Lyodra, bunga desa Wonosobo menanam tanaman herbal langka khas dataran tinggi. Namun, warga desa yang mayoritas petani tembakau tidak menyukainya. Karena tanaman tersebut memiliki manfaat yang membuat orang berpikir negatif. Afrodisiak pada akarnya. Padahal di dunia tehnologi modern, tanaman herbal ini dapat dimanfaatkan sebagai obat anti kanker dan anti bakteri yang berdaya jual tinggi.
Kemarahan warga makin menjadi-jadi setelah mendapati Lyodra bersama pria asing di lumbung desa. Warga menuduh mereka berbuat mesum.
Kesalah pahaman membuat kepala desa terpaksa meminta pria asing itu untuk menikahi Lyodra. Agar tidak mencoreng nama baik Lyodra. Namun, sebuah rahasia malah terkuak.
Rahasia apakah itu? Apakah rahasia itu akan mempengaruhi kisah cinta Lyodra ke depannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss DK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Salah Paham Makin Runyam
"Apa yang terjadi? Kenapa bisa jatuh ke sungai?" tanya Lyodra mencairkan suasana yang dingin.
"Kecelakaan. Mobilku hanyut masuk ke sungai."
Pria itu kembali terdiam.
Memikirkan kenapa google map yang ditunjukkan monitor di dashboardnya memberikan arahan yang salah. Melalui jembatan yang masih setengah jadi hingga mobilnya jatuh bebas ke dalam sungai yang deras.
Karena sebelum kecelakaan itu terjadi, pria itu sedang tidur pulas karena baru saja mendarat di Indonesia. Perjalanan yang panjang membuatnya lelah dan mengantuk.
Dia terjaga dari tidurnya karena bunyi yang mengilukan telinga. Rangka mobilnya bergesekan dengan rangka besi jembatan sebelum jatuh ke sungai.
Pria itu berjuang keras keluar dari mobilnya sebelum tenggelam ke dasar sungai.
Memecahkan kaca jendela dan keluar dari celahnya. Lalu terhanyut dibawa arus sungai yang deras.
Dia sudah berusaha berenang ke tepi sungai. Namun luka dan hujan badai membuat tenaganya makin terkuras habis.
Untung saja, tangannya berhasil menjangkau akar pohon di tepi sungai. Sehingga dia tidak terbawa arus sungai lagi.
'Lalu kemana supirnya? Apakah dia melompat lebih dahulu sebelum mobilnya jatuh ke dalam sungai?' batin pria itu.
Kriet!
Pintu lumbung terbuka dari luar. Beberapa petani tembakau masuk ke dalam lumbung dalam keadaan basah kuyup.
Lyodra dan pria itu terperangah kaget. Posisi dua manusia berbeda gender ini terlalu dekat.
Kedua tangan Lyodra sedang menekan luka robek di wajah pria tampan. Sedangkan pria tampan itu sedang membebat luka di lengannya.
"Celaka! Mereka juga datang untuk berteduh."
Lyodra melangkah mundur tapi tidak terlalu jauh. Karena dia ingat kalau dia sedang menghentikan pendarahan di luka pria tampan, sehingga tangannya masih harus terulur ke wajah pria itu.
"Apa-apaan ini? Kalian... Kalian berdua berbuat mesum di dalam lumbung padi," pekik seorang wanita paruh baya begitu melihat Lyodra yang berpakaian tidak pantas.
Berada begitu dekat dengan seorang pria yang bajunya terbuka di bagian depan hingga memperlihatkan tubuhnya yang bidang.
"Mbok Rumor, sa-ya-saya tidak berbuat mesum, Mbok," bantah Lyodra cepat-cepat.
Bisa runyam kalau para emak-emak tukang gosip dan bapak-bapak suka nyolot melihatnya berdua bersama pria tak dikenal di dalam lumbung padi.
Gosip digosok makin sip.
"Siapa yang berbuat mesum?"
"Ya ampyun. Lyodra? Lyodra kan itu?"
"Iya bener, itu Lyodra kembang desa penanam tanaman afrodisiak. Pantas saja kelakuannya seperti pelacur murahan."
Emak-emak mulai sibuk bergosip membuat suasana makin panas.
"Apa-apaan kamu ini, Nduk? Sudah nanam tanaman seperti itu. Bikin ramuan obat terlarang, diuji coba sendiri. Makanya siang bolong begini berbuat mesum di lumbung desa."
"Dasar tidak tahu malu! Ayu ayu tapi kelakuannya bejat. Cepat tutup badanmu itu biar bapak-bapak di sini tidak melotot dan berpikiran kotor melihat tubuhmu," cemoohan dari para petani makin menyudutkan Lyodra.
Lyodra segera menurunkan tangannya.
Sobekan kaos jatuh ke tanah. Darah kembali merembes dari robekan luka pria itu.
Kedua tangan Lyodra langsung bergerak cepat menutupi tubuhnya sendiri. Ia baru sadar kalau tubuh atasnya terlihat kurang senonoh. Pantas saja penduduk desa menuduhnya macam-macam.
Tanpa memedulikan lukanya yang terbuka lagi, pria itu langsung berdiri tegak, menghadang mata liar bapak-bapak ke tubuh Lyodra. Menarik cepat baju lengan panjang Lyodra yang teronggok di meja. Membantu Lyodra berpakaian secepatnya.
"Terima kasih," ucap Lyodra lirih.
