aku menggunakan setiap pesona yang aku miliki, setiap kemampuan ras siluman ku untuk membuat Dimas lupa akan dunia luar.
Di bawah rembulan yang mengintip dari balik gorden, kami menjadi satu. Aku bisa mendengar Dimas membisikkan nama ku berkali-kali, seolah itu adalah doa satu-satunya. Dan setiap kali dia memanggil ku, aku merasa menang. Aku telah mengusir penyusup itu. Aku telah membersihkan suami ku.
“Lihatlah dia,” pikir ku saat menatap wajah Dimas yang penuh dengan peluh dan ekspresi ekstasi. “Dia milik ku. Dia lemah, dia manusia, tapi dia adalah segalanya bagi ku. Shinta, atau siapapun di kantor itu, kalian tidak akan pernah bisa memiliki apa yang aku miliki. Karena aku tidak hanya mencintainya... aku memilikinya sampai ke jiwanya.”
Beberapa jam kemudian, saat Dimas sudah tertidur lelap karena kelelahan yang luar biasa, aku masih terjaga. Aku berbaring di dadanya, mendengarkan detak jantungnya yang sudah kembali teratur. Aku menghirup napas dalam-dalam.
Bau parfum itu sudah hilang. Benar-benar lenyap. Yang tersisa hanyalah aroma kami yang bercampur, aroma rumah, aroma cinta, dan aroma dominasi seorang istri rubah.
Aku mengelus rambut cokelatnya pelan. Telinga rubah ku bergerak rileks. "Besok," gumam ku pelan, "aku akan memasukkan ramuan khusus ke dalam kopi mu. Ramuan yang akan membuat mu terlihat sangat tidak menarik bagi wanita lain, tapi terlihat seribu kali lebih tampan di mata ku."
Aku tersenyum kecil sebelum akhirnya memejamkan mata. Posesif? Mungkin. Tapi di dunia yang penuh dengan wanita penggoda dan parfum floral yang menyesatkan, seorang istri siluman harus melakukan apa yang perlu dilakukan untuk menjaga keutuhan rumah tangganya.
Malam itu, apartemen nomor 404 kembali tenang. Wilayah ku telah bersih. Mangsa ku telah kembali dengan selamat. Dan aku? Aku adalah ratu di sini, dan tidak ada yang boleh lupa akan hal itu.