Wajahnya memerah karena malu mendapat perlakuan hangat dari pria yang baru saja ditolongnya.
Di saat-saat genting seperti ini, ternyata pria itu tidak melupakannya. Bersedia melindunginya. Sungguh gentleman.
Pria itu mengangguk. Wajahnya terlihat sedih sudah merusak nama baik seorang gadis belia berusia dua puluhan.
"Maafkan aku. Aku sudah membuatmu dalam masalah besar. Aku akan membantumu menjelaskan semuanya pada warga desa. Kita tidak bersalah. Mereka yang datang di saat yang salah. Jadi berpikir salah."
Lyodra mengangguk. Dia sudah patah arang adu mulut dengan warga desa yang kurang menyukainya.
Dua tahun ini, Lyodra membudidayakan tanaman herbal langka yang hanya tumbuh di dataran tinggi di ladang kecil warisan dari sang nenek.
Tanaman ini berkhasiatnya dapat meningkatkan g4ir4h, membuat penduduk desa jadi punya pikiran negatif padanya.
Hal ini membuat Lyodra jadi makin sulit membela diri jika masalahnya berhubungan dengan hal-hal negatif.
Padahal tanaman herbal langka khas Dieng, Jawa Tengah ini punya banyak manfaat jika diolah dengan teknologi modern.
Melancarkan peredaran darah, menghangatkan tubuh, saraf dan otot, menghilangkan masuk angin dan pegal linu, melancarkan buang air kecil, obat analgesik (menghilangkan rasa sakit), menurunkan panas, obat cacing, antibakteri serta anti kanker.
Sayangnya, warga desa yang kolot dan berpikiran dangkal, menganggapnya sebagai tanaman yang merusak moral generasi muda.
"Bapak-bapak, ibu-ibu, saya dan Lyodra tidak berbuat macam-macam. Kami hanya sedang berteduh. Kebetulan saya terluka dan Lyodra membantu menghentikan pendarahan dengan pakaiannya. Itu saja. Kami tidak berbuat mesum."
Pria itu berusaha menjelaskan dengan penuh kesabaran.
Namun, Pak Sewot, duda beranak tiga yang sudah sejak lama naksir Lyodra langsung unjuk gigi.
Tanpa basa basi langsung berlari mendekati pria tampan. Dan melayangkan bogem mentah ke wajah tampan pria itu.
Dengan gesit, pria itu segera mencekal tangan Pak Sewot dan memelintirnya ke belakang.
"Aduh, lepasin tangan saya. Sakit tahu! Dasar anak muda tidak tahu diri. Sudah salah, tapi tidak mau dihukum." Pak Sewot marah-marah.
Pria tampan segera melepas tangan Pak Sewot dan mendorongnya agak menjauh.
"Maaf. Maaf jika saya sudah menyakiti Bapak. Tapi Bapak juga jangan main hakim sendiri, Pak. Kami berdua tidak bersalah. Kenapa kami harus dihukum dengan pukulan dari Bapak? Seharusnya Bapak mendengarkan dulu penjelasan kami. Jangan asal main pukul."
Pria itu berusaha menahan amarahnya. Tapi nada suaranya sudah naik satu oktaf lebih tinggi.
"Kalian berdua sudah bikin malu. Dipukul berkali-kali juga tidak akan membuat dosa kalian hilang. Karena hukum berzina seharusnya lebih berat dari pukulan. Hukum pasung itu lebih cocok buat kalian."
Pak Sewot makin menjadi-jadi.
"Hukum pasung? Pak, sejak tahun 2014, hukum pasung sudah dilarang di Indonesia. Kalau bapak berani memasung kami berdua, bapak yang akan mendapat sanksi karena sudah melanggar HAM."
Pria itu mulai menebar ancaman agar Pak Sewot tutup mulut.
"Jangan mentang-mentang dari kota besar ya, lalu berani mengancam kami. Mau disanksi hukum juga kami tidak takut. Kalian yang salah, kalian yang harus dihukum," ucap Bu Rempong, tetangga Pak Sewot yang udah naksir Pak Sewot sejak lama.
Lyodra menarik nafas panjang. Urusannya jadi makin panjang kalau Bu Rempong ikut campur. Bu Rempong bermulut tajam dan hampir tidak pernah kalah kalau adu mulut.
"Sudah, sudah, sudah. Lebih baik kita tunggu hujan reda. Setelah itu kita ke rumah kepala desa. Biar kepala desa yang menyelesaikan masalah ini," ucap Lyodra berusaha menenangkan situasi panas.
Puskesmas juga berdiri tepat di depan rumah kepala desa. Sehingga pria itu bisa segera mendapat perawatan.
"Setuju." Para petani akhirnya tidak berulah lagi. Karena lebih baik masalah ini dibawa ke kepala desa yang terkenal bijaksana dan dapat mengambil keputusan yang terbaik.
Menit-menit berlalu, hujan akhirnya reda. Mereka berbondong-bondong menuju rumah kepala desa. Sambil terus bergunjing tak karuan.
Sementara itu, Lyodra dan pria tampan berjalan di belakang. Tertinggal agak jauh karena Lyodra harus memapah pria yang tingginya hampir 190 cm. Kaki yang terkilir mulai membengkak.
Jalannya jadi makin sulit. Apalagi medannya basah, licin dan berlumpur. Penduduk desa mungkin sudah terbiasa jalan di medan seperti itu, namun bagi orang kota besar pasti sulit. Apalagi salah sepatu.